
Bagaskara terus mengayunkan tombaknya menghalau pisau pisau Lembu Karo yang terikat oleh rantai di tangannya. Kedua Pisau itu berbentuk bulan sabit yang memiliki ketajaman yang luar biasa karna mampu memotong bagian tubuh manusia dengan mudah.
Jurus Tombak Bagaskara awalnya mampu menekan lembu Karo yang terlihat kesusahan melawan dengan jarak
dekat, hingga dia selalu mengambil jarak terhadap Bagaskara untuk mengendalikan
pisau bulan sabitnya.
Sedangan Tohpati yang memiliki tenaga dalam tingkat langit gerbang ketiga bertarung sengit dengan bandit berkepala botak yang benama lebu Nira.
Lembu Nira menggunakan kepalanya yang keras untuk menanduk tubuh Tohpati. Dengan tubuh gemuk dan pendeknya, Serangan Tohpati sangat sulit mengenai tubuh Lembu Nira yang seperti bola lemak.Berbagai gerakan tapak yang di keluarkan Tohpati masih tidak mampu memberikan luka serius kepada lawannya meskipun gerbang tenaga dalamnya yang lebih tinggi.
Tumenggung Raharja masih tak bergeming hingga menyaksikan pihaknya perlahan mulai memenangkan pertempuran ini. kehadiran Sena dengan segala kemampuannya membuat pihak musuh berkurang dengan cepat hingga menyisahkan 3 orang yang masing masing di hadapai oleh Rangganya.
“Ini Bagus untuk latihan kalian”. Kata Tumenggung Raharja yang menyaksikan pertarungan ketiga Rakryan Rangganya.
Meskipun terlihat santai namun Tumenggung Raharja mengamati setiap detiail pertarungan agar bisa membantu di saat saat genting.
Semua prajurit kini terlihat telah mundur dan
berusaha mengobati temannya yang terluka sedangkan pertempuran ketiga Rangga masih berlanjut.
Sena memandangi puluhan jarum beracun yang mengarah kepadanya. Lembu Madana sebagai Ketua bandit Lembu Gunung cukup yakin dengan keganasan jarum beracunnya yang mampu memberikan luka parah kepada pendekar suci sekalipun.
Nanun wajahnya berubah menjadi pucat memandangi puluhan jarum itu berjatuhan sebelum mengenai tubuh Sena. Lembu Madana memandangi ada aura tebal yang menyelimuti tubuh Sena yang lebih mirip kobaran api hitam
“Apakah kamu Iblis anak muda?”. Lembu Madana terkejut melihat aura kegelapan yang begitu pekat dan besar milik Sena.
“Iya saya memang Iblis. Ibis bagi manusia berhati jahat seperti kalian”. Ktaa Sena menyeringai kearah Lembu Madana.
Tengkuk Lembu Madana terasa dingin memandangi ekspresi menyeringi
Sena. Tak pernah terpikirkan olehnya seorang pendekar suci gerbang pertama seperti dirinya ketakutan ketika berhadapan dengan pemuda bertenaga dalam tingkat langit.
__ADS_1
Tanpa aba aba , Lembu Madana melemparkan kembali puluhan jarum beracun kerah Sena sebelum melesat mengikuti jarum beracunnya sendiri.
Hal ini dilakukan untuk memecah
konsentrasi Sena yang akan memfokuskan auranya untuk menahan jarum jarum beracun itu.
Namun Lembu Madana melupakan satu hal bahwa Sena masih memiliki pusaka cincin misterius yang takkan membiarkan pemiliknya terkena serangan. Begitu jaraknya dekt dengan sena, muncul 2 cincin besar menyerang dari kedua sisi.
Lembu Madana melompat mundur setalah merasakan kedua tangga yang di pakai untuk menangkis Cincin berputar Sena menjadi mati rasa. Belum hilang keterkejutannya muncul satu cicnicn dari atas kepalanya berusaha melingkarinya namun dengan gerakan cepat dia bersalto dan menendang cincin itu
“Kenapa bagin tubuh yang terkena cincin itu seakan mati rasa”. Lembu Madana kembali mersakan kakinya mati rasa dan tak bisa di gerakkan. Dengan cepat dia mengalirkan tenaga dalamnya untuk menstabilkan
kembali tubuhnya.
Tak mau membuang buang waktu Sena menyerang balik Lembu Madana yang terlihat sudah putus asa dengan berbagai macam kemampuan Sena. Awlanya dia mampu menghindari serangan pukulan dan tendangan Sena, namun seiring waktu
berjalan akhirnya jurus Tarian Iblis Kegelapan berhasil menghantam tubuh Lembu
Madana sebanyak 3 kali hingga terlempar.
“Lepa……. ahkkkkkkkk”
Matanya memerah dengan urat urat yang nampak jelas terukir di wajahnya yang menjadi gelap akibat di rasuki aura kegelapan mlik Sena.
Semua harapannya untuk hidup telah hilang setelah merasakan pusat tenaga dalamnya
lenyap dan seluruh tulangnya hancur.
Sena melepaskan tubuh Lembu Madana yang sudah menjadi bongakahan daging tak bertulang.
Tumenggung raharja dan para prajurit menghela nafas panjang memikirkan sakit yang dialami oleh lembu Madana.
Melihat ketuanya telah di kalahkan konsentrasi Lembu Karo dan Lembu Nira menjadi buyar sehingga masing masing dari mereka mendapatkan rentetan serangan pamungkas dari Rangga Tohpati dan rangga Bagaskara. Mereka langsung tewas karena terkena serangan di bagian vital.
__ADS_1
Pertempuaran kini telah usai. Seluruh prajurit memakamkan prajurit yang gugur sedangkan para bandit yang menderita segera dibunuh setelah mendapatkan perintah dari Tumenggung Raharja. Mayat para bandit dibakar untuk menghindari kedatangan hewan buas dan hewan liar.
Rangga Tohpati megontrol semua kegiatan ini hingga kembali memberikan laporan keada tumenggung raharja yang masih berada diatas kuda. Kink salah satu bandit terbesar di Kerajaan kumbara telah di tumpas hingga keakarnya.
Sena duduk bersandar di bawah pohon besar mencoba mencari hikmah dari tindakan yang beberapa hari telah dia lakukan . Kadang hatinya merasakan ada sesustu yang salah setiap dia memberikan penderitaan yang begitu kejam kepada musuh namun dia juga berambisi agar kejahatan di dunia ini lenyap sehingga dia berusaha membuat bandit bandit itu tak mampu lagi berbuat semena mena.
Lamunannya berhenti ketika meraskan tepukan di bagian pundaknya. Sena tersenyum melihat Raharja duduk di sebelahnya.
“Sena, kenapa kau selalu menyiksa lawanmu”’Raharja langsung bertanya mengenai tindakan Sena yang terlalu sadis kepada lawannya namun selama ini Raharja juga tidak prernah melihat Sena memmbunuh lawannya.
“Karena saya tidak bisa membunuhnya”. Tukas Sena.
Sena lalu meceritakan garis besar mengenai janji kepada gurunya untk tak pernah membunuh manusia. Sena sebenarnya sangat ingin membantai lawannya hingga habis tapi menepati janji adalah prinsip utama yang di pegang dalam hidupnya.
Raharja tersenyum mendengar pernyataan Sena. Pria berkumis itu memandangi Sena yang belum bisa menarik makna dari larangan pembunuhan yang di katakan Jaya Bhaya.
“Sena mulai sekarang, belajarlah menghargai kehidupan meskipun itu orang jahat. Jika kau tak bisa membunuh, cukup sampai menghancurkan tenaga dalamnya sudah cukup bagi pendekar untuk memikirkan kembali berbuat kejahatan”. Kata Raharja yang melangkah meninggalkan Sena.
“Ada beberapa orang di dunia ini yang tak akan sadar sebelum nyawa meninggalkan tubuhnya”. Gumamnya dalam hati.
Sena tersenyum kecut memikirkan perbedaan pendapat yang di lontarkan oleh Tumenggung Raharja.
***
Seluruh pasukan kerajaan telah bersiap untuk
pulang kemarkas mereka. Terlihat puluhan bandit terikat di belakang pasukan besar itu.
Tuemenggung Rharja khawatir jika meninggakan Kota Wanua terlalu lama maka akan ada serangan dari Padepokan Cakar Setan yang tentu akan mengincar kota dengan bisnis perdagangan terbesar kedua di Kerajaan Kumbara itu.
Sena sudah memutuskan untuk melakukan perjalanan sendiri, setelah mengetahui beberapa misteri dunia persilatan yang perlu dia pecahkan . Pemuda itu sadar dirinya tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Raharja melepas kepergian Sena yang harus mencari makna kehidupan di hatinya yang kosong.
“Petualanganmu baru
__ADS_1
akan dimulai, jadilah yang terkuat untuk menghapus kejahatan sesungguhnya di kerajaan ini”. Gumam Raharja menatap kepergian Sena kearah timur.