Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Isyana Tunggadewi


__ADS_3

Tetua Badri Arja terus berkelit mencoba menjauhi cincin yang lebih mirip roda hitam namun cincin itu terus mengikutinya dan menyerang tubuhnya.


Setiap cincin itu bersentuhan dengan senjata tulang runcing dan tubuhnya, maka tenaga dalamnya akan lebih banyak terserap. Tetua Badri Arja yang kesal melakukan serangan dengan tenaga dalam yang besar sehingga cincin Sena terlempar menjauh namun sebelum dia menarik nafas panjang satu cincin kembali melesat dan mengenai punggungnya.


"Akhhhh"


"Nampaknya cincin ini di kendalikan oleh bocah itu". Tanpa pikir panjang Tetua Badri Arja yang baru saja mengeluarkan sedikit darah di mulutnya, melesat mendekat kearah Sena yang sedang menatapnya bertarung dengan cincinnya.


Tetua Badri Arja melemparkan senjatanya yang di lapisi tenaga dalam ke tubuh Sena. Dengan senyuman kecil tetua itu mengira sena tidak akan mampu menghindari kecepatan senjatanya dengan jarak yang sedekat ini.


Sena tak bergeming melihat senjata tulang runcing yang mulai menampakkan keretakan cukup besar itu meluncur deras ke arahnya. Kedua cincinnya melesat kembali mengejar senjata tetua Badri Arja.


Belum selesai senyum Tetua Badri Arja, sebuah tombak menubruk tulang runcingnya hingga hancur.

__ADS_1


Pertarungan Tetua Badri Arja dan Sena terhenti ketika terlihat seorang pria kekar berkumis dengan selusin lebih prajurit Kerajaan muncul.


"Wahhh Badri Arja nampaknya kau sudah menjadi Pendekar Suci padahal beberapa waktu lalu kau masih pendekar tingkat langit". Pria Kekar berkumis itu menatap Tetua Badri Arja yang nampak sebagai musuh lama kemudian menatap Sena yang dianggapnya luar biasa. Pemuda yang bisa memojokkan seorang pendekar suci meskipun dia hanya pendekar tingkat langit.


"Si*l !!! apa yang di lakukan Tumenggung Raharja di sini". Tetua Badri Arja menggerutu melihat kedatangan seorang Tumenggung Kerajaan. Melawan Sena saja dia sangat kesulitan apalagi kedatangan Tumenggung Raharja yang memiliki tingkat pendekar Suci gerbang 2.


"Nampaknya saya harus menggunakan bom racun agar bisa kabur". Tetua Badri Arja melemparkan bola merah di depannya yang langsung mengeluarkan gempulan asap beracun.Dengan Sisa tenaganya dia melesat melarikan diri.


"Mundur menjauh dari asap itu". Tumenggung Raharja berteriak keras memperingatkan pasukannya untuk menghindar.


Tumenggung Raharja memperhatikan Sena yang semakin menjauh berkata dalam hati. "Pemuda yang misterius, semoga saja dia bukan dari aliran hitam".


"Lapor Tumenggung, wanita muda yang di bawah pemuda tadi adalah anak dari dewa tabib". Seorang prajurit mendekat ke arah Raharja.

__ADS_1


" Apa ? Kenapa baru bilang ". Raharja berteriak kesal. Sebagai Tumenggung di Kerajaan Kumbara dia ditugaskan mencari Dewa Tabib, namun sudah berminggu minggu belum ada petunjuk. Kini dengan menghilangnya Isyana didepan matanya maka petunjuk keberadaan Dewa Tabib kosong kembali.


"Akhhhhh"


Teriakan Tumenggung Raharja menggema bahkan terdengar oleh Sena dan Tetua Badri Arja yang melarikan diri dengan arah berlawanan.


"Turunkan Aku". Dengan perasaan malu Isyana berbicara kepada Sena. Bagaimanapun ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan laki laki. Dengan kecantikan dan keanggunan Isyana Tunggadewi tentu saja ribuan laki laki di Kerajaan Kumbara berlomba untuk meminangnya.


Sena yang merasa telah cukup jauh menurunkan tubuh Isyana. Dengan wajah dingin dia Berkata "Aku ingin bertemu Dewa tabib".


Isyana menatap raut wajah Sena yang datar


"Ada urusan apa kau dengan ayahku ? lalu kenapa kau melarikan diri dari pihak kerajaan ? Apakah kamu seorang buronan ?".

__ADS_1


Sena yang menerima 3 pertanyaan sekaligus menatap dingin wanita yang ada di depannya. "Aku ingin bertemu dewa tabib sekarang".


__ADS_2