
Sena menatap pria berkumis di depannya, Dia mengetahui bahwa pria itu juga yang ikut campur saat pertarungannya dengan Tetua Badri Arja. Di pikiran Sena, kekuatan pria didepannya setidaknya pendekar suci karena bahkan tetua Padepokan Tengkorak Merah segan atas kemunculannya.
Kedatangan seorang Tumenggung di tengah pertempuran menjadi suatu hal yang tak terduga bahkan bagi Praba Aji.
Praba Aji yang mencoba kabur menjadi sumringah melihat kedatangan Tumenggung Raharja. Dengan Langkah yang penuh pengharapan dia membungkuk ke arah Tumenggung Raharja.
"Hormat Tumenggung Raharja, anda datang tepat waktu, jika tidak kami semua akan di bunuh anak itu". Praba aji menunjuk Sena namun melihat tatapan Sena yang dingin, perlahan dia menurunkan tangannya dan bersembunyi di belakang Tumenggung Raharja yang memiliki tubuh kekar dan sangat tinggi.
"Hahahhaa aku menyukaimu anak muda, Maukah kau menjadi prajurit khusus ku". Sambil memilin kumis panjang dan memegang tombak besarnya, Tumenggung Raharja tertawa menatap Sena.
Semua penduduk, prajurit bahkan Praba Aji hampir muntah mendengar kata Tumenggung Kerajaan itu. Raharja terkenal dengan sikap santai namun dihadapan musuh dia akan selalu garang dan sadis. Namun kenyataan saat ini berbeda bahkan dia sampai ingin merekrut buronan kerajaan untuk menjadi bawahannya.
Sena menaikkan alis mendengar tawaran Pria Kekar didepannya yang seperti lelucon baginya.
"Pria ini sangat kuat, nampaknya saat ini aku tidak mampu mengalahkannya ". Gumam Sena. Namun dengan bantuan Cincin Pusaka dan kecepatannya, dia yakin mampu kabur dari tempat ini tanpa terluka sedikitpun.
"Baiklah, sebaiknya kita uji kekuatanmu saat ini". Tumenggung Raharja mengeluarkan aura pendekar sucinya. Udara di sekitarnya terasa berat dan hembusan angin kian terasa berkumpul di tubuh Raharja.
__ADS_1
Tumenggung Raharja langsung menghilang dan muncul didepan Sena sambil mengibaskan ujung tombak di tubuh Sena.
Tranggggggg
Cincin pusaka menghadang ujung tombak itu hingga terjadi gesekan tenaga dalam yang membuat hempasan angin menyebar kesegala arah.
"Seberapa kuat pemuda itu, bahkan mampu melawan seorang Tumenggung kerajaan". Arjunta menatap pertarungan dengan tidak percaya.
Sena mundur beberapa langkah setelah merasakan hempasan tenaga dalam Raharja. Kini cincin - cincinnya membesar membentuk roda hitam yang di selimuti aura kegelapan.
Ketiga Cincin itu menyerang dari berbagai sisi . Dengan Lihai, Raharja mampu menangkis semua serangan cincin itu dengan tombak pusakanya.
"Hahahahaha baiklah anak muda, kau lulus ujianku. Jadi bagaimana dengan tawaranku?". Tumenggung Raharja tersenyum lebar kearah Sena.
Sena tanpa peduli kembali melesat dengan pukulan yang dialiri tenaga dalam yang besar, Namun bisa di tahan dengan tombak Raharja. Raharja mundur 3 meter setelah terkena jurus tarian kegelapan.
"Kau melebihi perkiraanku Pemuda bisu" Raharja meyakini Sena adalah pemuda bisu karena tak pernah berbicara selama pertarungan. Dengan seluruh tenaga dalamnya Raharja menyerang kembali tubuh Sena dengan puluhan tusukan tombak.
__ADS_1
Dengan bantuan cincinnya pun Sena terus terdesak dengan serangan brutal Raharja. Sena kini merasakan pertarungan yang membuat dirinya tidak bisa berkutik hingga dadanya terkena hantaman tombak dan terlempar jauh. Jika bukan karena Jurus Tubuh Naga Hitam dan Aura Kegelapannya maka bisa di pastikan Sena akan terluka parah.
"Si*al, saya harus segera bertemu Dewa tabib sebelum Dewa Kematian". Gumam Sena mengusap darah yang ada di ujung bibirnya. Dia melangkah maju mendekati Tumenggung Raharja.
Raharja mengerinyitkan dahinya melihat Sena mendekat namun auranya telah dia hilangkan.
Sena sedikit membungkuk dan kemudian tersenyum kecil kearah Tumenggung Raharja.
Seakan mengerti isyarat itu, Tumenggung Raharja berkata " Baiklah kita akan melanjutkan pertarungannya nanti, Aku akan menunggumu di Kota Birawa".
Seluruh pasukan seakan tidak percaya namun mereka harus mematuhi perintah seorang Tumenggung. Praba Aji mengepalkan tangannya mendekati Praba Aji dan Sena.
"Tumenggung apa yang kau katakan, Buronan ini telah melukai anakku dan para prajurit". Tukas Praba Aji dengan Geram.
"Tutup mulutmu Praba Aji , aku tau yang harus kulakukan". Raharja menatap tajam Praba Aji hingga membuatnya nyalinya ciut.
Sena segera berbalik dan langsung melesat menjauhi kerumunan menuju Kediaman Dewa Tabib
__ADS_1
"Semoga saya masih sempat". Harapan Sena karena mengetahui seberapa parah tubuh Tungga Wijaya yang digerogoti racun yang lebih mirip parasit itu bahkan cincin misteriusnya tidak bisa menyerap seluruh racun itu.