Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Alibi Rubana


__ADS_3

Ketiga Anggota Serikat Pendekar Sakti memperhatikan sekeliling wilayah Kota Bina. Kota ini nampak lebih ramai di bandingkan beberapa waktu lalu. Memang bagi orang awam yang menyaksikan kondisi ini tidak terlalu peduli namun bagi anggota Serikat Pendekar Sakti yang sejak kecil dilatih kepekaan terhadap perubahan kondisi, menaruh kecurigaan yang besar.


“Kita akan langsung menuju kediaman pimpinan kota”.


Isyana melanjutkan perjalanan. Dia tidak terlalu mempedulikan hal itu karena belum ada bukti yang kuat.


Sena memperhatikan semua orang dengan tatapan tajam. Iris cokelatnya menginterpretasi semua aura yang keluar dari tubuh orang orang disekitarnya. Setidaknya hampir setengah orang yang di jumpainya di perjalanan memiliki aura pembunuh meskipun tipis.


Rombongan Isyana langsung di sambut oleh Kepala Prajurit Kota Bina yang bernama Subagja. Sama seperti Kepala Prajurit kota lainnya, Subagja memiliki tingkat pendekar langit.


Subagja mengerinyitkan kening melihat banyaknya rombongan yang ikut serta mewakili Serikat Pendekar Sakti. Tatapannya sejenak berhenti menetap Dewi Lasmini yang sangat mempesona.


Dewi Lasmini sangat jarang memunculkan dirinya saat di berada di Kota Birawa. Oleh karena itu hanya petinggi Istana dan Anggota Padepokan Telaga Dewi yang mengenalinya sebagai putri kerajaan. Tanpa menunda waktu, Subagja mempersilahkan rombongan itu untuk memasuki Kediaman Pimpinan Kota dan dijamu dengan makanan terbaik.


Beda dengan yang lain, Isyana menuju kamar anak pimpinan kota Bina yang bernama Rubana untuk memeriksa keadaannya sedangkan sisanya mendapatkan pelayanan di aula kediaman pimpinan kota. Ketiga Serikat Pendekar Sakti mendesak mengawal Isyana, namun kelihaian Subagja menjelaskan tentang penyakit menular yang diderita Rubana membuat mereka akhirnya mengikuti perkataan kepala Prajurit itu.


Sena sejak tadi hanya diam memperhatikan setiap kejanggalan di kediaman ini. Namun dia tak terlalu menggubrisnya karena masih yakin menangani masalah yang di timbulkan puluhan prajurit yang berjaga di sekitar mereka. Dewi Lasmini sebenarnya sudah sangat bosan dengan keadaannya saat ini. Ingin rasanya dia menjelaskan identitasnya namun Sena pasti tak menyetujui tindakannya. Yang jelas saat ini dia cukup bahagia selalu berada di dekat Sena.


Isyana di dampingi oleh Subagja menuju kamar Rubana. Di sana tampak pria berumur 30 tahun sedang terbaring dikasur mewah. Isyana sekilas merasakan kecurigaan setelah memeriksa tubuh Rubana. Tak ada yang ganjil mengenai kondisi tubuh pria ini. Belum sempat Isyana berbalik.


“Bukkkkkk”

__ADS_1


Sebuah pukulan di tengguk, membuat Isyana pingsan. Pelakunya tidak lain adalah Subagja yang tersenyum sambil mengikat kaki dan tangan Isyana yang sudah tak berdaya. Berselang beberapa detik kemudian, Rubana terbangun dengan wajah liciknya. Keduanya berpandangan seakan hal ini telah lama di rencanakan.


“Subagja, mari kita sekap semua tamu terhormat kita”.


Rubana menginsruksikan Isyana terlebih dahulu di bawah kedalam penjara. Subagja sebenarnya sangat ingin membunuh Isyana secara langsung namun tampaknya Rubana sedikit tertarik kepada wanita itu. Dia ingin menikmati sari wanita itu sebelum menghilangkan nafasnnya seutuhnya.


30 menit telah berlalu, namun kunjung Isyana keluar dari kamar Rubana. Ketiga Anggota Serikat yang khawatir dengan dengan Dewi Obat memutuskan memeriksa keadaan. Namun naas , belum sempat mereka melangkah. Ketiganya merasakan pusing yang amat meyakitkan. Ketiganya berlutut karena tak sanggup menahan sakit yang menggerogoti tubuh mereka.


“Hahahahaha tak perlu memaksakan diri, sebentar lagi kalian akan merasakan kekosongan yang kekal”.


Subagja dan Rubana keluar menghampiri mereka. Perasaan senang meliputi bibir mereka di temani puluhan prajurit yang ada di belakangnya. Tiba tiba mereka tersentak karena menyaksikan masih ada 2 orang yang yang tak menunjukkan gejala keracunan.


“Ada apa ini?”.


“Mengapa kalian tak terpengaruh oleh racun !”.


Subagja cukup geram melihat wajah dingin Sena dan Lasmini yang menatapnya. Bukan hanya tak merasakan sakit akibat racun yang di campurkan di makanan mereka, bahkan kedua wajah mereka terlihat santai tanpa ada beban sedikitpun. Padahal di sekeliling mereka puluhan prajurit telah bersiap menyerang.


“Berhenti”


Subagja bukan terkejut karena kehebatan Sena dan Lasmini, Namun karena kecantikan Dewi Lasmini yang di kenalinya sebagai putri kerajaan Kumbara. Entah mimpi apa pria ini bisa melihat langsung wanita tercantik yang pernah di lihatnya.

__ADS_1


“Tidak kusangka Putri Kerajaan Kumbara berkunjung di tempat sederhana ini, jika saya tau mungkin saya akan meyiapkan pesta penyambutan yang meriah”.


Subagja dan seluruh prajurit tersentak mendengar perkataan Rubana. Tak heran jika wanita di hadapan mereka memiliki kecantikan yang sangat tinggi sesuai dengan gelarnya di kerajaan ini. Rubana teralihkan


dengan rencananya untuk membunuh semua rombongan yang mengawal Dewi Obat. Tiada


kesempatan kedua baginya bisa lebih dekat dengan putri kerajaan di lain waktu.


“Bunuh pemuda itu tapi untuk wanita itu, tangkap dan jangan biarkan tubuhnya lecet sedikitpun”. Rubana mengangkat tangannya memerintahkan seluruh prajurit untuk membunuh Sena sedangkan ketiga anggota Serikat Pendekar Sakti di hiraukan karena sudah tak mampu bergerak.


Melihat Serangan datang, Dewi Lasmini menarik pedang putihnya. Dengan ganas dia menebas prajurit kota Bina yang berniat menyerang Sena. Tanpa berkedip, Dewi Lasmini menebas leher prajurit prajurit itu, seakan tidak terbebani dengan efek pembunuhan yang di lakukannya.


“Jangan berani melukainya”.


Walaupun sudah ada 5 prajuritnya yang di tebas oleh Dewi Lasmini, namun Rubana tetap pada pendiriannya untuk mendapatkan Putri kerajaan itu secara utuh. Subagja yang berdiri di samping mengepalkan tinjunya mendengar keputusan Rubana. Bagaimanapun saat ini dia ditugaskan oleh seorang topeng perak untuk bekerjasama dengan Rubana.


Satu persatu teriakan penderitaan memenuhi aula ini. Di sekitar pergerakan Dewi Lasmini selalu terlempar potongan kepala, tangan bahkan kaki prajurit yang hanya setengah setengah melawan Putri kerajaan itu.


Sena yang masih berdiri di belakang tersenyum kecil dengan pertumbuhan kemampuan milik Dewi Lasmini. Untuk menghadapi prajurit yang sebagian besar hanya berada pada tingkat pendekar ahli, tidak terlalu merepotkan bagi pemilik tubuh abadi.


Melihat dirinya menjadi pusat perhatian Sena, Lasmini semakin gencar menyerang dengan gerakan lincah dan cepat pedang putihnya. Tak terasa kini monster cantik itu telah menghabisi lebih dari 20 prajurit kota Bina yang notabennya adalah anggota Padepokan Cakar Setan yang menyamar.

__ADS_1


Dewi Lasmini yang sudah membantai semua prajurit tingkat ahli sejenak mengambil nafas. Kini didepannya maju barisan prajurit kedua yang beranggotakan 4 pendekar tingkat Raja dan 1 pendekar tingkat Kaisar. Tanpa rasa takut, Dewi Lasmini melesat kembali untuk membabat prajurit prajurit didepannya.


Sena memastikan Lasmini tidak akan mampu menghadapi ke lima prajurit itu, sehingga dia masuk kedalam arena pertempuran. Gerakannya yang sangat cepat membuat Subagja yang selalu menatap Sena bahkan terkejut ketika prajurit tingkat kaisar bawahannya langsung terlempar menubruk tembok dan meninggalkan keretakan yang cukup besar.


__ADS_2