
Selama 3 hari berada di markas Kota Wanua, Sena belajar menunggangi kuda sebagai salah satu syarat menjadi prajurit tingkat tinggi kerajaan. Apalagi sekarang dia menjabat sebagai Rangga kerajaan.
Bagaskara begitu terkejut melihat perkembangan Sena dalam menunggangi kuda. Sempat terpikir olehnya membutuhkan waktu minimal satu minggu agar Sena lancar, namun baru 2 hari Sena sudah mahir menunggangi Kuda.
Tumenggung dan semua Rangga bahkan lebih terkejut bahwa Sena mampu menjinakkan kuda paling liar di markas ini yang bernama Jali. Selama ini kuda hitam itu bahkan sangat sensitif dengan bau manusia sehingga akan mengamuk jika di tunggangi.
Melihat Sena mampu menunggangi Kuda. Raharja memerintahkan Sena dan Bagaskara menjalankan misi yang di bebankan kepada mereka. Rangga Bagaskara mengumpulkan 100 prajurit kerajaan yang sebagian besar berada pada tingkat pendekar prajurit dan ahli.
Terlihat Sena dan Bagaskara memimpin pasukan kecil ini keluar dari gerbang markas cabang Wanua.
"Sena, semoga kamu bisa lebih hidup dengan menyelamatkan hidup orang lain". Tumenggung Raharja tersenyum memandangi kepergian pasukan kecilnya.
"Nampaknya sekarang giliranku menemukan wanita iblis itu". Gumam Raharja mengingat ketua Padepokan Cakar Setan yang menjadi targetnya bersama 3 rangganya.
***
Sena dan Bagaskara menapaki berbagai medan di sekitar wilayah Wanua. Sudah 2 hari mereka mengelilingi wilayah hutan ini namun belum mendapatkan tanda tanda kemunculan markas bandit.
Disela sela istirahat mereka, datanglah 2 prajurit mata mata yang memberi laporan.
"Tuan Bagaskara, ada pergerakan kelompok bandit 500 meter di barat daya". Kata prajurit mata mata.
Bagaskara segera mengumpulkan pasukan. Dengan segera mereka melesat menuju arah barat daya tak mau kehilangan jejak bandit.
Tidak terlalu jauh dari tempat Sena pernah beristirahat, terdengar teriakan teriakan pilu dan tangisan yang menyayat hati. Ratusan penduduk berlari mencoba melawan dan menyelamatkan diri karena kehadiran kelompok bandit.
Tawa yang mengelegar terdengar dari mulut mulut bandit yang memasuki permukiman itu. Dengan segera bandit itu membantai dan mengumpulkan penduduk yang menyerah.
__ADS_1
Aliran darah menghiasi tanah dengan sangat cepat. Terlihat sekitar 80-an bandit mengelilingi penduduk yang tertawan. Kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak anak yang tak mampu memberikan perlawanan.
Seorang yang terlihat pemimpin kelompok itu maju menatap semua hasil rampasannya, terlebih beberapa anak gadis yang menarik di matanya.
"Bawa seluruh anak gadis ini ke markas dan sisanya bunuh saja". Pemimpin bandit itu tersenyum puas.
Seluruh tawanan menangis memohon ampun namun usaha mereka sia sia jika mengharapkan kebaikan hati para bandit. Melarikan diri pun mereka tidak yakin sehingga mereka hanya pasrah berharap kematiannya tidak terlalu menyakitkan.
Beberapa bandit maju menyeringai memutar golok besar di tangannya bersiap menebas leher leher penduduk yang hanya terdiam menunggu ajal hingga deru kuda mengagetkan kelompok itu.
Bandit sontak kaget melihat pasukan kerajaan bisa mengetahui keberadaan mereka. Namun mereka percaya diri karena jumlah pasukan kerajaan tidak terlalu jauh dari mereka ditambah mereka memiliki pengalaman bertarung yang lebih terasah.
Pasukan Bagaskara menyebar mengelilingi kelompok bandit itu. Sena yang melihat ceceran darah dan mata sembab penduduk yang menderita tak menunggu instruksi Rangga Bagaskara. Sena mengarahkan pandangannya kepada pimpinan bandit yang terlihat memiliki tatapan yang menjijikkan.
"Hahaha ternyata prajurit kerajaan lemah, jumlah kalian terlalu sedikit untuk menantang kami yan........". Pemimpin bandit itu bertolak pinggang menatap pasukan kerajaan yang terlihat masih muda dan kurang pengalaman.
Sena melesat turun dari kudanya. Dengan jurus bayangan sesatnya dia mengagetkan pasukan kerajaan dan kelompok bandit ketika tangannya telah mencengkram kuat leher pimpinan bandit yang masih berbicara itu.
Mata pimpinan itu melotot dan mukanya memerah, merasakan sakit di bagian lehernya namun Sena terus mengangkat Bandit gempal itu seakan mengangkat kapas. Pimpinan bandit itu mencoba menghentak hentakkan kakinya yang terangkat untuk mengurangi rasa sakit di batang lehernya.
Aura kegelapan menyerap kedalam tubuh pimpinan bandit itu hingga perlahan mengikis daging dan tulangnya. Rasa sakit yang tertahan ditubuhnya membuat beberapa darah keluar melalui lubang lubang tubuhnya.
Melihat keadaan pimpinannya yang tersiksa. Semua bandit melesat kearah Sena yang terlihat gegabah menyerang ke tengah lautan musuh.
Sena menatap dingin gerakan para bandit yang terlihat lambat di matanya. Dengan segera dia melempar pimpinan bandit yang di cengkramnya kearah anggota bandit yang menyerangnya.
"Braakkkkkk"
__ADS_1
5 bandit terlempar karena terkena tubuh gempal pimpinan mereka. Sena melesat menyerang bandit bandit itu dengan brutal. Setiap pukulan dan tendangannya yang di lapisi aura kegelapan membuat lawannya merasakan mati rasa yang amat pedih.
Tidak ada bandit yang bisa bertahan jika terkena satu serangan Sena. Mereka langsung tersungkur memegangi bagian yang terkena serangan.
Dengan lihai Sena menghampiri bandit yang tersungkur dan mematahkan tangan dan kaki mereka satu persatu hingga mulut mereka terus mengelurkan teriakan pilu.
Bagaskara dan prajurit kerajaan melongo menyaksikan pembantaian yang di lakukan oleh Sena. Mereka awalnya akan ikut membantu namun melihat Sena begitu brutal menyiksa para bandit. Mereka membatalkan niatnya karena takut terkena serangan Sena yang seperti hewan buas.
Sedangkan penduduk bergidik nyeri menyaksikan aksi penyelamat mereka. Sebagian besar menutup matanya untuk tidak melihat pemandangan mengerikan itu namun suara teriakan para bandit tetap membuat pikiran mereka membayangkan rasa sakit dari teriakan itu.
Hanya beberapa menit, lebih dari setengah kelompok bandit telah di bantai oleh Sena. Sisanya hanya berlutut pasrah menyambut kedatangan Sena dan ada juga yang berlari menuju prajurit kerajaan yang mengelilingi mereka memohon bantuan.
"Tuan, tolong tangkap kami". Beberapa bandit bersujud di hadapan Rangga Bagaskara memohon agar mendapatkan hukuman lain.
Mereka takut mendapatkan giliran serangan Sena yang nampak dingin mematahkan tulang tulang bandit di belakangnya sedangkan pimpinan mereka masih berguling guling merasakan kesakitan dari dalam tubuhnya.
Sena menatap puluhan Bandit yang berkumpul di depan Bagaskara memohon pengampunan. Dengan langkah pelan Sena mendekati bandit bandit itu yang gemetaran.
"Ampun, Ampun". hanya itu yang kata yang mampu keluar dari mulut mereka menyaksikan tatapan dingin Sena.
"Kita hentikan cukup sampai disini Sena, kita harus mendapatkan informasi dari mereka". Bagaskara mencoba menghentikan pembantaian yang di lakukan oleh Sena. Meskipun mereka layak mendapatkannya namun membantai penjahat di depan penduduk akan memberikan citra yang buruk bagi pasukan kerajaan.
Bagaskara memandangi Sena yang masih berjalan mendekati bandit seakan tak peduli dengan kata katanya. Dia mengetahui betul besarnya kekuatan Sena yang jauh diatasnya sehingga dia berhati hati ketika berbicara.
Sena sebenarnya mengerti maksud Bagaskara namun dia tidak ingin memberikan ampun kepada bandit bandit didepannya.
Sena mengeluarkan aura kegelapan yang menyelimuti semua bandit tersisa. Pusat tenaga dalam mereka hancur seketika. Rasa sakit yang tak tertahankan keluar melalui teriakan teriakan bandit itu.
__ADS_1
Semua prajurit kembali ketakutan dengan kekejaman Sena yang tidak manusiawi.
Melihat seluruh bandit telah kehilangan pusat tenaga dalamnya. Sena menghentikan aksinya dan berjalan menuju kerah Jali yang tampak gembira dengan aksi tuannya.