
Puluhan pendekar bertongkat datang di pimpin seorang pemuda yang terlihat lemas. Dia adalah Dafar, anak tunggal ketua Padepokan Tngkat Sakti. Melihat pujaan hatinya akan di eksekusi tentu saja pemuda gempal ini tak bisa berpikir rasioal meskipun akan membahayakan padepoaknnya.
Semua orang kaget dengan kedatangan Daffar membela cempaka, ditambah kini muncul dualisme didalam padepokan Tongkat Emas mengenai eksekusi anggota
Padepokan Kelabang Ungu. Ketua Damar menjambak rambutnya mengutuk tindakan bodoh anaknya.
Tidak hanya bodoh dalam hal kemampuan namun juga payah dalam hal perasaan. Bagaimana mungkin dia lebih memilih menyelamatkan wanita yang baru
dilihatnya kemarin, dibandingkan ayahnya yang selalu menuruti keinginannya selama
ini.
Kini cinta telah membutakan hatinya, baginya hanya cempaka yang ada dimata dan pikirannya.
“Cempaka tidak bersalah Tuan Indra Takim, dia dalah calon istriku”
Cempaka melototkan matanya mendengar pernyataan Dafar. Dengan susah payah dia meracuni Dafar yang menyekapnya di dalam kamar hingga mampu kabur ketempat ini meskipun harus bertarung dengan pengawal pemuda gempal tersebut.
Ketua Damar memandang tajam kearah putra dan pengawal anaknya. Dia berjanji ketika ekseskusi selesai, hukuman berat akan menimpa mereka. Secara sembunyi sembunyi dia menyuruh salah satu tetua membuat Dafar pingsan karena tengkuknya di pukul secara tiba tiba
“Kini kita lanjutkan eksekusi Tuan Indra Takim”. Ketua Damar terus memompa pemimpin kota untuk segera melakukan ekseskusi. Timbul keresahan nyata di wajahnya yang mulai keriput.
Pemimpin kota memandangi seluruh tawanan dengan iba tapi dirinya haus menjalankan eksekusi untuk menjalankan peraturan kerajaan. Ada 5 algojo yang mengangkat pedangnya untuk menebas leher anggota padepokan Kelabang Ungu, namun tiba tiba tubuh mereka menjadi kaku dan
mati rasa.
Pandangan semua orang mengarah kepada seorang pemuda dengan jubah merah berkibar berjalan mendekati panggung eksekusi. Aura kegelapan yang menyebar di sekitar panggung membuat semua orang merasa tertindih batu besar.
Hanya pendekar tingkat suci yang masih mampu mengendalikan.tubuhnya namun dengan cepat mundur untuk menjauhi Sena. Dengan santai Sena membuka satu persatu tali pengikat di tangan anggota padepokan Kelabang Ungu.
__ADS_1
Cempaka menatap pemuda yang terlihat santai itu meskipun tengah dikelilingi prajurit kota dan pendekar padepokan Tongkat Sakti. Barulah beberapa saat Cempaka mengetahui bahwa semua orang selain anggota padepokannya tidak mampu bergerak seakan terkunci.
“Terima kasih tuan pendekar”
Semua pendekar padepokan Kelabang Ungu menjura memberi hormat kepada Sena. Hanya cempaka yang terlihat terus menatap Sena penuh Arti. Padahal ini adalah pertama kalinya Cempaka melihat wajah dingin itu namun justru mampu melelehkan hatinya.
“Siapa kau ? berani menyerang kami?”. Pempimpin kota menatap Sena dengan ketakutan.
Ketua Damar yang memiliki tenaga dalam tingkat suci gerbang pertama memperhatikan Sena secara seksama. Hanya dirinya yang tak terlalu terpengaruh aura kegelapan Sena sehingga mampu melompat mundur l beberapa meter.
Ketua Damar menatap semua anggotanya yang matanya melotot menahan tubuhnya yang mati rasa, bahkan prajurit Kota Sinraga tidak terkecuali terkena dampak aura yang keluar dari tubuh pemuda dingin itu.
Sena kemudian menarik auranya, kini semua anggota padepokan Kelabang Ungu berkumpul di belakangnya. Entah sejak kapan Sena mengetahui kemampuan matanya yang mampu mendeteksi aura orang lain sehingga dia mampu membedakan orang yang penuh kebaikan dan kejahatan.
“Kauu akan menjadi musuh aliran putih dan kerajaan karena telah membantu padepokan aliran hitam”.
Ketua Damar menunjuk kearah Sena. Pria Sepuh itu percaya diri mampu menghabisi Sena karena memiliki jumlah yang banyak ditambah bantuan dari prajurit Kota Sinraga yang di pimpin langsung oleh kepala prajurit bertenaga dalam tingkat langit gerbang pertama.
“Tangkap pemuda itu”. Teriak Ketua Damar.
Puluhan pendekar maju menyerang sena. Pertukaran jurus berlangsung cukup lama hingga Sena menghempaskan semua anggota padepokan keluar dari panggung eksekusi.
Ketau Damar naik pitam dan memandang prajurit kota yang seakan diam melihat anggotanya di bantai. Seandainya dia tahu, bukan prajurit kerajaan tidak ingin menyerang Sena namun tubuh mereka terkunci kembali oleh auta kegelapan.
Berkat kemampuan matanya kini, Sena lebih selektif dalam membantai orang orang. Selama orang itu tidak memiliki aura gelap di tubuhnya maka pemuda dingin itu akan memberi mereka kesempatan untuk beernafas lebih lama.
Ketua Damar menyerang Sena menggunakan pusaka tongkat berwarna perak miliknya. Dengan jurus tubuh naga hitamnya, Sena menangkis hantaman tongkat itu dengan
tangan. Puluhan pertukaran terus terjadi hingga Sena terpaksa mundur mengambil jarak
__ADS_1
“Pendekar suci memang hebat”. Sena menebak bahwa Ketua Damar berada di tingkat pendekar suci karena kemmpuannya yang hebat. Tangan Sena terasa sedikit sakit menahan tongkat perak itu.
Tanpa ingin mengambil resiko, sena melapisi tubuhnya dengan aura kegelapan. Kini pukulan tongkat Ketua Damar tidak berdampak apa apa kepada tubuhnya. Giliran Ketua Damar terkejut dengan kerasnya tubuh sena yang terlindungi selaput berwarna hitam.
Sena mengeluarkan cincinnya yang kini membesar membentuk roda hitam. Cincin itu membelah menjadi tiga dan menyerang Ketua Damar dari berbagai arah. Dengan
lihai Ketua Damar memainkan tongkatnya menahan gempuran cincin besar itu.
Retakan kecil mulai terlihat menghiasi tingkat perak itu. Ketua Damar mundur beberapa langkah untuk memastikan tingkat keretakan yang terjadi di tongkat peraknya, senjata yang menjadi pusaka turun temurun ketua padepokan Tongkat Sakti.
Hatinya meringis melihat sebentar lagi tongkat itu akan patah jika di biarkan terus bertumbukan dengan cincin besar Sena.
Belum habis kesedihannya, ketiga cincin itu kembali melesat dengan cepat. Ketua Damar tidak bisa menghindari lesatan itu sehingga hanya bisa pasrah menahan laju salah satu cincin dengan tongkatnya.
“Kraaaakkkkk…. Bukkkkkkkk"
Tongkatnya patah dan cincin itu terus melesat mengenai dadanya. Aliran darah muncul dari mulutnya. Tanpa aba aba dari Sena, salah satu cincin mengurung tubuh Ketua Damar yang sudah tak berkutik.
“Ketua ceritakan kejadian sesungguhnya dihadapan mereka semua”. Kata Sena tanpa berbalik.
Ketua padepokan Kelabang Ungu maju disamping Sena. Dengan jelas dia meceritakan kelakuan padepokan Tongkat Sakti yang memfitnah mereka membunuh salah satu bangsawan di kota Sinraga, padahal mereka sendiri yang melakukan hal itu.
Cempaka merasa bahagia karena ayahnya telah di beri kesempatan menjelaskan perihal fitnah yang mengarah kepada padepokannya.
Sena menarik kembali aura kegelapan untuk membebaskan semua prajurit kota dan pemimpin kota Sinraga dari kekangannya.
“Kini kalian sudah tahu yang sebenarnya? jika masih ada yang ingin maju, saya akan meladeni dengan senag hati”.
Sena maju tiga langkah kedepan, dengan
__ADS_1
tangan yang di lipat kebelakang tubuhnya. Tatapan dinginnya tajam mengarah ke Pemimpin kota Sinraga dan prajurit Kota.
#untuk beberapa hari kedepan tidak ada chapter karena ada masalah yang urgent.terima kasih