Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Merajuk


__ADS_3

Semenjak bertemu dengan Selvi, Rama menjadi lebih emosional dan mudah marah. Tiara belum mengetahui sebab pasti perubahan sikapnya namun ia menduga-duga bahwa ini ada hubungannya dengan Selvi. Beberapa kali, Tiara menyaksikan Rama mengabaikan panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di ponselnya sehingga Tiara merasa penasaran siapa yang meneror suaminya.


Pada suatu malam, terbesit pikiran lancang untuk mengangkat panggilan itu saat Rama sedang mandi. Tiara melakukan itu karena sangat terganggu dengan dering telepon Rama yang membuatnya sulit berkonsentrasi mengerjakan tugas. Setelah memastikan Rama masih mandi, Tiara pun mengangkat telepon itu.


"Rama, akhirnya kamu menjawab juga teleponku. Kamu kenapa sih jauhin aku? Kalaupun kamu sudah punya istri, aku tahu perasaanmu masih sayang sama aku, kan? Dia hanya kamu jadikan pelarian, kan?" tanya Selvi di telepon.


Tiara hanya diam mendengarkan. Kupingnya memanas saat mendengar kata pelarian. Ia pun sadar diri bahwa pernikahan mereka hanya perjodohan jadi ia tak bisa menampik kemungkinan Rama memiliki wanita idaman lain yang harus dikorbankan. Dari awal, Rama menjelaskan bahwa ia hanya ingin memenuhi amanat almarhum papanya sehingga dada Tiara semakin bergemuruh mengingatnya.


"Kenapa hanya diam? Diam berarti mengiyakan. Aku merindukanmu, Sayang. Berbulan-bulan, aku menunggu kabarmu. Maafkan aku. Aku sangat menyesal telah bermain di belakang. Aku sadar bahwa kamu adalah lelaki satu-satunya yang aku cintai. Aku harap kita bisa membuka lembaran baru dan aku akan memperbaiki semuanya. Jika kamu tidak mau menceraikannya, aku rela menjadi yang kedua," bujuk Selvi membuat dada Tiara semakin sesak.


Menyaksikan Tiara yang berkaca-kaca dengan ponsel di telinganya, sontak Rama merebut dan melihat nomor yang tertera di ponselnya. Rama pun meradang. Ia tak menyangka istrinya akan menjawab telepon dari Selvi. Rama pun melempar ponselnya ke kasur dan menatap Tiara dalam-dalam.


"Sudah kubilang berkali-kali kalau panggilan itu tidak penting dan kamu mengabaikan ucapanku. Aku nggak suka orang lain buka ponselku tanpa izin apalagi sampai lancang menerima panggilan yang memang sudah kularang," gertak Rama sangat garang.


"Maaf, Bang," suara Tiara gemetar.


"Apa saja yang dia katakan?" tanya Rama dengan nada kesal.


"Bukan apa-apa," jawab Tiara ketakutan.


"Katakan!" bentak Rama sambil mengguncang bahu Tiara.


"Dia bilang Abang masih mencintainya dan aku jadi pelarian. Dia juga meridukan Abang. Dia juga rela menjadi istri kedua," terang Tiara dengan cepat dan gugup.


"Kamu percaya?" tanya Rama semakin penasaran dengan respon istrinya.


Tiara hanya menunduk. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Rama karena ia juga masih menimbang-nimbang perasaannya. Entah percaya atau tidak, tapi cukup membuat hatinya koyak-moyak. Ia jadi penasaran sejauh apa hubungan mereka sampai wanita itu mau dimadu.


"Tiara, tatap mataku," paksa Rama sambil mengangkat wajah Tiara.


Tiara pun menggeleng sambil memejamkan matanya.


"Tiara!" desak Rama.


Tiara pun menuruti perkataan Rama dan segera menatap matanya. Air matanya seketika tumpah tak dapat lagi ditahan dan sulit dihentikan. Ia pun tak mengerti apa yang sedang ditangisi hingga terasa seberat ini.

__ADS_1


"Kamu percaya dia atau aku?" tanya Rama mendamba kepercayaan Tiara.


Tiara segera menyeka air matanya karena ia tak ingin terlihat rapuh terlalu lama.


"Entah. Nggak ada untungnya juga aku mempercayai wanita itu. Tetapi, apa yang harus kupercayai darimu juga? Kamu saja selalu menutup diri dariku. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar untuk kita bisa saling menyesuaikan. Namun, kenyataannya kita tak juga saling memahami dan mengenal. Kalau memang pernikahan kita soal amanat, bukankah seharusnya nggak sekadar menunaikannya namun juga harus menjaganya? Kalau memang nggak mampu, mungkin lebih baik kita menyerah saja daripada menunda kecewa dan sama-sama tersiksa," jawab Tiara mengeluarkan penatnya selama ini.


Rama tertegun mendengar jawaban Tiara yang teramat dalam menghujam perasaannya. Ia tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari istrinya yang selama ini diam dengan sikapnya. Ia mengira bahwa Tiara tidak akan peduli dengan sikapnya karena pada awal pernikahan mereka, Tiara lebih memberatkan kuliah dan pernikahan disetujuinya sekadar menjalankan yang sudah diamanatkan.


Rama pun menyeka wajahnya dengan kasar seraya bertanya, "Lalu, aku harus bagaimana?"


"Pikirkan saja sendiri. Sepertinya kamu sudah cukup dewasa untuk menyikapi semua ini. Kalau memang kamu masih mencintainya, ceraikan aku dan kembali kepadanya. Toh, kita sudah menjalankan amanatnya. Perkara bisa bertahan atau tidak, setidaknya kita sudah mencoba. Ayah kan pernah bilang, tidak semua yang menikah bisa berjodoh selamanya," jawab Tiara ketus.


"Stop bicara cerai bisa nggak? Kamu pikir cerai segampang dan sesederhana itu?" timpal Rama kesal.


"Lalu, apa yang harus kupertahankan dan kupercayai dalam pernikahan ini?" tukas Tiara.


"Kamu minta kebebasan, udah kukasih. Caramu bersikap dan melayaniku, aku terima semua dan nggak pernah protes. Kamu sakit pun kurawat sebisaku. Lalu, aku harus bagaimana lagi?" sahut Rama mulai tersulut emosi.


"Terserah," pungkas Tiara sambil berlalu dari kamar dengan kaki pincangnya.


"Ra! Tiara!" panggil Rama tidak diindahkan lagi oleh Tiara.


"Ram, sabar. Namanya aja bocah baru gede. Harus ekstra emang," ucap Rama menguatkan diri sendiri.


Setelah lebih tenang, Rama pun keluar menuju meja makan. Di sana, Bu Ina sudah melambaikan tangan kepadanya dan Tiara memilih menuangkan nasi untuk bertiga. Ia pun menjadi lesu menyaksikan istrinya masih merajuk sampai sebegitunya. Namun, ia bersyukur Tiara tidak menunjukkan perang dingin mereka di depan ibunya.


"Bagaimana kantor, Ram? Lancar semuanya?" tanya Bu Ina sambil mengambil lauk di depannya.


"Lancar semua, Ma. Lagian, ada Bayu juga yang bisa diandalkan," jawab Rama.


Rama duduk di samping Tiara seperti biasa. Ia melihat Tiara sekilas dan anak itu benar-benar sibuk sendiri.


"Kalau kamu, Ra. Ujiannya hampir selesai?" tanya Bu Ina beralih kepada Tiara.


"Dua hari lagi selesai, Ma," jawab Tiara.

__ADS_1


"Pas banget kalau begitu," sahut Bu Ina penuh semangat.


Rama dan Tiara pun sama-sama menautkan alisnya.


"Empat hari lagi, Mama ada undangan ke nikahan anak temen Mama di Lembang. Tapi, Mama merasa tidak enak badan akhir-akhir ini," jelas Bu Ina.


"Ya sudah. Nggak usah maksain. Tinggal transfer aja, Ma," sela Rama dengan entengnya.


"Sembarangan! Mana mungkin sedeket ini kok transfer. Nggak enaklah. Mana Mama udah pesen hotel juga. Kamu sama Tiara datang menggantikan Mama ya?" ucap Bu Ina setengah memaksa.


"Ma, empat hari lagi ada meeting penting," protes Rama dengan suara rendah.


"Niatnya, setelah kelar ujian, Tiara mau minta izin pulang ke Surabaya," tambah Tiara.


"Katanya ada Bayu yang bisa diandalkan. Dan kamu, Ra. Tunda beberapa hari saja pulangnya ya, nanti kamu boleh kapan aja pulang. Kalian tidak kasihan ke Mama? Mama jadi merasa bersalah sama teman Mama kalau nggak bisa datang," bujuk Bu Ina merajuk.


"Maaaa," panggil Rama memohon.


Bu Ina pun menghentikan makan. Ia memalingkan wajah dari Rama dan Tiara. Ia berharap caranya kali ini berhasil mendekatkan kedua anaknya.


"Ya udah, Ma. Tiara tunda pulangnya. Kalau Bang Rama sibuk, biar Tiara aja yang menggantikan Mama ya. Mama istirahat aja dengan tenang di rumah dan nggak usah banyak aktivitas dulu ya," ujar Tiara berusaha menenangkan mertuanya.


Sontak, Bu Ina pun tersenyum bahagia mendengan ucapan Tiara. Namun, saat melihat Rama, ia memalingkan wajahnya lagi.


"Kamu tega biarin istri kamu keluar kota sendiri?" tanya Bu Ina tanpa menatap Rama.


"Nggak apa-apa, Ma. Tiara biasa kok ke mana-mana sendiri. Sekarang kan udah ada maps, taksi dan ojek online juga banyak, udah Mama pesenin hotelnya juga. Tiara berani kok," sela Tiara meyakinkan.


"Tapi, keadaannya sudah beda, Sayang. Sekarang, kamu sudah punya suami. Keluargamu sudah menitipkan kamu dengan baik-baik, sudah sepatutnya kami menjagamu dengan perjagaan terbaik," bantah Bu Ina.


Karena Tiara sudah menyanggupi, Rama pun tidak ada pilihan selain mengiyakan. Rama tak mungkin membiarkan Tiara pergi sendirian karena memang Tiara sudah tanggung jawabnya. Terlebih, mamanya tentu akan terus mencecarnya dengan berbagai cara dan tidak akan menerima jawaban tidak darinya.


"Ya udah. Oke. Mama udah puas?" tutur Rama pura-pura menyindiri.


Bu Ina pun sangat terlihat lega dan wajah kusutnya berubah menjadi cerah lagi. Di meja makan itu, hanya Bu Ina yang terlihat sangat bersemangat. Sedangkan dua orang di depannya, masih bertahan dalam hening dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Peperangan belum selesai walaupun keduanya seiya dalam menyetujui permintaan Bu Ina.

__ADS_1


Sudah waktunya kalian saling mengenal. Kalau nggak begini, tentu kalian akan selalu sibuk kerja dan kuliah. Batin Bu Ina berdecak bahagia.


...****************...


__ADS_2