Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Diare Oh Diare


__ADS_3

"Mau camilan apa?" tanya Rama kepada Tiara yang saat ini duduk di kursi kerjanya.


"Apa aja, Bang. Yang penting ada yang gurih, ada yang manis, dan ada buahnya," jawab Tiara.


"Oke. Bay, belikan camilan yang sesuai ucapan Tiara sekalian pesananku tadi," suruh Rama sambil merapikan berkas di meja kerjanya.


"Baik, Bang. Ditunggu ya," sahut Bayu cepat walaupun sebenarnya ia bingung bukan kepalang takut salah beli dan habislah riwayatnya.


Sikap Rama sudah cukup membuat otaknya bekerja ekstra namun masih bisa dilogika. Nah ini, keanehan Tiara masih menjadi PR besar dan tanda tanya. Bahkan, teka-tekinya sulit terduga dan sangat mengancam posisinya jika dia salah langkah sedikit saja.


Setelah Bayu pergi dari ruangan, Rama menarik Tiara untuk duduk bersama di sofa. Tampangnya mendadak menjadi sangat serius. Tatapannya menusuk ke mata Tiara. Rama menarik sedikit baju Tiara di bagian perut..


"Hei, Om-Om Mesum. Mau apa lagi kamu?" tegur Tiara menarik bajunya kembali penuh waspada.


"Kamu tuh otak mesum. Kepedean banget sih nih bocah. Apa nggak ada baju yang lebih layak untuk dipakai?" tanya Rama tegas.


"Ha? Ini baju baru kok. Baru pernah aku pakai," protes Tiara.


"Bukan masalah baru apa lama. Lihatlah! Bahu dan setengah dadamu terekspos. Tidakkah kamu malu? Semua orang bisa menikmatinya dan para hidung belang bisa bergairah melihatnya. Tidak takut?" gertak Rama menakuti.


"Abang, apaan sih. Ngeri amat. Jangan menakut-nakuti," ucap Tiara mulai gentar.


"Bukan menakut-nakuti. Itu fakta. Lelaki mana yang tak tergoda dengan bahu semulus dan seindah itu. Lelaki normal tentu akan bereaksi sama ketika menatapnya," sahut Rama sambil mengerling nakal di akhir kata karena mulai mendapati ketakutan di mata Tiara.


Pikiran jahill Rama kembali bekerja setelah melihat mata Tiara membola. Pupil mata Tiara membesar mengguratkan ketegangan dan Rama bahagia menatapnya karena begitu menggemaskan. Tiara segera membenarkan posisi jas Rama di badannya agar menutup dada demi menghindari tatapan liar Rama yang sangat mengintimidasinya.


"Kenapa kamu malu di depanku? Padahal kamu tadi percaya diri berjalan di tengah karyawanku. Mereka bebas menikmati setengah telanjangmu, masa aku tidak boleh. Hei, aku ini suamimu. Aku berhak atas tubuhmu," ucap Rama sambil merapatkan duduknya ke arah Tiara.


Tiara pun menahan napas sambil menggeser posisi duduknya hingga mentok di pembatas sofa. Ia tak bisa lagi berkutik terjepit pembatas pinggir kursi dan Rama yang benar-benar merapatkan tubuhnya tak memberi celah Tiara untuk pergi. Darah Tiara berdesir dan dadanya naik turun karena napasnya memberat lebih cepat tak teratur.


"Abang," panggil Tiara dengan suara lirih namun terdengar manja.


Sial. Kenapa suaranya saja sangat renyah seperti ******* di telinga? Bagaimana ini aku jadi gerah sendiri? Padahal niatku hanya mengerjai. Kesah Rama dalam hati.


Entah dorongan apa yang membuat Rama mendekatkan wajahnya kepada Tiara. Bibir mungil Tiara yang berwarna merah muda seperti membimbing Rama untuk **********. Mata Rama dan Tiara saling menembus sangat dalam hingga membobol dinding pertahanan perasaan.


Tenaga Tiara juga tiba-tiba melemah. Badannya mendadak pasrah seolah mengizinkan untuk dijamah. Namun, ketakutan dan ketidaksiapan juga masih bersemayam di pikirannya.


Lima senti, wajah Rama dan Tiara semakin dekat. Empat senti, Tiara memejamkan mata. Tiga senti, Rama mengikutinya. Dua senti, napas mereka tertahan dan bersahutan seakan sedang berkenalan. Satu senti, detak jantung mereka seolah berhenti. Sebelum nol senti dan berlabuh sempurna, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


Rama terlonjak dan Tiara sama kagetnya, sedangkan Bayu mematung masih memegang gagang pintu sangat malu. Rama dan Tiara saling menjauh salah tingkah seperti maling yang habis ketahuan mencuri. Bayu masih menganga mengingat kejadian yang seharusnya tak dilihatnya karena membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.

__ADS_1


Astaga. Pemandangan macam apa tadi. Mengapa menusuk mata sampai ke hati sekali. Rengek batin Bayu.


"Maaf, Bang. Tadi lupa kalau ada Mbak Tiara di sini jadi langsung nyelonong seperti biasa," ucap Bayu penuh rasa bersalah.


"Oke. Lupakan!" sahut Rama sambil menyeka dari sampai kepala.


Rama kembali duduk di kursi kerjanya. Ia mengatur napas dan mencoba menenangkan diri lagi.


"Lain kali kalau mau adegan dewasa, jangan lupa kunci pintu ya, Bang Kasihan mata polosku ini jadi ternodai," cetus Bayu mencoba mencairkan suasana.


Rama mendelik dan menggeram. Bayu hanya tersenyum kecut. Tiara masih terdiam di sofa dengan wajah bersemu merah.


"Sangat merusak suasana," ujar Rama ketus.


"Iya tadi Bang Rama kan yang nyuruh aku buru-buru. Iya aku pikir tidak akan ada kejadian sekotor ini dong," sahut Bayu semakin menjadi-jadi.


"Apa kamu bilang? Kejadian kotor? Mulutmu itu yang kotor, makanya punya pacar jadi mulutnya bisa dikondisikan. Biar nggak cuma buat julid, tapi bisa sering diservis biar kata yang keluar lebih manis," celetuk Rama mengatai Bayu.


"Mulai lagi. Mentang-mentang udah punya istri jadi bisa mengatai jombo sesuka hati," jawab Bayu pasrah dan lebih tenang karena bosnya sudah kembali seperti semula.


"Ngomong-ngomong, mana pesananku tadi?" tanya Rama mengalihkan topik.


Bayu menyerahkan satu bungkusan besar berisi camilan dan satu bungkusan kecil berisi obat. Rama menerima dan senang melihat isi bungkusannya. Bayu memang sangat bisa diandalkan karena semua pesanan lengkap walaupun Tiara tidak menyebutkan kemauannya secara spesifik. Ada camilan manis, asin, dan buah naga.


Tiara mendekat dan menuruti perintah Rama.


Rama mengeluarkan obat dari plastik kecil. Ternyata itu obat diare. Tiara langsung kaget dan membelalakkan mata.


"Abang diare?" tanya Tiara khawatir.


Rama berdiri dan menjitak kepala Tiara pelan-pelan. Tiara mengaduh kesakitan.


"Iya buat kamu lah. Yang diare kan kamu," jawab Rama.


"Tapi... Aku ini..." ucap Tiara bingung harus bagaimana.


"Udah minum ini! Atau aku akan dimarahi oleh Mas-Masmu itu kalau sampai kenapa-napa dan kurus sedikit," suruh Rama tegas.


Tiara semakin tidak menyangka jika kebohongan akan membawanya jauh terjebak dalam permainannya sendiri. Tak terpikirkan olehnya jika Rama dan Bayu akan menanggapi ucapan Tiara seserius ini. Tak mungkin juga ia mengaku berbohong karena pasti akan sangat malu jika mereka tahu ia berlama-lama di kamar karena bingung memilih baju.


Kenapa jadi begini? Bodoh sekali aku ini. Mereka juga. Ada ya manusia sekaku mereka dan langsung percaya alasan basa-basi yang sudah sangat klise. Umpat Tiara dalam hati.

__ADS_1


"Ini. Minumlah yang teratur biar cepet mampet. Kalau kamu diare dan badanmu menjadi kurus, aku yang repot meladeni Masmu yang over protektif itu," desak Rama semakin memaksa.


"Tapi, aku udah nggak diare. Udah nggak sakit perut kok, Bang," bantah Tiara halus.


"Tidak. Pokoknya harus minum. Barangkali nanti kambuh lagi nanti malah menggannggu kerjaku di sini," ucap Rama tak tergoyahkan.


"Ya udah. Pulangkan aku saja ke rumah," bujuk Tiara mengalihkan topik agar Rama melupakan obatnya.


Tuhan, cobaan apa lagi ini.Yang satunya galak dan harus dituruti, yang satunya merepotkan sekali. Keluh Bayu dalam hati.


"Nggak. Aku nggak mau kamu di rumah sendirian," tolak Rama mentah-mentah.


"Kan ada Bi Siti," bantah Tiara.


"Tapi, tidak ada laki-laki yang menjaga. Pak Rahmat kan sedang mengantar Mama pergi," lawan Rama semakin emosi.


"Tapi, malah jadi Bi Siti sekarang di rumah benar-benar sendiri," sanggah Tiara tak mau kalah.


Bayu pusing melihat perdebatan Rama dan Tiara yang sama-sama keras kepala. Kepalanya bergantian menengok Rama dan Tiara seperti kambing congek. Keduanya terlihat jelas saling menaruh perasaan namun masih gengsi dan saling menyembunyikan.


Oh Tuhan. Beginikah pernikahan beda usia. Amit-amit jangan sampai aku nikah sama bocah. Baru menyaksikan mereka saja sudah membuat sakit mata dan telinga. Bayu membatin karena bingung harus bagaimana.


"Udah. Nurut. Minum ini atau..." ancam Rama dengan tatapan nakal.


Tangan menggerakkan telapak tangannya memberi isyarat Bayu untuk pergi. Lebih sederhananya, Bayu diusir dari ruangan itu tanpa sepatah kata dari Rama.


Tiara pun merinding harus berduaan lagi dengan Rama yang kadang bisa menjadi monster mengerikan.


"Jangan, Om. Sini saja," suruh Tiara.


Bayu berhenti dan membalikkan badan dengan kebingungan.


"Pergi! Lanjutkan pekerjaanmu," titah Rama lebih tegas.


Akhirnya, Bayu mendapat angin segar. Iya memang lebih baik berkutat dengan pekerjaan daripada mengikuti drama mereka yang hampir membuat kepalanya terbelah.


"Minum!" seru Rama.


Dengan berat hati dan gemetar, Tiara menerima obat diare yang disodorkan oleh Rama. Setidaknya, karena obat diare ini, Bayu jadi menggagalkan rencana Rama yang hampir membuatnya mati karena harus terus menahan napas saking berdebarnya.


Perut. Terimalah obat ini seperti permen saja ya. Jangan jadi sakit beneran.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2