Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Ambisi Nyai Genggong


__ADS_3

Tumenggung Gunawa mengamati Jubah merah yang berkibar di punggung pemuda yang akhirnya di ingatnya. Dia sungguh terkejut melihat kedatangan Sena di kota ini, belum lagi, kekuatan yang di tunjukkan Sena sangat mengagumkan dalam melumpuhan siluman setingkat pendekar suci.


“Sena, apa yang kau lakukan disini?


Tumenggung Gunawa mendekati Sena. Dewi Ambarwati mengikuti Tumenggung muda itu karena juga mengetahui identitas pemuda yang mengalahkan pemimpin siluman Beruang.


“Ada urusan pentimg yang harus kulakukan, tapi nampaknya sekarang sudah selesai”. Sena mencoba tersenyum atas kedatangan 2 orang penting didepannya.


Sena awalnya memutuskan kembali ke Kota Wanua. Memang ada beberapa misteri yang tertulis di gulungan kuno dan masih terngiang di kepalanya tapi kekacauan yang disebabkan oleh Padepokan Cakar Setan lebih penting untuk diselesaikan terlebih dahulu.


Dewi Ambarwati menahan kepergian Sena. Dia ingin pemuda didepannya untuk bertemu sejenak dengan Dewi Lasmini sekedar mengobati kerinduan monster cantik itu.


Sena hanya tersenyum kecut dengan permintaan Ketua Padepokan Telaga Dewi. Seandainya saja Dewi Ambarwati mengetahui bahwa Sena sebelumnya telah bereuni dengan Dewi Lasmini sebelum terjun ke medan peperangan.


Sena mengangguk setuju dengan permintaan Dewi Ambarwati. Bagaimanapun dia harus memberikan penjeasan kepada Ratu Dewi Kenanga perihal tindakannya sebelumnya.


“Pemuda yang sangat menarik”. Parakarama melihat kepergian Sena. Ini kali kedua pengawal Pimpinan Kota itu melihat kehebatan Sena. Tapi kali ini mungkin kekuatan sejati Sena lah yang terlihat. Dia melilit kembali pedang besarnya dengan kain hitam dan menaruhnya di punggungnya.


Sena, Tumenggung Gunawa dan Dewi Ambarwati memasuki ruangan bawah tanah untuk menginformasikan kepada Ratu Kerajaan Kumbara dan keluarga kerajaan bahwa semua siluman telah di kalahkan sedangkan sebagian besar kembali ke sarangnya.


Pandangan semua orang di ruangan itu mengarah kearah Sena hingga membuat Dewi Ambarwati keheranan dengan keadaan canggung ini.


“Akhirnya kau kembali”.


Dewi Lasmini mendekati Sena dan hendak memeluknya kembali. Entah dada bidang atau aroma Pemuda itu yang membuat Dewi Lasmini kecanduan untuk selalu berada di dekat Sena. Sena mengerinyitkan dahinya melihat tindakan yang akan diambil oleh  Dewi Lasmini. Dengan sigap dia menahan kepala Lasmini yang sementara merentangkan kedua tangannya untuk mendekap Sena.


Semua penghuni ruangan melihat  Lasmini hanya bisa menggelengkan kepala atas


tindakan tidak tahu batasan itu. Ratu Kumbara semakin memandang tajam kearah Sena yang membuat putrinya seperti orang gila jika melihatnya.


Dewi Ambarwati baru menyadari  akan Perkataan Dewi Lasmini sebelumnya. Setelah

__ADS_1


di pikirkan baik baik, akhirnya dia mengetahui bahwa Sena pernah datang keruangan ini sebelum ke medan perang. Sena hanya tersenyum memenadangi ekspresi rumit Dewi Ambarwati. Pandangannya beralih kembali kearah Dewi Lasmini yang cemberut karena tindakannya.


Sena sebenarnya ingin menceritakan semua mengenai rahasia tubuh Dewi Lasmini namun saat ini tidak etis jika semua orang diruangan ini mengetahui rahasia tubuh abadi. Prabu Sanjaya adalah orang yang paling layak


menerima informasi penting dari Sena.


“Saya harus secepatnya ke kota Birawa”. Kata Sena dalam hati.


Sena menghela nafas panjang mengenai keputusan yang telah di bulatkannya. Pemuda itu tidak menyadari bahwa saat ini semua orang memandanginya dengan berbagai macam ekspresi.


Tidak ingin berlama lama dengan keadaan ini, Sena mengutarakan isi pikirannya.


“Lasmini ! Kuharap kamu tidak akan pernah melepaskan kalung di lehermu di manapun dan bagaimanapun keadanmu“.


Mata tajam Sena menatap Dewi Lasmini. Namun raut wajah Lasmini malah memerah dengan perkataan Sena tanpa mengerti tujuan sebenarnya pemuda di depannya.


“Ketua Dewi Ambarwati, ada hal penting yang harus saya sampaikan”. Kata Sena serius kepada Ketua Padepokan Telaga Dewi.


***


Wikrama akhirnya sampai di Padepokan Cakar Setan. Padepokan ini terletak di sebuah lembah yang di kelilingi pegunungan terjal. Tempat ini sangat rahasia dan penuh jebakan untuk mecapainya.


Pendekar Topeng Emas itu langsung memasuki sebuah ruangan paling menyeramkan di Padepokan ini. Ketakutan terus melanda hatinya setiap melangkah menuju tempat dimana Nyai Genggong sedang bersemedi.


Di dalam ruangan itu terdapat 3 orang yang sedang menutup mata. 2 diantaranya memakai topeng yang sama dengan Wikrama, sedang di atas singgasana megah duduklah ketua Padepokan Cakar Setan.


Ketiga orang itu langsung membuka mata merasakan aura Wikrama. Nyai Genggong menyipitkan matanya melihat kondisi Wikrama yang terluka parah padahal jika di pikirkan hanya sedikit orang yang mampu memberikan luka parah seperti itu kepada salah satu Topeng Emas miliknya.


Wikrama sebelumnya mendapatkan misi untuk menghancurkan padepokan aliran putih yang berada di Kota Taruma. Dengan tingkat


pendekar suci gerbang kedua, seharusnya misi itu akan sukses tanpa hambatan berarti, tapi nyatanya sekarang Wikrama datang dengan raut muka ketakutan dan luka di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Hanya 1 kesimpulan yang bisa ditarik dari


pemandangan didepannya yaitu kegagalan misi yang di laksanakan Wikrama.


“Maafkan saya Nyai Genggong karena gagal menjalankan misi”.


Wikrama masih saja menunduk penuh penyesalan. Kebenciannya kepada Sena sangatlah besar sekarang. Bukan hanya dia menjadi bahan tertawaan dua Topeng Emas lainnnya namun juga melemahkan kepercayaan ketua padepokan Cakar Setan kepadanya.


“Jelaskan kepadaku apa yang terjadi !”.


Nyai Genggong mengenggam tongkat yang memiliki kepala berbentuk cakar itu. Emosinya bisa saja meluap saat ini melihat kegagalan salah satu bawahannya yang terkuat. Tapi dia sedikit berpikiran logis bahwa jika ada yang bisa melukai Wikrama, berarti orang itu bisa menjadi ganjalan besar atas rencananya menghancurkan Kerajaan Kumbara.


Wikrama menjelaskan semua hal yang terjadi di peperangan tanpa kurang satupun. Di saat dia menceritakan mengenai Sena, muncul aura kebencian yang begitu besar dari matanya.


Nyai Genggong dan kedua topeng emas yang mendengar cerita Wikrama sekan tidak percaya atas kemampuan pemuda tingkat pendekar langit yang mampu menjadi tulang punggung pasukan kota Taruma.


Nyai Genggng begitu tertarik dengan kemampuan aura kegelapan milik Sena. Dirinya pernah medapatkan informasi tentang aura kegelapan yang memiliki kekuatan yang sangat mengesankan. Diantara semua yang Wikrama ceritakan, kehadiran pusaka yang mampu terbang dan berubah ukuran itu membuat Nyai Genggong begitu bersemangat.


Dalam penjelajahannya di dunia persilatan, ada begitu banyak pusaka yang pernah di lihatnya namun tidak ada yang semenarik pusaka yang di ceritakan oleh Wikrama.


Kini kegagalan Wikrama atas misi sudah tidak berpengaruh lagi di pikirannya, karena saat ini Nyai Genggong begitu ambisius untuk mendapat pusaka cincin milik Sena.


“Prajna, segera selidiki pemuda yang di ceritakan oleh Wikrama dan rebut pusakanya untukku”.


Ketertarikan Nyai Genggong harus segera terealisasi. Tugas penting itu langsung di berikan kepada pendekar Topeng Emas yang lain. Kemudian dia memerintahkan Wikrama untuk beristirahat dan menyembuhkan lukanya. Karena kekuatan semua  Topeng Emas sangatlah vital saat puncak rencana nyai Genggong di lakukan. Ketua Padepokan cakar setan akan melakukan serangan besar yang bisa saja meluluhlantakkan negeri ini.


“Setelah mendapatkan Pusaka itu, aku akan


menunjukkannya di hadapan keluarga Kerajaan”.


Nyai Genggong tertawa layaknya iblis. Semua penghuni Padepokan Cakar Setan begidik ngeri setiap kali mendengar tawa ketua Padepokannya yang terasa sangat menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2