Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Juara sekaligus Buronan


__ADS_3

Kemenangan Sena membuat Tumenggung Raharja tertawa begitu bahagia. Semua tumenggung hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku laki laki berkumis itu.


Suasana begitu meriah, hingga Prabu Sanjaya Maharja memasuki arena untuk memberikan penghargaan dan hadiah kepada Sena.


“Arya Sena ! Saya berharap kamu bisa bergabung dengan prajurit kerajaan”. Kata Prabu Sanjaya Maharja sambil memberikan hadiah turnamen kepada Sena. Sena membungkukkan sedikit badannya di hadapan Raja. Kali ini dia memberikan penghormatan sebagaimana mestinya terhadap Sang Raja hingga Prabu Sanjaya melangkahkan kakinya turun dari arena.


“Selamat Sena”. Arjunta datang menghampiri Sena bersama dengan Isyana. Mereka bertiga segera meninggalkan arena menuju rumah Sena. Sedangkan para petinggi padepokan aliran putih, kelompok netral dan pihak kerajaan melakukan pertemuan dengan memanfaatkan kehadiran semua perwakilan kelompok besar itu untuk membahas keadaan kerajaan Kumbara yang mulai terusik


dengan berbagai tindakan pendekar aliran hitam.


Sejauh ini terdapat tiga Padepokan hitam yang memiliki kekuatan setara dengan pasukan kerajaan yaitu Padepokan Tengkorak


Darah dan Padepokan Kabut Racun. Anggota kedua padepokan ini pernah bertarung melawan Sena.


Ancaman yang paling ditakutkan adalah Padepokan Cakar Setan yang beberapa bulan terakhir mulai menampakkan kekacauan di berbagai wilayah kerajaan. Laporan keganasan pendekar Cakar Setan terus berdatangan menuju istana hingga membuat ketenangan yang hampir 20 tahun kembali terusik.


Mahapatih Anom mengenali betul ketua Padepokan Cakar Setan yang memiliki kekuatan setidaknya Pendekar suci gerbang 3 yang merupakan eksistensi tertinggi di kerajaan hingga saat ini.


Pendekar Suci Gerbang 3 di Kerajaan Kumbara yang di ketahui bahkan tidak lebih dari hitungan satu tangan. Di pihak pasukan kerajaan sendiri hanya Mahapatih Anom yang memiliki tingkatan seperti itu.


Berbagai pendapat terus berdatangan dari pihak pihak aliran putih dan netral, untuk meredam dan memusnahkan kejahatan di tanah Kumbara ini. Hingga Prabu Sanjaya Maharaja memutuskan akan segera mengirim sebagian tumenggung untuk mencari keberadaan padepokan padepokan aliran hitam yang bersembunyi di wilayah Kumbara.


“Maaf Paduka Raja saya ingin menanyakan status Sena yang merupakan buronan Kota Mandau”. Salah satu ketua padepokan aliran putih tingkat menengah segera berbicara setelah pembahasan mengenai masalah invansi padepokan aliran hitam selesai.


Semua orang mengerutkan dahinya mengetahui informasi bahwa Sena sesorang buronan Kota Mandau. Hanya Tumenggung Raharja yang tak terkejut karena sudah mengetahui hal itu sebelumnya, namun dia berpikir kasus itu tak di lanjutkan karena tidak sampai di pihak kerajaan.

__ADS_1


Mahapatih Anom mempersilahkan Ketua Padepokan Tinju besi untuk memberikan penjelasan. Dengan nada tegas Ketua padepokan tinju besi menjelaskan tentang tindakan Sena yang melumpuhkan pusat tenaga dalam salah satu tetua dan murid suci padepokannya bahkan melukai puluhan pasukan kota Mandau.


“Jika hal itu terbukti maka Sena akan mendapatkan hukuman sesuai peraturan kerajaan”. Mahapatih Anom berkata tegas kemudian mengalihkan pandangannya kepada Tumenggung Raharja dan Giri Sawardhana yang terlihat kesal.


Mahapatih Anom mengetahui bahwa Sena adalah orang yang menolong keponakan Giri Sawardhana saat di Kota Rando.


Sebagian orang di pertemuan ini menyayangkan jika Sena menjadi musuh Aliran putih dan Kerajaan, karena bakatnya yang menakutkan jika terus berkembang. Tak perlu waktu yancg cukup lama, Sena diyakini akan berdiri di puncak pendekar Kerajaan Kumbara.


***


Sena, Arjunta dan Isyana duduk menikmati hidangan yang di sediakan pelayan Tumenggung Raharja. Sena yang menjadi tamu istimewa di Kediaman ini mendapatkan pelayanan terbaik bahkan mungkin akan menjadi pemilik rumah kecil ini.


“Sena, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya ?”. Arjunta menatap Sena yang sedang menikmati makanannya. Dia ingin mengetahui arah perjalanan Sena karena dia juga akan segera kembali ke padepokannya untuk melanjutkan pelatihan.


“Saya akan bergabung dengan Pasukan Tumenggung Raharja”. Jawab Sena yang masih melanjutkan makannya. Setelah membuka hatinya terhadap kehidupan, Sena ingin menjalankan nasehat Jaya Bhaya untuk menggunakan kekuatannya untuk melindungi orang orang lemah.


Sena tidak ingin melihat banyak orang yang membenci kehidupan yang seharusnya sangat berharga. Walaupun hal itu akan terasa berat baginya karena Sena memilki sikap acuh dan dingin kepada orang lain.


Isyana terus tersenyum memandangi kedua laki laki yang selalu melindunginya. Sejenak dia berpikir betapa bahagianya jika mereka bertiga bisa saling bersama hingga tua nanti namun isyana menyadari bakat Arjunta dan Sena sangat di butuhkan untuk menciptakan perdamaian di Kerajaan ini.


Tumenggung Raharja yang baru pulang dari istana menyapa ketiga anak muda yang sedang duduk bercengkrama itu. Pandangan Tumenggung Raharja menuju kearah Sena yang mulai terbiasa tersenyum kepadanya.


Ada beberapa hal yang ingin dia sampaikan


namun tertahan karena kehadiran Arjunta dan Isyana.

__ADS_1


Gelak tawa orang orang didepannya membuat Sena tersenyum seakan mulai menikmati kehidupannya. Awalnya dia merasa hampa setelah kematian Jaya Bhaya namun seiring waktu, muncul orang orang yang mengisi hati dingin Sena.


Dalam hatinya Sena berjanji akan melindungi dan menjaga senyuman Arjunta,Isyana dan Raharja.


Suasana malam semakin larut dimana Isyana dan Arjunta memuntuskan kembali ke Gedung Serikat Pendekar Sakti. Kini hanya tinggal Sena dan Raharja yang duduk berhadapan ditemani arak.


“Sena, besok ikut saya ke pengadilan istana”. Tumenggung Raharja berkata dengan hati hati, pria berkumis ini tidak ingin merusak suasana hati Sena yang mulai membaik.


Rahaja kemudian melanjutkan pembahasan mengenai kasus yang menjerat Sena. Raharja mengetahui betul emosi sena yang tidak stabil karena jarang berkomunikasi dan mengalami masalah sosial yang umum terjadi di kerajaan ini.


Sena menarik nafas panjang mengingat beberapa tindakannya namun dia tidak ingin mengakui bahwa tindakannya adalah hal menyimpang. Bagaimanapun saat ini Sena belum memiliki cukup pengetahuan tentang nilai apa yang menyimpang atau tidak di kerajaan ini.


“Baik. Saya besok akan menghadiri persidangan kerajaan”. Tuemenggung Raharja tersenyum mendengar persetujuan Sena. Raharja akan sekuat tenaga melindungi Sena dari hukuman. Mereka berdua melanjutkan minum hingga terlelap di rumah kecil itu.


***


Suasana persidangan kerajaan tengah berlangsung dimana Sena duduk dihadapan Prabu Sanjaya Maharja dan beberapa petinggi kerajaan. Di belakang Sena hadir beberapa saksi yang akan memberatkan hukuman Sena.


Isyana dan Arjunta terlihat duduk menyaksikan pengadilan itu. Informasi mengenai Sena yang akan menjalani persidangan sampai ditelinga mereka melalui Giri Sawardhana. Muncul kekhawatiran di wajah cantik Isyana.


Dipa Arbi dan Bagas Harja yang berasal dari Padepokan Tinju Besi menjelaskan tragedi yang menyebabkan pusat tenaga dalam mereka hancur di hadapan Hakim Kerajaan. Selain itu beberapa prajurit kota Mandau menambahkan penjelasan yang mungkin menambah berat hukuman Sena.


Sena hanya terseyum kecil mendengarkan penjelasan yang sedikit dramatisasi dari beberapa orang di belakangnya. Sena memandang beberapa orang yang di kenalnya duduk di depannya termasuk hakim yang membacakan hukuman penjara yang akan di terima Sena. Walaupun hukuman itu tidak memuaskan bagi sebagian orang namun mereka tidak akan gegabah menentang keputusan Hakim apalagi Sang Raja menghadiri pengadilan ini.


“Jika saya ingin meninggalkan tempat ini, nampaknya bukan hal yang terlalu sulit”. Gumam Sena dalam hati. Sifat Buas Sena kembali muncul melihat dirinya menjadi pusat perhatian di ruangan ini. Sena paling tidak menyukai sesuatu yang merepotkan seperti ini apalagi dirinya harus berpura pura lemah dihadapan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2