Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Misi Bersama


__ADS_3

Prajna dengan susah payah baru sampai di Padepokan Cakar Setan. Ketakutan sangat meresahkan pikirannya karena kegagalan menjalankan misi yang sekian lama baru didapatkannya. Perasaannya terus dilema mengapa tak menggunakan pil setan merah. Dengan begitu, besar kemungkinan dia mampu melumpuhkan Sena.


Nyai Gengong yang melihat raut wajah Prajna hanya menghela nafas panjang. Kepekaan hatinya sangat tinggi melihat ekspresi bawahannya.


“Dimana kedua topeng perak ?”


Dengan gemetar Prajna menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Raut wajah Nyai Genggong berangsur angsur berubah menjadi suram mengetahui kemampuan Pemuda yang awalnya di remehkannya. Wikrama tersenyum kecil mendengar cerita temannya, bukan dia bahagia dengan kegagalan Prajna, tapi dengan ini dia masih bisa membuat alasan kegagalannya di misi sebelumnya.


Ingin rasanya Nyai Genggong membunuh Prajna yang telah mempermalukan kebesaran Padepokan Cakar Setan. Seandainya saja pria gempal didepannya tidak memiliki kekuatan besar yang di butuhkan dalam rencananya, mungkin saat ini darah telah menghiasi ruangan ini.


Tak ada kata yang keluar di ruangan ini selama beberapa waktu. Para topeng emas memahami bahwa Nyai Genggong berusaha menekan emosi iblisnya. Tekanan udara menjadi berat dan suhu menjadi lebih panas. Seandainya ada pendekar tingkat raja ke bawah yang berada diruangan ini, maka nyawanya pun akan memuai.


“Istirahatlah, rencana penyerangan akan segera di lakukan”.


Nyai Genggong menarik nafas panjang sebelum menyuruh seluruh topeng emas untuk keluar dari ruangannya.


***


Perasaan Isyana saat ini terasa tak karuan. Sekian lama hingga dirinya bisa melihat kembali Sena. Wajah pemuda disampingnya masih terasa dingin namun menyejukkan hatinya. Mereka berdua menghabiskan waktu dengan berjalan jalan di Kota Birawa.


“Bagaimana keadaanmu?”.


Sena bertanya tanpa menoleh kearah Isyana. Teman pertamanya ini telah menjabat sebagai salah satu tetua bidang pengobatan di Serikat Pendekar Sakti di umurnya yang baru menginjak 17 tahun. Hampir setengah obat obatan dan ramuan yang dijual oleh Serikat Pendekar Sakti berasal dari Isyana, sehingga wanita ini menjadi salah satu orang penting di kelompok netral ini.


Gelarnya sebagai Dewi obat terus bergema hingga keseluruh wilayah Kerajaan Kumbara. Nama ini didapatkannya bukan karena ayahnya adalah dewa tabib, melainkan kemampuannya yang sangat hebat bahkan sebagian orang menganggapnya lebih unggul dibandingkan ayahnya di usia yang sama.

__ADS_1


Sena begitu bangga dengan Isyana. Wanita lembut, cerdas dan dewasa ini berkebalikan dengan Dewi Lasmini yang seperti psikopat. Sena menoleh menatap Isyana yang memiliki bulu mata yang sangat lentik.


“Sena, besok saya akan ke Kota Bina, ada bangsawan yang harus saya obati disana?”


Isyana terlihat sedih mengatakan hal itu, Dia merasa masih ingin bersama Sena di kota ini, namun dia memiliki jadwal yang sangat penting dan harus meninggalkan kota ini besok pagi. Sena hanya terdiam sampai mereka berpisah karena malam mulai datang.


Keesokan paginya, Isyana bersiap melakukan perjalanan. Dengan di kawal 3 anggota Serikat Pendekar Sakti, Sang Dewi Obat berkuda meninggalkan Kota Birawa. Perasaannya saat ini sedikit sedih karena meninggalkan Sena yang baru saja datang kekota ini namun tugasnya tidak bisa dibandingkan dengan perasaannya saat ini.


“Sena”


Alangkah terkejutnya Isyana melihat seorang yang dikenalnya berdiri di pintu keluar Kota Birawa. Dengan pakaian putih dan duduk diatas kuda hitam. Sena tersenyum menanggapi keterkejutan Isyana.


Sena memutuskan meninggalkan kota ini untuk sementara karena tidak ingin bertemu dengan Dewi Lasmini kembali. Setelah menghabiskan sepanjang malam membaca pengetahuan penting di perpustakann Istana kerajaan, Sena memutuskan hal itu.


Baru saja beberapa langkah mereka meninggalkan gerbang Kota Birawa, muncul teriakan yang di lembari sedikit kemarahan.


“Sena, Tunggu ….”


Tanpa menoleh sekalipun Sena mengetahui pemilik suara itu. Badannya langsung terasa lemas dan pikiranya menjadi tak karuan. Ingin rasanya dia berteriak saat ini namun pita suaranya seakan terlilit. Pemuda dingin ini mengenggam erat tali pengikat kudanya untuk menyalurkan sedikit emosinya.


Sedangkan Isyana yang menoleh mengerinyitkan keningnya melihat kedatangan Putri Kerajaan dengan tergesa gesa. Dia menoleh sejenak kerah Sena yang tampak gusar.


“Aku akan ikut kekota Bina”.


Belum berhenti kuda yang di tunggangi Dewi Lasmini. Suara serak halusnya telah keluar dari bibir tipisnya. Isyana dan ketiga anggota serikat pendekar sakti terkejut dengan pernyataan Putri Kerajaan. Mereka tidak ingin menanggung beban berat dengan menjaga keamanan salah satu anggota kerajaan. Isyana memikirkan hal lebih jauh, dimana Dewi Lasmini bisa menganggu waktunya dengan Sena.

__ADS_1


“Aku tidak jadi berangkat”.


Sena menyadari bahwa keikutsertaan Dewi Lasmini karena keberadaannya. Dia tak ingin merepotkan Serikat Pendekar Sakti sehingga mengambil keputusan untuk tak berangkat. Dengan begitu Dewi lasmini juga akan mengikutinya.


“Tidak, kau telah berada disini. Kita lanjutkan


perjalanan”.


Isyana tidak ingin membiarkan Dewi Lasmini terus menggoda Sena di Kota ini. Jika mereka melakukan perjalanan bersama., Isyana masih bisa memantau mereka. Ketiga anggota Serikat pendekar sakti tidak mengerti dengan keputusan Dewi Obat namun tugas mereka saat ini hanya mendampingi dan menjaga Isyana.


“Aku ikut kemanapun Sena pergi”.


Dengan gamblang, Putri Kerajaan menatap Sena. Dia tersenyum bahagia memandangi wajah dingin pemuda yang membuatnya jatuh cinta sedalam ini. Sena tidak bisa berkata kata apalagi. Seakan hidupnya saat ini menjadi absurd.


Keenam orang ini akhirnya memulai perjalanan ke Kota Bina. Tak ada halangan berarti yang menghentikan kecepatan mereka. Hanya Sena yang terus menggerutu dengan sikap Dewi lasmini yang seperti anak anak.


“Sena, saya tak sanggup lagi, bisakah saya naik di kudamu”.


Berbagai rengekan terus keluar dari mulut Dewi Lasmini namun tak di gubris oleh Sena. Sena berusaha menutuhp semua kepekaan inderanya karena tak ingin berurusan dengan Dewi Lasmini. Isyana hanya tersenyum kecut melihat interaksi Sena dan Putri kerajaan.


Sejenak Isyana merasa tidak percaya diri menatap kecantikan dan kesempurnaan fisik milik Dewi Lasmini. Bahkan seorang wanita bisa jatuh cinta dengan kecantikan Dewi Lasmini, tapi di penglihatan Sena, tidak ada hal yang menarik pada Dewi Lasmini. Kecantikan fisiknya seakan tertutupi sifat tidak jelas milik Dewi Lasmini.


Kota Bina yang menjadi tujuan mereka berada di sebelah barat Ibukota Birawa. Walaupun terletak dekat dengan Ibukota Kerajaan Kumbara namun kota ini tidak termasuk salah satu kota besar. Jumlah penduduknya pun terbilang kecil karena kondisi geografisnya yang cukup ekstrim. Kondisi ini tidak mendukung pertanian dan perkebunan di adakan di wilayah ini. Sebagian besar penduduknya hanya menjadi pengrajin yang menjual dagangannya kekota lain. Wajar jika di perjalanan banyak ditemui kereta pedagang lalu lalang.


“Nona Isyana, nampaknya ada yang aneh”.

__ADS_1


__ADS_2