Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Menuju Kota Wanua


__ADS_3

“Ayah tidak akan mengijinkanmu menuju Kota Wanua”. Kata Prabu Sanjaya tegas kearah kepada Dewi Lasminni.


Pagi ini emosinya tiba tiba naik, mendengar permintaan putrinya untuk ikut bergabung dengan pasukan Tumenggung Raharja yang akan menuju Kota Wanua. Wanua


merupakan kota pertahanan bagian barat wilayah Kerajaan Kumbara.


Setelah Turnamen Kumbara Muda di laksanakan, empat Tumenggung kembali di perintahkan ke markasnya masing masing. Dimana markas ini terletak di kota kota penting Kerajaan Kumbara .


Dewi Lasmini menunduk melihat ekspresi kemarahan ayahnya. Walaupun keinginannya sangat besar namun dia tetap harus meminta izin kepada Prabu Sanjaya Maharja sebagai ayah kandungnya.


Melihat wajah sedih putrinya, Prabu sanjaya menghela nafas panjang. Ketegasannya yang seperti baja akan luluh ketika memandang wajah Lasmini yang mengingatkannya dengan wajah ibu kandung dari Dewi Lasmini.


“Ayah akan mengirimmu kesana jika kau sudah mencapai tingkat pendekar kaisar”. Prabu Sanjaya mengambil jalan tengah untuk melindungi putrinya sekaligus membuat putrinya tidak semakin membencinya.


Sejak kematian Selir Wulandari sekaligus Ibu kandung Dewi Lasmini, perangai anak perempuannya menjadi tidak stabil dan Sang Raja hanya bisa memaklumi hal itu, karena kesalahannya menjadi salah satu bagian penyebab putrinya bertingkah seperti itu.


Mendengar jawaban ayahnya. Putri lasmini menyunggingkan senyum kecil. Meningkatkan tenaga dalamnya tidak terlalu


membutuhkan waktu yang lama. Bagaimanapun tubuhnya memiliki rahasia yang besar. Sejauh ini hal itu hanya di ketahui oleh Prabu Sanjaya, Mahapatih dan Ketua Padepokan Telaga Dewi.


“Mungkinkah permintaanya ini berhubungan dengan Pemuda itu”. Prabu sanjaya memikirkan Sena yang bergabung dengan pasukan Tumenggung Raharja.


***


Pagi berikutnya, ribuan pasukan kerajaan berkumpul di lapangan istana. Nampak Mahapatih Anom berdiri didepan ribuan pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Raharja.


“Raharja, semoga kali masalah disana dapat di selesaikan”.  Mahapatih Anom memandang serius kearah Raharja.


Terlihat senyum percaya diri muncul di bibir Raharja mengingat misi penting yang harus di selesaikan pasukannya.


Hari ini seluruh Pasukan yang di pimpin Tumenggung Raharja dan dua Rangga akan berangkat menuju Kota Wanua. Kota Wanua merupakan kota dengan tingkat kejahatan terbanyak di Kerajaan Kumbara akhir akhir ini.


Selain karena kota ini berbatasan dengan Kerajaan lain, Kota Wanua juga berbahaya

__ADS_1


karena di huni banyak kelompok bandit. Semua Pasukan kerajaan mengetahui jelas


tentang keadaan kota dengan wilayah terluas itu.


“Demi Kerajaan Kumbara, mari ciptakan keamanan dan kesejahteraan


bagi rakyat”. Teriak Tumenggung Raharja diikuti teriakan pasukannya. Deru kaki


kuda dan kaki prajurit seirama menandakan rombongan  besar itu mulai bergerak.


Isyana dan Dewi Lasmini menatap rombongan itu di tempat yang berbeda namun dengan tujuan yang sama. Menyaksikan kepergian pemuda yang mengisi hati mereka.


“Semoga kita bisa berjumpa lagi Sena”. Gumam kedua wanita ini kemudian berbalik menuju kediaman masing masing dengan hati yang muram.


Menuju Kota Wanua memerlukan perjalanan yang cukup panjang apalagi dengan membawa pasukan besar dan barang yang banyak.


Langkah pasukan itu berhenti saat tiba di sebuah lembah besar. Tumenggung Raharja memberikan instruksi untuk menggunakan lembah ini sebagai tempat istirahat sebelum


melanjutkan perjalanan esok hari.


arak di dekat api unggun. Sedangkan prajurit lainnya mencari tempat istirahat yang agak jauh dari pimpinan mereka.


Raharja baru tersadar bahwa sepanjang


jalan dia tidak pernah melihat Sena dibelakangnya, padahal Sena terlihat hadir saat upacara pelepasan pasukan.


Kedua Rangga yang selalu ikut dengan Raharja pun menggelengkan kepala tanda tidak pernah melihat Sena.


“Kemana anak itu menghilang, apa dia tidak ikut rombongan”. Gumam Raharja, namun prasangkanya segera dia tepis mengingat kepribadian Sena.


Dengan segera dia memanggil prajurit untuk mencari keberadaan Sena.


15 menit kemudian, terlihat Sena berjalan menuju tempat Raharja. Tumenggung Raharja dan dua Rangga yang bernama Respati dan Bagaskara itu tersenyum menyambut anggota keluarga baru mereka.

__ADS_1


“Dari mana saja kau ? saya tak pernah melihatmu saat perjalanan?”. Ucap tumenggung Raharhja sambil mengangkat gelas arak kemulutnya.


“Saya berjalan di barisan belakang, karena tidak tahu cara menaiki kuda”. Ucap Sena datar. Kedua Rangga sontak kaget dengan jawaban Sena. Namun mereka menahan tawanya karena mengetahui kepribadian Sena dan hal itu sudah menjadi larangan di dalam pasukan.


“Apa?”. Tumenggung Raharja tidak bisa menahan rasa terkejutnya.


Arak di mulutnya tersembur kearah muka Rangga Bagaskara. Matanya menatap tak percaya kearah Sena, mana mungkin pemuda hebat seperti dia tidak bisa menunggangi kuda. Itu hal yang tak mungkin. Namun melihat Sena menunduk, Raharja menghentikan tawanya dan tersenyum kecil.


“Baiklah, setelah sampai di Kota Wanua, Bagaskara akan mengajarimu menunggangi Kuda”. Kata Tumenggung Raharja kepada Sena. Sena mengangguk mendengar perkataan Raharja.


“Iyakan Bagaskara? Ehhhh kenapa kau menyiram mukamu dengan arak?”. Tumenggung Raharja heran melihat wajah Bagaskara basah oleh arak.


Respati tertawa mendengar pertanyaan Rahrja yang tak mengetahui hasil perbuatannya sedangkan Bagaskara tertunduk lesu dengan kelakuan pimpinannya.


Tak terasa perjalanan 10 hari telah di lalui pasukan besar itu. Tumenggung Raharja menatap gerbang kota yang akan dia jaga dari berbagai jenis musuh. Segera mereka menuju markas pasukan Kota Wanua. Disana, mereka telah di sambut oleh pasukan besar yang  dipimpin oleh 2 Rangga Tumenggung Raharja yaitu Rangga Tohpati dan Rangga Lakeswara.


***


Saat malam tiba terlihat 6 orang berjubah merah duduk melingkar membahas sesuatu. Mereka adalah Tumenggung Raharja dan keempat Rangganya. Namun kehadiran Sena membawa nada kecurigaan oleh keempat Rangga itu.


“Pemuda ini akan menjadi Rangga ke lima di pasukan ini”. Sontak  Rangga Lakeswara dan Rangga Tohpati kaget dengan pernyataan Tumenggung. Apalagi pemuda dingin didepan mereka terlalu muda untuk menjadi wakil tumenggung. Rangga Respati dan Rangga Bagaskara menanggapi hal itu dengan biasa saja, karena telah melihat


kemampuan Sena yang mungkin lebih tinggi di bandingkan mereka.


Tumenggung Raharja kemudian menjelaskan alasannya. Sena akan menjadi Rangga kelima namun dia tidak akan memiliki pasukan untuk saat ini. Pemuda dingin ini akan belajar terlebih dahulu sebelum siap membawahi beberapa ratus prajurit.


Keempat Rangga menyetujui keputusan Raharja, meskipun banyak pertanyaan yang ingin diajukan mengenai Sena.


Keenam orang ini kemudian membahas berbagai permasalahan yang terjadi di wilayah kota Wanua, terutama mengenai pergerakan kelompok bandit yang kian meresahkan penduduk. Selain itu ada misi utama yang mereka harus lakukan yaitu menghancurkan Padepokan Cakar Setan yang beberapa bulan terakhir, terus menebar teror dan darah di wilayah bagian barat Kerajaan Kumbara.


“Sena dan bagaskara, saya ingin kalian segera membawa beberapa prajurit untuk membereskan gerombolan bandit yang ada di wilayah ini”. Tumenggung Raharja memberikan misi pertama untuk Sena.


Dia ingin pemuda ini membiasakan kekuatannya untuk membasmi kejahatan. Sedangkan misi untuk menghancurkan Padepokan Cakar Setan akan di urus oleh ketiga Rangga lainnya dan Tumeggung Raharja Sendiri.

__ADS_1


Semua Rangga mengangguk, siap menjalankan perintah Tumenggung dengan tekad kuat terutama Sena yang tak sabar bertarung kembali.


__ADS_2