
Sena Melanjutkan perjalanannya menyusuri kerajaan Kumbara. Hal ini akan terasa berat untuk menemukan seseorang yang keberadaannya tidak pasti bahkan wajah orang yang di cari juga tidak diketahui.
"Bagaimana mencari petunjuk keberadaan Dewa Tabib yah? Bahkan Nama aslinya saja saya tidak tahu". Gumam Sena sambil berjalan menyusuri perkampungan yang di temuinya kembali.
Dia sebenarnya bisa mendapatkan petunjuk jika saja Sena bertanya kepada penduduk. Bagaimanapun orang yang bergelar dewa tabib pasti di kenal banyak orang, tapi dengan sikap dingin dan antisosial Sena, merupakan hal yang sulit jika harus meminta bantuan kepada orang lain meskipun hanya untuk mengorek informasi sekalipun.
Saat matahari tepat berada di atas kepalanya, Sena berhenti di sebuah warung sederhana di ujung perkampungan. Warung sederhana yang tak berdinding dan hanya beratap rumbia merupakan pemandangan yang umum mengenai warung yang terletak di perkampungan.
Sena menghampiri meja paling ujung. Dia duduk sambil menyimpan kantong yang berisi koin diatas meja. Suara gemerincing koin itu mengundang beberapa perhatian pengunjung yang sedang makan di warung itu.
Tidak berselang lama seorang wanita sepuh mendatangi sena dan bartanya " Tuan , Mau memesan apa?". Sena hanya menunjuk makanan yang ada di samping mejanya yang sedang di santap sesesorang bertubuh kurus hitam.
Pelayan itu mengangguk mengerti. Dengan segara dia masuk kedapur dan membawa beberapa piring ke meja Sena. Tanpa Basa basi Sena menyantap makanan yang tersedia dengan lahap. Selama ini dia hanya makan ikan dan ayam liar di hutan kematian. Berselang 9 tahun baru dia merasakan makanan warung kembali.
__ADS_1
Semua orang terkejut dengan kerakusan Pemuda yang baru saja datang. Diam - diam mereka semua memperhatikan Sena dengan perasaan jijik. Namun tidak dengan Pria kurus berkulit hitam di samping meja Sena. Dia dan temannya memperhatikan Kantong koin di atas meja makan Sena.
Mereka berdua berdiri menuju meja sena dengan dengan senyum dan tatapan jahat.
"Hei Bocah Bisu !!! Serahkan Kantong Koin itu dan nyawamu akan kuampuni". Teriak pria gondrong sambil menarik goloknya.
Sena tidak mempedulikan ucapan kedua pria yang berdiri di sampingnya. Dengan lahap dia terus menyantap makanannya hingga tak bersisa. Ketika hendak mengambil kendi di atas meja untuk melepaskan dahaganya. Tangan Pria Kurus hitam itu mendahului Sena dan membanting kendi itu hingga hancur
"Apakah kamu juga tuli bocah bisu ? " teriak pria kurus hitam sambil mencoba mengambil kantong koin itu namun dengan cepat Sena mengambilnya dan berjalan menuju Pelayan Wanita yang membawakannya makanan tadi tanpa mempedulikan kedua pria yang mengancamnya.
Aura Kegelapan dari tubuhnya keluar mengunci tubuh kedua pria itu. Semenjak menyerap Mutiara Iblis kegelapan , Aura kegelapan Sena begitu pekat dan mampu menghilangkan Tenaga dalam musuh yamg masih dalam jangkauannya. Sehingga musuh tidak dapat menggunakan tubuhnya untuk mengeluarkan Jurus. Selain itu aura kegelapan juga mampu mengunci pergerakan musuh yang hanya memiliki tingkatan pendekar rendah.
Hanya beberapa detik kedua pria yang hanya pendekar tingkat prajurit gerbang 3 itu jatuh berlutut dengan tubuh lemas tak bertenaga karena pusat tenaga dalamnya telah hancur. Kini mereka hanya seperti manusia biasa namun trauma akan sakit akibat aura kegelapan yang masuk menyerang kedalam tubuh mereka akan selalu terekam di pikiran membuat mereka termenung lesu. Dengan penguasaan Teknik penghilang pusat tenaga dalam, Sena mampu merusak pusat tenaga dalam musuhnya melalui sentuhan maupun melalui aura kegelapannya. Saat ini aura kegelapan Sena mampu mengunci total pergerakan Pendekar tingkat prajurit hingga tingkat raja.
__ADS_1
Semua pengunjung warung makan yang setengahnya terdiri atas pendekar mengamati Sena dengan kagum dan ngeri. Bagaimana bisa pemuda yang mungkin berumur kurang 17 tahun memiliki aura yang sangat besar yang tidak bisa mereka baca tingkat pendekarnya.
Sena berbalik kembali ke pemilik warung tanpa mempedulikan tatapan pengunjung lainnya. Dia menatap pemilik warung untuk menanyakan berapa yang harus di bayarnya.Namun tatapan itu di salahartikan pemilik warung. Dengan ketakutan dan gemetar dia bersujud meminta ampun agar tidak di bunuh.
Sena melihat hal itu mengerinyitkan keningnya. "Nampaknya dia tidak mengerti maksudku". Guman Sena sambil merogoh beberapa koin di kantongnya.
"Berapa?". Dengan suara berat Sena mengeluarkan kata kata agar pemilik warung dan pengunjung tidak mencurigainya.
Pemilik warung yang mendengar suara Sena akhirnya mengerti maksud pemuda di depannya namun karena masih ketakutan Pemilik warung itu menolak uang dari Sena.
Sena yang masih tetap berdiri tanpa ekspresi akhirnya memaksa pemilik warung mengambil beberapa koin perunggu di tangannya.
Sena melanjutkan perjalananya berharap segera menemukan seseorang yang di carinya.
__ADS_1
"Nampaknya ini akan memakan banyak waktu dan saya harus bertanya ke seseorang nantinya". Gumam Sena sambil melanjutkan perjalananya hingga dia kembali harus menginap di tengah hutan walaupun nampaknya terdapat kota di depannya. Keadaan sunyi dan sepi menjadi tempat paling nyaman Sena saat ini.
(*Tingkat pendekar seseorang hanya bisa di baca jika orang itu memiliki tingkat yang lebih rendah di banding milik pembaca).