
Rama mengecap-ngecap dengan ekspresi aneh. Kemudian, ia menatap kopi di gelasnya yang berwarna hitam bening kecoklatan. Ia menjulurkan lidah sedikit sambil menoleh ke Tiara yang sedang menatapnya penuh harap.
"Bagaimana, Bang? Sudah sesuai takaran yang kamu bilang kok," tanya Tiara senyum-senyum menunggu madah dari suaminya.
"Yakin sesuai takaran?" tanya balik Rama penasaran.
"Iya, Bang," jawab Tiara mulai berdebar.
"Nggak salah bahan?" tanya Rama lagi.
"Enggak. Tadi sebelum ambil gula, aku cicipi dulu. Yang aku cicipi garam, jadi gula yang wadah satunya. Ini pertama kali aku bikin kopi. Ada yang kurang?" sahut Tiara tak kalah penasaran.
"Ehm. Ya kurang sedikit lah. Tapi, nggak apa-apa," timpal Rama.
Dengan ekspresi yang sulit ditebak, Rama lanjutkan menenggak kopi di tangannya. Tak ada raut menikmati sama sekali sehingga Tiara tergerak untuk merebut gelas kopi itu darinya. Rama kaget saat gelas kopi yang masih setengah itu sudah diambil alih oleh Tiara.
"Jang..." cegah Rama terlambat karena Tiara sudah menyesap kopi miliknya.
Tiara pun merem-melek merasakan kopi buatannya yang sungguh aneh, bahkan sampai sulit didefinisikan rasanya. Baunya memang kopi, tapi rasanya hanya pahit, gurih, dan manis aneh. Tak ada makanan yang mirip dengan rasa kopi itu jadi sulit menjelaskannya.
"Ini kopi atau kobokan? Kenapa rasanya sangat tidak manusiawi?" tanya Tiara seolah ingin memuntahkan kopi yang sudah telanjur ditenggaknya.
"Sudah kubilang jangan, malah ngeyel," sahut Rama dengan bibir yang menahan tawa.
"Abang nih. Udah tau nggak enak, kenapa malah tetap meminumnya! Harusnya bilang aja! Aku juga nggak akan marah karena memang nyatanya nggak enak. Biar aku bilang Bi Siti untuk membuatkan," maki Tiara kepada suaminya.
"Iya kan kamu udah capek-capek buatin kopinya. Sayang kalau kopi yang kamu buat sepenuh hati itu nggak dihabiskan. Toh, ini kamu bikin pertama kali jadi masih bisa dimaklumi. Kalau kedua, ketiga, keempat, masih sama barulah perlu dijitak biar kapok," sahut Rama dengan santai.
Tiara pun memanyunkan bibir pura-pura kesal untuk menutupi rasa malunya. Ia tak habis pikir membuat kopi saja bisa sefatal itu kegagalannya.
Tok tok tok
"Udah ngambeknya. Buka pintu sana!" suruh Rama sambil menahan tawa karena gemas dengan tingkah istrinya.
Dengan langkah kesal, ia membuka pintu dengan gelas masih ditangannya. Setelah dibuka, Bi Siti sudah berdiri di sana. Bi Siti meringis dengan mata memohon maaf.
"Non, boleh tanya?" tanya Bi Siti hati-hati.
"Iya, Bi" jawab Tiara malas namun tidak jutek sama sekali.
"Maaf. Tadi Non bikin kopi pahit untuk Den Rama?" tanya Bi Siti.
__ADS_1
"Niatnya kopi manis sih," jawab Tiara semakin lemas karena diingatkan kejadian tak mengenakkan itu.
"Non. Maaf sebelumnya. Tadi gula di dapur sedang habis dari tadi malam dan kotaknya lupa belum saya isi lagi. Non nggak naruh bahan selain kopi, kan?" ujar Bi Siti harap-harap cemas.
Mata Tiara membola dan keterkejutannya membuat tenaganya pulih seketika.
"Bi, tadi aku tambahin kotak yang selain garam. Nggak aku cicipi sih, tapi karena yang satu garam jadi aku yakin satunya gula. Aneh si bentuknya," sahut Tiara polos.
"Sudah saya duga. Maaf, Non. Sepertinya yang ditambahkan itu vetsin yang biasa buat tambahan di masakan yang biasa saya makan. Kotak gula di dapur baru saya isi lagi setelah Non Tiara pergi dari dapur" jawab Bi Siti menunduk agak ketakutan.
"Vetsin? Micin? Pantesan rasa kopinya aneh," seru Tiara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tiara menoleh kepada Rama sambil tersenyum-senyum geli. Rama pun menepuk jidat mendengar percakapan mereka.
"Maaf ya, Non," ucap Bi Siti merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Bi. Bukan salah Bi Siti kok. Aku memang nggak tau soal bumbu dapur. Lagian, aku baru pertama bikin kopi dan nggak tanya dulu ke Bi Siti. Ya udah, gelas ini dibawa. Buatkan kopi lagi buat Bang Rama ya," sahut Tiara cengengesan.
Bi Siti pun menerima gelas dari Tiara dengan lega. Ia tak sempat berpikir ingin tertawa melihat tingkah lucu majikannya karena sudah kepalang takut. Ia pun pamit undur diri dan berlalu dari hadapan Tiara.
Tiara kembali menyusul Rama dengan wajah tanpa dosanya.
"Hehe. Maaf atas kopi rasa micinnya ya, Bang," jawab Tiara sambil duduk di samping Rama lagi.
"Maaf ya. Aku mau tanya juga. Kopinya kamu kasih seberapa banyak? Kok nggak berasa kopi dan warnanya hampir seperti teh?" tanya Rama penasaran.
"Satu sendok teh seperti instruksi Rama," jawab Tiara yakin.
"Biasanya Bi Siti buatkan satu sendok teh pun hitam jadinya. itu masih agak bening," sanggah Rama.
"Ya satu sendok teh takar gitu. Aku ambil kan menggunung gitu di sendok, terus aku ratakan sesuai lengkungan di sendok," timpal Tiara serius.
"Pantesan. Harusnya agak menggunung," sahut Rama akhirnya tak bisa lagi menahan tawa menyaksikan kepolosan istrinya.
"Oh gitu. Abang sih nggak bilang," sambung Tiara meringis.
...****************...
Waktu menunjukkan 12.30, Rama bersiap-siap menuju tempat meeting yang dilaksanakan di sebuah restoran mewah. Ia pergi bersama Bayu dan Susan seperti biasa namun ditambah Tiara karena Bu Ina tak kunjung pulang jadi tak mau meninggalkan Tiara sendirian. Bayu yang menjadi supir dengan Susan di sampingnya, sedangkan Tiara dan Rama duduk di belakang.
Rama dan rombongan sampai di tempat meeting pukul 12.50, masih ada sepuluh menit sebelum waktu meeting dimulai. Bayu pun bertanya ke resepsionis, lalu mereka diantar ke tempat meeting oleh resepsionis itu. Di sana, kedatangan mereka sudah ditunggu CEO Bangun Jaya Group, yakni Hans. Rama dan Hans pun berjabat tangan penuh semangat.
__ADS_1
"Halo, Pak Rama. Sungguh, suatu kehormatan untuk perusahaan kami karena Anda sudi menerima undangan kami," sambut Hans ramah namun terdengar basa-basi di telinga Tiara.
"Terima kasih, Pak Hans. Kami juga sangat bahagia mendapat undangan istimewa dari perusahaan Anda" sahut Rama.
Dasar. Laki-laki bermulut manis. Ucap Tiara dalam hati.
"Kenalkan. Ini asisten saya bernama Hendra," kata Hans.
Hendra pun tersenyum kepada Rama dan rombongannya.
"Sekretaris saya sedang mengurus minuman pesanan kita di belakang. Mungkin sebentar lagi akan kembali," tambah Hans.
"Oke. Kenalkan juga ini Bayu, asisten saya. Ini Susan, sekretaris saya. Dan ini Tiara, asisten pribadi... sekaligus istri saya," ucap Rama sambil menunjuk satu per satu orang yang dibawanya.
Hei. Pandai sekali dia membual. Asisten tidur? Asisten berantem? Tapi, terserah dia saja lah. Ngapain pusing-pusing mikirin. Gerutu Tiara dalam hati.
"Wah cantik dan imut sekali istri Anda. Sangat pintar memilih. Sepertinya masih muda ya?" tanya Hans tersenyum penuh makna kepada Tiara.
"Iya. Masih kuliah," jawab Rama singkat.
Tiara malah sangat risih mendengar pujian Hans yang terkesan genit dan seperti iron. Rama pun hanya tersenyum kecut menanggapinya.
"Ya sudah. Silakan duduk Pak Rama, Pak Bayu, Bu Susan, dan Bu Tiara," ucap Hans menyilakan.
"Eh Dik Tiara," tambah Hans meralat ucapannya sambil melirik Tiara dan mengerlingkan matanya.
Tiara pun mengernyit mendengarkan panggilan Hans kepadanya. Ia teringat ketika ia meminta Bayu untuk memanggilnya seperti itu, rasanya tidak seganjil dan semengerikan ini. Panggilan tersebut malah terkesan melecehkan.
Astaga. Kelilipan atau bagaimana itu si bapak sih? Ngeri amat. Udah tua juga banyak tingkah. Batin Tiara mengatai lelaki yang sepertinya lima tahun lebih tua dari Rama.
Antusias Rama terhadap meeting siang itu pun berkurang drastis karena sikap Hans yang berlebihan dalam beramah-tamah. Apalagi menyaksikan sikap dia ke Tiara, membuat dadanya panas. Ia tak terima namun belum bisa berbuat apa-apa karena ia harus profesional dan tidak boleh terlalu jauh memasukan perasaan pribadi di sana.
Rama duduk paling kanan. Di sebelahnya, Tiara, Susan, dan Bayu. Di seberang meja, ada Hans dan Hendra saja karena sekretarisnya belum juga kembali.
Tiba-tiba, bel ruangan tempat meeting mereka berbunyi tanda ada yang mau masuk. Setelah pintu terbuka, masuklah perempuan bersama pelayan wanita yang membawa minuman dengan nampan. Wanita itu tersenyum gembiran kepada orang-orang di ruangan.
Berbeda dengan yang ditunjukkan si wanita sekretaris Hans, Rama, Tiara, Bayu, dan Susan malah terkejut melihatnya. Mereka bahkan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dia? Jadi ini meeting penting Bang Rama. Gumam Tiara kesal dalam hati.
Dia? Ucap Rama dalam hati sambil menunduk.
__ADS_1