Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Menunggu Musuh


__ADS_3

“Dia terlalu kuat”.


Perlahan namun pasti, satu persatu topeng hitam menderita kekalahan dengan menyedihkan. 3 pendekar tingkat tinggi termasuk topeng perak sejak tadi telah mengerahkan jurus pamungkas yang di banggakan namun tak ada satupun yang membuat Sena kerepotan.


Timbul kegelisahan di wajah topeng perak yang melihat jumlah mereka kini tinggal sekitar 20 orang. Tak ada cara dan taktik yang bisa mereka kerahkan untuk menghadapi serangan dan pertahanan aura kegelapan milik Sena. Bukan hanya jurus mereka tidak mempan, namun tenaga dalam mereka juga terkikis sedikit demi sedikit.


“Apa yang harus kita lakukan Tuan Bagong”.


Salah satu topeng hitam mendekati Topeng perak. Melihat gerak gerik Bagong yang tak jelas membuat sebagian besar bawahannya kehilangan nafsu untuk bertarung dan memohon kepada Topeng Perak memerintahkan untuk mundur.


Bagong dan seluruh topeng hitam lainnya mundur mengambil jarak menjauhi Sena. Sena sendiri hanya berdiri menatap tajam semua pendekar bertopeng didepannya dengan tajam seakan bersiap menerima segala keputusan Topeng perak. Yang jelas, pemuda dingin itu tak akan membiarkan satupun musuh kabur begitu saja setelah pernah berurusan dengannya.


Topeng Perak hanya tersenyum kecut melihat


kepercayaan diri pemuda didepannya. Pemuda dingin yang mampu melumpuhkan


ratusan bawahannya seorang diri. Lebih sialnya lagi, setelah hampir seharian


bertarung, Sena belum menunjukkan luka parah dan kelelahan berarti. Jika dia


memerintahkan mundur, dirinyapun tidak yakin mampu selamat dari kecepatan milik


pemuda dingin didepannya.


“Terlalu lama”.


Sena melesat menyerang pasukan topeng hitam tersisa. Ketidaksabaran pemuda dingin itu membuat seluruh anggota Padepokan Cakar Setan kembali mengambil kuda kuda untuk bertahan dan menyerang balik.

__ADS_1


Bagong menyaksikan satu persatu topeng hitam tersisa dengan cepat terdesak dengan aura kegelapan dan pergerakan Sena yang sulit untuk di tebak. Tak butuh waktu lama, akhirnya 2 anggota topeng hitam Padepokan Cakar Setan tersisa yang memiliki tenaga tingkat langit berhdapan langsung dengan Sena. Pertemuan jurus terlihat cukup alot meskipun Sena dengan cepat menghantamkan masing masing pukulannya ketubuh 2 orang itu.


“Ini saatnya”.


Bagong berbalik dan mengerahkan kecepatan terbaiknya meninggalkan area pertempuran itu. Sejak tadi dia menunggu momen dimana Sena terfokus kepada lawannya dan saat inilah waktu yang sangat tepat.


Sena yang masih terselimuti aura kegelapan tentu memiliki persepsi yang sangat peka. Pergerakan topeng perak tak luput dari penglihatannya. Muncul rasa percaya diri di hatinya mengingat beberapa pendekar tingkat suci yang menghindari bertarung dengannya.


“Dasar pengkhianat”.


Salah satu topeng hitam yang melihat pimpinan mereka kabur menggerutu dengan geram. Namun saat ini tak ada yang mampu dia lakukan. Seluruh tubuhnya sudah tak bisa digerakkan hanya darah yang terus mengalir dari sudut bibir disertai rasa sakit di seluruh tubuh.


Sena tak membuang waktu. Dengan cekatan dia mengejar Bagong yang sudah terlihat cukup jauh dari pandangannnya. Mengerahkan jurus bayangan Sesatnya, Sena sangat yakin mampu menyusul topeng perak itu meskipun memakan waktu yang cukup lama.


Sebelum bergerak, cincin milik Sena keluar menemani 2 musuhnya yang tersisa. Setelah kepergian Sena, pusaka cincin itu membelah dua, salah satunya langsung melesat menyerang topeng hitam yang masih bisa bergerak sedangkan sisanya dengan mudah melingkari tubuh topeng hitam dan menghancurkan pusat tenaga dalamnya.


“Ahkkkkkkk”.


telah kembali menyatu dengan jarinya.


“Si*l, dia cepat sekali”.


Bagong sekilas berbalik dan melihat siluet pemuda yang terselimuti kegelapan. Dirinya hanya terus mengumpat memikirkan bawahannya yang tak bisa menahan Sena lebih lama setidaknya sampai malam semakin larut.


Intensitas cahaya yang semakin tipis tak membuat penglihatan Sena berkurang untuk mengunci pergerakan milik Bagong. Kondisi tubuhnya saat ini mulai menurun sebab bertarung tanpa jeda pada waktu yang sangat


lama. Hanya aura kegelapan ditubuhnya yang terus menerus mengalirkan tenaga dalam untuk mengisi pusatnya yang sejak tadi seharusnya telah habis.

__ADS_1


Melihat jaraknya yang semakin kecil, Sena melesatkan dua cincinnya untuk menyerang Bagong. Merasakan pergerakan senjata di belakangnya, Bagong menghindar dengan bersalto diudara. Hal itu tak berhenti, karena kini muncul satu cincin besar kembali menyerangnya dari arah depan.


Topeng perak tak bisa menghindar lagi sehingga dengan terpaksa menahan lesatan cincin besar itu dengan menyilangakn kedua lengannya.


“Bukkkkk”.


Topeng Perak terlempar cukup jauh. Kedua lengannya mati rasa akibat tumbukan itu. Tidak berhenti disitu, cincin besar itu dengan cepat menyerap tenaga dalam yang di keluarkan oleh Bagong.


“Ini lebih menyulitkan”.


Bagong menatap Sena dengan pandangan memelas. Pemuda didepannya sangatlah menakutkan dengan aura kegelapan yang berkobar seperti api hitam disekeliling tubuhnya. Belum lagi, 3 cincin besar terus berputar didepannya. Baru kali ini dia melihat seseorang yang menakutkan seperti Nyai Genggong di hidupnya. Hampir 30 tahun Bagong menjadi ketua sebuah padepokan aliran hitam menengah, namun tak pernah menyaksikan kemampuan menakutkan seperti milik Sena.


“Aku menyerah”.


Bagong mengangkat kedua tangannya. Namun Sena justru tak memberi tanggapan atas pernyataan milik Bagong. Topeng perak itu tersenyum lemas dengan sifat dingin dan malas berucap yang di miliki oleh lawan


didepannya.


Sena tak mempedulikan mimik dan gerak gerik milik Bagong. Ketiga cincinnya bergerak serentak, diikuti lesatan puluhan lengan aura kegelapan untuk melumpuhkan Bagong. Tak ada kata meyerah dalam pikiran Sena ketika sudah memasuki arena pertempuran.


Topeng perak itu menghela nafas panjang melihat puluhan serangan mengarah kepadanya. Tak bisa melarikan diri dan tak yakin untuk memenangkan pertempuran membuat Bagong terlihat pasrah menahan gempuran serangan milik Sena. Topeng perak itu hanya berharap rombongan Padepokan Cakar Setan lainnya bisa datang lebih cepat untuk membantunya.


Satu persatu luka mulai bersarang di tubuh milik Bagong. Kemampuan yang di miliki Bagong sebenarnya sangat mengesankan namun karena kehebatan Pusaka cincin milik Sena dalam menebak pergerakan milik Bagong membuat seluruh usaha Topeng perak itu untuk mendekati Sena tak terealisasi sesuai ekspektasinya.


Butuh waktu yang cukup lama hingga Bagong benar benar tersungkur akibat kelelahan dalam bertarung. Melawan Aura kegelapan dan cincin besar itu justru semakin membuat dia cepat kelelahan. Sena saat ini mungkin menjadi pendekar yang mampu bertarung dengan jangka waktu yang lama selama masih memiliki pusaka cincin dan aura kegelapan.


Sena memasukkan pusaka cincin di jarinya, begitupun aura kegelapan yang kembali masuk ketubuhnya. Seluruh tubuhnya sontak menjadi kesakitan setelah melewati pertarungan panjang ini. Entah berapa kali aura kegelapan mengisi ulang tenaga dalam ditubuhnya, yang jelas itu berefek kepada rasa sakit yang di terimanya saat ini.

__ADS_1


Bisa saja saat dalam pertempuran panjang dia menggunakan teknik pernafasan amukan Surgawi untuk mengisi pusat tenaga dalamnya tapi tentu hal itu tak secepat dengan asupan tenaga dari aura kegelapan.


“Aku harus menunggu musuh lainnya”. Gumam Sena dalam hati sambil memegang dadanya yang terlihat kempas kempis.


__ADS_2