Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Turnamen Kumbara Muda


__ADS_3

Mendengar nama Putri Kerajaan, Sena menunduk lemas. Jika biasanya dia bersikap dingin kesemua orang agar di jauhi, tapi cara itu gagal dihadapan Dewi Lasmini, hal itu malah membuatnya semakin mendekat.


Bahkan suara deru sepatu Lasmini dari jarak jauh membuat Sena semakin merinding. Arjunta yang baru kali ini melihat Dewi Lasmini meneguk saliva karena kecantikannya. Walaupun Isyana memang cantik tapi Lasmini memiliki kelas kecantikan bagaikan bidadari.


Tumenggung Raharja melangkah maju menyambut tuan Putri Kerajaan.


"Hormat Tuan Putri, Ada keperluan apa berkunjung ke kediaman sederhana ini". Raharja menunduk hormat namun merasa aneh atas kunjungan mendadak Putri Lasmini yang terkenal sangat dingin bahkan kepada keluarganya.


Lasmini hanya berjalan melewati Raharja. Semenjak memasuki ruangan. Matanya selalu menatap wajah seorang pemuda dingin yang tak lain adalah Sena. Dengan Anggun Lasmini duduk tepat didepan Sena.


"Kita bertemu lagi". Putri Lasmini menatap Sena yang terlihat tak mempedulikannya hingga membuat Arjunta dan Raharja menatap penuh keheranan.


"Dimana lagi pemuda dingin ini mengenal seorang putri Kerajaan?". Arjunta berkata dalam hati. Hatinya bertambah kesal karena Sena selalu di kelilingi keberuntungan entah itu kekuatan, pusaka bahkan wanita.


Sena yang merasa kenyang berdiri meninggalkan ruangan tanpa mempedulikan orang lain. Dirinya tidak yakin mampu menahan emosi ketika Lasmini terus memandanginya sambil tersenyum dengan maksud tersembunyi.


"Tumenggung Raharja, nampaknya saya akan lebih sering berkunjung kesini". Lasmini tersenyum dingin kepada Raharja sebelum meninggalkan kediaman itu. Meninggalkan Arjunta dan Raharja yang masih tak mengerti hubungan Putri kerajaan dan Sena.


***


Sena berkeliling di kediaman Tumenggung Raharja untuk menghindari Dewi Lasmini. Setiap sudut bangunan terdapat aula pelatihan prajurit. Suara teriakan dan latih tanding memenuhi pendengaran Sena. Jika bukan karena janjinya terhadap Raharja. Dia akan segera meninggalkan tempat bising ini.


Raharja menghampiri Sena yang terlihat memandangi langit senja. Raharja memahami bahwa Sena tak menyukai keramaian dan kebisingan. Terlihat jelas dari tingkah laku dan ekspresinya.

__ADS_1


Sena yang menjadi tamu Tumenggung di tempatkan di sebuah rumah kecil yang terdapat di ujung Kediaman Raharja. Disana agak jauh dari hiruk pikuk latihan prajurit.


" Baiklah, Disini kamu akan tinggal hingga Turnamen Kumbara Muda selesai. Semoga kamu betah disini". Raharja kembali menepuk pundak Sena sebelum meninggalkannya di sebuah rumah yang memilki kolam ikan kecil itu.


Selama seminggu sebelum turnamen di mulai, Sena mengurung diri di rumah itu. Selain berlatih dan membaca, dia hanya memandangi puluhan ikan yang berenang di kolam . Untunglah selama seminggu ini, Dewi Lasmini tidak berkunjung.


Sama seperti hari sebelumnys. Tak jemu Sena memperhatikan ikan yang terus berputar putar dikolam yang telah di hias seindah mungkin.


"Sebenarnya untuk apa aku hidup, tak ada satupun yang menarik". Gumam Sena yang nampak tersenyum mencoba memahami arti kehidupan. Sena saat ini bagaikan kertas kosong, dulu hidupnya sedikit berwarna karena kehadiran Bi Ratih dan Jaya Bhaya.


Sena sempat berpikir kehidupan seperti ini yang di harapkannya. Hidup tenang di dalam rumah, tidak kekurangan makanan dan tidak bertemu banyak orang. Namun semakin lama rasa kesepian semakin menggerogoti pikiran dan tubuhnya.


Tak lama kemudian Raharja datang bersama seorang pelayan dengan membawa zirah dan jubah berwarna merah khas pasukan Tumenggung Raharja.


Melihat Sena mengangguk tanpa banyak protes. Raharja Semakin riang. Raharja kemudian memberikan kartu peserta turnamen kepada Sena


"Nak aku menyukai kepribadianmu yang selalu menepati janji. Jangan lupa memenangkan turnamen ini". Raharja tetap tersenyum hangat meskipun akan tahu tanggapan balik Sena. Dia berpikir untuk mengubah sifat dingin Sena setelah mendapatkan informasi dari Arjunta.


"Dunia ini luas Nak, ukirlah kebahagian di hatimu, jangan biarkan hatimu beku karena sifat dinginmu. Belajarlah menyukai sesuatu agar kamu memiliki tujuan hidup. Hanya dengan begitu hidupmu akan bermakna". Raharja kembali berjalan meninggalkan Sena yang termenung mencoba meresapi ucapan Raharja yang di tujukan kepadanya. Sepanjang malam Sena terus terusik akan perkataan Raharja mengenai tujuan hidup.


Hari yang di nantikan telah tiba, ribuan orang memadati jalan - jalan di Kota Birawa. Sebagian besar adalah penonton yang hendak menyaksikan acara Turnamen Kumbara Muda.


Turnamen Kumbara Muda adalah ajang untuk memberikan apresiasi kepada kalangan muda untuk menunjukkan bakatnya. Turnamen hanya diikuti pendekar yang berumur 25 tahun kebawah. Para peserta sebagian besar berasal dari padepokan putih dan Aliran Netral. Kadang juga ada prajurit muda kerajaan yang ingin membuktikan kemampuannya.

__ADS_1


Saat Sena beranjak menuju lokasi turnamen. didepan gerbang kediaman tumenggung nampak Arjunta dan Isyana menunggu. Isyana tersenyum menyambut Sena. Bukan karena Sena nampak gagah dengan zirah dan jubah yang berkibar di pundaknya melainkan dia masih bisa melihat laki laki yang mampu menggetarkan hatinya.


Meskipun Isyana tidak menunjukkan rasa sukanya secara langsung. Namun hal itu nampak tersirat dari wajahnya. Tapi Sena bukanlah laki laki yang peka dan mengetahui tanda tanda sederhana itu. Isyana pun mengetahui hal itu.


Mereka bertiga berjalan menuju aula turnamen yang terletak di bagian utara Kota Birawa. Arjunta juga akan mengikuti turnamen mewakili padepokan Pedang Kebenaran.


Di dalam aula terdapat arena pertarungan yang sangat luas dan ribuan kursi penonton yang mengelilinginya. Walaupun acara pembukaan baru akan diadakan 1 jam lagi tapi hiruk pikuk turnamen telah telah menyebar kepenjuru aula.


Arjunta lalu memisahkan diri menuju kursi yang di sediakan untuk padepokannya sedangkan Isyana dan Sena menuju Kursi yang disediakan untuk Serikat Pendekar Sakti.


"Sena ayo kesana. Paman Giri akan segera datang". Isyana menunjuk kursi yang terletak di bagian utara aula. Disana berjejer kursi yang memiliki ruangan khusus untuk para tamu kehormatan termasuk Padepokan aliran putih dan kelompok Netral.


Waktu terus berjalan hingga semua kursi penonton telah terisi. Satu persatu petinggi Padepokan dan Kelompok netral telah berdatangan.


Arjunta sendiri kini telah duduk bersama 2 orang dari Padepokannya. Nampaknya Padepokan Pedang Kebenaran akan diwakili 2 peserta dan nampak satu Pria sepuh berpakaian Putih duduk diantara 2 pemuda itu.


"Sena, senang bisa melihatmu kembali". Giri Sawardhana telah datang bersama 4 orang di belakangnya. Walaupun belum mengenal Sena lebih dalam, Giri merasa senang karena Sena akan mewakili Serikat Pendekar Sakti di turnamen ini. Giri yang tak mendapatkan respon dari Sena sedikit mengerti dari penjelasan Isyana.


Jauh hari sebelumnya Giri dan Raharja telah membicarakan perihal tentang Sena. Keduanya menyepakati sesuatu tanpa sepengetahuan Sena. Giri kembali memandangi Isyana yang nampak bahagia setelah mendengar kembali kedatangan Sena kembali ke Kota Birawa dan akan mengikuti turnamen Kumbara Muda.


"Gommmmmmm"


Di sela percakapan mereka terdengar bunyi gong yang menandakan kedatangan Keluarga kerajaan diikuti Mahapatih dan Tumenggung.

__ADS_1


__ADS_2