
Rombongan Isyana dan Dewi Lasmini terus bergerak membelah hutan hingga sampai di Kota Birawa. Tiada waktu bagi mereka untuk mengistirahatkan tubuh. Meskipun Dewi Lasmini acuh tak acuh terhadap orang lain namun hal ini menyangkut mengenai keselamatan ayah dan tempat penuh kenangan ibunya.
“Kalian bertiga laporkan hal ini kepada Ketua Giri”.
Isyana memerintahkan ketiga anggota Serikat Pendekar Sakti kembali ke gedung Serikat. Hanya Isyana dan Rukana yang mengikuti Lasmini yang kini sudah memasuki aula istana kerajaan. Kebetulan saat ini aula kerajaan sedang melangsungkan rapat mengenai penyambutan petinggi petinggi salah satu padepokan aliran putih terbesar di Kerajaan Kumbara.
Dewi Lasmini tanpa melapor terlebih dahulu langsung mendobrak pintu membuat Prabu Sanjaya Maharaja, Mahapatih Anom, Tumenggung Gunawa dan beberapa petinggi kerajaan lainnya menaikkan alisnya. Ingin rasanya mereka marah dengan etika Putri Kerajaan, namun enggan mereka tunjukkan.
“Maaf atas ketidaksopanan kami yang mulia Raja, ada hal genting yang harus kami sampaikan”.
Isyana langsung maju dan membungkuk di hadapan Sang Raja. Barulah ketika Prabu Sanjaya mengizinkan, Isyana mengangkat kembali kepalanya dan menceritakan hal mengenai kejadian yang akan menimpa Ibukota Kerajaan.
Kemunculan Rukana juga mengejutkan Prabu Sanjaya. Bagaimanapun dia mengetahui wajah salah satu pimpinan kota di kerajaan ini. Penjelasan Rukana membuat seluruh penghuni aula menjadi geram dan menunggu keputusan Sang Raja.
“Berapa hari kira kira pasukan mereka akan sampa ?”. Kata Prabu Sanjaya dengan tegas meskipun agak cemas dengan kondisi genting saat ini.
“Dari rencana yang sempat saya dengar, seluruh pasukan akan berkumpul di utara kota Birawa tepat pagi hari”. Jawab Rukana
dengan yakin.
Sontak semua petinggi kerajaan kaget bukan main. Hal penting seperti ini sungguh terlambat untuk diketahui. Apalagi jumlah pasukan yang ada di Kota Birawa saat ini tidak mendukung untuk menghadapi serangan mendadak dengan kuantitatif yang besar.
“Mahapatih, segera siapkan pasukan dan kirim surat permintaan bantuan kepada Padepokan aliran putih dan netral terdekat”.
Prabu Sanjaya masih mencoba menampakkan wajah percaya diri dihadapan semua bawahannya. Tentu dia mengetahui bahwa peta kekuatan yang ada di pihaknya sekarang sungguh kecil, dimana 4 Tumenggungnya sedang melaksanakan tugas di kota kota yang cukup jauh dari Ibukota Kerajaan Kumbara. Hanya Mahapatih Anom dan Tumenggung Gunawa yang tinggal di istana kerajaan.
“Semoga mereka cepat sampai”.
__ADS_1
Sejenak pandangan Raja Kumbara mengarah kepada putrinya yang berdiri di samping Isyana. Prabu Sanjaya juga memikirkan tamu yang seharusnya hendak di sambut namun sekarang ada hal penting yang harus mereka urus terlebih dahulu.
***
Sebelum rombongan Isyana sampai di Kerajaan, ada kejadian yang cukup penting terjadi di Kota Bina. Setelah hampir seharian memulihkan tenaga dalamnya. Sena dengan sabar menunggu kedatangan anggota Padepokan Cakar Setan lainnya yang harusnya telah memasuki kota Bina.
Pemuda dingin itu nampak tak gentar meskipun akan menghadapi pasukan Padepokan Cakar Setan yang mungkin berjumlah ribuan. Untuk menghadapi Pendekar tingkat kaisar kebawah dengan jumlah yang banyak mungkin tak menjadi masalah bagi Sena. Tapi lain cerita jika rombongan itu di pimpin oleh topeng perak apalagi topeng emas, pastilah Sena membutuhkan fisik yang sangat kuat untuk menampung tenaga dalam yang di salurkan oleh aura kegelapannya.
Tidak jauh di tempat Sena sedang duduk di dalam tenda milik Bagong sebelumnya, Wuruk membawa sekitar seribu pasukan topeng hitam. Sebelum memasuki Kota Bina, Topeng perak itu telah mendapatkan laporan mengenai kekalahan Bagong dan pasukannya.
Banyak anggota Padepokan Cakar Setan yang telah melarikan diri sebelumnya bertemu dengan rombongan Wuruk di perjalanan. Mereka menceritakan kronologi tentang kekuatan pemuda yang memiliki aura kegelapan dan mampu mengalahkan sekitar 500 orang dengan mudah.
Wuruk dan pasukannya segera bergegas menuju titik awal seharusnya mereka bertemu dengan pasukan yang di pimpin Bagong. Sepanjang perjalanan hanya tergelatak tubuh anggota Padepokan Cakar Setan yang merintih kesakitan dan sebagian besar dari mereka pingsan akibat hancurnya pusat tenaga dalam yang mereka miliki.
“Sama seperti informasi yang didapatkan, Pemuda sadis itu tidak tega untuk membunuh musuhnya”.
Menghadapi ratusan pendekar seorang diri tentu membuat Sena setidaknya mengalami kelelahan dan luka yang cukup parah. Semakin dekat di markas Bagong semakin terasa aura kegelapan yang di pancarkan dengan sengaja oleh Sena.
Topeng Perak Wuruk cukup terkejut melihat sosok sena yang sedang duduk santai di sebuah kursi seakan sedang menunggu tamu istimewa. Wuruk bahkan menyipitkan matanya menganalisa kondisi Pemuda dingin didepannya namun tak mendapatkan bekas luka atau tanda tanda kelelahan.
“Sepak terjangmu selama ini sangat hebat anak muda, tapi kehidupanmu akan berakhir hari ini”.
Wuruk menghentakkan tombaknya membuat tenda menjadi hancur. Sekarang Sena bisa melihat dengan jelas jumlah pasukan yang berdiri di belakang Wuruk.
“Apakah kamu akan menyerah?”.
Wuruk mengetahui jelas arti tatapan milik Sena. Dengan perbandingan jumlah yang sangat signifikan, tentu tak ada satupun manusia yang cukup berani melawan seribu pasukan seorang diri.
__ADS_1
Sena tak mungkin menghindari pertarungan. Dia harus menahan dan mengurangi jumlah pasukan Padepokan Cakar Setan yang akan berkumpul di Kota Birawa. Pemuda dingin itu cukup lega setelah melihat tak ada topeng Emas yang menyertai pasukan besar ini.
Tanpa membuang waktu, ledakan aura kegelapan membuyarkan kepercayaan diri milik Wuruk dan seluruh pasukan topeng hitam. Sena langsung melesat menyerang Wuruk yang bahkan belum siap bertarung.
“Trangggg”.
Pukulan Sena berhasil ditahan oleh tombak milik Wuruk, walaupun tubuh topeng perak itu terdorong namun berhasil ditahan oleh beberapa Topeng Hitam. Tapi sayang, dengan secepat kilat, aura kegelapan membentuk puluhan akar akar yang menyerang para topeng hitam dengan ganas.
Ada yang terlilit, tertusuk hingga terhempas akibat akar akar kegelapan itu. Sena berniat melanjutkan urusannya dengan Wuruk, dimana dia membiarkan aura kegelapan menghadapi satu persatu topeng hitam yang berniat menganggu pertarungannnya dengan Topeng Perak.
“Ahhkkkkkk, Bukkkkkkk, Tranggggg”.
Berbagai suara menghiasi pertemuan senjata topeng hitam dengan aura kegelapan milik Sena yang bisa berubah wujud. Hanya berselang beberapa menit namun korban yang jatuh di pihak Padepokan cakar Setan cukup banyak, hal itu membuat Wuruk semakin geram dan mencoba memikirkan taktik untuk mengalahkan musuh didepannya.
“Sampai kapan kamu akan bertahan anak muda”.
Wuruk mencoba memprovokasi Sena yang tengah sibuk menahan serangan kepungan puluhan topeng hitam. Bagaimanapun Wuruk berusaha memancing emosi milik Sena namun tidak ada tanda tanda perubahan ekspresi di wajah pemuda itu. Topeng perak itu hanya tersenyum kecut menganggap dirinya bodoh berbicara dengan manusia batu seperti Sena.
Sena fokus membantai topeng hitam dengan cepat. Berselang waktu 3 jam, sudah hampir 200 pasukan yang di lumpuhkan oleh Sena.
Aura kegelapan miliknya semakin kuat karena terus menyerap tenaga dalam di beberapa pertempuran besar yang di laluinya.
Wuruk mengintruksikan pasukannya sedikit menjauh setelah merasakan keganasan aura kegelapan yang menyelimuti Sena. Seluruh topeng hitam berlari menjauh. Hal ini di manfaatkan oleh Sena untuk mengambil nafas dan meregangkan tubuhnya.
Topeng perak itu berharap panah beracun setidaknya mampu melemahkan pemuda dingin itu.
“Serang dia dengan panah”.
__ADS_1