Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Musuh Baru


__ADS_3

Kedua pimpinan bandit Serigala Api menyerang menggunakan jurus terkuat mereka. Dengan keyakinan penuh mereka melesat membidik tubuh Sena di sisi berbeda. Sena menyunggingkan senyuman menghina sebelum aura kegelapannya keluar secara eksplosif dari tubuhnya.


“Buhhhhhhh”


Aura Kegelapan Sena membentuk dua tangan besar dan menggenggam kedua Pimpinan Bandit Serigala Api. Keduanya sontak memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan besar itu, namun tanpa mereka sadari tenaga dalam didalam tubuh mereka perlahan diserap dan membuat kondisi mereka semakin melemah. Pisau pisau yang di genggam kini telah terjatuh karena tubuh mereka tak mampu lagi bergerak seakan mati rasa.


“Jangan biarkan satu orang pun lolos”. Teriak Rangga Bagaskara mengangkat tombaknya.


Di luar Markas Bandit Serigala Api, Rangga Bagaskara dan pasukannya menyerang puluhan bandit yang berniat melarikan diri. Tombak tombak prajurit menusuk tubuh bandit yang berlari ketakutan.


Semua prajurit Bagaskara percaya diri melihat bandit telah kehilangan mental untuk bertarung. Mereka tampak bimbang memutuskan perlawanan yang akan di lakukan melihat pembantaian yang terjadi di dalam dan luar markas Serigala Api. Hingga terlihat sebagian bandit yang mampu berpikir tenang memilih mengangkat tangan tanda menyerah.


Mereka lebih baik menyerahkan diri daripada memberikan perlawanan terhadap pasukan


kerajaan yang memiliki jumlah yang lebih banyak, ditambah seorang monster yang sedang mengamuk di dalam markas mereka.


Rangga Bagasakara tersenyum melihat kemenangan mudah yang diraihnya, dengan segera dia bergegas masuk kedalam markas untuk membantu Sena untuk menghadapi pimpinan bandit yang memiliki tenaga dalam tingkat langit. Kejutan nampak di wajahnya melihat keadaan markas bandit Serigala Api yang porak poranda.


Semua bandit  di dalam markas terlihat menggeliat kesakitan memegangi berbagai bagian tubuhnya, entah karena patah atau mati rasa.


Mata Bagaskara memandangi Sena yang tengah memberikan penderitaan kepada dua orang yang terlihat seperti pimpinan Bandit


Serigala Api. Kedua tubuh pimpinan itu terhempas ditanah dengan keadaan yang mengenaskan dimana seluruh kulit mereka penuh dengan darah. Hembusan nafas mereka bahkan bercampur dengan darah.


Sena memandangi seluruh keadaan Markas Bandit serigala Api yang telah dia hancurkan . Pemuda dingin itu tersenyum menghampiri Bagaskara yang sedang menatapnya.


Sekarang hati Sena sedikit lega melihat satu kelompok sampah berhasil di lumpuhkan. Walaupun Sena tak membunuh satupun dari mereka namun pemuda dingin itu yakin semua bandit tidak bisa melakukan apapun selama sisa hidupnya.


Sena kemudian meninggalkan Bagaskara dan pasukannya untuk mengurusi masalah yang telah dia perbuat.

__ADS_1


Bagaskara kembali menghela nafas panjang memikirkan bagaimana cara mengurusi semua bandit yang telah tak berdaya di hadapannya. Dengan jumlah sebanyak ini tidak mungkin dirinya harus membawa mereka ke penjara di Kota Wanua apalagi kondisi mereka yang sudah seperti mayat hidup.


“Tuan , tolong bunuh kami”


“Bebaskan kami dari penderitaan”


“Aku mohon tuan”


Berbagai teriakan memelas terdengar dari bandit yang tampak menderita karena luka yang dialaminya. Bagaskara menggelengkan kepala dan berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan yang berat baginya.


“Semuanya, bunuh bandit yang sudah tak berdaya” Teriak Rangga Bagaskara kepada seluruh pasukannya yang telah merengsek masuk kedalam markas.


Kemudian dia berlalu menunduk meninggalkan tempat yang penuh teriakan teriakan kematian itu.


***


Rangga Bagaskara memohon kepada Sena lebih manusiawi untuk menghukum musuh. Lebih baik membunuh dibandingkan memberi penderitaan seumur hidup kepada musuh. Cara Sena memberikan penderitaan dinilainya sangat sadis dibandingkan kematian yang bisa berlangsung cepat.


Sena menganggukkan kepalanya karena tidak mau terlalu lama berkomunikasi dengan orang lain. Jika saja dia tidak pernah berjanji untuk tak membunuh manusia, mungkin saja sejak dulu tangan Sena sudah penuh dengan darah.


Pemuda dingin itu juga pernah berbuat sedikit lembut dengan musuhnya namun kenyataannya dia melihat kembali kejahatan dari orang yang sama.


Pemuda dingin itu belajar dari pengalaman bahwa sesorang yang berhati buruk akan tetap melakukan kejahatan meskipun sudah tidak memiliki kekuatan pendekar. Mereka benar benar akan berhenti jika memang sudah tidak memiliki sesuatu hal yang digunakan untuk melakukan perbuatan keji. 


Dipikiran Sena hanya terlintas mengenai


tangan dan kaki, makanya dia tidak segan mematahkan anggota gerak musuh agar


tak mampu berbuat kejahatan kembali.

__ADS_1


Rangga Bagaskara tersenyum kecut meskipun yakin nasehatnya tidak akan semudah itu diterima oleh Pemuda dingin didepannya. Melihat Sena melanjutkan semedinya, Bagaskara kembali ke pasukannya untuk membicarakan langkah selanjutnya.


Sena tak pernah mengikuti pertemuan prajurit karena memang tak suka banyak berinteraksi dan berbicara dengan orang lain.


***


Pagi hari di tenda Bagaskara nampak tegang mendengar salah satu prajurit mata mata mereka berhasil medapatkan laporan letak markas salah satu bandit terbesar di kerajaan Kumbara. Markas ini berada di perbatasan Kota Wanua dan Sanriga.


Bandit Lembu Gunung menjadi daftar buronan kerajaan yang sudah 2 tahun diburu namun anggotanya memiliki kesetiaan yang sangat tinggi sehingga merelakan nyawa di bandingkan membeberkan informasi kelompoknya.


Bagaskara memutuskan kembali ke markas Kota Wanua untuk menyampaiakan informasi dan menambah jumlah pasukannya untuk menyergap Kelompok Bandit besar itu. Bukan rahasia jika kelompok bandit besar memiliki ratusan anggota terlatih dan ketakutan Bagaskara jika kelompok bandit itu memiliki


pendekar suci yang tidak bisa di kalahkan olehnya.


Sebenarnya bisa saja Rangga Bagaskara menunggu pasukan bantuan ditempat ini namun ada beberapa hal penting yang harus di sampaikan langsung kepada Tumenggung Raharja mengenai perilaku Sena yang tak bisa mengikuti taktik prajurit. Semua pasukan akhirnya setuju dengan keputusan kembali kemarkas Kota Wanua  dengan menggiring


puluhan bandit yang masih bisa bergerak.


Hanya Sena yang menolak kembali ke Markas Kota Wanua setelah mengetahui keberadaan Bandit Lembu Gunung. Rangga Bagaskara kembali memutar otaknya mengenai sifat keras kepala Sena yang tak bisa diatasinya. Akhirnya, dengan pertimbangan yang panjang, Bagaskara memerintahkan 20 pasukannya untuk tetap tinggal menemani Sena.


Mereka di tugaskan mengamankan wilayah sekitar jika ada sisa bandit Serigala Api yang ingin membalaskan dendam atas kematian


teman teman mereka.


Sepanjang hari Sena hanya mengumpulkan tenaga dalam untuk mempersiapkan pertarungan panjang yang dia rencanakan. Hingga malam tiba dirinya masih bersemedi . Seluruh prajurit hanya menyipitkan matanya melihat teman baru mereka yang gila akan latihan.


Sebelum Matahari menampakkan kebesarannya, Sena mulai bergerak meninggalkan prajurit kerajaan yang masih terlelap. Dengan segera Sena memacu Kuda hitamnya yang bernama Jali, mereka berdua membelah hutan yang masih nampak gelap dengan tetesan embun masih membasahi wajah Sena yang dingin.


“Bandit Lembu Gunung, apakah disana ada lawan yang kuat”. Sena tersenyum memandangi arah markas Lembu Gunung.

__ADS_1


__ADS_2