Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Melelehnya Es Batu


__ADS_3

Tiara dan Rama berangkat ke Lembang menggunakan mobil dengan supir Rama sendiri. Mereka berangkat sehari sebelum acara atas saran dari Bu Ina agar mereka tidak terburu-buru dan bisa beristirahat terlebih dahulu. Mereka pun berangkat sekitar pukul 14.00 dari rumah dengan santai.


Beberapa kali mereka berhenti di rest area untuk buang air kecil ataupun sekadar duduk-duduk membeli jajan untuk mengulur waktu. Tiara sering meminta Rama berhenti karena ia bosan dengan perjalanan mereka yang diselimuti kesunyian. Tidak ada obrolan, tidur pun tak nyenyak, sehingga Tiara menghabiskan waktunya dengan memakan camilan.


"Mulutmu nggak capek apa? Ngunyah terus," tanya Rama dengan tatapan fokus ke depan.


"Daripada kelaparan kan. Suka-suka aku dong. Komen melulu," jawab Tiara menantang.


"Baru tanya sekali juga," adu Rama.


Tiba-tiba, Tiara mengambil camilan keripik kentang di pangkuannya dan dijejalkan ke mulut Rama. Rama pun terdiam dengan separuh keripik di dalam mulut dan separuhnya di luar. Sejenak, ia melirik galak ke arah Tiara namun Tiara membalasnya dengan juluran lidah.


"Biar Abang diem. Bawel banget sih orang lagi menikmati makanan juga. Ganggu banget," ujar Tiara.


Mau tak mau, Rama pun harus menggigit dan memakan keripik itu. Ia tak menyangka Tiara akan seberani itu menjejalkan makanan ke mulutnya. Ia pun tersenyum tipis mengingat tingkah Tiara baru saja dan membuatnya lebih rileks. Akhirnya, ia pun mengambil sendiri keripik di pangkuan Tiara dan ikut memakan camilannya. Tiara pun hanya memandangnya dengan sangsi.


Saat keripik kentang habis, Tiara memasukkan bungkus ke tempat sampah dan segera mengambil camilan lainnya. Rama menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istri mungilnya yang punya kapasitas perut luar biasa.


"Siapa lelaki kemarin? Pacar?" cetus Rama.


Ucapan Rama mengagetkan Tiara hingga ia terbatuk-batuk. Rama segera mengambilkan minum di sampingnya dan diberikan kepada Tiara. Setelah meneguknya, Tiara pun menatap Rama sangat penasaran.


"Dia kakak tingkatku. Presiden BEM di kampus," sahut Tiara sambil meneruskan kunyahannya yang sempat tertunda.


"Memang sudah janjian mau nonton bareng?" tanya Rama selidik.


"Enggak. Nggak sengaja ketemu di cafe terus ngajak aku dan teman-teman nonton," jawab Tiara jujur.


"Kok bisa pas gitu ya," kata Rama penuh curiga.


"Apa sih, Bang. Kepo amat," gerutu Tiara.


Tiara pun menatap suaminya dengana rona kejahilan. Ia senyum-senyum di tengah keremangan di mobil karena hari sudah hampir petang. Ia tatap suaminya yang sangat fokus ke jalan.


"Abang cemburu?" celetuk Tiara tergelak.


Rama pun membalas seloroh Tiara dengan jitakan di kepala. Tiara pun mengaduh, lalu mencubit lengan Rama hingga merah dan hampir terluka.

__ADS_1


"Anak kecil nggak usah sok tau," tegas Rama.


"Dasar, Om-om galak," sahut Tiara.


...****************...


Sesampainya di hotel tujuan, Tiara dan Rama terkejut saat mengetahui kamar atas nama Bu Ina dipesan untuk jangka waktu lima hari. Tak hanya itu, mereka pun bingung saat mereka sampai di kamar VVIP namun tidak ada sofa di sana. Hanya sebuah tempat tidur king size dan beberapa barang di hotel pada umumnya. Mereka pun geli saat melihat handuk di kasur dibentuk menjadi angsa berhadapan sehingga leher mereka membentuk hati.


Rama pun memijit-mijit kepala. Ia sangat yakin jika ini rencana Bu Ina. Ia semakin rungsing melihat Tiara yang mondar-mandir gelisah seperti ayam kehabisan pakan. Ia takut memikirkan harus berbagi kamar dengan Rama.


"Sudahlah. Ini udah pasti rencana Mama. Percuma kita minta sofa atau kasur tambahan juga ke pihak hotel karena Mama sudah lebih dulu bertindak," tutur Rama menenangkan Tiara.


"Jadi, kita berbagi kasur?" tanya Tiara membelalakkan matanya.


"Apa salahnya? Toh, kita sudah menikah. Apa yang kamu khawatirkan?" sahut Rama santai.


"Haaaaa!" teriak Tiara.


Sontak, Tiara berhenti mendengar pernyataan Rama. Ia pun menatap Rama agak ngeri. Terlebih saat Rama berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam, Tiara pun berjalan mundur pelan sedikit ketakutan. Rama pun tersenyum sebelah bibir dan semakin tertantang untuk menjahili istrinya.


Rama mencondongkan badan menyejajari Tiara dan mendekatkan wajahnya ke Tiara hingga berjarak hanya setengah jengkal. Napas Tiara memberat seakan tenggorokannya tercekat.


"Abang, kamu mau apa? Jangan aneh-aneh," tanya Tiara gemetar.


"Kalau aku minta jatahku, bagaimana?" tanya balik Rama membuat Tiara terbelalak.


"Jatah apa? Hei, jangan macam-macam," ancam Tiara sangat cemas.


"Mana ada macam-macam ke istri sendiri. Bukannya sudah kewajibanmu melayaniku?" goda Rama dengan tatapan genitnya.


Wajah dingin dan arrogan Rama tiba-tiba sirna namun ini lebih menakutkan untuk Tiara. Rama berubah seperti buaya kelaparan yang melihat umpan menggiurkan. Tiara merinding sekujur badan dan lemas tak bisa berkutik. Apalagi saat Rama memegang kedua pipinya dan semakin mendekatkan wajahnya, Tiara pun terpejam pasrah daripada berteriak sia-sia.


Rama pun urung mencium Tiara karena memang ia hanya berniat menjahilinya. Ia terkekeh melihat ekspresi Tiara yang sangat ketakutan namun sangat pasrah menerima keadaan. Dicubitnya hidung Tiara karena gemas. Tiara pun membuka mata dan langsung memukul dada sambil mendorongnya ke belakang. Rama semakin tergelak melihat ekspresi lucu Tiara yang sedang merajuk.


"Dasar, Om-Om Mesum, Om-Om Genit, Om-Om Buaya, Kadal Kambing..." nyinyir Tiara.


Ucapan Tiara pun terhenti karena kakinya tiba-tiba menginjak sendal hotel dan terpeleset karenanya. Ia pun menubruk badan Rama. Rama pun tak punya kesiapan untuk menangkapnya sehingga mereka limbung dan Tiara jatuh menimpa Rama. Untung di belakang Rama adalah kasur jadi mereka tidak terjerembab di lantai.

__ADS_1


Rama pun mengaduh kesakitan karena dahi Tiara membentur bibirnya sampai pecah dan sedikit berdarah. Tiara juga nampak kesakitan mengusap-usap dahinya.


"Mau sampai kapan menindihku? Jangan-jangan ini akal-akalan kamu yang sebenarnya ingin meminta jatah dariku," ucap Rama dengan senyum sebelah bibir menahan sakit sekaligus lucu.


Setelah sadar sedang menindih badan Rama, sontak Tiara pun bangkit dengan wajah bersemu merah namun penuh kekesalan juga. Saat melihat bibir Rama berdarah, ia pun melompat ke samping Rama yang sedang berusaha duduk. Diusapnya pelan bibir Rama yang sesekali nyengir saat jari Tiara menyentuh pas di lukanya.


"Sakit, Bang? Maaf ya nggak sengaja. Terpeleset aku," sesal Tiara.


"Ternyata malah kamu lebih beringas dari yang kukira," canda Rama tertawa.


"Abang, jangan bercanda. Aku serius ih," ujar Tiara kesal.


"Berani ya kamu menyerang dulu, aku jadi khawatir kalau kamu yang nggak bisa menahan diri. Kupikir cupu ternyata suhu," goda Rama semakin menjadi-jadi melihat istrinya kesal.


Tiara pun berang mendengar candaan Rama yang semakin mengarah ke hal yang tidak-tidak. Ia pun mencomot bibir Rama sampai Rama meringis kesakitan.


"Tiara!" seru Rama setelah bibirnya terlepas dari tangan Tiara.


"Makanya, punya bibir itu dijaga. Rasain itu azab tukang ceplas-ceplos dan si otak mesum," sungut Tiara sambil melipat tangan di dada.


"Loh, aku kan nggak ngomong hal mesum. Pikiran kamu aja yang kotor itu," tuduh Rama.


"Abang...!" pekik Tiara sambil bangkit dari duduknya.


Tiba-tiba, Rama menarik tangan Tiara sampai ia jatuh terlentang di kasur. Dengan sigap, ia memegang wajah Tiara dan mencium bibirnya sekilas. Setelah itu, ia berdiri dengan wajah tanpa dosa sama sekali.


"Itu azab buat bocah bawel. Udah ah aku mandi dulu," ujar Rama.


Tiara masih mematung terlentang. Jantungnya seperti hendak meledak mendapat serangan mendadak. Meskipun serangan itu mungkin hanya satu detik namun cukup memuat wajahnya memerah dan menebas kesadaran Tiara hingga seperti dimabuk kepayang. Setelah sadar dari lamunannya, Tiara pun terlonjak dan berlari menuju kamar mandi. Ia pun menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan sebal.


"Abang, kamu jahat!" teriak Tiara dari balik pintu.


"Tuh kan emang Om-Om Mesum!" tambah Tiara.


Di kamar mandi, Rama tersenyum puas mendengar ocehan Tiara seperti kereta, tak berjeda. Entah kapan terakhir Rama bisa tertawa selepas ini, ia pun teramat lega. Semakin Tiara merajuk malah semakin candu bagi Rama. Suara Tiara yang sangat berisik membuat ketenangannya sering terusik namun membuat hari-harinya terasa lebih hidup.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2