
Batin Tiara tersentak mendengar penuturan Rama yang seakan tiada beban. Perasaan tak teganya yang hampir meluluhkan kekesalannya sontak saja dipukul mundur oleh keadaan. Ada perasaan benci atau perasaan apalah itu yang bertahta dalam dirinya, yang jelas sangat tidak nyaman dan malas untuk dijelaskan.
"Itu urusanmu. Hal seprivasi itu bukanlah menjadi urusanku," sahut Tiara membalikkan kata-kata Rama.
Rama pun sangat tidak enak hati karena alih-alih mendapat perhatian, Tiara malah bertambah marah hingga ia semakin merasa bersalah. Kali ini, sepertinya Tiara tak main-main dam harus dirampungkan dari hati ke hati.
"Lihat aku, Ra!" bujuk Rama kepada Tiara yang masih memaku di dekat jendela.
Tiara hanya melirik Rama sekilas dari pantulan kaca. Tatapannya nampak tulus sekali namun Tiara sudah telanjur emosi jadi tidak merasa iba kepadanya. Ia pun tidak menggubris panggilan Rama malah memiringkan badan ke arah jendela, lalu menutup mata untuk menjemput kantuknya dengan paksa.
"Ra, aku tahu kamu belum mengantuk," ujar Rama sambil mengusap Tiara yang memunggunginya.
Dua jam menunggu Tiara bersuara ternyata berakhir sia-sia. Namun, ada sedikit menyusup rasa lega setelah mendengar dengkuran halus Tiara yang menandai lelapnya. Ia pun menjatuhkan diri ke sandaran kursi dan merebahkan diri untuk menunggu kantuknya tiba, lalu menjemput mimpi bersama Tiara.
Rama mendadak teringat cerita Nafisa dan sedikit terusik dengan kisah hidup yang diceritakan singkat olehnya. Pilu benar hatinya mengetahui orang yang pernah menjadi ratu di hatinya, tiba-tiba punya cerita yang teramat menyakitinya. Ia pun membayangkan jika Nafisa bersamanya tentu takkan ada cerita semenyedihkan itu namun mungkin memang jalan yang mereka lalui harus berbeda.
...----------------...
Flashback saat Rama dan Nafisa di kereta selepas kepergian Tiara.
Rama sebenarnya ingin mencegah Tiara namun ia lebih penasaran dengan Nafisa yang sepertinya sedang menahan luka yang sangat dalam. Toh, ia berpikir jika Tiara takkan mungkin marah dan tak peduli dengan sikapnya.
"Siapa wanita itu, Rama? Adik kamu?" tanya Nafisa penasaran penuh keraguan.
"Dia istriku," jawab Rama berat.
"Istri?" tanya Nafisa memastikan namun sorot matanya meredup lebih dulu sebelum Rama menyahutnya.
Rama mengangguk mantap dengan wajah datar, tanpa senyum ataupun taut bahagia. Untuk saat ini, ia lebih penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Nafisa. Orang sesabar Nafisa bisa bercerai tentu tidak mudah jalan yang sudah dilaluinya.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Ada apa? Kenapa bisa sampai cerai?" tanya Rama selidik.
__ADS_1
Nafisa pun duduk di bangku sesuai tiketnya dan Rama menyusul di kursi sampingnya yang masih kosong karena memang sengaja dipesan oleh Nafisa juga. Dia ingin ketenangan sehingga tak mau ada orang di sampingnya.
"Aku diceraikan oleh suamiku," jawab Nafisa menunduk menahan tangis.
"Kamu diceraikan? Bagaimana mungkin? Memang, kamu salah apa?" tanya Rama kaget.
"Aku tidak bisa memberikan keturunan," jawab Nafisa dengan suara mulai bergetar.
"Ha? Kan masih bisa diusahakan. Kalian baru menikah empat tahun. Tak bisakah bersabar barang sebentar?" ujar Rama mengepalkan tangan menahan emosi.
"Tapi, aku memang sudah tidak bisa mempunyai keturunan," sahut Nafisa menekankan suara untuk meyakinkan Rama.
Rama menautkan kedua alisnya. Ia belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Nafisa.
"Rahimku udah diangkat, Rama. Aku tidak bisa hamil lagi," tangis Nafisa akhirnya pecah walaupun lirih namun cukup membuat pedih yang menyelianya.
Rama hanya bisa membisu, tak tahu apa yang mesti dikatakan lagi jika sudah begini ceritanya. Mendengar ceritanya saja sudah sangat membuat dadanya sesak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya dunia Nafisa ketika mengetahui pertama kali dan harus bertahan sampai saat ini.
"Masuk tiga tahun pernikahan, aku terlambat mengetahui gejalanya karena sangat mirip dengan haid yang selama ini aku alami. Tiba-tiba, perutku sudah mulai membesar tidak wajar dan banyak yang mengira aku hamil. Setelah tiga tahun lebih menikah, tentu suamiku, keluarganya, dan keluargaku sudah sangat menantikan jadi aku takut menghadapi kenyataan yang berkebalikan dengan harapan. Setiap aku pendarahan sedikit, kupikir itu wajar karena penyesuaian rahim dan lagi-lagi tak berani periksa. Aku takut jika dokter mengatakan itu tidak hamil dan akan menghancurkan harapan semua. Saat perutku menggembung seperti hamil tujuh bulan, akhirnya aku diperiksakan oleh suami dan keluarganya karena aku tiba-tiba pingsan dan pendarahan," cerita Nafisa pelan dan sangat menyayat hati yang mendengarkan.
"Saat itulah baru ketahuan aku mengidap kista ovarium yang sudah besar. Akhirnya, harus diambil tindakan operasi dan diangkat salah satu indung telurku. Tak berjeda lama, ternyata ditemukan juga kista di indung telur lainnya yang menjalar dengan cepat. Setelah melakukan berbagai rangkaian pemeriksaan seperti cek darah, USG, biopsi, dan laparoskopi, akhirnya diketahui jika kista ovarium sudah menjadi kanker ovarium dan komplikasi dengan endometriosis. Dokter sudah berkali-kali mencoba menanganiku namun tak kunjung membaik juga, jadi daripada kanker sampai menjalar ke tempat lain, akhirnya rahimku terpaksa diangkat, Rama," lanjut Nafisa terisak.
Rama hanya bisa menyimak dengan seksama karena tidak tahu bagaimana harus menyahutnya.
"Sejak saat itu, akhirnya keluarga suami memaksa suami untuk menikah lagi karena aku tidak bisa lagi memberikan keturunan. Suami yang awalnya sabar dan menyayangiku, akhirnya goyah juga saking kecewanya. Ia menyayangkan aku yang terlambat mengetahui tanda-tanda aneh dari diriku dan terlalu menyepelekan sampai akhirnya keadaan jadi separah ini. Karena sudah sangat jenuh dan hilang akal, suami akhirnya menuruti kemauan keluarganya untuk menikah lagi. Akhirnya, aku digugat cerai karena istri baru suami tidak mau dimadu dan mereka mengusirku. Mungkin, lebih baik aku pulang ke rumah orang tua yang bisa menerimaku apa adanya" imbuh Nafisa berusaha memetik hikmah.
"Sungguh, biadab mereka!" umpat Rama yang sampai kehabisa kosakata untuk mengatai suami Nafisa beserta keluarganya.
"Saat ini, aku masih dalam pengobatan. Namun, aku bingung bagaimana membayarnya karena sangat mahal. Uang pensiunan tentu udah diperuntukkan adiknya yang masih kelas tiga SMA dan aku belum bisa kerja karena kondisiku belum stabil," lanjut Nafisa.
"Teruskan pengobatanmu. Aku akan carikan dokter terbaik di Indonesia untuk menanganimu. Untuk biaya, tak usah lagi dikhawatirkan. Semua urusanku. Yang penting kamu sembuh dan berkumpul lagi dengan keluarga dalam suasana bahagia," terang Rama.
__ADS_1
"Tidak usah, Rama. Aku tidak mau merepotkan siapa pun. Lagian, pengobatan ini bisa menghabiskan puluhan bahkam ratusan juta," tolak Nafisa sungkan.
"Uang bisa dicari, tapi nyawa tidak bisa dibeli. Usahakan dulu baru pasrah. Masih ada jalan, jangan menyerah pada keadaan," bujuk Rama meyakinkan Nafisa.
"Tapi, Rama? Kenapa kamu baik banget gini ke aku? Padahal Ayah sudah pernah menolak lamaranmu," tanya Nafisa berangsur tenang.
"Iya itu dulu. Sekarang, kamu itu temanku, sahabatku. Jadi jangan sungkan menerima bantuan cuma-cumaku," jawab Rama.
"Terima kasih, Ram. Aku nggak tau lagi apa yang harus kukatakan lagi padamu dan nggak tau bagaimana membalasnya," ujar Nafisa penuh haru.
"Balas saja dengan semangat dan kesembuhanmu," cetus Rama.
Setelah itu, mereka pun bertukar nomor ponsel dan saling menghubungi. Saat pengumuman kereta segera meluncur, Rama pun pamit dan kembali kepada istrinya.
Flashback berakhir karena Tiara tiba-tiba terbangun dan menatap Rama keheranan.
"Ada apa, Ra?" tanya Rama lembut.
"Abang kenapa tidak tidur? Memikirkan wanita tadi?" tanya Tiara dengan mata yang berkaca-kaca menahan air di kelopaknya agar tak tumpah.
"Iya, aku memikirkannya," jawab Rama sambil menerawang ke langit-langit kereta.
"Abang masih sayang dia?" ucap Tiara penasaran.
"Iya tentu sayang," sahut Rama seperti sedang tidak sadar.
Tiara membisu dengan tunduk. Sepertinya memang perasaannya kepada Rama sudah bertumbuh seiring berjalanannya waktu sehingga sangat menyakitkan ketika tahu suaminya masih menyayangi wanita lain.
"Kenapa tak balikan saja dengannya? Sepertinya juga dia masih sangat mencintai Abang," tawar Tiara dengan tenang untuk membohongi perasaannya yang carut-marut dikoyak keadaan.
Rama menaikkan satu alis dan tersenyum penuh makna kepada Tiara. Binar di wajahnya begitu berseri hingga tak dapat menyembunyikan kebahagiaan yang tengah dirasakannya.
__ADS_1