Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Kekejaman Tanpa Pembunuhan


__ADS_3

Perjalanan Sena terasa lebih panjang di bandingkan saat dia berangkat dari kota Sindai masuk ke gua tempat dia tinggal. Entah Kota apa yang akan di lihatnya setelah keluar dari hutan kematian.


Sudah lebih 10 hari Sena bergelut dengan misteri hutan kematian. Puluhan jenis hewan buas telah dia lawan saat mencari jalan keluar. Dengan tingkat pendekar langit yang di milikinya dan kekuatan cincin penguasa di tangannya tiada lawan berarti yang memberatkannya. Andaikan Mutiara iblis Kegelapan tidak ada mungkin berat bagi tingkatan pendekar langit berada di hutan kematian cukup lama.


Hingga menjelang malam dia melihat beberapa cahaya yang menandakan adanya perkampungan di depannya. Ketika mencapai perkampungan Sena melihat keadaan kampung yang sangat sepi meskipun matahari masih menampakkan setengah cahayanya di ufuk barat.


Sena mencari tempat kosong untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan besok pagi.


Di perkampungan seperti ini sangat jarang di temukan penginapan, lagipula saat ini sena juga tidak memiliki sepeser pun koin untuk membayar penginapan. Selama ini hidupnya bergantung sepenuhnya pada alam sepeninggal gurunya.


Malam pun datang, Sena beristirahat di rumah kecil samping sawah penduduk. Tiba tiba dia terbangun saat merasakan hawa hewan buas mendekat. Puluhan B*bi Bertanduk berlari merusak padi penduduk yang sebentar lagi akan di panen dan menuju ke rumah penduduk.


Penduduk di sekitar persawahan hanya bisa pasrah dan berharap setelah merusak persawahan B*bi Bertanduk akan kembali ke dalam hutan.

__ADS_1


B*bi Bertanduk dan bermata merah (ciri Khas hewan Buas) yang merupakan salah salah satu hewan buas tingkat rendah ,bukan tidak mungkin dapat membunuh dan menghancurkan perkampungan ini yang hanya diisi manusia biasa.


Sena yang terganggu dengan suara suara yang di sebabkan B*bi bertanduk, berdiri dan melesat menuju ketengah kumpulan b*bi bertanduk dan mengeluarkan aura kegelapannya.


Seluruh B*bi bertanduk yang notabennya setingkat Pendekar Prajurit hanya bisa menjerit, tak bisa bergerak saat aura kegelapan yang di keluarkan Sena mengunci tubuh dan tenaga b*bi bertanduk.


Penduduk yang hanya mendengar jeritan jeritan B*bi Mata Merah bergidik ketakutan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.


Sekitar beberapa detik, seluruh B*bi Mata merah tumbang tanpa bisa bergerak karena seluruh tenaganya telah terhisap. Mendengaf tak ada lagi B*bi yang bersuara. Sena kembali ke tempat dia sebelumnya untuk melanjutkan istirahatnya yang sempat tertunda.


"Apakah pemuda ini yang telah melumpuhkan B*bi Bertanduk tadi malam". Bisik salah satu penduduk. Sebagian penduduk mempercayai hal itu karena hanya sena yang berada di sekitar persawahan di mana B*bi bertanduk di temukan tewas.


"Tidak mungkin bocah ini yang melakukannya,dia bahkan terlihat seperti pengemis". Salah satu pemuda yang terlihat sombong menyanggah pendapat penduduk.

__ADS_1


Sena yang pertama kali melihat wajah manusia manusia setelah 9 tahun di Hutan kematian hanya menatap dingin. Dia Telah bertekad tidak akan memperdulikan orang orang selama itu tidak menganggu ketenangannya.


Di depan tatapan semua orang , Sena dengan santai berjalan untuk melanjutkan perjalanannya untuk mencari Dewa Tabib seperti yang diamanahkan sang guru.


Tapi tiba tiba Seorang yang terlihat paling sepuh menghadang Langkah Sena.


"Maaf Pendekar,Apakah Tuan yang telah melumpuhkan Hewan Buas yang akan menyerang perkampungan ini. Jika iya, mohon tuan terima uang ini sebagai ucapan terima kasih". Pria Sepuh itu menyodorkan kantong kecil yang berisi beberapa koin perak dan perunggu. Sena yang memang memerlukan uang, mengambil uang dari tangan pria sepuh itu. Pria Sepuh itu tersenyum karena setidaknya mampu membalas jasa Sena.


"Kakek !!! Dia hanya pria bisu dan tuli. Tidak mungkin dia yang mengalahkan B*bi bertanduk itu". Tangan Pemuda sombong itu berniat merampas kantong koin ditangan sena namun di tahan oleh Pria sepuh.


Sena yang mendengar kata kata dan sifat kasar pemuda di depannya langsung melepaskan aura kegelapan yang langsung menyerang Pemuda itu.


"Akhhhhh Sakit". Teriak Pemuda sombong itu dengan tubuh kaku dan berat. Pria Sepuh itu melepaskan genggaman tangannya dan langsung bersujud didepan sena.

__ADS_1


"Pendekar Muda !!! Maafkan Cucuku, dia belum tau mana yang baik dan salah, selanjutnya saya janji akan mengajarinya". Melihat pria sepuh itu bersujud, Sena menarik aura kegelapannya tapi sebelumnya aura gelap itu merusak pita suara Pemuda sombong itu hingga bisa di pastikan dia tidak akan bisa berbicara lagi.


Sena berjalan melewati penduduk didepannya untuk melanjutkan perjalanan tanpa mempedulikan tatapan ketakutan orang orang. Sedangkan Pemuda sombong yang masih berlutut itu memegang tenggorokannya kesakitan namun suaranya tidak bisa keluar lagi.


__ADS_2