
Pak Bayu
Wanda, boleh call nggak? Ada hal penting yang mau kutanyain ke kamu.
Wanda sebenarnya sudah melihat pesan Bayu di layar ponselnya namun ia tak segera membuka karena merasa cemas untuk membalas. Banyak yang harus dipertimbangkannya karena harus mengobrol dengan lelaki yang belum terlalu dikenalnya.
Pak Bayu
Please, Nda. Penting! Ini soal sahabatmu, Mbak Tiara.
Melihat nama Tiara disebut, Wanda segera mengambil ponsel dan membalas pesan Bayu penuh antusias.
Wanda
Ok.
Secepat kilat, panggilan Bayu pun masuk dan diterimanya dengan sedikit gemetar. Kalau bukan karena Tiara, tentu ia akan menolak mentah-mentah menerima telepon dari lelaki.
"Halo, Nda. Maaf mengganggu malam-malam," sapa Bayu tergesa-gesa.
"To the point aja, Pak," sahut Wanda berusaha cuek.
"Pak?" sangsi Bayu sempat terdiam sejenak.
"Kalau penting, nggak usah basa-basi," tegur Wanda tegas.
"Galak amat. Begini, Nak___ Eh kok jadi Nak, kamu sih masih aja panggil aku Pak. Emang aku udah tua banget apa?" protes Bayu namun tak dapat menyembunyikan kepanikannya.
"Pak, kalau nggak penting lebih baik aku matikan saja," ancam Wanda mulai geram.
"Santai. Santai. Begini, kamu tahu nggak Mbak Tiara tinggal di mana?" tanya Bayu membuat Wanda mengernyitkan kening.
"Iya tinggal di rumah Bang Rama, kan? Aneh!" jawab Wanda keheranan.
"Iya kalau soal itu tentu aku tahu. Memang, Mbak Tiara nggak cerita apa-apa sama kamu?" tanya Bayu sedikit tak percaya.
"Ada apa sih, PAK BAYU? Ngasih info itu jangan setengah-setengah. Kalau penting ya jelaskan secara rinci dan jangan bikin orang penasaran seperti ini," sahut Wanda kesal.
"Aku juga bingung bagaimana menceritankannya. Yang jelas, Mbak Tiara minggat. Kami kehilangan kontak dengannya. Bang Rama hampir gila tak menemukan tanda-tanda tempat tinggal Tiara. Ya. Harapan terakhir kami hanya ke kamu karena di sini, kamu adalah orang yang paling dekat dengan Tiara," papar Bayu sendu.
"Minggat?" tanya Wanda membelalakkan mata sampai tercengang, kemudian kembali berkata, "Kok bisa? Selama dua minggu ini malah aku jarang bertemu Tiara. Paling sesekali waktu jam makan siang, tapi Tiara nggak bercerita apa pun juga."
__ADS_1
"Yakin nggak tahu keberadaannya? Jujur saja, Nda. Bang Rama udah sering lepas kendali," desak Bayu memohon.
"Aku harus jujur tentang apa? Demi Tuhan aku nggak tahu keberadaan Tiara. Selama ini, kami sudah jarang pulang bersama karena Tiara sering lembur. Tiara bukan anak yang mudah berbuat senekat itu. Sampai Tiara minggat, tentu bosmu sudah sangat keterlaluan padanya," sahut Wanda mulai kesal.
"Lalu, aku harus bagaimana ini? Aku buntu benar mencari keberadaannya," tanya Bayu memohon.
"Biarkan dia tenang dulu. Dia bukan orang yang suka lepas dari tanggung jawab dan kewajibannya. Cuma, kadang dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Selama di kantor juga saya jarang bertemu dengannya, sesekali pun terlihat biasa aja dan banyak diam gitu. Itu tandanya dia belum baik-baik aja. Kalau dia udah lumayan membaik, dia pasti akan cerita. Suruh big bosmu itu sabar dulu," jelas Wanda memberi pengertian.
"Tapi, sampai kapan? Aku hampir gila juga karenanya. Aku yang jadi korban ini. Korban kerjaan, korban marah-marah, korban pelampiasan," rengek Bayu.
"Itu urusan Anda!" sahut Wanda kembali dingin.
"Cantik-cantik galak amat," ujar Bayu cengengesan.
Tangan Wanda tiba-tiba dingin mendengar ujaran Bayu yang mengusik ketenangannya. Ketakutan mendadak menguasai pikirannya membuat ia ingin cepat mengusaikan perbincangan jauh dengan lawan jenis yang sangat dihindarinya.
"Bodo!" sentak Wandan mencoba menutupi ketaktenangannya.
"Dih. Kok jadi ngegas," sahut Bayu kebingungan.
"Kalau sudah tidak ada kepentingan, saya matikan ini. Oke!" ucap Wanda segera mengakhiri panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban dari mitra bicaranya.
Wanda meletakkan ponsel di sampingnya. Gadis itu terlihat sangat terpukul dengan jantung yang berdebar-debar. Matanya mulai memerah dan merembeskan bulir demi bulir dengan bibir gemetar menahan ketakutan yang kembali menghantui pikirannya. Candaan Bayu yang mungkin asal saja ternyata mampu mengusik batinnya.
Bayu pun larut dalam pikirannya tentang Wanda yang sangat misterius dan membuat dia penasaran. Selama dia mengantar jemput Wanda, jarang sekali mereka bicara dan Wanda hanya bicara seperlunya. Caranya bersikap pun terlihat lebih kalem, hati-hati, dan dewasa dibanding nona kecilnya. Manusia jenis Wanda memang baru pernah ditemuinya karena cueknya di atas rata-rata namun dia pandai menempatkan diri dalam berbagai situasi.
...****************...
"Besok, kita akan berangkat audit ke Yogyakarta. Toni, Fara, Kevin, kalian akan bertugas bersama saya ke sana. Siap?" tegas Arjuna dengan keras.
"Siap, Pak!" sahut ketiga anak buahnya serempak.
"Tiara, apakah kamu bersedia ikut juga? Mungkin, bisa menjadi nilai plus di laporan magangmu nanti," tanya Arjuna lebih merendahkan suara.
Tiara diam sejenak. Ia pun memikirkan Rama. Tak mungkin pergi tanpa berpamitan dengan Rama karena bagaimanapun ia tetaplah istri lelaki itu. Rasanya semarah apa pun ia kepada Rama, ia tak bisa benar-benar melupakan posisinya. Tetapi, mungkin ini tawaran menarik karena bisa sekalian refreshing dan mempercepat pemulihan batinnya.
"Baik, Pak," jawab Tiara setengah ragu namun berusaha menutupi dengan sikap lucunya.
(Sumber: Pinterest)
__ADS_1
"Oke. Final ya. Baik. Cepat kemasi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk besok. Jika sudah selesai, kalian boleh pulang lebih awal. Saya yang akan mengurus presensi checkout kalian!" mandat Arjuna lebih bersemangat namun tetap mempertahankan sikap tegasnya.
"Siap!" jawab anak buahnya kompak dan sumringah karena Arjuna menjadi lebih jinak kali ini namun mereka tak memedulikan alasan apa di balik sikap atasannya.
Setelah selesai berkemas, Tiara pun bingung bagaimana cara memberitahu Rama. Ia pun melihat kontak Rama berkali-kali di ponselnya namun masih ragu untuk membuka blokirnya. Tiara pun datang ke kafe langganannya dan memberanikan diri untuk membuka blokir kontak Rama. Dan, ternyata Rama sedang online. Baru beberapa detik ia membuka blokir dan belum sempat menelepon, Rama terlebih dahulu meneleponnya dan membuatnya sangat terkejut. Tentu Rama sangat memerhatikan kontaknya sampai-sampai langsung tahu kontaknya sudah tidak diblokir.
"Halo, Sayang. Akhirnya," ucap Rama cemas.
"Abang, udah makan?" tanya Tiara tiba-tiba peduli tanpa direncana.
"Belum. Kamu udah?" tanya balik Rama lebih semangat namun tak dapat menyembunyikan kesedihan dan kekosongan dalam dirinya.
"Ini mau makan, tapi masih malas," jawab Tiara menunduk lesu.
"Makan, Sayang. Kamu boleh nggak pulang dulu, tapi kamu harus janji untuk menjaga kesehatanmu," bujuk Rama mengingkari harapannya.
"Abang, temani aku makan. Mau?" tanya Tiara ragu karena sakit hatinya belum sembuh sepenuhnya namun rindu juga tak mau berdamai dengan suasana.
"Ya udah. Aku video call boleh, kan?" sahut Rama penuh harap.
"Kalau aku maunya Abang ke sini. Mau?" tanya Tiara lirih namun terdengar jelas oleh Rama.
"Oke. Shareloc!" jawab Rama kembali bertenaga dan ada harapan yang sedikit menunjukkan cahayanya.
Tak butuh waktu lama setelah Tiara mengirimkan lokasinya, Rama langsung tancap gas tanpa berpamitan dengan Bayu ataupun Susan. Ia hanya memberi pesan kepada resepsionis untuk memberitahukan Susan dan Bayu untuk mengambil alih pekerjaannya sementara.
Sesampainya di kafe, Rama pun mencari ruang yang dipesan oleh Tiara. Ia sengaja memesan tempat duduk yang berada di dalam bilik di lantai atas karena karena menginginkan ketenangan dan tidak terganggu oleh riuh pengunjung serta pertunjukkan akustik di sana.
Rama membuka pintu bilik dan menemukan Tiara yang sedang menatapnya dengan wajah datar. Tak ada ekspresi yang ditunjukkan sama sekali membuat Rama bingung bagaimana harus menyikapinya. Tentu, ia ingin sekali memeluk istri yang dua minggu menghilang dari harinya namun cukup sadar diri untuk menahan karena sikap dan ucapannya yang terlalu lancang membuat Tiara melakukan hal senekat itu. Rama pun tak dapat menahan air matanya ketika bersitatap dengan Tiara serta mendekat perlahan-lahan dengan langkah gontai namun penuh damba.
(Sumber: Pinterest)
Hati Tiara pun terketuk pilu melihat Rama yang begitu rapuh sampai tak berusaha menahan air matanya. Hatinya tentu sangat gamang menghadapi situasi semacam ini. Bahkan, tuduhan Rama masih terngiang-ngiang betul di telinga dan ingatannya. Namun, penyesalan Rama benar-benar kentara membuatnya tak tega meninggalkan Rama lebih lama.
"Abang, sini duduk," ucap Tiara berusaha menahan air matanya.
Bukan duduk di depan Tiara, Rama mah duduk berlutut di samping Tiara. Tiara pun memutar badan ke samping hingga lututnya langsung diraih oleh Rama untuk membenamkan wajahnya. Mulai terdengar Rama terisak sehingga batin Tiara menjadi koyak.
"Abang, jangan seperti ini," pinta Tiara sambil mengusap rambut suaminya yang berantakan diikat sekenanya.
__ADS_1
Rama tak menjawab dan menggeleng kecil di pangkuan Tiara. Ia benar-benar ingin menumpahkan perasaan dan kepenatannya di sana. Rama tak bisa lagi berpura-pura kuat seperti yang selama ini ditunjukkannya kepada orang lain.