Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Kulkas Tiga Pintu


__ADS_3

Setelah selesai kuliah jam ketiga, Tiara, Nia, Febi, dan Wanda berjalan menuju kantin fakultas karena sudah tidak ada kuliah lagi hari itu. Inilah waktunya mereka mengobrol santai sambil mengisi perut. Tiara tak peduli pandangan aneh teman-temannya yang penuh tanda tanya selepas kejadian tadi pagi.


"Ada hikmahnya juga jam terakhir kita dipindah jam pertama. Jadi kita nggak usah gabut satu jam kuliah buat nunggu kuliah sore ya," ucap Tiara sumringah.


"Tapi kan kalau mendadak kayak tadi jadi kita yang apes. Mana dosennya killer. Aku sampai tidak mandi tadi pagi karena bangun jam tujuh," sahut Nia.


"Serius, Ni? Ups, tapi emang dasar kamu jorok kan ya," seloroh Febi.


Mereka berempat pun tertawa lirih bersama. Nia pun tak marah karena memang itu candaan sehari-hari mereka.


"Eh. Eh. Ra, kamu harus jelaskan insiden tadi," celetuk Wanda mencolek pipi Tiara


"Insiden apa?" tanya Tiara berpura-pura.


"Aku tahu kamu mengerti maksudnya," sela Nia.


"Astaga, dia itu Abang aku. Dia keluargaku," sahut Tiara.


"Bukannya Abangmu cuma Bang Riza ya?" tanya Wanda semakin ingin tahu.


"Bang Riza memang abang kandungku, tapi abang sepupuku kan ada juga," jawab Tiara.


"Benar juga sih. Kupikir Abangmu cuma Bang Riza dan Bang Aksa saja. Boleh dong kenalkan aku dengannya. Bosen jomblo nih," canda Febi yang tiba-tiba nimbrung.


"Sembarangan. Lagian Abangku umurnya 28 tahun, udah om-om," timpal Tiara tidak terima.


"Loh itu kan tipeku banget, Ra. Aku suka yang om-om malah karena biasanya lebih mengayomi dan memanjakan. Enak kayaknya punya sugar daddy kali ya?" tambah Febi asal ceplos


"Hmm," sahut Tiara melirik geli kepada Febi.


"Dasar cewek tengil. Nggak usah banyak mengkhayal, Feb," tambah Wanda mencubit pipi Febi.


Boro-boro mengayomi dan memanjakan, ngobrol aja jarang. Batin Tiara menyanggah.


Sesampainya di kantin dan membeli makanan masing-masing, Tiara dan tiga sahabatnya segera menuju gazebo favorit mereka di bawah pohon angsana yang dekat dengan jalan utama di fakultasnya. Tiara segera membuka kotak buah yang dibawakan oleh Bu Ina untuk disantap bersama teman-temannya. Tangan mereka ikut menyomot buah yang dibawa Tiara namun pandangan mereka malah salah fokus tertuju pada Tiara.


"Kok Abangmu yang ini nggak pernah kamu ceritakan sebelumnya. Dia ganteng nggak? Pasti ganteng dong mobilnya aja ganteng ya," tanya Febi penasaran.


"Baru ketemu waktu Kakek sakit dan aku juga baru tau kalau ternyata ada keluarga di sini. Ya dari rumahnya ke sini 20 menitan aja," jawab Tiara sambil mengunyah buah naga.


Nia hanya menyimak sambil mengangguk-angguk dan ikut menikmati buah yang dibawa Tiara.


"Terus. Sekarang, kamu tinggal di rumahnya?" tanya Wanda sambil mengunyah apel.

__ADS_1


"Iya. Kakek sama ayah menitipkan aku ke dia dan ibunya agar lebih tenang daripada kos sendirian. Lagian, ayahnya sudah meninggal dan anak-anaknya sibuk kerja juga sibuk dengan keluarganya masing-masing jadi ibunya sering kesepian. Ya aku sekalian nemenin beliau deh," jawab Tiara meyakinkan teman-temannya.


"Ohh..." ucap tiga sahabat Tiara kompak membulatkan bibirnya.


"Kamu ada foto Abangmu nggak? Aku penasaran jadinya," celetuk Nia yang tiba-tiba menyela.


"Apaan sih jadi kepo banget sama Abangku. Kurang kerjaan banget foto sama Abangku kalau nggak ada momen penting juga," protes Tiara.


"Iya kan bisa dari sosmednya," timpal Nia.


Tiara baru sadar bahwa sebulan menikah dengan Rama tak membuatnya tahu banyak tentang Rama. Boro-boro sosmed, bahkan contoh satu hal saja yang disuka atau dibenci Rama pun ia tak tahu.


"Sepertinya dia terlalu peduli perkara sosmed. Sibuk kerja karena dia CEO. Sama aku aja jarang ngobrol. Lumayan ganteng sih, tapi sedikit bicara, galak, cuek, dan dingin seperti kulkas tiga pintu," papar Tiara.


"Gila. 28 tahun sudah CEO? Kurang idaman dari sisi mana lagi coba. Cowok cool kan emang biasanya gitu kok. Kadang, sikap dinginnya itu yang bikin cewek penasaran karena sekali jatuh cinta biasanya bucinnya nggak ada obat. Jadi aku ingin berkenalan dengannya barangkali aku bisa cocok," ucap Febi dengan mata berbinar-binar.


Tiara mengerutkan kening sambil mengangkat alis kirinya. Ia tersenyum memandang Febi yang seantusias itu namun di hatinya terbesit perasaan ganjil semacam ketidaksukaan. Pikirnya, mungkin karena Febi belum tahu bagaimana sikap aslinya jadi semendewakan itu.


Tiba-tiba, pencakapan itu terhenti oleh dering ponsel Tiara. Ia mengabaikan panggilan itu karena hanya nomor baru yang belum tersimpan di kontaknya.


"Kok nggak diangkat, Ra?" tanya Wanda sambil melirik ponsel Tiara yang sedari tadi berdering.


"Nggak tau. Nomor baru. Biarin aja paling orang iseng," jawab Tiara sambil menutup food containernya yang sudah kosong.


"Iya loh udah telepon berkali-kali, Ra," imbuh Nia.


"Ya udah situ angkat aja," jawab Tiara.


Wanda menerima panggilan di ponsel Tiara dan menyalakan pengeras suaranya.


"Tiara, aku udah di parkiran. Pulang!" tegas suara lelaki yang menelepon Tiara.


Setelah mendengar suaranya, Tiara pun buru-buru memasukkan food containernya ke tas dan mengemasi barang-barangnya. Tiara sangat mengenali pemilik suara galak itu, siapa lagi kalau bukan Rama.


"Tiara, aku tidak punya banyak waktu," desak Rama.


"Abang, aku baru saja beli makan dan sedang bersama teman-teman. Aku pulang nanti saja diantar temanku ya, Bang?" bujuk Tiara dengan suara manja.


"Pulang," ucap Rama datar namun penuh ketegasan.


"Eh iya, Bang. Aku segera ke sana," jawab Tiara tertunduk lesu.


Tanpa basa-basi, panggilan pun diakhiri oleh Rama.

__ADS_1


"Abangmu?" tanya Febi dengan tatapan ngeri.


Tiara mengangguk sambil berdiri.


"Kok serem banget kayak galak gitu ya," ujar Febi sambil menggigit bibir atasnya.


"Jadi kenalan? Yuk!" ajak Tiara kepada Febi yang ketakutan.


"Pengen sih, tapi agak ngeri tau," sahut Febi cengengesan.


"Ya udah. Aku pulang dulu ya, Say," pamit Tiara sambil menentang sepiring batagor yang belum tersentuh olehnya.


Tiara pun meminta penjual batagor langganan untuk membungkus makanannya. Lalu, ia pun berjalan menuju parkiran dengan langkah gontai dan kehilangan semangat.


Tanpa sepengetahuan Tiara, ketiga sahabatnya ternyata membuntuti sampai tempat parkir untuk melihat abang Tiara yang galak. Ketiganya melongo ketika melihat lelaki yang keluar dari mobil yang tadi pagi mengantar Tiara.



(Sumber: Pinterest)


"Apakah dia malaikat?" tanya Wanda terpesona.


"Kalau kulkas tiga pintunya seperti ini, aku rela membeku selamanya," decak kagum Febi


"Begini yang dibilang lumayan ganteng sama Tiara? Walaupun aku tidak suka cowok gondrong dan om-om, tapi kalau cakepnya seperti ini mana bisa nolak," sahut Nia yang tak kalah terpukau.


Pesona Rama benar-benar menghipnotis wanita di sekitarnya, terutaman sahabat Tiara yang masih terperangah, meski Rama telah masuk ke mobilnya. Mereka sangat iri mengetahui Tiara mempunyai abang setampan itu. Tidak ada kecurigaan sama sekali di pikiran sahabat Tiara tentang hubungan mereka karena sudah terlalu terpikat oleh ketampanan Rama.


Perjalanan kali ini tidak terasa sepi karena saat masuk ke mobil ternyata Rama sedang melakukan panggilan video dengan orang tua Tiara dan Pak Tirta. Pak Adi menelepon Rama karena khawatir Tiara tidak bisa dihubungi. Tiara pun meminta maaf karena ia sibuk kuliah dan tidak sempat membuka ponselnya. Setelah itu, sepanjang perjalanan Tiara pun bahagia bisa berbincang dengan keluarganya.


Setelah selesai mengobati rindu dengan keluarganya, Tiara mematikan panggilan video dan mengembalikan ponsel Rama. Ia begitu lega mengetahui keluarganya baik-baik saja dan Pak Tirta juga semakin pulih keadaannya.


"Jadi, Abang jemput aku karena orang tuaku telepon?" tanya Tiara diam-diam mengharapkan jawaban tidak dari Rama.


"Iyalah. Kamu pikir ngapain aku repot jemput kamu di tengah meeting kalau bukan karena bapak mertua," jawab Rama ketus.


"Ya udah. Aku turunin aku di sini. Kamu lanjutin meetingnya. Aku bisa kok pulang sendiri," rajuk Tiara.


"Udah tanggung. Diem," gertak Rama.


Tiara pun menghembuskan napas kasar sambil melempar pandangannya ke jendela. Lama-lama, Rama terasa semakin menjengkelkan. Bagaimana ia bisa mengenal Rama jika sikap Rama demikian. Bukannya semakin kenal, malah ia semakin malas berinteraksi dengannya. Tiara yang tadi hampir terbawa suasana pun akhirnya merutuki diri sendiri karena sempat berharap lebih kepadanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2