
Dewi lasmini akhirnya terbangun dari tidur
panjangnya. Pikiran pertamanya saat sadar adalah keberadaan Sena. Putri kerajaan
yang menyadari dirinya sudah berada di istana kerajaan segera berlari mencari Tumenggung Gunawa.
Tubuh yang tertotok umumnya masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya. Dari hal itu Dewi Lasmini mengetahui bahwa Sena adalah orang yang menyelamatkannya dari pendekar bertopeng emas sebelum kedatangan Tumenggung Gunawa. Setelah kejadian itu, dia akhirnya pingsan dan tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.
Pelariannya yang berniat menuju kediaman Tumenggung Gunawa terhenti karena berpapasan dengan Mahapatih Anom yang sedang bekeliling istana.
“Putri Lasmini, apa yang terjadi ?”. Ucap lembut Mahapatih Anom. Kakek sepuh itu merasa lega melihat Lasmini sudah baikan dari pengaruh totokan pendekar suci.
“Dimana Sena ?”. Lasmini begitu khawatir dengan keadaan Sena yang tidak di lihatnya sejak di perkemahan hutan kota Maranda.
Mahapatih Anom mencoba menenangkan Dewi lasmini yang sudah terlihat tak tenang. Dengan pelan kakek sepuh itu menceritakan perihal Sena yang mengejar topeng emas yang menculiknya. Sampai saat ini Sena sementara ditunggu kedatangannya oleh Prabu Sanjaya Maharaja.
Dewi lasmini langsung terjatuh memikirkan nasib Sena jika harus berhadapan dengan topeng emas yang memiliki kekuatan pendekar suci gerbang kedua itu. Tak pelak jika terjadi sesuatu dengan Sena maka Dewi Lasmini akan menyesal seumur hidup telah menyeret pemuda itu kedalam masalahnya.
Melihat Dewi Lasmini akan lepas kendali, Mahapatih Anom terpaksa menenangkan Dewi lasmini dengan membuatnya pingsan kembali. Tidak ada yang bisa menghentikan wanita ini jika sudah mengamuk. Begitulah pemikiran Mahapatih Anom Saat ini.
Putri Lasmini kembali diantar ke kamarnya.
Sedangkan Mahapatih Anom menuju ruangan Raja kumbara untuk menjelaskan apa yang telah dia lakukan kepada Putri Raja. Walaupun terlihat kasar tapi Prabu Sanjaya memaklumi usaha pencegahan yang di lakukan Mahapatihnya.
***
Siluman yang bersama Sena hampir 2 jam hanya terus bercerita.
__ADS_1
Entah mengapa siluman buaya mempercayakan semua informasi kepada seseorang yang baru di temuinya. Bahkan nama pemuda di sampingnya saja mungkin dia tak tahu.
“Ehhhh, saya sudah lelah bercerita namun kau tak menggubris, baiklah aku pergi dulu”.
Sena membuka matanya setelah sekian lama berendam di sungai itu sambil menutup mata membiarkan Siluamn itu terus berbicara.
Pandangannya mengarah kepada siluman buaya yang terjun kembali kesungai setelah
mengubah tubuhnya menjadi bentuk buaya seutuhnya.
Pemuda dingin itu bahkan tak mengerti maksud siluman buaya yang sangat terbuka kepadanya. Aura yang di pancarkan dari tubuh siluman itu juga tidak ganas di bandingkan beberapa siluman yang pernah di hadapi Sena. Yang jelas Sena saat ini memahami bahwa sama seperti manusia, Siluman juga memiliki kebaikan di pikiran mereka.
Merasa cukup dengan relaksasinya, Sena bergegas kembali ketempat dia meninggalkan Kuda hitamnya, Tanpa menuda waktu, dia terus melesat membelah hutan menuju Kota Birawa. Banyak urusan yang harus dia selesaikan di Ibukota Kerajaan Kumbara saat ini.
Menjelang malam, Sena telah memasuki Kota Birawa. Di pikirannya saat ini tertuju kepada rumah kecilnya yang terletak di kediaman Tumenggung Raharja. Mungkin saat ini kediaman itu agak sepi karena sebagian besar pasukan Tumenggung Raharja berada di Kota Wanua. Hanya pelayan yang setia
bernaung di kediaman besar itu.
Pagi pagi sekali Sena datang mengunjungi Istana. Setelah melewati beberapa pemerikasaan akhirnya dia diantar seorang prajurit memasuki ruangan Raja. Didalam ruangan itu telah duduk Prabu Sanjaya dan Mahapatih Anom.
“Kebetulan sekali, ada banyak yang ingin kutanyakan kepadamu”
Tatapan serius mengarah kepada Sena yang bahkan belum di persilahkan duduk oleh Sang Raja. Sena mengerti akan besarnya keingintahuan Prabu Sanjaya terhadap Tubuh Abadi Milik Putrinya. Tanpa disuruh pun Sena memang berniat menyampaikan kabar penting ini kepada Raja Kumbara dan
Mahapatih Anom.
Sena menjelaskan semua yang di ketahuinya mengenai tubuh abadi termasuk keberadaan Raja Siluman Harimau Emas. Walaupun dia pernah berjanji untuk tidak membocorkan informasi ini tapi Sena tak menganggap dirinya menyalahi janjinya karena sebelunya Mahapatih Anom dan Raja Kumbara sudah mengetahui tubuh abadi milik Dewi Lasmini.
__ADS_1
Meskipun sudah mengetahui sebagian besar informasi dari Dewi Kenanga, namun dari beberapa informasi tambahan yang keluar dari mulut Sena, salah satunya mengenai keefektifan kalung yang dipakai Lasmini hanya sampai saat putrinya berumur 18 tahun.
Sebelum itu tiba, dia harus memutuskan tindakan apa yang terbaik untuk putrinya guna mencegah dan menahan serangan para siluman yang sudah terlalu lama tak keluar dari persembunyiannya.
Sena sebenarnya mengetahui satu tempat yang aman bagi Lasmini jika nanti tubuh abadinya sudah menjadi incaran para siluman. Namun Sena tak ingin mengungkapkan sarannya sebelum dia mendapat izin dari pemilik tempat itu. Lagipula masih ada waktu 2 tahun sebelum bahaya mengancam tubuh abadi Dewi Lasmini.
Begitu banyak rasa terima kasih sekaligus pertanyaan yang ingin di lontarkan oleh Prabu Sanjaya Maharja dan Mahapatih Anom namun mereka juga merasa sudah cukup membebani pemuda di depannya.Mahapatih Anom juga menyampaikan mengenai Pemberontakan Padepokan cakar Setan, bagaiamanapun pemuda didepannya mungkin menjadi orang yang paling banyak bertemu dengan Anggota padepokan besar aliran hitam itu.
Sena menjelaskan mengenai 2 topeng emas yang pernah menjadi lawannya. Wikrama memiliki kemampuan racun yang dialirka. kepada senjatanya sedangkan Prajna memiliki teknik pengerasan tubuh yang sangat merepotkan. Kedua informasi ini menjadi tambahan yang sangat bagus menurut Mahapatih Anom.
“Sena, peperagan akan segera terjadi. Kami harap kamu bisa menjadi lebih kuat”.
Sena hanya mengangguk sebelum meninggalkan 2 pria sepuh yang masih memikirkan semua beban yang akan menimpa mereka.
“Sebaiknya saya mencari Isyana”.
Setelah keluar dari Istana Kerajaan, Sena bergegas menuju gedung serikat pendekar sakti. Sudah cukup lama dia tidak betemu dengan sahabat pertamanya yaitu Isyana Tungga dewi.
Berselang 1 jam Sena menginjakkan kakinya di gedung besar itu. Wajahnya yang tak asing bagi anggota serikat, membuat Sena terus masuk hingga ruangan penelitian obat obatan dimana Isyana sedang bekerja.
Sena langsung membuka pintu, terlihat punggung Isyana yang sedikit membungkuk karena menghaluskan berbagai ramuan obat herbal.
“Maaf saya sedang sibuk”.
Isyana yang mendengar pintu ruangannya terbuka, sedikit kesal meskipun tidak mengetahui siapa yang datang. Dia hanya mengusir orang itu secara halus karena sedang sibuk meneliti obat penawar racun yang diderita oleh Mahapatih Anom.
Sena hanya tersenyum menanggapi perkataan Isyana. "Baiklah lain kali saya akan berkunjung”.
__ADS_1
Isyana menghentikan ulekannya, suara orang di belakangnya jelas selalu terbayang di telinganya. Entah mimpi atau halusinasi, Wanita itu mencoba berbalik pelan menengok asal suara. Betapa terkejutnya dia melihat Sena tersenyum kecil sambil menutup pintu ruangannya.
“Sena, Jangan pergi”