Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Jebakan Nona Selvi


__ADS_3

Big Bos Rama


Tlg. Gwt!


Bayu pun langsung paham pesan Rama yang meminta tolong. Dengan cepat, Bayu menghapus foto Selvi sebelum Tiara atau Bu Ina melihatnya karena akan memunculkan spekulasi dan akan menyakiti hati mereka tentunya.


"Bang Rama butuh bantuan saya. Saya harus segera ke sana. Mbak Tiara tunggu aja di rumah. Bang Rama dalam bahaya. Mbak Tiara dan Ibu doakan aja dari rumah," ucap Bayu mencoba menenangkan Tiara.


"Kenapa nggak ngajak aku? Aku kan istrinya. Memang, Bang Rama di mana?" bantah Tiara penasaran.


Bayu pun garuk-garuk kepala karena bingung harus menjawab apa. Rasanya tak tega mengatakan keberadaan Rama sekarang. Tiara pasti akan salah paham dibuatnya.


"Jawab, Om. Aku ini istrinya. Aku berhak tahu," sentak Tiara membuat Bayu tak punya pilihan selain mengajaknya pergi bersama.


"Baik, Mbak. Tapi, saya mohon jangan salah paham dulu sebelum mendengar penjelasan Bang Rama. Saya tahu dia orang baik dan setia. Jangan sampai Mbak Tiara berspekulasi sebelum mengetahui cerita sebenarnya," pesan Bayu cemas.


"Memang, separah apa keadaannya?" tanya Tiara melesa.


"Pokoknya, Mbak ingat pesan saya. Ini demi keutuhan rumah tangga kalian," jawab Bayu menggantung.


Namun, Tiara juga tak bisa menyangkal karena akan menjadi debat panjang. Tiara pun menganggukkan kepala dan berpamitan dengan Bu Ina. Bayu dan Tiara berangkat diantar oleh Pak Rahmat agar bisa sampai lebih cepat.


Sepanjang jalan, Tiara mengaitkan dan memainkan jemarinya karena takut ada hal yang tak diinginkan dilihatnya. Rasanya, seakan sedang diambang kematian hingga membuatnya tak bisa duduk dengan tenang. Seringkali ia membenahi posisi duduknya namun ternyata kenyamanan tak juga bertandang. Sesekali, air matanya menjatuh tanpa sengaja menahan beban yang menyesak dalam dada. Pak Rahmat dan Bayu pun tak berani mengajak Tiara berbicara.


"Benar sini, Mas Bayu?" tanya Pak Rahmat tercengang saat Bayu menyuruhnya berbelok masuk ke area hotel.


Tiara tak kalah terpegun mengetahui tempat yang mereka tuju adalah hotel. Dugaan Tiara benar dan membuat dia lemas seketika.


"Sebelum kita menuduh, lebih baik kita pastikan dulu keadaannya. Mbak Tiara tenang. Saya akan melindungi Bang Rama," kata Bayu menenangkan sambil membukakan pintu mobil untuk Tiara.


"Om, aku nggak kuat. Aku nggak mau. Om aja yang masuk, Tiara tunggu sini," sahut Tiara lesa.


"Nggak. Mbak Tiara harus ikut. Mbak harus bantu saya untuk memecahkan masalah ini. Ini jebakan Selvi untuk memisahkan kalian. Tunjukkan bahwa cinta kalian kuat dan kepercayaan kalian tak tergoyahkan," ucap Bayu sok bijak namun kepeduliannya tak ada pura-pura.


Bayu pun menunjukkan pesan singkat yang dikirim oleh Rama untuk meminta tolong karena gawat. Tiara pun terpaksa harus turun karena untuk masuk ke kamar yang dipesan mereka, tentu memerlukan bantuan Tiara sebagai istri sah Rama.


Di meja resepsionis, Bayu memasang wajah garang dan tegas. Diikuti oleh Tiara yang menunduk berusaha menata kembali perasaannya yang hancur berantakan.


"Kak, maaf mau tanya. Kamar atas nama Selvi?" tanya Bayu sopan dan lembut kontras dengan mimik wajahnya.


"Maaf. Untuk identitas pelanggan, kami tidak bisa sembarang memberi tahu kepada Anda. Ini sudah menjadi prosedur yang harus kami patuhi," jawab resepsionis perempuan dengan sopan.


"CCTV hotel di mana? Saya sedang mencari seseorang," selidik Bayu mulai mengintimidasi.


"Maaf. Kami tidak bisa menunjukkan ke sembarang orang," bantah resepsionis.


"Lelaki yang pingsan tadi, apa kalian bantu sampai ke kamar?" tanya Bayu mulai emosi.

__ADS_1


"Itu privasi pelanggan kami," jawab resepsionis mulai gelagapan.


Bayu pun mengeluarkan ponselnya. Ditunjukkan kepada resepsionis.


"Bos saya dalam bahaya. Kalau sampai terjadi apa-apa padanya karena kalian menghalangi saya, jangan harap hotel ini bisa berdiri lama," ancam Bayu.


"Kalau memang Anda datang hanya untuk mengancam, silakan undur diri atau saya panggil satpam untuk mengusir kalian," ancam balik resepsionis.


"Bagaimana kalau kubilang dia adalah CEO Dewantara Group? Kalian masih mau membantah? Sudah dibayar berapa oleh Selvi sampai berani tutup mulut seperti ini?" selidik Bayu gemas.


"Dewantara?" pekik dua resepsionis tertegun.


"Bahkan, kami bisa memproses ke jalur hukum karena kalian bekerja sama untuk menjebak Bos saya di sini. Dengan menjentikkan tangan, Rama Putra Dewantara bisa membuat kalian bangkrut karena dia salah satu pemegang saham terbesar di sini," jawab Bayu meyakinkan.


"Tapi, Pak..." bantah salah satu resepsionis.


Sebelum resepsionis mencari pembelaan, Bayu terlebih dahulu mengeluarkan masing-masing satu juta untuk dua resepsionis itu. Keduanya saling berpandangan dan menerimanya dengan wajah sungkan.


"Berikan kunci duplikat dan antar kami ke ruang CCTV. Kami butuh bukti dan Bos saya benar-benar sedang dalam bahaya. Saya bersama istri CEO Dewantara Group. Kalau kalian masih terus membantah, dia akan menjadi saksi bagaimana kalian akan didepak dari hotel ini," gertak Bayu garang.


Kedua resepsionis pun gemetaran mendengar pernyataan Bayu. Keduanya bahkan mengembalikan uang yang diberikan Bayu dan mau membantunya dengan sukarela. Bayu pun tak sungkan menerimanya kembali karena memang uang itu sengaja dijadikan pancingan agar mereka ketakutan.


Salah satu resepsionis berjaga di meja informasi dan salah satunya lagi mengantar Bayu beserta Tiara ke ruang CCTV yang dijaga ketat oleh security khusus di sana. Mereka pun melihat rekaman dari kedatangan Selvi menggunakan mobil Rama. Kemudian, Selvi berbincang-bincang dengan resepsionis dan memberikan tip untuk resepsionis agar bisa satu kamar dengan Rama. Setelah mendapat kunci, petugas hotel menggotong Rama untuk dibawa ke kamar. Lalu, cctv itu berhenti sampai depan kamar Selvi memberian uang tip kepada dua petugas hotel yang membantu menggotong Rama.


Wajah Tiara tentu memerah membayangkan apa yang mereka lakukan di kamar. Ia bingung Rama sudah menghubungi Bayu namun mengapa tak melakukan perlawanan dan kabur saat itu juga. Hati Tiara pun meradang, tetapi ia ingat perkataan Bayu untuk mendengarkan dahulu cerita Rama sebelum menyimpulkan semua.


"Nggak. Mbak Tiara harus ikut. Mbak harus lihat semua," sahut Bayu tegas.


...****************...


Di kamar hotel, Rama berkeringat menahan hasrat seksualnya yang meninggi namun tak mungkin ia melampiaskannya kepada Selvi. Rama sampai bingung dengan nafsunya yang sulit dikendalikan. Rama pun mulai curiga Selvi memasukkan sesuatu ke dalam minuman atau makanannya. Terlebih, Selvi begitu gila karena ketika Rama pingsan, ia sampai memborgol kedua tangan dan kaki Rama. Bahkan, kedua borgol itu dihubungkan dengan rantai yang ditautkan ke pinggiran dipan. Selain itu, Selvi juga menyumpal mulut Rama dengan kain sehingga semua memang seperti sudah direncanakan sematang itu.


Ketika Selvi menyentuh alat vitalnya yang mengeras, ia pun mengerang menahan diri dan semakin tak terkendali hasratnya seakan ia ingin melampiaskan saat itu juga namun untung saja akal sehatnya masih bekerja. Ia pun harap-harap cemas menunggu Bayu yang tak kunjung datang.


"Wah ternyata obat perangsangku bekerja dengan baik," ucap Selvi dengan tatapan genit dan meraba alat vital Rama.


Rama pun memberontak namun tak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa menggelinjang di tempat karena tenaganya memang terkuras. Efek obat perangsang juga membuatnya pusing dan telinganya mulai berdenging. Rama pun begitu murka ketika dengan berani Selvi membuka kancing kemejanya dan membuka resleting celananya. Ia pun mengumpat dalam sumpalan kain dan bersumpah akan menghancurkan karir Selvi. Namun berbeda dengan Selvi, ia tak takut karirnya hancur jika pada akhirnya Rama akan menjadi miliknya dan mau tak mau harus bertanggung jawab atas kejadian itu.


Saat Selvi telah menunjukkan tubuh moleknya tanpa sehelai pun busana, Rama memejamkan mata dan tak berani menatapnya karena ia takut efek obat perangsang itu membuatnya berhalusinasi membayangkan Selvi adalah Tiara. Rama memberontak dam berteriak sebisanya walaupun yang dilakukan tentu sia-sia.


Di luar kamar, diam-diam, Tiara, Bayu, satpam, dan salah satu resepsionis menyelinap masuk ke kamar menggunakan kunci cadangan. Kamar itu dilengkapi dengan kamar mandi di bagian depan sehingga untuk masuk ke kamar utama, perlu melalui lorong pendek. Tiara berada di barisan paling depan membawa ponsel yang sedang merekam sebagai bukti kebejatan Selvi yang sudah keterlaluan.


Tiara pun memergoki Rama yang sudah terbuka semua kancing kemejanya, kemudian Selvi yang sudah telanjang bulat tanpa busana sedang berusaha menurunkan celana Rama namun begitu kesusahan karena Rama terus memberontak dalam borgolannya. Tiara pun menelan ludah getir, begitu pun orang-orang di belakangnya. Resepsionis wanita itu langsung menutup mata, Bayu dan security menundukkan kepala, dan Tiara tetap menatap Selvi yang belum menyadari kehadiran mereka sambil terus merekam kejadian di depannya.


Tiara pun tak tahan dan memasukkan ponsel ke kamar, kemudian menjambak rambut Selvi dari belakang hingga Selvi hampir terjengkang. Tak cukup itu, salah satu tangan Tiara pun memegang rahang Selvi dan menghadapkan wajah Selvi kepadanya. Ia tatap tajam kedua mata Selvi yang sempurna membola melihat Tiara bersama tiga orang yang menyaksikan kelakuannya. Mata Rama cemas namun sedikit berbinar melihat Tiara datang menjambak rambut Selvi.


"Apa boleh kusebut lacur, Yang Mulia Nona Selvi?" sarkas Tiara dengan suara lembut namun penuh penekanan.

__ADS_1


Senyum sinis tersungging dari bibir Tiara membuat Selvi terintimidasi. Bahkan, ia gelagapan harus menutup tubuh polosnya dengan tangan dan sekenanya. Ia pun melompat dari ranjang dan menyambar selimut hotel yang tergeletak di lantai lalu menggulung tubuhnya dengan selimut itu.


Bayu yang melihat kunci borgol di meja, akhirnya langsung menyambar dan bergerak menolong Rama. Tiara terus mengejar Selvi dan ingin menyerangnya dengan taktik cantiknya.


Setelah Selvi terduduk di sofa dengan tubuh tergulung selimut dan menunduk ketakutan. Tiara semakin merasa menang dan bertepuk tangan penuh kebanggaan bisa membuat Selvi bertekuk lutut.


"Hati itu berharga, Sayang. Bagaimana mungkin bisa Anda rebut dengan cara murahan. Bahkan, kalau boleh kubilang ya. Maaf ya. Em... nggak ada harganya sama sekali. Gratisan dan sukarela. Sampai rela menggunakan obat perangsang demi membuat suami orang mabuk kepayang," sindir Tiara berdiri di depan Selvi yang tak berani menatapnya.


"Nggak mungkin kita sampai sini kalau Rama tak menyetujuinya," bantah Selvi membela diri.


"Wah, hebat. Ternyata, muka tebal juga. Sangat salut dengan keberanian Anda, Suhu," ejek Tiara sambil bertepuk tangan dan tersenyum gemas.


"Ini nggak seperti yang kalian pikirkan," sangkal Selvi sembari membuang muka untuk menahan malu sampai ke urat nadi.


"Lo memang Anda kira kami berpikir apa? Tentang Anda yang mau merudapaksa suami saya? Tentu tidak, Nona. Yang membekas di pikiran kami tentu tentang tubuh Anda yang begitu molek, montok, sexy, mulus, apalagi tanpa busana. Duh sungguh sangat menggairahkan. Saya yang notabennya wanita tulen saja sangat iri dengan keindahan lekuk tubuh Anda. Sungguh, kehormatan luar biasa bisa melihat tubuh polos nan indah dari model terkenal seantero jagad raya. Apalagi menikmati secara cuma-cuma tanpa harus mengeluarkan biaya," tutur Tiara berani dan sangat terang-terangan namun dengan bahasa lembut yang mendayu-dayu membuat Selvi kian malu dan meradang.


"Jaga mulutmu, Bocah!" bentak Selvi mendelik tajam sembari berdiri hendak menampar Tiara.


Plakkkkkkk!!!!!


Sebelum tangan Selvi berhasil mendarat di pipi Tiara, Rama terlebih dahulu datang mencengkeram tangan Selvi dan menamparnya dengan wajah merah padam penuh dendam. Sebenarnya, ia anti menyerang wanita namun Selvi sungguh tak layak lagi dibilang manusia. Mungkin, sebutan setan pun layak disanding olehnya. Rama menyorot tajam Selvi yang merasa tersakiti dan mengusap pipinya. Walaupun tamparan Rama lemah karena efek obat perangsang namun sakitnya bisa sampai ke hati dan pikiran.


"Dasar jal@ng! Berani-beraninya membentak istriku setelah apa yang kamu lakukan padaku. Tak malu dan berkaca?" tegur Rama murka.


Tiara pun mendekat Rama untuk membantunya berdiri tegak. Tiara pun mengusap dada Rama dan membantu memasang kembali kancing kemejanya. Selvi pun menatap mereka dengan sinis dan muak serta berusaha tenang untuk menutupi rasa malunya.


"Udah, Sayang. Nggak usah marah-marah. Buang-buang tenaga. Namanya playing victim, maklum. Orang sudah tertangkap basah aja masih bisa membantah. Memangnya, orang seperti itu masih punya malu? It's okay, Abang. Yang penting Abang udah aman sama Tiara," ucap Tiara lembut nan manja sambil mengusap dada Rama namun tatapannya melirik ke Selvi yang menyipitkan mata geram.


Rama hanya mendengus kesal dan masih pusing menahan hasrat yang semakin tak terkendali. Manalagi, sudah ada Tiara di dekatnya tentu membuat gairah seksual Rama kian meninggi. Rama pun memeluk Tiara dan mengendus-endus lehernya. Tiara tentu terkejut sekaligus kegelian merasakan jenggot, kumis, bahkan napas Rama yang menyentuh kulitnya. Terpaksa, Tiara pun melepaskan pelukan Rama karena tidak enak dengan orang-orang di ruangan itu.


"Sayang, stop! Nggak di sini. Ingat, malu itu sebagian dari iman. Mari kita beribadah di rumah saja. Mari kita meraup pahala dengan jalan yang halal," bujuk Tiara dengan lirikan mengarah kepada Selvi yang sudah menunduk tak bisa lagi berkutik.


"Kuperingatkan untuk terakhir kali! Mulai hari ini, jangan perlihatkan tampang busukmu di depanku. Aku nggak minat dengan tubuhmu meskipun kauberi secara gratis sekali pun. Akan kutunjukkan semua kepada Hans. Akan kuberi pilihan untuk memutus kontrak denganku atau menendangmu dari perusahaannya. Awalnya, aku berusaha tetap profesional namun kali ini tak bisa dimaafkan. Aku sungguh muak melihatmu. Jijik, tahu? Ya itu pokoknya," gertak Rama bengis.


"Udah, Abang. Om Bayu, tolong bantu Abang. Aku nggak kuat memapahnya," lanjut Tiara meminta tolong kepada Bayu.


Bayu segera mendekat dan membantu memapah Rama yang lemas tidak keruan. Berkali-kali, Rama berteriak menahan sakit kepala membuat Bayu pun khawatir.


"Pulang dulu ya, Nona Cantik. Semoga Anda menemukan tempat untuk bisa menyembunyikan muka dan tubuh Anda dari ingatan kami," pamit Tiara masih sarkas.


"Sialan!" umpat Selvi.


"Ups," ucap Tiara sambil pergi dan menutup mulutnya dengan tangan.


Tiara pun mengambil ponsel Rama yang sengaja dimatikan Selvi. Tak lupa, ia juga menyambar kunci mobil yang tergolek di lantai. Sedangkan Selvi masih diam dalam gulungan selimut menahan malu yang luar biasa dahsyatnya.


Selepas kepergian Tiara dan yang lain, Selvi pun menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Ia pun melempar barang-barangnya dari meja. Selvi bahkan sangat frustasi mengingat badan polosnya telah terekspos tak hanya di mata Rama namun mata banyak orang di sana. Rama yang sudah diberi obat perangsang pun tak terangsang sama sekali dengannya. Tak bisa lagi digambarkan rasa malunya hingga Selvi hanya bisa menangis dan meratap miris.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2