
Prajna sangat kesal dengan keterlambatan temannya. Naluri lelakinya terus muncul setiap menatap wanita yang berada didalam gua tapi setiap mengingat wajah Nyai Genggong, seakan nafsu itu kembali redup.
“Si*l, dimana para topeng perak itu”
Sudah hampir 3 jam dia menunggu kedatangan topeng perak namun yang ditunggu tak kunjung muncul. Dengan perasaan kesal, Pria itu bergegas kedalam hutan untuk mencari makanan. Selain takut kepada Nyai Genggong ada satu lagi ketakutan terbesarnya yaitu rasa lapar.
Prajna meninggalkan Lasmini karena yakin wanita itu takkan bangun dengan cepat. Seluruh aliran darah utamanya ditotok dengan teknik khusus sehingga takkan bisa bergerak untuk sementara waktu. Di saat kepergiannya itulah, Sena datang menemukan Lasmini sedang terbaring didalam Gua.
Sena tak habis pikir dengan rencana apa yang di lakukan oleh Pendekar Padepokan Cakar Setan. Awalnya Sena mengira di tempat ini terdapat banyak pendekar yang menjaga Lasmini namun kenyataannya, wanita cantik
ini dibiarkan sendirian di tempat asing ini.
‘’Nampaknya Lasmini terkena totok”.
Sena sempat memeriksa keadaan tubuh Lasmini. Nafas dan panas badannya stabil namun permukaan tubuhnya memucat karena tidak dialiri darah. Baru saja Sena berniat membuka totokan Dewi Lasmini, Pemuda dingin itu menemukan aura pendekar tingkat tinggi yang mendekat.
Prajna memegangi perutnya yang telah terisi penuh dengan daging B*bi. Sendawa di mulutnya berulang kali terdengar. Namun tiba tiba dia merasakan hawa pendekar tepat berada di dalam gua.
“Aura ini milik orang lain”.
Dengan kesal, Prajna melesat memasuki gua tempat di mana dia meletakkan Dewi Lasmini. Dia terburu buru karena merasakan aura yang berbeda dengan kedua teman topeng peraknya. Di dalam gua dia melihat seorang pemuda berada di dekat Dewi Lasmini.
“Hahahaha, akhirnya kamu datang juga”.
Prajna menebak bahwa pemuda ini adalah Arya Sena. Pemilik pusaka cincin yang ingin direbut oleh Ketua Padepokannya. Matanya kemudian memutari seluruh gua dan menggunakan persepsinya untuk mendeteksi
aura.
“Yang kau cari sudah kulumpuhkan”. Kata Sena dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Prajna tersentak dengan perkataan Sena. Di pikiran Topeng emas itu, Tak mungkin Sena dapat mengalahkan kedua topeng perak secepat ini. Lagipula tidak ada luka yang berbekas pada pakaian Sena, hanya sedikit robekan di zirahnya.
Kekuatan kedua topeng perak sangatlah tinggi bahkan dia tidak yakin mampu mengalahkan kedua temannya itu tanpa terluka sedikitpun. Topeng emas itu tersenyum seakan tak percaya dengan omongan pemuda didepannya.
Sena mengerutkan dahinya melihat topeng emas didepannya terlalu lama berbicara dan berpikir. Bila memang ingin melumpuhkannya mengapa dari tadi pria gempal didepannya seakan membuang waktu. Tak ingin menunggu lama, Sena langsung bergerak cepat menyerang Prajna.
Walaupun tubuhnya gempal dan berlemak namun kelihaian Prajna dalam menghindar sempat membuat Sena geram. Sena meningkatkan kecepatannya sehingga tendangan belakangnya berhasil mendarat di gumpalan lemak perut Prajna.
“Kau sangat cepat anak muda, tapi…..”.
Sena kembali menyerang menggunakan tarian ibis kegelapan tak membiarkan lawannya banyak bicara. Sena sangat membenci orang yang bertele tele. Kombinasi tinju dan tendangan yang di kerahkan oleh Sena membuat Prajna terlihat mulai serius apalagi kali ini punggunnya kembali terkena pukulan. Tubuh gempalnya berguling karna dahsyatnya serangan milik Sena.
“Ahhhhhhhh”.
Prajna berdiri sambil mengusap darah disudut bibirnya. Matanya memerah seiring dengan tubuhnya menjadi kehitaman dan memunculkan Asap. Tubuh Prajna menjadi keras seperti baja. penampilan Topeng emas sekaranglah yang membuatnya di juluki oleh pendekar tubuh Baja.
Sena yang merasakan aura pendekar suci di tubuh Prajna terkejut. Namun belum sempat dia bersiap sebuah pukulan berhasil mendarat pada wajahnya. Sena terlempar jauh, beruntung seketika aura kegelapan menahan tubuhnya agar tak terbentur pada dinding Gua.
Sena hanya tersenyum menanggapi ocehan Prajna. Tangannya membelai wajahnya yang masih terasa sakit padahal aura kegelapan telah menyembuhkan lukanya. Di akui oleh Sena bahwa lawannya saat ini memiliki kecepatan yang mungkin diatasnya, belum lagi pukulannya sangat keras.
Tak ingin merasakan sakit kembali, Sena mengubah tubuhnya menjadi keras dengan jturus tubuh Naga Hitam. Ditambah aura kegelapan yang menyelimutinya, Sena yakin memiliki kekuatan tubuh yang lebih kuat dibandingkan oleh Prajna.
Keduanya langsung melesat dengan tinju yang saling bertemu.
“Bommmmmm”.
Pertemuan tinju itu membuat dinding Gua bergetar. Sena dan Prajna sama sama mundur cukup jauh. Topeng emas itu begitu terkejut dengan kerasnya tubuh Sena, belum lagi tangannya seakan mati rasa setelah bertemu dengan tinju Sena.
Prajna kembali menyerang selama tenaga dalamnya masih banyak. Kini dia menyadari mengapa Wikrama bisa terluka setelah bertempur dengan pemuda didepannya. Pertukaran gerakan dan jurus terus berlangsung didalam gua kecil itu.
__ADS_1
Ledakan ledakan tenaga dalam terus bergmea didalam gua, menyebabkan beberapa stalaktit gua terjatuh. Mereka berdua masih saling menyerang sambil menghindari stalaktit runcing yang berjatuhan.
Sena di tengah pertempuran baru menyadari akan keberadaan Dewi Lasmini. Akibat mengalihkan pandangannya saat bertarung, sebuah pukulan kembali mendarat di perutnya. Pukulan itu begitu keras seakan membuat isi perut Sena akan keluar.
Namun dia tak mempedulikan rasa sakit itu, dengan cepat dia melesat menyelamatkan tubuh Lasmini yan hampir di jatuhi pilar besar. Sena bergegas melarikan diri dari keruntuhan Gua itu dengan menggendong tubuh Dewi Lasmini.
“Jangan Kabur pengecut”.
Prajna berteriak marah mengira Sena akan melarikan diri. Pria gempal itu tak mempedulikan keadaan sekitarnya yang sudah hancur. Dia ikut mengejar Sena hingga keluar dari mulut gua. Topeng emas ini berhenti ketika meilhat Sena juga berhenti di sebuah tanah lapang.
“Saatnya melumpuhkanmu”.
Sena meletakkan tubuh Dewi Lasmini di tanah. Walaupun berdebu setidaknya tempat ini lebih aman di bandingkan didalam gua. Pemuda dingin itu menggelengkan kepalanya untuk meregangkan otot dan tulangnya sebelum meluncur dengan cepat menuju tubuh Prajna.
Dengan cepat Sena telah berada di depan Prajna bersiap memberikan pukulan kearah wajah namun Prajna mampu melihat pergerakan Sena. Di silangkannya kedua tangannya untuk menahan serangan itu. Tapi sayang karena aura kegelapan yang menambah daya hancur pukulan Sena, membuat tubuh Prajna kembali terlempar. Kali ini lebih banyak asap yang keluar dari tubuhnya.
Aura kegelapan kembali mebentuk lengan lengan panjang untuk menangkap tubuh Prajna. Prajna yang baru memulihkan tubuhnya terus menghindari lengan lengan itu. Sesekali pukulannya berhasil membuat
lengan aura kegelapan itu terlempar.
Kemampuan topeng emas padepokan cakar setan memang sangat hebat. Jika Wikrama mampu memotong aura kegelapan dengan mudah, kini Prajna bahkan mampu memukul mundur aura kegelapan. Padahal aura kegelapan hanya berupa kabut hitam.
Sekian lama Prajna terus mengelak, akhirnya salah satu lengan panjang berhasil mengenggam tubuh gempal itu. Sena tersenyum melihat kehebatan Aura kegelapannya yang berhasil mendesak pendekar suci gerbang kedua. Tapi lawannya kali ini berbeda.
Dengan tubuh baja nya, Prajna berhasil melepaskan diri dari genggaman tangan aura
kegelapan bahkan aura kegelapan sulit menyerap tenaga dalam milik Prajna yang sekan terkurung oleh kerasnya tubuh baja yang di milkinya.
“Tubuh Baja Setan”.
__ADS_1
Prajna menjadi lebih geram karena beberapa luka yang dialaminya. Dia kini menggunakan teknik terkuatnya demi melawan pendekar tingkat langit gerbang ketiga itu.