Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Pak Supir Beneran Deh


__ADS_3

Di tempat lain, Rama sedang cemas karena tak kunjung hadir kabar tentang Tiara. Ia pun uring-uringan tak bisa konsentrasi dalam pekerjaan dan mondar-mandir di ruangan tanpa tujuan. Berkali-kali, ia melirik ponsel dengan frustrasi karena tak ada notifikasi masuk dari Tiara juga. Tepat pukul 10.30, masuklah pesan yang sudah ditunggunya dari beberapan jam lalu.


Mutiaraku


Abang, Tiara udah sampai Bogor. Baru aja. Tapi, ini lagi persiapan buat audit jam 11 yaa.


Rama


Iya, Sayang. Semangat ya. Gudegnya udah dimakan?


Mutiaraku


Udah, Abang. Tadi mampir di rest area karena aku mabuk sampai sarapanku keluar semua.


Rama


Sakit?


Rama pun berubah menjadi cemas mengetahui Tiara muntah-muntah. Beberapa kali, ia menelepon Tiara namun Tiara selalu menolaknya.


Mutiaraku


Abang jangan telepon dulu. Abis makan gudeg, aku udah membaik. Nanti aku telepon setelah pekerjaanku selesai ya, Abang. Jangan lupa makan siang. Ingatkan Om Bayu juga buat jemput sahabatku tercintah 😘


Rama


Jaga kesehatan! JANGAN SAKIT! Aku jauh.


Mutiaraku


Siap komandan 🤗


Rama pun sedikit lega sudah mengetahui kabar terbaru Tiara, walaupun rindu dan cemas masih saja mengganggu pikirannya. Ternyata berjauhan dengan Tiara terlalu berat dan membuat lemas lahir batinnya. Semangat kerjanya menjadi mengendur namun ia malas pulang juga karena tidak ada suara cerewet yang menunggunya.


Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba Hans meneleponnya tanpa kabar terlebih dahulu.


"Halo, Rama," sapa Hans di seberang dengan senyum mengembang.


"Iya, Hans. Ada apa ini?" sahut Rama menutupi kemelut batinnya.


"Sibuk nggak, Ram?" tanya Hans basa-basi.


"Enggak ini," jawab Rama uring-uringan masih teringat Tiara.


"Besok bisa ke Bogor? Aku sedang survei lokasi yang keempat. Sekalian, nanti melihat progress pembangunan di lokasi pertama," tanya Hans.


Rama pun berbinar. Akhirnya, ia ada alasan pergi ke Bogor dengan leluasa tanpa dicurigai terlalu rindu Tiara.


"Oke, Hans. Jam berapa kita bertemu?" tanya Rama antusias.


"Jam berapa pun. Nanti aku stay di lokasi pertama dari pagi karena hari ini pun aku sudah di Bogor," jawan Hans santai.

__ADS_1


"Oke Hans. Besok aku kabari lagi ya," sahut Rama.


"Siap," tegas Hans.


Bayu mengetuk pintu sambil melongok ke dalam ruangan Rama. Terlihat Rama sedang senyam-senyum melamun hingga tak menyahut ketukan pintunya bahkan tak menyadari kehadirannya.


"Boss, hei. Siang-siang udah melamun aja. Baru ditinggal beberapa jam sama istri masa udah kehilangan kewarasannya," celetuk Bayu membuat Rama tersadar dan mendelik gusar.


"Bikin buyar bayangan indahku aja. Ada apa?" tanya Rama galak.


"Ini nona kecil tiba-tiba mengirimi kontak bernama Wanda. Saat saya tanya malah marah-marah katanya berisik dan disuruh tanya Bang Rama," jawab Bayu menggaruk-garuk kepala.


"Oh iya. Selama motor Wanda belum selesai diservis, kamu harus jadi ojek dia sementara buat antar jemput. Ini perintah bukan tawaran jadi tidak menerima nego dan penolakan!" tegas Rama.


"Kok saya?" protes Bayu memanyunkan bibirnya.


"Iya siapa lagi. Masa aku? Aku udah punya istri dan nggak mungkin dong berduaan dengan cewek lain walaupun dia sahabat Tiara. Kamu kan yang nabrak dia. Aku udah tanggung jawab servis motornya, giliran kamu tanggung jawab jadi supir pribadinya," terang Rama tak ingin dibantah.


"Duuuh, nambah lagi kerjaan. Apes banget hidupku," sahut Bayu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tidak apa. Barangkali bisa kenal dan dekat kan lumayan, predikat lajangmu nggak akan abadi, Bay," seloroh Rama sambil tertawa.


"Iya kali harus pacaran sama bocah, Bang. Jangan sampai deh. Repot!," sahut Bayu mengingat ucapannya sendiri.


"Kamu nyindir aku ceritanya?" tanya Rama berdiri dan menatap asistennya dengan garang.


"Ampun, Bang. Bukan seperti itu maksudnya. Duuh. Salah lagi," jawab Bayu sambil menabok bibirnya sendiri.


"Duh. Skip deh, Boss. Berat!" sahut Bayu percaya diri.


"Jangan skip skip dulu. Kita belum tahu ke depannya. Barangkali sekarang skip, besok jadi keep," goda Rama membuat Bayu geleng-geleng kepala.


"Dasar udah kecanduan bocil ya ngomongnya ngelantur gitu," ujar Bayu gemas dengan bossnya.


"Sebenarnya udah nggak bocil juga, mereka udah di atas 20 tahun loh. Udah ideal menjalin hubungan serius, cuma ya kebanyakan masih kurang dewasa aja," balas Rama mencoba merayu asistennya.


"Udah lah. Nggak jelas Boss ini. Ngomongnya makin ke sana makin ke sini," ucap Bayu tak mau tahu.


"Oh iya. Besok, aku ada janji sama Hans buat survei tempat di Bogor. Kuserahkan kantor dan sahabat istriku kepadamu. Jangan sampai ada yang terabaikan," mandat Rama mendadak senyam-senyum kurang kerjaan.


"Nggak kuantar aja, Boss?" tawar Bayu.


"Nggak usah. Cuma Bogor ini kan dekat. Aku bisa sendiri. Lagian lusa tanggal merah, aku besok berniat menjemput Tiara sepulang dari workshop dan mau staycation lah. Emang kamu, di rumah terus. Dasar jomblo," ejek Rama sangat menusuk.


"Duh. Emang nih Boss lagi rada-rada ditinggal sama istrinya ya. Otaknya agak somplak kayaknya," sahut Bayu tak menduga efek jauh dari Tiara bisa separah itu pada Rama.


"Udah sana pergi! Lanjutkan pekerjaanmu. Oh iya jangan lupa tanya Wanda pulang jam berapa, stay di sana lima belas menit sebelum kepulangannya. Tenang. Bonus ditambah. Tuh kurang baik apa aku memfasilitasi pendekatanmu sampai seniat ini," ledek Rama terkekeh.


"Makin ngelantur. Bahaya kalau lama-lama di sini. Bisa-bisa aku gila dan mati berdiri," sahut Bayu sambil melenggang pergi dari ruangan Rama dengan perasaan tak keruan melihat bossnya seperti berbeda kepribadian.


...****************...

__ADS_1


"Loh, Pak Bayu beneran jemput. Harusnya nggak usah, Pak. Saya bisa kok pesan ojol daripada Bapak repot-repot jemput saya," ucap Wanda sungkan saat mendapati Bayu sudah menunggunya di depan gerbang kantor.


"Prinsipku, nggak akan lepas dari tanggung jawab sekecil apa pun itu. Jangan menolak karena kalau sampai kamu menolak, aku bakal dihabisi oleh nona kecil dan boss besar. Oke. Sekarang, masuk!" tegas Bayu pura-pura kejam mengikuti gaya bossnya.


"Tapi, Pak__," bantah halus Wanda.


"Masuk!" paksa Bayu sok galak.


Wanda pun menunduk dengan raut tegang dan tak tenang namun menolaknya juga tak kuasa. Semua sudah telanjur dan dia sudah terhimpit keadaan. Dengan tangan gemetar, Wanda pun masuk ke jok samping kemudi. Lalu, disusul Bayu. Mereka pun melaju menuju kos Wanda.


Sepanjang jalan, Bayu dan Wanda pun dilanda kegelisahan luar biasa karena suasana diam di mobil terasa sangat mencekam. Bayu ingin mengawali percakapan namun tak tahu apa yang harus dikatakan. Sedangkan Wanda sibuk meredakan ketakutannya sampai keringat dingin keluar di dahinya. Tangan Bayu yang terulur ke arah Wanda pun membuat Wanda waspada dan langsung menaboknya. Bayu pun terkejut dengan tabokan Wanda membuatnya refleks menatap sekilas gadis di sampingnya yang sudah pucat pasi.


"Hei, aku cuma mau mengambil tisu. Tenang aja. Aku lelaki baik-baik. Nggak akan macam-macam juga kepadamu," ucap Bayu sambil mengambil tisu di laci depan Wanda.


Namun, ucapan Bayu tak lantas mengendurkan ketegangan di pikiran Wanda karena ketakutan sudah telanjur menguasainya. Wanda semakin waspada memerhatian pergerakan Bayu walaupun hanya dengan lirikan mata tajamnya.


"Mana ada lelaki baik menyebut dirinya baik," ujar Wanda ketus.


"Ada kok. Aku buktinya," sahut Bayu percaya diri.


"Narsis," sindir Wanda tajam.


"Apa kamu bilang? Kamu mengatai saya narsis?" tanya Bayu terkejut hingga meninggikan suaranya.


Wanda pun semakin ketakutan dan gemetaran seluruh badan. Bayu keheranan melihat keringat mengucur di dahi Wanda. Bahkan, sampai ia memeriksa AC mobil yang ternyata normal dan dingin namun bagaimana bisa Wanda berkeringat sebanyak itu.


"Kamu kegerahan?" tanya Bayu sedikit perhatian.


"Nggak, Pak," jawab Wanda pura-pura judes.


Tangan Bayu pun terangkat ingin memegang dahi Wanda yang mungkin tiba-tiba demam atau kenapa karena keringatnya sampai mengucur. Sebelum tangan Bayu sampai di dahi, Wanda terlebih dahulu menepis dengan kasar membuat Bayu agak gusar.


"Kamu ini kenapa, Bocah? Tenang saja. Aku nggak akan macam-macam. Kamu pikir aku cowok apaan. Aku cuma mau memastikan kamu sakit atau enggak," decak kesal Bayu.


"Aku nggak apa-apa," ucap Wanda cuek.


"Baguslah. Dan___ bisa nggak jangan panggil aku Bapak? Aku ini nggak menikah sama ibumu. Nggak adakah panggilan yang lebih pantas untukku?" ucap Bayu sangsi.


"Tidak usah minta macam-macam," sahut Wanda datar.


"Kamu ini aneh sekali. Bicaramu ke mana-mana dan entah arah tujuannya. Aku udah berusaha sebaik mungkin, kamu nggak usah berlebihan" protes Bayu.


"Kebaikan tentu tak patut diumbar-umbar. Kalau pamrih seperti itu bukan lagi kebaikan, tapi hutang," sahut Wanda ada saja cara untuk menjawab pertanyaan Bayu.


"Udah lah. Terserah apa katamu aja deh. Dasar bocah aneh," pungkas Bayu tak habis pikir dengan gadis di sampingnya yang cerdas namun freak-nya tak ada obat. Bahkan, di luar dugaan dan lebih parah mungkin dari Tiara.


Agenda penjemputan itu pun meninggalkan bekas cukup aneh di kepala Bayu. Ia bahkan tak bisa mengklasifikasikan Wanda termasuk dalam spesies manusia macam apa. Bayu sampai mengaca di spion mobil apakah wajahnya terlihat seperti om-om genit sampai Wanda setakut itu padanya. Saat melihat pantulan di spion, ia hanya melihat lelaki tampan yang cool dan kalem yang tak lain adalah dirinya.


Lain halnya dengan Wanda, kesan yang tertinggal di pikirannya tentu ketakutan pada sikap galak Bayu sekaligus perhatiannya. Rasanya terlalu pelik harus dijemput lelaki yang tak dikenalnya namun menolaknya juga tentu tak enak hati dengan Tiara dan Rama. Bahkan, ia hanya berterima kasih saat turun dari mobil dan kembali menunduk menghindari tatapan Bayu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2