
Isyana di masukkan di sebuah penjara bawah tanah yang terletak di bawah kediaman pimpinan Kota Bina. Sampai saat ini Isyana belum sadar hingga panggilan halus kakek tua membangunkannya. Pria itu adalah Rukana, pimpinan Kota Bina sekaligus ayah dari Rubana.
“Nak bangun !”.
Isyana perlahan membuka matanya. Tengguknya masih terasa sakit namun menyadari dirinya sudah berada di dalam sel membuat pikirannya langsung panik. Untung Rukana yang berada di sel sebelahnya menenangkan wanita itu agar tak menarik perhatian prajurit yang menjaga mereka.
“Kakek siapa ?”.
Isyana membulatkan matanya memandangi wajah kakek tua di sampingnya. Wanita ini belum terlalu mengerti mengenai keadaan yang menimpanya. Awalnya dia hanya mendapat panggilan untuk membantu Rubana yang terkena penyakit langka tapi akhirnya berakhir di tempat ini.
Rukana bisa menebak bahwa gadis muda didepannya adalah Dewi Obat. Pengkhianatan yang di lakukan oleh anaknya membuat dirinya dinmasukkan di penjara. Padepokan Cakar Setan yang bekerjasama dengan Rubana membuat sebuah taktik untuk menangkap Dewi Obat. Wanita muda ini di yakini Nyai Genggong akan memiliki peran yang sangat besar bagi Kerajaan Kumbara di masa depan. Dengan tertangkapnya Isyana, akan membuat pihak kerajaan akan kehilanganbtabib yang mampu memberikan pertolongan saat perang nanti.
Rukana terus membeberkan informasi yang di ketahuinya antara kerjasama Padepokan Cakar Setan dan Rubana. Isyana yang mendengar itu bergidik ngeri dengan musibah besar yang akan menimpa Kerajaan Kumbara. Wanita itu hanya berharap Sena bisa segera datang menyelamatkannya dan melaporkan kejadian ini ke Prabu Sanjaya Maharaja secepatnya.
***
“Siapa kau ?”
Melihat pendekar tingkat kaisar langsung tak berdaya hanya kaena serangan tunggal yang di lancarkan oleh Sena membuat Subagja, Rubana dan 3 Prajurit lainnya menatap dengan ketakutan. Subagja yang memiliki tenaga dalam tingkat langit saja tak yakin mampu melakukan hal itu.
“Apakah anak ini memiliki tenaga dalam tingkat suci”.
Subagja terus memikirkan kemungkinan kekuatan milik Sena. Bagaimanapun pemuda didepannya memiliki usia yang sangat muda tapi mengapa memiliki kemampuan yang sangat hebat. Hingga kepala prajurit itu tersentak dengan Rubana yang sudah menempel dibelakangnya karena ketakutan.
“A….anakk itu juara turnamen kumbara muda yang memiliki tenaga dalam tingkat langit”.
Perkataan Rubana serentak membuat Subagja dan 3 prajurit tersisa mundur beberapa langkah. Pemuda didepan mereka menjadi salah satu orang yang harus mereka hindari. Peringatan itu langsung turun dari Nyai Genggong.
__ADS_1
“Jangan berpikir untuk kabur”.
Dewi Lasmini yang melihat gelagat musuh di aula ini langsung berkata sombong. Dengan cepat wanita cantik itu berlari dan menusuk perut prajurit yang sebelumnya bersandar di tembok. Tusukan itu sangat dalam, dengan perlahan Dewi Lasmini memutar pedangnya dan menyabetkannya kearah atas, sehingga prajurit tingkat pendekar kaisar itu memuntahkan darah begitu banyak karena organ tubuhnya terkoyak koyak oleh pedang Dewi Lasmini.
Putri Kerajaan itu tersenyum sinis sambil
menggoyangkan pedang putihnya yang masih dialiri banyak darah. Pandangannya kini beralih kearah 3 prajurit yang menatapnya dengan ketakutan.
Sena masih menatap Subagja dan Rubana yang berdiri agak jauh darinya. Mental mereka sudah terkikis hanya karena satu gerakan Sena. Tanpa membuang waktu ledakan aura kegelapan menyelimuti seluruh tubuh Sena.
Tiga lengan panjang bergerak mendahului Dewi Lasmini untuk menyerang 3 prajurit tersisa. Serangan lengan panjang itu semakin cepat dan menghancurkan segala sesuatu di aula itu. 3 prajurit itu hanya terus menghindar sebelum kaki dan tangan mereka akhirnya tertangkap.
Seluruh tenaga dalam meraka di serap tak bersisa kemudian di hempaskan ketembok dengan sangat keras. Walaupun terlihat menyedihkan tapi ketiga orang itu masih memiliki jantung yang memompa nafas
keseluruh tubuh mereka.
Sena dan Lasmini seakan pasangan pembunuh brutal yang sangat kejam. Hal itu nampak di mata Subagja dan Rubana.
“Ampun tuan putri, Padepokan Cakar Setan mengancam akan membunuh seluruh penduduk Kota Bina jika saya tak bekerja sama”.
Merasa tak yakin Subagja mampu mengalahkan Sena, dengan muka sedih, Rubana mendekat dan bersujud didepan Dewi Lasmini memohon pengampunan. Pria tua itu bagaikan bunglon yang bisa merubah warna tubuhnya di setiap keadaan demi keselamatannya.
Subagja yang melihat hal itu mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya karena pengkhiantan Rubana. Dalam dunia ini mungkin banyak orang tahu bahwa orang yang terbiasa berkhianat tak layak di jadikan sekutu karena dia hanya memikirkan keadaan yang menguntungkannya saja. Dengan mudah dia dapat merubah haluan demi ambisi pribadi semata.
Rubana terus bersimpuh di kaki Dewi Lasmini. Ketakutan membutakan nurani terakhirnya, hingga dia tak sengaja mengenggam betis Dewi lasmini demi memohon pengampunan.
“Lepaskan tangan kotormu”.
__ADS_1
Dewi Lasmini berteriak melihat kelakuan Rubana. Selama ini tak ada satupun pria yang di biarkan untuk bersentuhan dengannya secara langsung bahkan terhadap sang ayah. Dengan brutal, Dewi Lasmini menebas kedua tangan Rubana yang membuat pria itu berguling guling kesakitan.
Tak berhenti disitu, Dewi Lasmini langsung
menancapkan pedang putihnya di jantung Rubana. Mata Dewi lasmini masih memancarkan kemarahan. Kematian Rubana dengan tangannya sendiri hanya sedikit
menyurutkan emosinya.
Sena menggelengkan kepalanya menatap kesadisan Dewi Lasmini. Namun pemuda dingin itu segera menghindar merasakan serangan yang di lakukan oleh Subagja. Kecepatan Subagja sebagai pendekar tingkat langit sedikit merepotkannya namun puluhan jurus yang di lancarkan oleh Subagja masih bisa di hindari oleh Sena.
Subagja tak berpikir jernih lagi melihat semua
jurusnya di mentahkan oleh pemuda didepannya. Sena bahkan belum mengeluarkan aura kegelapan yang menurut kabar mampu mendesak topeng emas sekalipun.
“Sangat lemah”.
Sena melompat kebelakang sejenak. Pemuda itu berdecak menghina melihat kemampuan Subagja yang di nilainya terlalu lemah. Mendengar hal itu, Subagja berteriak marah dan melesat kembali menyerang Sena namun dengan mudah pukulannya di tangkap oleh Sena.
Subagja kaget karena tinjunya di genggam erat oleh pemuda didepannya. Bagaimanapun dia berusaha melepaskan diri dari cengkaraman tangan milik Sena, namun tangannya seakan terikat kuat di tangan Sena.
Sena tersenyum melihat wajah Subagja yang tampak gelisah. Aura kegelapan perlahan menjalar ketubuh Subagja melalui tangan Sena.
Sebelum Subagja berniat menggigit lidah untuk mengakhiri nyawanya sendiri, aura kegelapan telah merasuki seluruh tubuhnya dan mengontrol pergerakannya. Tak ada lagi yang mampu di lakukan Subagja kecuali menahan gejolak kesakitan yang mendidih di dalam tubuhnya.
“Dimana Isyana berada ?”.
Sena melepaskan cengkramannya dan menatap Subagja dengan tajam seakan tatapannya mampu meledakkan tubuh kepala prajurit itu kapanpun.
__ADS_1
#Untuk chapter berikutnya mungkin agak sedikit lambat upnya. Mungkin bulan depan baru kembali teratur. Saya usahakan cerita ini diselesaikan arc 1 nya meskipun hanya 1 pembaca. terima kasih.