Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Bi Ratih


__ADS_3

Arya Sena masuk kedalam gubuk reok. Wajahnya yang datar sejenak berubah menjadi wajah yang sedih ketika memandangi wanita tua yang sedang terbaring lemas di atas tikar lusuh. Keadaan ini sudah hampir 3 bulan menimpa wanita tua itu.


"Bi ! Bi ! aku membawa roti untuk makan malam Bi Ratih". Dengan suara lirih, Arya Sena mencoba membangunkan Bi Ratih. Seketika Bi Ratih tersenyum memandangi wajah bocah di depannya. Arya Sena memang bukan anak kandungnya. Entah sejak kapan Bi Ratih mulai merawat Sena hingga sekarang berumur 7 Tahun. Sena pun tidak mempedulikan asal usulnya. Yang dia tahu hanya terus hidup bersama Bi Ratih. Satu - satunya orang yang dianggapnya di dunia ini untuk saat ini. Bahkan suara dan ekspresi Sena hanya akan muncul jika berada di depan Bi Ratih.


Sejak Kecil hidup miskin dan yatim piatu membuat Arya Sena membenci semua orang kecuali Bi Ratih. Hal ini terjadi karena sejak kecil dia dikucilkan, di hina bahkan sering di pukuli orang di sekitarnya. Sekarang satu - satunya orang yang menyayanginya berbaring tak berdaya dengan tubuh kurus.

__ADS_1


Setiap Sena melihat Bi Ratih hatinya terasa akan meledak karena sakit dan suaranya yang tertahan seakan ingin meluap keluar dari tenggorokannya untuk berteriak menangis dan mengadu kepada langit akan kehidupan yang tak menentu yang di jalaninya.


"Sena ! dimana kamu mendapatkan roti ini nak?". Bi ratih memandangi Sena dengan sayu. Anak yang dia besarkan sejak bayi kini telah menjadi laki laki yang tumbuh besar namun ada rasa sedih di hatinya telah menyembunyikan jati diri Sena yang di rahasiakannya sampai saat ini.


Bi Ratih yang mendengar jawaban Sena hanya menggelengkan kepala sambil melirik pakaian di bagian samping Sena yang memiliki bercak darah. Bagaimanapun Bi ratih telah merawat sena sejak bayi sehingga tahu jika sena berbohong.Namun dia tidak ingin membuat sena semakin bersedih jika dia memarahinya.

__ADS_1


"Lain lali Bibi ingin makan daging ikan atau ayam hutan saja tidak usah kau bawakan roti". Bi Ratih berusaha menghindarkan Sena dari perilaku yang menyimpang seperti mencuri. Sena hanya mengangguk karena mengetahui maksud dari Bibinya kemudian dia minta izin untuk membersihkan badan dan merawat luka di punggungnya. Dia menuju sungai yang tidak jauh dari gubuk nya dengan wajah tanpa ekspresinya setelah menjauh dari Bi Ratih.


Setelah membersihkan Badan dan lukanya Sena kembali masuk. Dia tersenyum setelah melihat bibinya kembali tidur dan di sampingnya masih ada sepotong roti yang sengaja di simpan bi ratih untuknya. Bi Ratih pasti menyadari bahwa semenjak semalam dia juga belum memakan apapun kecuali air sungai yang selalu mengganjal perutnya.


"Memang hanya Bibi yang selalu mengerti diriku, saya berharap bibi bisa hidup lebih lama agar saya bisa membahagiakan bibi dengan makanan yang banyak dan rumah yang nyaman". Sena mengambil roti dan menggigitnya tanpa ekspresi. Dia bersandar di dinding gubuknya hingga terlelap.

__ADS_1


__ADS_2