
Di dalam Padepokan Telaga dewi, Dewi Lasmini sedang bersemedi mengumpulkan tenaga dalam. Beberapa hari terakhir emosinya tidak stabil karena belum mampu membuka gerbang kedua tingkat Raja. Dalam dunia persilatan semakin tinggi tingkatan tenaga dalam semakin sulit pula untuk membuka gerbang di tingkat itu.
Dewi Ambarwati selaku ketua Padepokan telaga dewi berulang kali menasehati murid Suci sekaligus putri Kerajaan untuk tak berlatih melebihi kapasitas tubuhnya, tapi keras kepala Lasmini sudah tak terbendung lagi. Kini di pikirannya hanya ada satu yaitu membuat tenaga dalamnya menjadi tingkat
kaisar secepat mungkin.
‘’Beristirahatlah sejenak Lasmini ! Beberapa hari kedepan Ratu Dewi Kenanga akan datang untuk merayakan ulang tahunmu yang ke 16 tahun”
Dewi Ambarwati datang bersama tetua Pureswari menyampaikan info tersebut. Sebelumnya datang utusan Kerajaan untuk menjemput Putri Lasmini. Hal ini berkaitan karena beberapa hari kedepan adalah ulang tahun Dewi lasmini yang seharusnya di adakan di istana bersama keluarga Kerajaan.
Namun Lasmini tetap tak bergeming dan tak mempedulikan hari penting itu. Tiada waktu baginya memikirkan hal itu karena pikirannya berada di tempat lain saat ini.
Pureswari menggelengkan kepalanya, Dia dan Dewi Ambarwati merupakan 2 orang guru langsung Dewi lasmini. Lasmini yang mengalami perkembangan tenaga dalam yang pesat tidak di barengi dengan pemahaman jurus jurus yang diajarkan. Sebagai putri Kerajaan Kumbara, jelas dia memiliki pengawalan yang ketat sehingga jarang dalam hidupnya mengalami pertarungan secara langsung.
Kedatangan Ratu Kumbara beberapa hari kedepan telah direncanakan untuk melakukan perayaan ulang tahun Dewi Lasmini di padepokan telaga dewi.
Awalnya prabu sanjaya maharaja melarang ratunya untuk melakukan perjalanan menuju Padepokan telaga dewi karena situasi Kerajaan saat ini yang tidak kondusif. Namun desakan ratu Dewi Kenanga dan mengingat hari penting putrinya, dia mengalah dan mengutus Tumenggung Gunawa untuk menemani perjalanan Ratu Kumbara. Sedangkan Prabu Sanjaya Maharaja tetap di istana kerajaaan untuk mengurus permasalahan yang kian kacau.
Dewi Lasmini tersenyum kecut mengetahui ayahnya tidak bisa datang untuk merayakan ulang tahunnya. Hatinya seakan sakit namun wajahnya mencoba tetap tegar
“Ayah selalu saja begitu”
***
__ADS_1
Ketua Padepokan Keris Abadi bernama Anargaya yang pertama melihat pergerakan 3 pendekar Topeng Perak, segera memberi peringatan kepada seluruh sekutunya
“Awas, mereka adalah Pendekar Suci”
Kedua ketua padepokan aliran putih lainnya bergabung dengan Anargaya. Dengan segera mereka mengeluarkan pusaka yang sejak tadi mereka simpan untuk melawan Topeng Perak. Keris, Rantai dan Pedang muncul di tangan masing masing ketua itu.
Ketiga Topeng Perak menyerang dan berusaha memisahkan jarak ketiga ketua Padepokan itu. Pertukaran jurus tingkat tinggi mulai terjadi. Ketua Anargaya yang memiliki kemampuan paling tinggi diantara ketiga ketua Padepokan aliran putih mengelurkan jurus jurus menggunakan pusaka keris kebangaan Padepokannya.
Aura pusaka itu mampu menekan Topeng Perak yang terlihat kekar itu. Tebasan tebasan yang di lancarkan Anargaya selalu saja hampir menggores tubuh Topeng Perak. Namun dilihat dari gerakannya jelas bahwa semua Topeng Perak hanya mempermainkan para ketua itu.
Dari beberapa kali pertukaran tampak jelas bahwa tenaga dalam Anargaya dan ketua lainnya sudah hampir habis. Kekalahan jelas akan dialami pihak Kota Taruma jika ketiga ketua ini dikalahakan.
“Tidak ada waktu lagi”
Tatapan dingin Topeng Emas mengarah kepada pemuda berjubah merah yang melesat menuju Topeng Perak yang mulai medesak Anargaya. Anargaya kini hanya menghindari pukulan pukulan yang dilancarakan oleh lawannya. Hingga datang sebuah serangan cepat yang tak bisa di hindari oleh Anargaya
“Bommmm””
Ledakan terjadi dimana Sena menahan pukulan itu menggunakan tangannya. Keduanya terlempar hingga 3 meter. Anargaya yang mengira dirinya akan terkena pukulan itu melihat kedatangan pemuda bejubah merah yang menyelamatkannya.
Topeng Perak sangat kesal karena gagal memberi luka fatal kepada Anargaya, kini dia mengarahkan pandangannya kepada Sena yang terlihat memiliki tenaga dalam tingkat Langit gerbang kedua. Dengan senyum meremehkan, Topeng Perak itu menyerang Sena dengan setengah kekuatannnya .
“Ketua ! biar saya yang menghadapi pendekar ini, silahkan bantu ketua yang lain”” kata Sena tanpa menoleh kepada Anargaya.
__ADS_1
Anargaya awalnya enggan meninggalkan pemuda tingkat Langit itu karena tidak mungkin dirinya mengalahkan seorang yang memiliki tenaga dalam yang berbeda 1 tingkat diatasnya apalagi umur Sena masih sangat belia untuk mengimbangi pengalaman bertarung Topeng Perak
Sena mulai mengambil kuda kuda, dalam pertarungannya kali ini, dia akan mengerahkan teknik pernafasan amukan surgawi agar bisa menghimpun tenaga dalam saat bertarung. Dengan jurus tarian iblis kegelapan, dia menyambut serangan Topeng Perak. Pertukaran jurus itu akhirnya menyadarkan Topeng Perak akan kekuatan pemuda dingin didepannya. Dadanya terkena pukulan sehingga mundur beberapa langkah kebelakang.
Anargaya terkejut dengan kemampuan bertarung Sena. Dirinya sekarang mengetahui kepercayaan diri pemuda dingin didepannya untuk Topeng Perak seorang diri. Kini matanya menatap pertarungan ketua Padepokan aliran putih lainnya yang sedang terdesak. Dia meluncur dengan menodongkan pusaka keris untuk membantu sekutunya.
Kini Topeng Perak itu menggunakan segenap kemampuannya untuk melawan Sena. Aura Pendekar Suci nya mulai terasa memberatkan udara di sekitar pertarungan itu. Sena saat ini tidak mengguankan aura kegelapan dan pusaka cincinnya untuk bertarung. Kedua kekuatan terbesar itu akan digunakan ketika Topeng Emas mulai bertindak.
Jika dia menggunakan aura kegelapan dan pusaka cincin secepat ini, bisa saja Topeng Emas akan mengetahui dan mencari kelemahan kekuatannya itu.
Pukulan dan tendangan bertemu menciptakan tumbukan yang ganas. Kecepatan Sena mampu mengimbangi bahkan melebihi Pendekar Suci yang menjalani lawannya. Tak terasa sudah puluhan gerakan tercipta dan beberapa pukulan telah mendarat di tubuh Sena begitupun Topeng Perak .
Tapi Topeng Perak nampak marah ketika mengetahui tubuh Sena masih terlihat sehat tanpa luka dalam dan luka luar ditubuhnya. Sedangkan darah terlihat mengalir dari sudut mulutnya, meskipun tertutupi oleh topeng yang di gunakannya.
Tidak ingin mempermalukan dirinya, Topeng Perak kembali menyerang Sena dengan jurus jurus pamungkasnya. Sena yang melihat perubahan aura Topeng Perak itu juga tak ingin kalah dia langsung menggunakan ketiga jurusnya untuk meghalau serangan Topeng Perak.
Gerakan gerakan cepat dan benturan kekuatan yang besar membuat pertarungan ini menyita banyak perhatian musuh maupun kawan. Disaat pertarungan masih berjalan alot, tiba tiba kecepatan Topeng Perak mulai menurun. Hal itu tidak disia siakan oleh Sena. Dengan kecepatan tertingginya, tubuhnya melesat kedepan Topeng Perak namun refleks Topeng Perak masih terasah meskipun tenaganya hampir habis.
Merasa mampu menahan pukulan Sena. Topeng perang menyunggingkan senyumanmya, namun detik kemudian tubuh Sena menghilang didepan tubuh Topeng Perak dan muncul disampingnya. Sebuah tendangan keras mendarat di tubuh Topeng Perak
Ada beberapa tulang rusuknya yang patah dan dia terlihat memuntahkan banyak darah dimulutnya. Tanpa memberi nafas panjang kepada lawan, Sena kemudian berlari dan menendang perut Topeng Perak yang sebelumnya telah tersungkur kesakitan.
Tubuh Topeng Perak terbang dan mendarat di depan Topeng Emas yang masih duduk di atas kuda. Sena tersenyum menhina dan mengangkat tangan kanannya sebagai pertanda mengajak Topeng Emas melakukan duel.
__ADS_1