Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Perjalanan Di mulai


__ADS_3

Jaya Bhaya yang mendengar ucapan Sena tersenyum bahagia. Segera mereka berjalan kembali ke pusat kota Sindara untuk mencari penginapan. Suasana Pinggiran kota Sindara kembali terlihat sepi akibat kejadian tadi siang . Setalah berjalan dan berputar - putar di sekitaran pusat kota, akhirnya Jaya Bhaya menemukan penginapan yang sederhana dan nampak sedikit pengunjung.


Saat masuk, tatapan pemilik penginapan agak murung karena tamu yang datang berpenampilan lusuh. 1 Kakek Tua dan 1 lagi bocah kecil. Apalagi mereka berdua kurus dan dekil.


" Kami memesan 1 kamar dengan 2 tempat tidur, Oh ya jangan lupa segera antarkan 2 piring makanan kekamar". Ucap Jaya Bhaya sambil tersenyum kecil kearah Sena.


"Nampaknya guru Jaya juga miskin". Gumam Sena dalam hati.Pantasan dari tadi dia berputar putar ternyata sedang mencari penginapan yang kecil.


Setelah membayar biaya penginapan dan makan malam, mereka di antar kedalam kamar. Tidak lama pelayan juga membawa makan malam.

__ADS_1


Melihat Sena makan dengan sangat lahap,Guru Jaya menyerahkan setengah makanannya untuk sena. Sena menengok senyum di wajah gurunya kemudian melanjutkan makan.


Malam itu mereka istirahat dengan lelap karena pada dasarnya Sena seorang anak yang tak peduli dengan orang lain sehingga setelah makan dia langsung menuju tempat tidur dan mencoba terlelap. Meskipun pikirannnya masih terbayang wajah Bi Ratih.


Bulan bergulir dengan cepat di Langit malam Kota sindara. Kini matahari dengan cahaya kebesarannya mulai menatap seluruh permukaan Kota. Jaya Bhaya yang sejak pagi tadi terbangun menuju ke toko pakaian untuk membeli 2 buah helai pakaian untuk Arya Sena dan 1 buah pakaian untuknya.


Saat kembali ke penginapan, Sena telah terbangun dari tidur namun masih melamunkan sesuatu.


Perjalanan Jaya Bhaya dan Arya Sena di mulai dengan mengarah ketimur Kota Sindara.Mereka berjalan hingga sore hari dan akhirnya sampai ke ujung timur kota sindara.tanpa bertanya apapun Sena hanya terus melangkah mengikuti jejak kaki Jaya Bhaya.

__ADS_1


Jaya Bhaya melihat Sena sepanjang jalan hanya terdiam, tersenyum kecut. Meskipun dia terus bercerita, Sena hanya menanggapi dengan wajah datarnya dan paling baik dia mengangguk. Meskipun begitu, Jaya Bhaya kagum dengan tenaga muridnya walaupun masih terlihat bocah 7 - 8 Tahun namun bisa berjalan berjam jam tanpa mengeluh.


Terus Berjalan dan menginap di hutan selama 3 hari . Selama itu pula setiap pagi Jaya Bhaya selalu melatih fisik Sena sebelum memulai perjalanan. Seorang pendekar tingkat tinggi selain harus memiliki jurus jurus hebat, harus di topang tenaga dan tubuh yang bagus. Jadi Sena Melatih Tubuhnya sebagai pelajaran pertama.


Sena Melaksanakan semua instruksi Gurunya, meskipun latihan fisik itu jika di perhatikan tidak akan mampu untuk tubuh kecilnya, namun itu semua dia dapat lakukan tanpa mengeluh sedikitpun.


Perjalanan yang hampir mencapai kota selanjutnya terhenti saat mereka di cegat 5 kawanan perampok. Jaya Bhaya dan Arya Sena menatap ke lima perampok dengan tingkatan pendekar prajurit dan pemimpinnya yang kekar sudah mencapai tingkatan pendekar ahli.


"Ahhh Kenapa sial sekali hari ini, hanya 2 manusia miskin yang melintas". Kelima perampok nampak kesal memperhatikan Jaya Bhaya dan Sena karena terlihat miskin dan barang bawaan hanya bungkusan kecil yang mungkin berisi pakaian.

__ADS_1


"Serahkan harta kalian meskipun hanya 1 koin perak atau kupatahkan tubuh kurus kalian" Perampok yang paling gemuk maju mengangkat pedang kearah Jaya Bhaya dan Sena.


__ADS_2