
Sena Melirik kearah gurunya yang merupakan satu satunya harapan untuk melumpuhkan perampok di depannya namun harapan itu sirna ketika melihat Gurunya dengan cepat merogoh kantongnya dan mengeluarkan beberapa koin perunggu yang di milikinya kemudian dengan sopan menyerahkan nya ke perampok.
"Apakah sebenarnya guru bukan seorang pendekar? mengapa dia takut dengan pendekar yang mungkin hanya tingkat rendah". Sena menggumam dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya. Mengapa hidup yang di laluinya sangat sulit. Tekadnya untuk menjadi kuat semakin besar mengingat siksaan dan hinaan yang dia alami selama ini bahkan saat ini.
Perampok gemuk yang melihat beberapa koin perunggu memerah dan menatap sangar kearah Jaya Bhaya. Dia mengayungkan pedangnya ke tubuh Jaya Bhaya namun berhasil di hindari.
Melihat hal itu perampok gemuk melancarkan tendangan kembali yang menghantam perut samping jaya bhaya yang membuatnya tersungkur. Dia terus menginjak punggung Jaya Bhaya yang terus mengeram kesakitan.
" Dasar miskin, kenapa uangmu hanya segini". Teriak perampok gemuk sedangkan keempat temannya yang lain hanya tertawa.Sena segera berlari menutupi tubuh gurunya dengan punggungnya.
__ADS_1
Pakkk! Pakk!!
Suara tendangan terus berbunyi hingga kabut gelap kembali keluar dari cincin Sena dan mengeluarkan aura yang menekan ke 5 perampok tersebut.
"Aura Apa ini? apakah anak ini iblis?". Teriak Pemimpin perampok yang gemetar dan berkeringat dingin. Seluruh kekuatan dan tenaga dalamnya seakan terkunci bahkan perampok gemuk yang paling dekat terjatuh dan mengeluarkan darah.
Ketika aura gelap itu perlahan berkurang, kelima perampok berlari tanpa menoleh kebelakang. Sena yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya memegangi punggungnya yang terasa sakit.
Kota Sindai yang terletak di Bagian tenggara juga merupakan kota paling ujung di wilayah Kerajaan Kumbara.Sena terus memapah Gurunya agar bisa mendapatkan perawatan dan bantuan.
__ADS_1
Setelah beberapa kali berhenti di depan rumah penduduk namun tak ada satupun orang yang mengerti keinginan Sena yang hanya menatap sedih kearah gurunya yang sedang terluka bahkan sebagian besar mengusirnya karena mengira mereka pengemis. Meskipun sangat membenci orang orang namun kini dia harus melakukan hal yang di bencinya yaitu meminta bantuan demi gurunya.
Jaya Bhaya yang melihat muridnya berusaha meminta pertolongan kemudian berkata "Sena sebaiknya kita cari tempat berteduh.Guru tidak punya uang lagi jadi kita cari tempat kosong untuk malam ini".
Sena hanya mengangguk, meskipun marah dengan perlakuan orang - orang, namun mendengar permintaan gurunya dia hanya mengikuti keinginan gurunya tersebut.
Berkeliling sekitar 1 jam Sena menemukan pondok kecil yang hampir roboh.Dia memapah gurunya memasuki pondok itu.meskipun sudah usang. dan penuh jaring laba laba hal itu masih untung daripada tidak bisa berteduh dari hujan yang akan segera turun.
Sena menidurkan gurunya di tikar yang sebelumnya telah dia bersihkan. Jaya Bhaya langsung terlelap meskipun sesekali muncul erangan di mulut tuanya. Melihat tubuh gurunya yang penuh luka membuat kebencian Sena terhadap orang orang semakin besar.
__ADS_1
Sejak kecil Sena hanya melihat kekejaman dan penindasan orang orang terhadap dirinya. Sampai saat ini hanya 2 orang yang di pedulikan Sena namun 1 Sudah meninggal dan 1 berbaring sakit. Aura kebencian melengkapi tubuh Sena malam ini hingga dia terlelap di samping gurunya.