
Selepas Turnamen Kumbara Muda hari ketiga di tutup. Sena segera meninggalkan lokasi itu menuju kediaman Tuemnggung Raharja. Beberapa penonton memberikan tatapan ketakutan mengetahui kekuatan Sena. Dengan kekuatan tingkat langit, seharusnya Sena memiliki kedudukan yang kuat jika bergabung di salah satu padepokan dan posisi yang besar jika bergabung dengan prajurit kerajaan.
Di pintu keluar dia melihat seorang wanita cantik berlari menghampirinya sambil tersenyum.
“Selamat Sena, saya yakin kamu memenangkan Turnamen ini”. Ucap Isyana lembut. Wanita itu mengetahui penyebab Sena mengikuti Turnamen Kumbara Muda dari Arjunta. Melihat kepribadian Sena, tidak mungkin pemuda dingin itu mau mengikuti turnamen hanya karena ingin menunjukkan kekuatannya. Namun dia senang karena Sena memiliki sesuatu yang di perjuangkan untuk saat ini. Entah apa yang dipikirkan wanita itu untuk membuat Sena menikmati hidupnya. Dia takut Sena akan terpengaruh hal hal jahat diluar sana jika berteman dengan orang orang dari aliran hitam.
Sena tersenyum menanggapi perkataan Isyana. Melihat Sena tersenyum, Isyana bahagia karena lambat laun Sena kembali menunjukkan ekspresinya yang seakan terkekang selama ini. Entah mengapa Sena merasa nyaman berada Isyana. Saat ini Sena mulai berpikir untuk memulai kehidupan barunya, dimulai dari menunjukkan ekspresinya terhadap orang orang yang dekat dengannya seperti Isyana, Arjunta dan Tumenggung Raharja.
Melihat masa lalu Sena yang selalu mendapatkan hinaan dan perlakuan tidak manusiawi dari orang orang disekitarnya, membuat Sena masih berpikir dan membutuhkan beberapa alasan kuat untuk bersikap terbuka kepada semua orang.
Setelah merasakan kehangatan Isyana dan Raharja serta kebaikan Arjunta hati Sena perlahan mulai mencair. Guru Jaya Bhaya pernah mengatakan tidak semua orang didunia ini berhati jahat dan meyakinkan Sena
bahwa kelak dia akan menemukan orang orang baik yang akan memihaknya bagaimanapun keadaanmu. Saat kau telah menemukan orang orang itu, jagalah mereka dengan seluruh kemampuanmu bahkan nyawamu.
Semua nasehat guru Jaya Bhaya masih melekat erat di memori Sena. Beberapa teka teki nasehat itu masih belum dia terima karena Sena harus melihat dan merasakan sendiri hal itu.
Tanpa mereka sadari ada seorang gadis cantik yang mengamati interaksi mereka berdua. Dewi Lasmini berdiri diatas banguanan Arena turnamen memandangi Sena dan Isyana dengan tatapan cemburu.
“Mengapa dia selalu dingin terhadapku”. Gumam Dewi Lasmini melihat Sena tersenyum untuk pertama kalinya. Dia berpikir Sena bersikap dingin kepada semua orang namun saat ini dia melihat dengan mata kepala sendiri senyum itu. Lebih parahnya lagi, senyum itu ditujukan kepada seorang wanita.Walaupun wanita yang bersama Sena cantik tapi menurutnya kecantikannya setidaknya berada di atas wanita itu. Putri Kerajaan ini semakin bingung dengan sikap Sena yang tak terpikat dengan kecantikannya.
__ADS_1
Dewi lasmini kemudian menyuruh salah satu pengawal yang berdiri tidak jauh darinya untuk mencari informasi wanita yang berada di dekat Sena. Dia ingin mengetahui hubungan wanita itu yang mampu membuat Sena mengeluarkan ekspresinya. Walaupun hatinya sedikit sakit menyaksikan hal itu namun Dewi lasmini seorang wanita keras kepala yang juga menyukai tantangan.
‘’Kau akan tetap jadi milikku Sena”. Dewi lasmini mencoba mengenggam tubuh Sena yang telah berjalan meninggalkan Arena Turnamen Kumbara Muda. Pengawal yang ada dibelakangnya mengerinyitkan dahinya melihat tingkah tidak masuk akal Putri Kerajaannya. Lama kelamaan perilaku Putri kerajaan seperti tidak waras karena terobsesi seorang pemuda.
Sena dan Isyana berjalan hingga sampai di kediaman Tumenggung Raharja. Mereka duduk di pinggir kolam ikan samping rumah yang ditempati Sena. Sena terus mencoba mengeluarkan ekspresi di wajahnya setiap Isyana bercerita meskipun ada beberapa ekspresi yang tak sesuai dengan jalan cerita Isyana.
Isyana hanya tertawa melihat ekspresi Sena yang seperti anak kecil baru belajar. Tatapan Sena terus mengarah ke wajah Isyana yang tertawa karena ulahnya. Benar kata Gurunya,
dengan melihat orang lain bahagia, bisa menularkan kebahagian itu di hatimu.
“Isyana menurutmu untuk apa kita hidup di dunia ini ?”. Kata Sena yang menatap langit senja yang berada dihadapannya.
Isyana menghentikan tawanya mendengar pertanyaan Sena. Dia tersenyum mendengarkan suara Sena setelah sekian lama. Suara serak berat pemuda dingin itu bagaikan candu yang memancing kebahagian Isyana.
bagaimana untuk menghadapinya. Saya harus memilih bagaimana saya bisa hidup
dengan keadaan ini. Kadang saat kita kehilangan seseorang yang kita sayangi,
kita akan menemukan tujuan hidup dan kadang momen terburuk yang pernah kita
__ADS_1
alami, juga momen yang akan mengubah hidup kita”. Isyana meneteskan air matanya
mengingat Ibu dan ayahnya. Dirinya telah memantapkan hatinya untuk menggunakan
ajaran ilmu pengobatan ayah dan ibunya untuk menyembuhkan dan mengobati orang
orang yang membutuhkan.
Isyana memandangi raut wajah sena. Wajah yang seakan menyimpan banyak masalah namun terselimuti wajah dingin. Isyana mengetahui bahwa Sena pasti memiliki masalah yang membuatnya bersikap tertutup dan dingin kepada semua orang, namun wanita itu tidak ingin memaksa Sena untuk menceritakan semua ganjalan yang ada di hati dan pikiran Sena. Dia akan sabar menunggu hingga Sena bisa membuka hati seutuhnya.
Sena masih memandangi langit senja mencoba meresapi kata kata Isyana yang cukup panjang. Memang kehilangan dan perlakuan orang lain yang membuat kebencian didalam hatinya semakin memadat. Butuh waktu yang panjang agar kebencian itu memudar namun Sena akan berusaha memahami kehidupan karena Bi ratih pernah berpesan kepadanya untuk untuk menjalani kehidupan dengan bahagia dan sekarang Sena berusaha mencari makna kata bahagia yang di katakan Bi Ratih.
“Nampaknya saya akan mencari makna kebahagian di kota ini”.
Dengan suara tegas Sena memandangi Isyana. Mata Cokelat Sena menyiratkan keyakinan yang membuat Isyana menganggukkan kepalanya pelan. Suasana Senja itu terasa berbeda ditempat itu.
***
Tumenggung Raharja kembali ke kediamannya dengan wajah murung. Ada beberapa hasil pertemuan yang membuatnya berekspresi seperti itu. Yang jelas, saat ini dia harus segera bertemu Sena yang mungkin telah berada di kediamannya.
__ADS_1
Sesampainya dia disana, yang terlihat Sena sedang duduk dengan Isyana. Tumenggung Raharja terkejut bukan main ketika mendengar Sena berbicara dengan Isyana. Dia mempercepat langkahnya entah merasa senang atau merasa bodoh karena selama ini menyangka Sena adalah pemuda bisu.Arjunta pun sengaja tak memberitahukan hal itu kepada Tumenggung Raharja karena ingin mengetahui reaksi pria kekar itu.
“Jadi selama ini kau tidak bisu ?“. Kata Tumeggung Raharja yang telah berdiri di belakang Sena dan Isyana. Sena menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada Tumenggung Raharja walaupun senyum itu terlihat di paksakan.