
Setelah makan malam dilalui tanpa kata, Tiara masih membisu. Ia duduk diam seperti sedang memendam dendam kesumat kepada Rama lantaran telah merebut ciuman pertamanya. Meskipun sebenarnya ia bisa memaafkan karena bagaimanapun Rama adalah suaminya namun ia kepalang malu dan gengsi jadi diteruskan saja merajuknya. Berulang-kali Rama membujuknya dengan kata romantis, boneka, sampai seikat bunga, tetapi tak jua membuat Tiara menerima dan bicara.
Rama dan Tiara pun duduk di tepi kasur saling berjauhan. Di satu sisi, Rama ingin tertawa lepas melihat istrinya mengerucutkan bibir sambil bermain ponsel namun ditahan. Di sisi lain, Tiara sesekali melirik Rama sinis dan cepat berpaling apabila Rama ketahuan sedang menatapnya. Rama pun semakin gemas membuat ia ingin memakan istrinya saat itu juga.
"Ara, betah banget si ngambeknya," goda Rama mencoba mendekati Tiara.
"Stop! Jangan mendekat. Ini batasnya," ucap Tiara sambil meletakkan guling di antara dia dan suaminya.
Rama pun terkekeh melihat tingkah istrinya yang semakin aneh dan dibalas oleh Tiara dengan lirikan tajam. Tiara pun dalam hati terheran-heran melihat sisi lain dari suaminya. Bahkan, sempat terbesit dalam pikirannya bahwa suaminya seperti memiliki kepribadian ganda. Mungkin yang suka menggodanya adalah alter lain dalam dirinya sehingga ia berusaha tidak tergoda rayuan busuknya. Atau jangan-jangan Rama kerasukan setan waktu di perjalanan, pikirannya terus menerka.
"Sepertinya pesananku sudah datang. Oke ambil dulu lah," ucap Rama berbicara pada diri sendiri.
Rama melenggang dari kamar tanpa berpamitan dengan Tiara. Tiara pun semakin kesal dibuatnya.
Beberapa saat kemudian, Rama kembali dengan menenteng satu paper bag ukuran sedang berlogo restoran yang sering dibelinya di Jakarta. Rama meletakkan paper bag di meja samping televisi di ruangan itu. Kemudian, ia duduk dan membukanya perlahan-lahan agar aromanya menguar.
Perut Tiara yang belum lama diisi pun tiba-tiba bunyi seperti tidak makan tiga hari. Ia bisa mencium aroma french fries, onion ring, dan beef burger kesukaannya yang menyeruak dari arah Rama. Ingin sekali ia menghampiri Rama yang mulai membuka bungkusnya satu per satu dan mulai menatanya di karpet bulu depan televisi namun ia masih menjaga gengsi.
Bukannya menawarkan kepada Tiara, Rama malah asyik memulai ritual makannya sambil menonton berita dalam negeri. Mendengar bunyi kriuk makanan sontak membuat perut Tiara semakin berdendang hingga tertangkap oleh telinga Rama.
"Gengsi nggak bikin kenyang loh, Ra," sindir Rama tanpa menatap istrinya.
"Siapa yang gengsi," bantah Tiara tidak mau malu.
Rama pun berdiri dan berjalan ke arah Tiara. Tiara pun sempat mengelak dan menjauhkan badannya namun kakinya telanjur diseret oleh Rama sampai ke tepi kasur. Setelah itu, Rama menggendongnya dan menurunkan di hadapan makanan yang di pesannya tadi.
"Ayo makan!" suruh Rama pura-pura galak.
"Nggak lapar," sahut Tiara berbohong.
Rama menempelkan sepotong kentang goreng di bibir Tiara namun Tiara tetap bungkam. Rama tak kehabisan akal, ia gelitiki pinggang Tiara hingga Tiara membuka mulut dan sepotong kentang goreng itu berhasil masuk ke mulut Tiara.
Tiara mengunyahnya dengan semangat. Setelah itu,, ia pun tersenyum gembira seperti anak kecil yang dibelikan mainan baru. Ia memang selalu gagal menolak kalau soal makanan, apalagi makanan favoritnya. Rama menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Tiara dan ia sangat bahagia menemukan cara efektif membujuk Tiara.
"Abang, kenapa lihatin terus sih? Kan nggak ada yang melarang buat makan," tanya Tiara sambil mengunyah.
"Terima kasih enggak ada, marah-marah yang utama," sindir Rama.
"Eh iyaaa. Yupa. Thanks, Awang," ucap Tiara dengan mulut penuh burger hingga ucapannya samar-samar.
"Makan dulu, baru ngomong, Sayaaang," sahut Rama sambil bermain ponsel, kemudian terperanjat.
Suasana yang semula bising, tiba-tiba berubah hening. Rama dan Tiara saling bersitatap tanpa ada kata terucap. Tiara terkesiap mendengar panggilan sayang yang keluar begitu saja dari mulut Rama. Begitu pun dengan Rama, ia sama terkejutnya menyadari panggilan itu spontan ia ucapkan.
__ADS_1
Tiara pun salah tingkah dan mengalihkan pandangannya dari Rama. Ia kembali mengunyah makanan di mulut untuk meredakan debaran jantungnya. Senyum tipis terukir selintas dari bibirnya diam-diam.
Lain Rama, lain Tiara. Rama memilih bersikap setenang mungkin untuk menutupi rasa canggungnya. Ia meletakkan ponsel di samping Tiara dan mengambil sebungkus rokok di saku celana.
"Aku merokok dulu di luar ya. Habisin makanannya. Kalo kangen, susul aja," celetuk Rama sambil mengacak-acak rambut Tiara.
Tiara pun mendengus kesal rambutnya berantakan, sedangkan Rama hanya senyum-senyum kurang kerjaan. Rama pun beranjak dari tempat duduknya. Sebelum keluar, ia lebih dulu mengambil jaket di kopernya karena suhu di luar mencapai 17 derajat celcius.
...****************...
Di balkon, Rama dimanjakan oleh malam yang sangat menakjubkan. Hamparan siluet pepohonan yang tertata rapi di sekitar hotel ditambah dengan kemerlip lampu warna-warni menghias dinding pegunungan dan kemerlip gemintang di langit cerah malam. Bahkan ketika menundukkan pandang, ia berdecak kagum menyaksikan taman hijau dengan pohon-pohon yang dibentuk bulat dan mengerucut, ada juga bunga aneka jenis dan warna, bangku kayu dan besi yang dibentuk sedemikian estetik, serta lampu taman yang berwarna warm white dan kuning.
Kepulan asap rokok Rama mengudara seakan membawa serta segala kepenatan yang ada di kepalanya. Kali ini, ia benar-benar merasa lega dan bahagia entah apa alasannya. Mungkin karena suasana malam yang menenangkan. Mungkin jug karena semua pekerjaan berjalan lancar. Atau mungkin karena Tiara? Ia pun menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir berbagai pemikiran yang terlalu rumit untuk diterka.
"Abang, ada telepon," ucap Tiara yang tiba-tiba sudah di belakang Rama sambil membawa ponsel yang berdering.
Rama terkejut dengan kehadiran Tiara yang suaranya langsung memekakkan telinga. Ia berbalik badan dengan tenang dan cool-nya. Matanya terpaku sejenak melihat Tiara dengan setelan piyama panjangnya yang bermotif pandan yang nampak lucu dan serasi dengan kepribadiannya.
Rama mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, ia mengambil ponsel di tangan Tiara dengan tangan kanannya dan satu tangan lainnya menghapus sisa saus di sudut bibir Tiara.
"Besok-besok, kalau makan jangan belepotan. Malu-maluin," ucap Rama ketus sambil berbalik dan kembali ke tempat semula.
Tiara pun menggerutu tanpa suara melihat perubahan sikap Rama lagi yang tiba-tiba menjadi dingin. Ia semakin yakin jika Rama memiliki kepribadian ganda. Tiara pun pura-pura meninju ke arah Rama.
"Sejuk sekali," cetus Tiara.
Rama menoleh ke arah Tiara sejenak, kemudian kembali memerhatikan ponselnya yang terus berdering.
"Masuk!" suruh Rama.
"Angkat aja teleponnya. Anggap aja aku angin lewat. Suasana langka tau. Sayang untuk dilewatkan," bantah Tiara masih memejamkan mata.
"Masuk! Kalau masuk angin, aku yang repot. Paham?" tegas Rama.
Tiara membuka mata dengan bersungut-sungut. Ia melipat tangan ke dada sambil menatap Rama tajam.
"Aku ini udah besar, Abang," tepis Tiara.
"Kamu pikir masuk angin memandang usia?" debat Rama cuek.
"Issshhh. Kamu pikir cuma kamu yang boleh menikmati suasana seindah dan sesejuk ini?" protes Tiara.
"Bawel banget sih. Ambil jaket sana!" suruh Rama galak.
__ADS_1
Tiara berpikir sejenak. Ia pun baru ingat jika belum memasukkan jaket ke koper. Ia pun menepuk jidat sambil mengatai diri sendiri ceroboh.
"Kenapa diam? Cepat ambil!" tegas Rama makin gemas.
"Lupa," jawab Tiara singkat.
"Lupa nggak bawa?" tanya Rama menekankan suara seolah itu hal yang sangat fatal.
"Iya," sahut Tiara dengan wajah polosnya.
"Dasar ceroboh. Ambil selimut kalau begitu," suruh Rama lagi.
"Bedcover kan berat, Abang," sanggah Tiara.
"Ya udah. Masuk!" ucap Rama kesal.
Rama memegang kedua bahu Tiara dan membalikkan badan Tiara ke arah pintu. Kemudian, ia dorong pelan badan Tiara hingga terpaksa Tiara harus berjalan ke pintu. Ia sudah mencoba mengelak namun tenaganya tidak cukup untuk melawan Rama.
"Abang, aku mau di luar dulu," protes Tiara manja.
"Makanya ambil selimut dulu!" bujuk Rama ketus.
"Kenapa nggak kamu pinjamkan jaketmu itu ke aku? Di drama Cina atau Korea yang biasa aku tonton, cowok itu peka dan romantis. Tanpa disuruh, mereka akan meminjamkan jaket ke wanitanya. Kamu kok jahat sih, Abang," papar Tiara.
Cetaakkk
Rama menyelentikkan jari ke jidat Tiara hingga Tiara mengaduh meski tidak benar-benar sakit.
"Makanya, nggak usah kemakan drama. Realis aja. Mereka begitu karena acting. Kamu pikir cuma cewek yang bisa kedinginan, cowok juga kali. Makanya, ambil selimut!" sahut Rama dengan kepala sudah berasap-asap.
"Ya udah. Makanya lepasin jadi aku bisa ambil," kilah Tiara.
Setelah tangan Rama terlepas dari bahu Tiara, Tiara berlari kegirangan kembali ke balkon lagi. Tiara pun tertawa tanpa dosa sambil berlalu dari hadapan Rama. Rama melihatnya begitu murka namun ia hanya dapat menghempaskan napasnya.
Rama pun beralih ke ponselnya yang kembali berdering oleh nomor yang sama dengan belasan panggilan tak terjawab sebelumnya. Ia sangat tahu bahwa itu nomor Selvi. Dengan malas, ia menerima panggilan itu. Ia meraih earbuds di atas meja dan langsung memasangnya di telinga. Lalu, ia masukkan ponsel ke saku celana sambil berjalan menuju Tiara yang sangat ceria karena telah terbebas dari cengkeramannya.
Setelah sampai di belakang Tiara, Rama membuka resleting dan merentangkan jaketnya. Lalu, didekapnya Tiara ke dalam jaket tanpa izin ataupun aba-aba sebelumnya. Tiara pun terperanjat dan berusahan melawan namun Rama malah semakin mengeratkan.
"Abang, kamu lama-lama makin bahaya," ujar Tiara merinding.
Tiara meringis ngeri. Perubahan sikap Rama yang sangat drastis dalam waktu singkat semakin meyakinkan Tiara jika Rama memiliki dua kepribadian. Berdasar novel yang ia baca, orang dengan kepribadian ganda biasanya punya alter yang seperti psikopat sehingga ia sangat takut bukan main.
...****************...
__ADS_1