Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Merak Ungu


__ADS_3

Di pinggir hutan Sena melakukan latihan Fisik. Latihan fisik di lakukannya setiap waktu senggang, untuk meningkatkan ketahanan tubuhnya. Dia juga tidak pernah lupa melatih menyempurnakan semua teknik dan jurus jurusnya yang telah di pahaminya termasuk kontrol akan cincin misteriusnya.


Jalan Menuju Kota di depannya sejak pagi telah di lewati beberapa pedagang dan orang orang yang beraura pendekar. Terlihat beberapa prajurit kota yang menjaga dan memeriksa pendatang di gerbang Kota.


Sena yang melihat antrian panjang manusia, mengambil jalan memutar mencari celah memasuki kota yang bernama Mandau itu, agar tidak bertemu banyak manusia atau hal merepotkan lainnya.


Sena masuk melalui tembok yang tak memiliki penjagaan ketat. Dengan Kecepatan dan Ilmu meringankan tubuhnya dia lolos dari pengawasan prajurit. Kini tujuan Sena di kota yaitu mencari informasi keberadaan dewa tabib.


Saat berjalan menyusuri Kota, banyak tatapan yang mengarah ke Sena. Dengan perawakan tegap dan wajah rupawan sebenarnya menjadi hal mudah bagi sena untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Tetapi pemandangan itu rusak karena pakaian yang di kenakan Sena yang tua dan ada beberapa bagian robek.


Walaupun Sena mencoba tidak menanggapi bisikan orang - orang namun dia juga menyadari pakaiannya memang sudah di gunakan beberapa hari. Dia berhenti di Toko pakaian untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Selepas mengganti pakaiannya dengan warna kesukaanya yaitu hitam putih. Sena melanjutkan mencari tempat ramai yang memungkinkan informasi mudah di peroleh.Berdasarkan beberapa pengetahuan yang di bacanya saat di hutan kematian, cara mendapatkan informasi yaitu melalui tempat - tempat berkumpul pendekar - pendekar pengelana dan bangsawan seperti Rumah makan besar.


Sena tertarik dengan bangunan besar yang ada di depannya. Bangunan 3 tingkat dengan nama merak ungu ini sangat ramai. Sena yang berfikir bangunan didepannya adalah rumah makan besar melangkah masuk dengan santai. Nampak puluhan meja tertata rapi di lantai dasar namun Sena heran melihat banyaknya perempuan dengan penampilan terbuka dan wajahnya penuh dengan hiasan.


"Tuan tampan silahkan pilih aku". Suara halus beberapa perempuan yang melihat Sena berjalan masuk .


Sena tanpa peduli dengan panggilan halus wanita pelayan, terus saja melangkah masuk menuju meja besar yang di huni wanita tua yang wajahnya centil seperti anak perawan.


"Anak muda nampaknya kau memiliki selera yang unik tapi tak mengapa aku bersedia". Nenek itu segera berdiri menatap sena yang telah ada di depannya. Sena yang tak mengerti maksud Nenek Tua itu segera mengambil kertas dan pensil di meja didepannya. Dengan gerakan cepat dia menulis beberapa kata pada kertas kemudian menyerahkannya ke Nenek Centil di depannya.


"Pemuda tampan ini nampaknya bisu tapi tak mengapa". Gumam Nenek centil itu dengan lembut menerima secarik kertas yang telah di coret Sena. Nenek centil itu akhirnya tersadar akan tujuan Pemuda di depannya. Walaupun kecewa namun tujuan pemuda didepannya masih bisa memberinya keuntungan.

__ADS_1


Awalnya Nenek centil itu enggan melayani permintaan sena tapi ketika dia melihat sebuah kantong kecil tergantung di samping pinggang Sena. Dengan mata berkilau ia mengajak sena masuk kedalam ruangannya.


Beberapa pelayan wanita dan pengunjung heran melihat Pemuda Tampan itu mengikuti pemilik Merak ungu Kota Mandau kedalam ruangan pribadinya. Timbul berbagai pikiran jijik yang mengarah kepada sena.


Di dalam Ruangan Nenek Centil itu mempersilahkan Sena duduk di depannya.


"Tuan nampaknya membutuhkan informasi mengenai keberadaan dewa tabib dan hal itu tidaklah murah mengingat informasi ini sangat rahasia". Sena yang mengerti ucapan Nenek centil didepannya mengambil kantong koin didepannya dan meletakkannya diatas meja. Melihat hal itu Nenek centil tersenyum dan mulai menjelaskan mengenai informasi Dewa tabib.


"Jika kau bergegas sekarang mungkin kau masih bisa menemukannya di sana". Setelah mengungkapkan informasi yang di ketahuinya Nenek Centil segera mengambil kantong uang sena dengan perasaan bahagia meskipun mungkin jumlahnya kecil tapi uang tetaplah uang.


Namun ekspresinya segera berubah ketika mendengar suara ledakan di lantai dasar bangunan Merak Ungu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi". Teriak nenek centil sambil melangkah keluar diikuti sena.


__ADS_2