Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Cemburu Boleh, Buta Jangan


__ADS_3

Rama tak memberitahukan kedatangannya ke Bogor kepada Tiara karena ingin memberinya kejutan. Rama berangkat pukul 08.00 dan sampai di Bogor sekitar 10.15. Sesuai dengan kesepakatan, Rama bertemu dengan Hans di calon lokasi perumahan yang akan mereka bangun. Di sana, Hans datang bersama Hendra, Selvi, dan satu orang yang bertugas mengawasi proyek di lapangan bernama Pak Susanto.


"Bagaimana, Ram? Bagus kan? Tempat ini diperuntukkan orang yang suka ketenangan namun tak jauh dari jalan raya juga. Keluar dari gerbang perumahan, hanya sekitar lima puluh meter langsung jalan raya. Untuk masuk Toll Lingkar Bogor hanya butuh sekitar 20 sampai 30 menit, sedangkan untuk ke stasiun hanya 15 menit saja dan Ke Kota Bogor hanya sekitar 30 menit. Cukup menarik untuk hunian tenang dengan lingkungan pedesaan nan strategis, kan?" papar Hans penuh semangat.


"Oke juga. Oh iya. Yang ini memakai sistem berbeda dengan sebelumnya ya? Ini yang indent, kan? Apa kamu yakin akan banyak yang tertarik dengan indent karena beberapa kasus indent yang tidak mengenakkan tentu sudah banyak beredar di luaran," tanya Rama serius.


"Setelah kita mulai merealisasi lokasi pertama, kedua, dan ketiga dengan konsep siap huni bertahap, bukankah hampir semua sold out? Berarti kita sudah mendapat kepercayaan besar dari masyarakat jadi tidak menutup kemungkinan perumahan kita dengan sistem indent juga akan banyak dilirik orang. Terlebih, aku yakin karena bekerja sama dengan Dewantara Group yang gaungnya sudah menggema di mana-mana. Selain itu, sistem indent memungkinkan harga rumah yang lebih murah dan konsumen boleh turut memantau selama pembangunan. Tentu, aku optimis dengan sistem indent juga akan banyak dilirik konsumen. Yang terpenting, kita harus menjaga kepercayaan mereka. Kita harus tetap menyediakan bahan-bahan berkualitas agar mereka puas dan kerja sama kita mungkin bisa berlanjut ke proyek-proyek lainnya," jawan Hans optimis.


"Konsep yang bagus dan matang. Dan, aku suka pemandangan di sini. Masih ada ladang-ladang yang luas nan hijau. Apalagi pemandangan Gunung Salak di kejauhan membuat suasana pedesaan terasa semakin kental dan menenangkan. Oke. Untuk perizinan dari warga setempat sudah dikantongi?" tanya Rama lagi.


"Aman, Pak. Keterangan Rencana Umum Tata Ruang juga oke. Izin pemanfaatan lahan sudah. Izin prinsip aman juga. Kita tinggal menunggu hasil Analisis Dampak Lingkungan," jawab Hendra menyela karena Hans menyerahkan tanggung jawab perizinan kepada Hendra.


"Nice! Yang penting fokus dulu ke pembangunan siap huni," sahut Rama mangut-mangut.


"Siap, Pak," sahut Hendra penuh hormat.


Setelah puas melihat calon lokasi perumahan keempat, Rama, Hans, Hendra, dan Selvi pun pergi ke lokasi perumahan pertama. Beberapa rumah sudah tinggal finishing, beberapa masih proses karena memprioritaskan yang memesan lebih awal dan yang ingin segera ditinggali.


Setelah lelah survei, mereka pun pergi untuk beristirahat di kantor pemasaran yang terletak di seberang kompleks perumahan itu. Di sana, sudah disediakan jamuan untuk mereka karena memang sudah direncanakan betul pertemuan itu. Tiba-tiba, Selvi mendekati Rama.


"Rama, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Selvi ramah.


"Nggak bisa di sini aja?" sahut Rama malas.


"Ini menyangkut hal pribadi," ucap Selvi melirihkan suaranya.


"Kalau tentang hubungan dan perasaan kita, semua udah selesai," tegas Rama tak ingin basa-basi.


"Tiara. Ini tentang Tiara. Ada yang ingin aku tanyakan," bujuk Selvi membuat mata Rama membola karena nama istrinya disebutkan.


Mendengar nama Tiara pun Rama tak bisa lagi mengelak karena rasa penasarannya naik drastis. Namun, ia tetap menunjukkan sikap tenang walaupun dalam hati tentu sangat penasaran. Setelah pamit dengan Hans dan Hendra, mereka pun berjalan keluar kantor pemasaran dan duduk di kursi depan.


"Ada apa dengan Tiara? Awas saja kalau kamu berani macam-macam dengannya!" ancam Rama serius.


"Nggak. Aku cuma mau menanyakan ini," ucap Selvi sambil menyerahkan ponselnya yang menunjukkan foto.

__ADS_1


Rama yang awalnya malas menerima dan menanggapi, tiba-tiba terperangah tak percaya. Terpampang jelas foto Tiara yang sedang tertawa lepas selaras dengan ekspresi yang ditunjukkan Arjuna. Mereka terlihat sangat akrab dan yang lebih mencengangkan adalah mereka hanya berdua di mobil itu. Rama pun menyerahkan ponsel itu kepada Selvi berusaha menahan geramnya karena tak ingin menunjukkan langsung di depan Selvi. Walaupun sebenarnya dalam hati gontok luar biasa karena apa yang terpampang di foto jelas berkebalikan dengan yang diceritakan Tiara. Ia harus segera meminta penjelasan dari istrinya.


"Kamu kenal lelaki yang bersama Tiara?" tanya Selvi penasaran.


"Kenal. Itu teman kuliahku. Tiara sedang magang di kantornya dan ada urusan audit marketing di Bogor," jawab Rama santai.


"Oh begitu. Kenapa Tiara nggak magang di kantormu? Kantormu itu kantor besar dan akan sangat bagus jika dia magang di kantormu," cecar Selvi mencari celah untuk mengasut Rama.


"Dia ingin mandiri dan mencoba magang tanpa ada campur tangan orang dalam. Lagian perusahaan itu juga perusahaan multinasional yang besar. Memang dia minatnya di sana, aku hanya perlu mendukung dan menyemangatinya," sahut Rama tetap tenang membuat Selvi dongkol sendiri.


"Tiara juga memang sudah kenal dengan lelaki di foto itu? Mereka terlihat sangat akrab dan dekat ya," hasut Selvi semakin menjadi-jadi.


"Mereka kenal sejak magang di sana mungkin," jawab Rama datar.


"Apakah Tiara sedang hamil?" tanya Selvi semakin masuk ke ranah privasi membuat Rama tak nyaman dan ingin segera pergi.


"Tidak mungkin!" sangkal Rama penuh penegasan membuat Selvi terkejut sekali.


"Kenapa tidak mungkin? Bukankah kalian sudah menikah, wajar kan kalau Tiara hamil juga?" ucap Selvi tersenyum tipis mulai melihat Rama emosi.


"Tiara sedang datang bulan. Mungkin, memang efek hormonal aja. Setiap datang bulan, memang dia bisa sampai sakit perut dan muntah-muntah," sebuah bualan lolos dari mulut Rama dengan lancar membuat Selvi tak dapat berkutik.


Sungguh susah menghasut Rama karena bukannya marah melihat istrinya berduaan dengan pria lain malah Rama terang-terangan menunjukkan sikap tenang dan tak menanggapi serius pertanyaan Selvi. Selvi pun geram sendiri karena siasatnya gagal lagi membuat Rama kembali padanya. Ia sangat iri kepada Tiara yang benar-benar mendapat kepercayaan dan kasih sayang penuh dari Rama. Ia pun semakin menyesal karena kepercayaan dan kasih sayang itu pernah disia-siakan olehnya karena godaan karir gemilang.


"Selvi, dengar. Aku peringatkan sekali lagi. Aku harap ini terakhir kali kamu mencoba menghasutku dengan memanfaatkan Tiara. Cukup cari tahu tentangnya dan cukup mengurusi rumah tanggaku karena aku takkan tinggal diam dan bisa menghancurkan karirmu hanya dengan menjentikkan jari. Aku bukan lagi Rama yang bisa kamu bodohi dengan segala taktik licikmu," tegur Rama penuh penekanan dan menyorot tajam.


Selvi pun terdiam ketakutan dan tak berani mencegah saat Rama meninggalkannya begitu saja. Bahkan, Rama pamit dengan Hans untuk kembali ke hotel karena perasaannya sudah tak tenang mendamba penjelasan. Setelah sampai hotel, ia pun menjatuhkan diri di kasur dengan kasar dan menggeram melampiaskan kekesalannya. Kekecewaan tentu sangat mengusik jiwanya. Ia berusaha tetap tenang di depan Selvi karena tak ingin Selvi memanfaatkan kekesalannya untuk menghasut lebih jauh, meskipun sedikit demi sedikit perkataan Selvi memang agak mengikis kepercayaan dan menyeruakkan keraguan dalam dirinya.


Melihat waktu menunjukkan 12.00, Rama pun segera meraih ponsel karena pasti Tiara sedang istirahat. Tanpa bepikir panjang, ia menelepon Tiara dan langsung dijawab olehnya.


"Halo, Abang," sapa Tiara ceria.


Rama pun sangsi mendengar keceriaan Tiara. Ia pun bertanya pada diri sendiri apakah Tiara memang bahagia berjauhan dengannya atau ada hal lain yang membuatnya bahagia di sana? Rama segera menepis pertanyaan-pertanyaan ragu itu.


"Abang, kok diam?" ucap Tiara mendadak hilang keceriaannya berganti kecemasan.

__ADS_1


"Kamu masih di hotel kemarin?" tanya Rama ketus.


"Beda, Bang. Yang kemarin udah check out tadi pagi. Ini workshop di hotel berbeda. Sepulang workshop jam tiga nanti langung cus pulang kok. Tunggu ya, Bang," ucap Tiara sangat manis.


Rama semakin heran dengan sikap Tiara yang terasa lebih manja dan manis dari biasanya. Kecurigaan pun benar-benar mulai bersemayam dalam dirinya karena seperti ada yang tidak beres selama Tiara di luar kota hingga Tiara bisa berubah sedrastis itu. Apakah ada yang disembunyikan oleh Tiara.


"Shareloc!" suruh Rama tegas.


"Abang," panggil Tiara merasa janggal.


"Kamu pulang denganku," ucap Rama agak meninggikan suara.


"Abang nyusul aku?" tanya Tiara terkejut.


Respon Tiara yang kaget semakin mengusik perasaannya hingga membuatnya ingin segera bertemu dengan istri yang tak jujur kepadanya.


"Aku ada urusan dengan Hans. Sekalian menjemputmu," sentak Rama.


"Iya udah. Aku izin ke Pak Juna dulu," sahut Tiara menekan sabar.


"Suamimu itu aku, bukan Arjuna. Ngapain mau dijemput aku aja harus izin padanya. Apa-apaan pula memanggilnya dengan panggilan khusus Pak Juna, muak aku mendengarnya!" bentak Rama mulai tak terkendali.


"Abang, kamu ini yang apa-apaan! Aku di sini sedang kerja. Atasanku Pak Juna. Wajar kan harus izin karena kalau sampai dicari, bukankah akan merepotkannya. Ini tentang sopan-santun," jawab Tiara ikut terbawa emosi.


"Kamu memikirkan betul ya sopan-santun kepadanya. Tapi, selama ini sikapmu kepadaku tak sampai sebegitunya kamu pikirkan," sindir Rama semakin terbakar cemburu.


"Abang! Stop! Cemburu boleh, buta jangan. Kamu ini habis kesambet setan apa tiba-tiba marah-marah. Kamu sukanya gitu. Marah-marah, abis itu minta maaf. Kalau khilaf, marah-marah lagi, maaf lagi. Begitu seterusnya. Abang, khilaf itu cuma sekali kalau berkali-kali namanya candu. Candu kok marah-marah. Buang-buang tenaga. Buang-buang pikrian," ceramah Tiara membuat Rama semakin geram.


"Shareloc!" perintah Rama tak menggubris penjelasan Tiara.


"Oke!" jawab Tiara langsung mematikan panggilan itu dan mengirim lokasinya.


Rama meradang menghadapi istri kecilnya yang memantikan telepon sesuka hati. Ia mendengus kesal dan membanting ponsel di kasur dengan kasar. Wajahnya memerah menahan marah dan resah. Pikirannya berkeliaran ke mana-mana, bahkan sampai membayangkan apa saja yang terjadi di antara Tiara dan Arjuna. Kecemburuan benar-benar membuatnya gelap mata.


Dibaikin malah ngelunjak. Oke. Sudah cukup batas sabarku menerima segala kekanakanmu. Kini, saatnya kamu harus kuberi pelajaran!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2