Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Rahasia Dunia Persilatan


__ADS_3

Pria bertopeng perak itu mengarahkan pandangannya kearah Sena yang terlihat mendekatinya.


Dengan aura kegelapan yang menyelimutinya dan 3 roda hitam yang terus berputar diatas kepalanya. Sena berharap pria didepannya mampu membuatnya mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.


Dengan kekuatan Pendekar Suci gerbang pertama, Topeng Perak itu melesat menyerang kearah Sena. Kecepatannya sangat tinggi hingga mampu memberikan


pukulan ke tubuh Sena meskipun sebelum pukulan itu mengenainya, Sena terlihat


telah menyilangkan kedua tangan di depan dada.


“Bukkkkkkk”


Sena mundur beberapa langkah mendapat serangan kuat itu namun selama masih ada aura kegelapan, luka ringan yang dialaminya akan segera sembuh dalam hitungan detik.


Tanpa jeda, Sena membalas serangan dengan memerintahkan ketiga cincinnya meyerang Topeng Perak.


Topeng Perak awalnya mampu menghindari ketiga serangan cincin besar itu dan mendekat kearah Sena tapi ketika semakin dekat, Aura kegelapan membentuk lengan panjang yang menghalangi dan berusaha menangkap tubuhnya.


“Kemampuan yang sangat merepotkan”. Gumam Topeng Perak memperhatikan cincin cincin besar yang berputar dan aura kegelapan yang terus memanjang menyerangnya secara bersamaan. Tanpa Topeng Perak sadari, semakin lama dia bertarung semakin tenaga dalamnya terhisap.


“Si*l, mengapa tenaga dalamku semakin menipis”. Topeng perak tak mengerti dengan kondisi tubuhnya yang sudah berada pada tingkat suci itu, seharusnya dengan tingkat ini dia mampu bertarung dalam waktu yang lama tanpa takut kehabisan tenaga dalam.


Sena menyeringai sinis melihat kebingungan Topeng Perak. Dengan Jurus Bayangan Sesatnya Sena melesat kearah topeng perak yang terlihat sibuk menghindari cincin cincinnya. Mendapat serangan dari berbagai arah, di tambah luka di dadanya membuat Topeng perak terhempas menabrak pohon besar setelah pukulan telak Sena mengenai bekas dadanya yang terluka.


Aliran darah keluar dari mulutnya. Kelopak matanya bergetar seakan tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar membuka mata melihat pemuda dingin yang mempermainkannya dalam pertempuran.


Satu cincin melingkari tubuh Topeng Perak yang sudah tak berdaya. Darahnya semakin deras keluat seiring pusat tenaga dalam di daerah perutnya hancur.


Tidak pernah terpikir olehnya akan di pecundangi oleh pendekar muda yang baru memiliki tenaga tingkat langit.


“Masih terlalu lemah”. Sena menghentikan aksinya dimana aura kegelapan telah masuk ketubuhnya dan ketiga cincin mengecil kemudian menyatu di jarinya.


Merasa urusannya selesai, Sena berjalan menuju kudanya kembali, namun sebuah teriakan menghetikan langkahnya.

__ADS_1


“Tuan pendekar, terima kasih atas bantuannya. Kalau boleh tau siapa nama tuan dan tujuan anda memasuki kawasan bukit api ini?”.


Seorang Kakek tua yang sebelumnya bertarung dengan Topeng Perak menjura sebagai tanda terima kasih atas bantuan Sena, namun diikuti berbagai pertanyaan. Kakek tua itu bernama Yuwa Suharduya, Ketua Padepokan Bukit Api.


Kawasan bukit api ini sangat tertutup dari dunia luar. Sudah hampir 50 tahun Padepokan ini mengurung diri karena sebuah kejadian yang memaksa.


Adanya pengkhianatan di dalam padepokan membuat satu satunya celah menembus


kabut panas yang selama ini jadi pelindung Padepokan Bukit Api tersebar hingga ke telinga Padepokan Cakar Setan. Selama ini mereka hidup tenang untuk membangun kembali pondasi padepokan.


Kemampuan Sena yang bisa menembus kabut panas mencurigakan bagi anggota Padepokan Bukit Api Namun mereka juga sadar, tanpa ikut campur pemuda dingin itu. Padepokan mereka akan hilang di Tanah Kumbara Ini.


Sena berhenti dan menatap dingin kearah orang tua yang ada di belakangnya. Dia mempunyai urusan penting yag harus di laksanakan namun dia harus belajar menghargai orang lain apalagi Sena merasakan aura kebaikan yang terpancar di tubuh kakek tua itu.


“Saya Arya Sena, kebetulan melewati bukit ini untuk menuju gunung tandus itu”. Jawab Sena dengan tegas. Dia menunjuk sebuah gunung yang yang berada di barat daya.


Kakek Tua itu memperhatikan gunung hitam yang letaknya masih sangat jauh. Dia kembali menoleh memperhatikan setiap inci tubuh Sena.


Nampaknya ada hal yang membuatnya begitu tertarik dengan dengan pemuda berjubah


“Tuan, apakah anda mengenali aura kegelapan yang sebelumnya


keluar dari tubuh anda ?”.


Kakek tua itu menunduk penuh keresahan. Sena mengerutkan dahinya menganggap Ketua Padepokan Bukit Api didepannya terlalu frontal untuk mengorek rahasianya. Namun dia mencoba untuk  meganalisa tujuan ketua Yuwa Suhaduya menanyakan aura kegelapan yang dimilikinya.


“Tidak, apakah ketua mengetahuinya ?”.


Ketua Padepokan Bukit Api sontak terkejut mendapatkan jawaban Sena. Dengan hati hati dia mengajak Sena untuk memasuki ruangan rahasia padepokannya yang terletak di bawah tanah.


Sena yang tertarik mengetahui lebih dalam mengenai aura kegelapan warisan Gurunya, mengikuti langkah ketua Yuwa Saharduya.


Didalam perjalanan, ketua Yuwa menjelaskan mengenai padepokannya yang merupakan

__ADS_1


padepokan aliran putih terbesar puluhan tahun silam sebelum kejayaan padepokan


Pedang Kebenaran.


Kemunduran kekuatan mereka terjadi karena serangan pasukan siluman yang mengincar  sesuatu di padepokan Bukit Api. Semua petinggi mengorbankan diri demi menyelamatkan anak anak dan wanita di dalam padepokan.


Dengan mustika mutiara kabut Api, Ketua padepokan Bukit Api terdahulu menyegel bukit ini sebagai perlindungan terakhir sehingga tidak ditemukan oleh Siluman.


Didalam ruangan rahasia itu terlihat puluhan gulungan tua berjejer di lemari usang. Sebagai Padepokan terbesar di masanya, berbagai informasi mengenai dunia persilatan dicatat, termasuk aura kegelapan yang berasal dari mustika mutiara iblis kegelapan.


Sena membuka gulungan mengenai mustika yang pernah di serapnya dengan teliti.


Ketua Yuwa yang melihat Sena larut dalam bacaannya, meninggalkan pemuda dingin itu untuk mengatur sisa sisa pertempuran yang hampir membunuhnya.


Ketua Yuwa membiarkan Sena untuk membuks dan membaca semua gulungan informasi dunia persilatan yang di miliki padepokkannya sebagai bentuk balas budi atas tindakan pemuda berjubah merah itu.


Sudah 3 hari Sena didalam ruangan itu. Berbagai Rahasia dunia persilatan terekam didalam pikirannya. Pengetahuannya semakin luas akan dunia ini, termasuk rahasia akan aura kegelapan yang berasal dari sebuah pulau kecil di utara dataran Java.


Sena memutuskan mengakhiri belajarnya dengan menyimpan semua gulungan kuno di tempatnya kembali. Terdapat banyak misteri yang belum di pahami karena pengalamannya masih minim.


Pemuda dingin itu melangkah keluar dari ruang bawah tanah dengan keadaan kusut dan berantakan.


Semakin Sena menjelajahi dunia semakin banyak rahasia rahasia yang menarik perhatiannya. Ketua Yuwa yang melihat Sena keluar dari ruang bawah tanah, menghampiri pemuda itu untuk menawarkan makanan dan istirahat karena 3 hari sebelumnya Sena bahkan tak mencicipi sesuatu.


Walaupun memiliki kemampuan yang hebat tapi Sena tetaplah manusia yang membutuhkan makan dan tidur. Sena menganguk menerima tawaran Ketua Yuwa. Dengan desakan Kakek Tua itu juga, Sena memutuskan beristirahat sebelum menuju markas Bandit Lembu Gunung.


Nampak keadaan padepokan kecil ini mulai membaik setelah perbaikan yang digalakkan oleh seluruh anggotanya.


“Sena, kau telah menjadi bagian dari padepokan ini. Kapan pun kau ingin berkunjung, kami semua akan membuka pintu lebar lebar untukmu”. Ucap lembut Ketua Yuwa Suhaduya.


Kakek tua itu telah memperbaiki pelindung kabut panas padepokannya hingga celah untuk memasukinya akan menjadi rahasia padepokannya kembali. Untuk Sena sendiri, Dengan aura kegelapan, dia bisa menembus penghalang itu denga mudah.


Sena menundukkan kepala kepada semua orang di padepokan Bukit Api yang datang mengantar kepergiannya. Dirinya menaiki Jali dengan aura kegelapan yang membungkus tubuh mereka. Jubahnya terus berkibar hingga menembus kabut panas itu.

__ADS_1


“Semoga kegelapan tidak merasuk ke hatimu Sena”. Gumam Ketua Yuwa Suhaduya.


__ADS_2