Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Kebahagiaan di Tengah Peperangan


__ADS_3

Tubuh Dewi Lasmini refleks berlari memeluk Sena. Wanita itu menangis tersedu sedu di dada Sena. Tindakannnya membuat semua orang terkejut. Entah apa yang dipikirkan oleh semua orang tentang hubungan Sena dan Dewi Lasmini.


Sena yang tak mengerti dengan tindakan Dewi Lasmini, memegang kedua pundak wanita cantik itu dan mendorongnya dengan lembut agar melepaskan pelukannya. Dirinya tidak ingin terlibat masalah besar apalagi sekarang didepan Sena, tatapan tajam Ratu Dewi Kenanga dan Pangeran Brawijaya mengarah kepadanya.


Dewi Lasmini menghapus air mata bahagia yang hampir jatuh dari kelopak matanya yang indah. Tatapannya terus mangarah kepada Sena. Dirinya bahkan tak percaya bahwa laki laki itu akan berada di depannya padahal baru beberapa jam yang lalu dia memanjatkan doa atas kehadiran pemuda dingin ini.


Kini Dewi Lasmini sudah tak mempedulikan keadaan di luar padepokan Telaga Dewi yang porak poranda karena terjangan gelombang siluman yang mencarinya.


Tanpa pikir panjang Sena mengeluarkan sebuah kalung mutiara berwarna hitam dari kantongnya. Tanpa aba aba terlebih dahulu, Sena langsung mengalungkan kalung di leher jenjang Dewi Lasmini. Muka wanita itu memerah dan tersenyum bahagia merasa tindakan Sena terlalu romantis bagi dirinya yang belum siap.


Seandainya di ruangan ini tidak ada orang, entah tindakan apa yang di lakukan Dewi Lasmini melihat tindakan Sena. Dengan segera kembali dia memeluk erat tubuh Sena yang terasa nyaman baginya walaupun terdapat zirah yang menghalangi keintiman mereka.


Sena menggaruk kepalanya dan menghela nafas panjang melihat kelakuan putri Kerajaan yang selalu di hindarinya, namun saat ini dia bisa bernafas lega karena dengan kalung itu nyawa Putri Lasmini akan aman setidaknya sampai dia berumaur 18 tahun.


“Apa yang kau lakukan ?”.


Dewi Kenanga mulai marah melihat tindakan Sena yang berpelukan dengan Dewi Lasmini di depannya. Hal itu sangatlah tabu untuk


menyentuh apalagi memeluk Putri Kerajaan yag bukan miliknya secara sah. Sena langsung mendorong kembali tubuh Lasmini yang sontak membuat perempuan itu memanyunkan bibirnya cemberut. Tatapan dingin Lasmini mengarah kepada Dewi Kenanga yang telah merusak momen kebahagiannya dengan Sena


Menyadari arti tatapn Dewi Kenanga, Sena segera maju dan memberi hormat kepada Ratu Kumbara. “Maaf Ratu, nanti akan saya jelaskan tindakan saya setelah pertempuran diluar selesai”.


Sena segera bergegas meninggalkan kelima orang di ruangan bawah tanah itu dengan ekspresi yang berbeda beda.


Pangeran Brawijaya yang melihat Sena saat turnamen kumbara muda, sudah menaruh kekaguman yang besar atas kemampuan Sena. Pemuda 17 tahun yang mencapai tingkat langit bahkan Mahapati Anom diusia Sena saat ini baru memasuki tingkat pendekar raja gerbang pertama. Melihat kedatangan Sena secara mendadak, apalagi tindakan intim yang dia lakukan dengan adik tirinya membuat kekagumannnya sedikit terkikis, tapi dia tidak ingin menyuarakan tanggapannya sebelum mengetahui alasaan Sena berbuat seperti itu. Apalagi tidak ada raut wajah bersalaah di pemuda dingin

__ADS_1


itu sebelum meninggalkan ruangan.


“Kita akan menunggu penjelasanmu Sena”. Gumam Pangeran Brawijya dalam hati. Dia kembali duduk di kursi samping ibunya yang masih terlihat emosi dengan kelakuan Dewi Lasmini yang tidak tau adab seorang wanita


kerajaan.


“Kakak, apakah kalian akan menikah?


Beda hanya dengan Dewi Kenanga dan Pangeran Brawijaya, Dewi Paramita antusias melihat tindakan yang di lakukan kakak perempuannya. Menurut wanita cerewet itu baru kali ini selama hidupnya Dewi lasmini bersifat seperti itu kepada laki laki. Biasanya para lelaki yang mendekati kakaknya, setidaknya akan pulang dengan menangis bahkan ada yang terluka parah.


Tindakan berani Dewi Lasmini membuat Dewi Paramita semakin kagum. Dewi Lasmini hanya tersenyum menanggapi ocehan yag terus keluar dari mulut adiknya. Bagaimananapun hari ini adalah hari paling bahagia sekian lama di hidupnya setelah ibunya meninggal.


Tangan lembutnya terus memegang kalung pemberian Sena. Bunga cinta di hatinya semakin mekar hingga pikirannya terus terbayang wajah Sena.


***


Kembali di luar Padepokan Telaga Dewi. Suasana menjadi semakin mencekam dengan banyaknya mayat berhamburan di tanah. Meskipun sebagian besar mayat itu adalah siluman, tapi sudah banyak korban juga yang jatuh di pihak manusia. Kini prajurit Kerajaan hanya tersisa setengah, membuat


Tumenggung Gunawa sedikit marah dengan siluman yang tak ada habisnya.


Tidak berbeda jauh dengan pasukan kerajaan, anggota Padepokan Telaga Dewi juga sudah banyak yang menjadi korban serangan siluman ini. Apalagi kehadiran siluman ular hijau yang mampu mengerat dan menyebarkan racun di sekitar tubuhnya.


Di ujung sisi pertempuran terdapat satu pendekar yang mendominasi. Dia adalah Parakrama, seorang pendekar suci gerbang pertama yang menjadi pangawal bayaran pemimpin kota Maranda. Dengan pedang besarnya dia dapat menghancurkan dan meremukkan tulang tulang siluman dengan sekali ayunan.


Pedangnya memiliki panjang lebih dari satu meter dengan bobot yang hampir sama dengan berat badannya yang kekar. Dia bagaikan petarung berpengalaman, terlihat dari gerakannya yang luwes dan setiap tebasannya yang selalu memakan korban.

__ADS_1


Pedang besar itu terus di putar seakan terasa ringan baginya. Semangatnya terlihat penuh karena baru pertama kali menghadapi siluman yang di sangkanya hanya mitos semata. Memang  sebagian besar orang di peperangan kali ini baru pertama kali melihat siluman, sehingga nampak rasa tidak percaya diri yang membuat mereka tidak maksimal


dalam mengerahkan jurus jurus.


Dewi Ambarwati dan Tumenggung Gunawa kini mulai terengah engah, ratusan siluman telah mati di tangan mereka berdua namun jumlah siluman malah terus bertambah. Tumenggung Gunawa saat ini tidak memikirkan nyawanya, dia hanya takut jika siluman melukai keluarga Kerajaan yang telah diamanahkan Sang Raja kepadanya.


“Ahkkkkk”.


Dengan tenaga dalam tersisa, dia melesat membunuh kembali para siluman yang mencoba menerobos masuk ke Padepokan Telaga Dewi. Langkahnya diikuti oleh Dewi Ambarwati dan tetua tetua padepokan Telaga Dewi yang nampaknya juga mulai kehabisan tenaga dalam.


Puluhan jurus tecipta dan puluhan pula siluman yang meregang nyawa. Dewi Ambarwati dan Tumenggung Gunawa yang terlanjur berada di tengah lautan musuh akhirnya mulai terdesak dan terkepung oleh para siluman. Punggung mereka saling membelakangi untuk melindungi satu sama lain.


Namun secara tiba tiba para siluaman berhenti menyerang. Mereka berusaha menajamkan penciuman namun tak menemukan apa yang mereka cari. Kejadian itu juga membingungkan semua orang yang masih bertarung.


"Goarrrrrrrrrr".


Dari dalam hutan muncul 3 Beruang, yang salah satunya setara dengan pedekar suci dan lainnya berada pada tingkat langit. Ketiga


pimpinan Beruang itu sejak awal berdiam diri di dalam Hutan menyuruh bawahannya untuk menerbos masuk ke Padepokan telaga Dewi tapi sekarang aroma tubuh abadi telah menghilang, membuat mereka curiga, tidak mungkin pemilik tubuh abadi yang seorang manusia dapat hilang secara tiba tiba.


Siluman Beruang tingkat pendekar suci itu memandangi semua bawahannya yang telah menyerah dengan hilangnya aroma tubuh abadi. Siluman Ular hijau dan siluman Anj*ng kini mulai berangsur masuk kembali kedalam hutan. Tidak ada lagi yang harus mereka perjuangkan di tempat ini dan saat ini pemimpin mereka bahkan tidak ada di tempat ini.


Kini hanya ada kumpulan siluman Beruang yang tetap berdiri menunggu keputusan dari pimpinan mereka.


“Hancurkan Padepokan ini dan culik semua wanita cantik “.

__ADS_1


__ADS_2