
Dewi Ambarwati menghela nafas panjang mendengarkan cerita Sena mengenai tubuh abadi. Ketua Padepokan Telaga Dewi itu memang tidak terlalu mengetahui mustika yang pernah di serap oleh Dewi Lasmini. Yang
jelasnya, berkat Mustika yang di dapatkan oleh Mahapatih Anom itu, kehidupan Dewi
Lasmini yang sempat redup akhirnya bisa tumbuh kembali hingga sebesar ini.
Dewi Ambarwati menyarankan Sena untuk segera ke istana untuk menjelaskan perihal itu kepada Prabu Sanjaya Maharaja dan
Mahapatih Anom secara langsung. 2 orang itu yang paling mengerti mengenai tubuh
abadi milik Dewi Lasmini.
Sena menganggukkan kepalanya, memang rencananya saat ini adalah kembali ke Kota Birawa. Selain untuk meredam Pergerakan Padepokan Cakar Setan, Sena harus ke perpustakaan kerajaan untuk mencari tambahan informasi mengenai beberapa hal yang belum lengkap di perpustakaan Padepokan Bukit Api.
3 hari setelah peperangan melawan siluman, Sena menuju tempat tersembunyi di Padepokan Telaga Dewi. Selama beberapa hari ini Dewi Lasmini terus saja mengikutinya. Meskipun Sena sering memarahi dan bersikap dingin kepadanya, namun wanita itu seakan tak mempedulikan hal itu. Sedangakan hal lain yang di hindari oleh Sena adalah ekspresi suram Ratu Dewi Kenanga setiap melihatnya dengan Lasmini berduaan.Sampai saat ini Sena belum tahu bagaimana caranya memberikan penjelasan Kepaada ratu Kumbara itu.
Hari ini Sena baru menyelesaikan latihannya di pinggir telaga Kota Maranda. Sejak memasuki Padepokan Telaga Dewi, puluhan
murid Padepokan Telaga Dewi terus saja memperhatikannya. Siapa yang tidak mengenal pemuda yang menyelamatkan Padepokan mereka dari serangan siluman.
“Dia sangat Tampan”
“Kudengar dia mampu mengalahkan siluman setingkat
pendekar Suci”
“Kudengar umurnya bahkan belum mencapai 20 tahun”
Puluhan Wanita muda itu tampak kasmaran memandangi Sena. Namun pemuda dingin itu tak terlalu memperhatikan dunia di luar dirinya. Pikirannya saat ini hanya tentang dirinya dan ambisinya. Namun baru saja Sena ingin berbelok matanya menangkap sosok yang sempat menyerangnya beberapa hari yang lalu di pinggir telaga.
“Bukankah wanita itu yang ada di telaga waktu itu !”. Gumam Sena dalam hati.
Sena mengerinyitkan dahinya mengetahui bahwa wanita yang sempat salah paham kepadanya adalah murid Padepokan Telaga Dewi. Sena berharap wanita muda itu sudah mengerti dengan keadaan waktu itu. Dirinya tidak ingin meninggalkan kesalahpahaman di hati seseorang.
__ADS_1
“Tunggu”.
Kirana menahan Sena yang tampak bergegas menuju ruangan perpustakaan Padepokan Telaga Dewi. Ada rasa berslaah di mata dara
cantik itu setelah mengetahui identitas Sena dan sikap acuh tak acuh Sena kepada perempuan. Padahal munurut pandangan Kirana, jika Sena menginginkan wanita maka sebagian besar orang di tempat ini akan mengikuti apapun kemauan Sena.
Seorang Pemuda tampan, jabatan tinggi di kerajaan dan hebat merupakan kriteria pria sempurna bagi wanita di Padepokan Telaga Dewi ini.
Sena menghela nafas mendengar suara Kirana yang kembali memanggilnya. Pemuda itu telah bersiap jika Kirana akan kembali
menyerang, sama seperti pertama kali mereka bertemu. Namun dari pandangan Sena, raut wajah Kirana berkebalikan saat ini dengan rona merah memenuhi pipinya,
kedua tangannya saling meremas dan bibir bawahnya di gigit. Kecantikan Kirana
setara dengan Isyana. Wajar jika di Padepokan Telaga Dewi ini dia salah satu
wanita tercantik setelah Dewi Lasmini.
Kirana masih menundukkan kepalanya. Semenjak mengetahui jabatan Sena dari Tetua Pureswari. Semua murid disini tambah
kasmaran kepada pahlawan itu. Sena hanya mengangguk menanggapi ucapan Kirana.
Dirinya langsung bergegas karena menyadari akan menjadi masalah jika dirinya terlalu lama berbicara dengan wanita didepannya di tengah pandangan banyak orang.
Dewi Lasmini yang melihat kejadian itu menggenggam erat tangannya. Kecemburuannya sudah memasuki ubun ubun. Baru saja beberapa hari yang lalu Sena seakan menyatakan perasaan dengan memberinya kalung, kali ini malah adik Padepokannya mendekati kekasih hatinya.
Selepas kepergian Sena, Dewi Lasmini langsung malabrak Kirana. Kirana tidak mengerti dengan kedatangan Lasmini yang tampak emosi didepannya. Murid suci Padepokan Telaga Dewi ini terkenal dengan sikap cueknya sehingga tidak akrab dengan murid lainnya tapi saat ini malah dia di datangi Dewi Lasmini seakan mempunyai masalah besar terhadapnya.
“Jauhi dia, dia adalah milikku”.
Lasmini berbisik di telinga Kirana. Putri Kerajaan menyeringai penuh ancaman sebelum meninggalkan Kirana yang belum mengerti maksud dari kakak seperguruannya.
Di sisi lain Padepokan Telaga Dewi, Dewi Ambarwati sedang memberikan penjelasan kepada Ratu Dewi Kenanga mengenai Sena. Ratu Kumbara itu akhirnya menarik nafas lega mengetahui maksud Sena. Dirinya hanya
__ADS_1
tak mengerti mengenai sikap Putrinya yang salah menerka maksud Sena. Walaupun Dewi
Lasmini menyukai pemuda berbakat itu tapi seharusnya sikapanya bisa lebih halus.
Setelah menerima penjelasan Dewi Ambarwati, Dewi Kenanga memutuskan untuk segera kembali ke Istana Kerajaan. Tumenggung Gunawa pun telah memepersiapkan dan mengobati seluruh pasukannya yang sempat terluka. Besok pagi
rombongan ini akan kembali namun tidak kembali dengan jumlah yang datang ketempat ini karena hampir setengah pasukannya mati di peperangan melawan
Siluman. Sena dan Dewi Lasmini juga memutuskan ikut kembali ke istana kerajaan.
Keesokan paginya, Dewi Ambarwati dan penghuni lainnya di Padepokan Telaga Dewi mengantar kepulangan rombongan Ratu Kumbara. Di pimpin langsung oleh Tumenggung Gunawa, rombongan kerajaan itu membawa 1 kereta mewah yang diisi oleh Ratu Dewi Kenanga, Pangeran Brawijaya dan Dewi Paramita.
Dewi Lasmini memutuskan untuk menaiki Kuda setelah melihat Sena juga mengendarai Kuda. Entah mengapa setelah menerima kalung dari Sena. Sikap Lasmini terhadap Sena lebih bar bar dan terang terangan. Sena tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan sikap Dewi Lasmini.
***
Saat ini istana sedang gempar setelah laporan tentang penyerangan terhadap Padepokan Telaga Dewi. Bukan hanya karena yang di serang adalah salah satu Padepokan besar aliran putih tapi mengenai keberadaan
keluarga kerajaan di Padepokan itu.
Selama mendengar laporan prajurit yang di kirim oleh Tumenggung Gunawa. Prabu Sanjaya Maharaja nampak tidak tenang. Untunglah dirinya sedikit lega mendengar serangan siluman berhasil diredam dan kondisi seluruh keluarganya aman dan sehat.
Mahapatih Anom yang duduk bersama Raja Kumbara juga tidak tenang, tapi mendengar kehadiran Sena yang kembali menjadi penyelamat Padepokan Telaga Dewi, membuat Mahapatih Anom begitu tertarik. Beberapa hari yang lalu juga dia menerima kabar sepak terjang Sena menyelamatkan Kota Taruma dari serangan kelompok bertopeng yang di ketahui sebagai Pendekar Cakar Setan.
“Paduka Raja, sebaiknya kita menunggu kedatangan Ratu Dewi Kenanga untuk meminta penjelasan lebih detail”
Mahapatih Anom berusaha menenangkan pikiran Prabu Sanjaya Maharaja yang beberapa minggu terakhir ini mulai memikirkan kekacauan yang terjadi di negerinya. Bukan hanya tentang pemberontakan Padepokan Cakar setan dan pergerakan hewan buas namun kali ini muncul musuh yang hanya ada dalam mitos yaitu siluman.
“Iya Mahapatih Anom. Saya hanya bersyukur karena Dewi Kenanga, Brawijaya, Lasmini dan Paramita baik baik saja”.
Sebuah kesyukuran Prabu Sanjaya Maharaja karena masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan keluarganya. Dirinya berjanji
untuk memberikan hadiah setimpal terhadap orang orang yang berperan penting dalam meredam serangan Siluman di Padepokan Telaga Dewi.
__ADS_1