Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Bukan Mengalah


__ADS_3

"Ayaaaah!" seru Tiara sambil berlari menuju Pak Adi yang sedang berdiri bersama Riza untuk menunggu kepulangannya.


Tiara langsung berhambur memeluk ayah dan kakaknya secara bergantian dengan penuh kerinduan. Mata Pak Adi sampai berkaca-kaca menerima kepulangan pertama putri tercintanya sebagai seorang istri. Rasa kehilangan kembali muncul walaupun segera ditepis oleh keceriaan dan sikap manja Tiara yang masih sama seperti biasa.


"Kangen Ayah" ungkap Tiara sambil bergelayut manja di lengan Pak Adi.


"Hei, Anak Ayah. Kamu nggak malu manja begini? Kamu ini sudah jadi istri. Malulah sama suami," sahut Pak Adi sambil tersenyum geli.


"Tapi kan selamanya aku anah Ayah juga," timpal Tiara tak mau kalah.


"Dasar tukang ngeyel," sahut Pak Adi sambil mengusap rambut putrinya.


Rama yang sedari tadi memerhatikan pun turut merasakan keharuan. Setelah tersadar, ia segera bersalaman dengan Pak Adi dan Riza dengan ramah. Pak Adi pun menepuk pundak Rama dengan pelan menyiratkan rasa terima kasih yang begitu dalam.


"Ayah dan keluarga di rumah sehat semua kan?" tanya Rama membuka percakapan.


"Alhamdulillah sehat, Rama. Bu Ina sehat juga, kan?" umpan balik Pak Adi sopan.


"Syukurlah. Mama sehat kok, Yah," jawab Rama.


Tiara beralih ke Riza yang sedari kedatangannya masih mematung seperti sedang memikirkan banyak hal. Matanya mengarah ke Tiara namun tatapannya kosong tak berjiwa, entah pikirannya sedang mengembara ke mana. Tiba-tiba, lamunannya tersadar karena Tiara meninju lengannya agak kasar namun tidak sakit baginya.


"Mas Rizaaaa! Hayo melamun nanti kesambet baru tau rasa. Masih subuh ini, masa udah galau aja. Patah hati kah?" seru Tiara sambil tertawa renyah.


Riza langsung menjitak kepala adiknya yang sangat jahil.


"Bawel. Ayo pulang. Bunda dan Kakek sudah nungguin kamu," sahut Riza sambil berlalu.


Riza membuka pintu mobil bagian kemudi sambil melirik sekilas namun sarat makna ke arah Rama. Kemudian, masuk begitu saja tanpa sepatah pun kata. Mereka berempat pun pulang dengan perasaan masing-masing, tentunya ada haru serta rindu yang menjadi satu dan selebihnya biar menjadi urusan mereka.


...****************...


Setelah sampai di kediaman keluarga Tiara, Rama segera bebersih untuk mengikuti ajakan Pak Adi dan Pak Tirta pergi ke masjid untuk salat Subuh berjamaah. Sebenarnya, Rama agak ragu dan malu dengan dirinya sendiri karena selama ini terlalu sibuk dengan perkara duniawi sehingga sering meninggalkan salat dengan sengaja dan penyesalan hanya datang sesekali, lalu diulangi lagi.


Selepas pulang dari masjid, ia bercengkerama dengan keluarga barunya tanpa Tiara di sana karena Tiara kelelahan jadi memilih tidur. Ia semakin malu saat keluarga Tiara menanyakan tentang ibadah Tiara, ketaatannya kepada suami, sampai kesehariannya. Manalagi, saat Pak Adi memintanya untuk membujuk Tiara agar mau berkerudung tentu harga dirinya sangat ternodai. Bagaimana mungkin ia menyuruh Tiara berkerudung, sedangkan dirinya saja masih lalai dengan ibadahnya.


Selama ini, ia kadang melihat Tiara salat, meskipun kesiangan atau di akhir waktu namun tetap melaksanakannya. Ia tak pernah mengingatkan atau menyuruh Tiara karena sadar dengan dirinya bagaimana. Pernah Tiara mengajaknya berjamaah namun tak diindahkan karena masih sibuk dengan pekerjaan, selepas itu tidak ada lagi ajakan dari Tiara.


"Alhamdulillah kalau Tiara masih bisa menjaga salatnya. Biasanya dia susah banget. Yang menyuruh sampai mulutnya berbusa baru berangkat wudu. Luar biasa sekali anak itu. Terima kasih ya, Rama. Sudah menjaga Tiara dengan baik," ucap Bu Lia sangat tulus.


"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Bu. Saya hanya melaksanakan semampu saya saja," sahut Rama tersenyum.


"Baguslah. Aku harap, kejadian pembegalan Tiara nggak terulang lagi," cetus Riza dengan raut tak suka.


"Riza, sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Toh, Rama sudah berusaha untuk lebih berhati-hati. Namanya juga musibah, siapa yang tahu akhirnya jadi begitu. Lagian, adekmu juga sudah kapok dan baik-baik saja. Janganlah bicara semacam itu. Tidak baik," sambung Bu Lia memohon.


"Riza hanya mengingatkan, Bun. Riza hanya takut kalau sampai Tiara kenapa-napa lagi. Saran Riza, jangan mudah percaya dengan orang yang baru kita kenal. Di depan, mungkin nampak luar biasa. Entah di belakang kita bagaimana," dalih Riza sinis.


"Riza, aku meminta maaf karena sempat lalai dalam menjaga Tiara. Tapi, semua di luar kuasaku juga. Aku sudah menceritakan kronologinya sejujur dan sedetail mungkin. Aku udah berusaha jemput dia dan semua terjadi di luar rencana. Aku harap kamu mengerti. Aku pun menyayangkan dan sangat menyesalinya," sambut Rama berusaha tetap tenang menghadapi iparnya yang belum mengibarkan bendera perdamaian.


"Baguslah. Kalau sampai Tiara kenapa-napa, pokoknya jangan harap kamu bisa hidup tenang!" ancam Riza sambil berdiri dan kembali ke kamarnya tanpa pamit ataupun permisi.


"Riza, ucapanmu keterlaluan. Minta maaf dengan Rama," suruh Pak Tirta tegas.

__ADS_1


"Sudah. Tidak apa, Kek. Saya paham kok," sahut Rama berusaha menenangkan kakek mertuanya.


Riza tidak menghiraukan ucapan Pak Tirta dan terus berjalan penuh keangkuhan. Ia malas berlama-lama di tengah keluarga karena bosan dengan pembicaraan mereka yang selalu mengagung-agungkan Rama selayaknya dewa saja. Ia masih belum bisa menerima Rama menjadi bagian dari keluarganya karena masih banyak keraguan dalam hatinya. Entah mengapa dia masih sangat kecewa dengan keluarganya yang tega menjodohkan Tiara.


"Hoaamm. Mas, kenapa mukamu ditekuk?" tanya Tiara yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan rambut berantakan dan kantung mata membengkak.


Riza mengabaikan pertanyaan Tiara bahkan tak melirik sedikit pun ke arah adiknya yang mematung menunggu jawaban. Ia terus melewati Tiara dan langsung masuk ke kamarnya yang berada di samping kamar Tiara, kemudian menutup pintunya keras-keras.


Tiara terlonjak kaget mendengar dentuman pintu kamar Riza yang begitu menggema di sekeliling ruangan. Ia pun menggeleng menyaksikan tingkah kakaknya yang masih galak dan pemarah seperti biasanya.


"Duh. Punya mas kok gini amat. Dia pms atau bagaimana sih," gumam Tiara sambil mengelus dadanya yang hampir jebol karena terkejut.


Tiba-tiba, perutnya membunyikan alarm lapar. Ia baru ingat kalau telah melewatkan sarapan. Setelah itu, ia pun mengingat telah melupakan suami yang pulang bersamanya. Di mana dia? Daripada terus bertanya, ia pun berjalan ke lantai satu untuk mencari sesuap nasi sembari memeriksa keberadaan suaminya.


Saat Tiara sampai di ruang makan, ia pun tenang karena mendengar suaminya sedang bercengkerama dengan keluarganya di ruang depan. Setelah amunisi siap disantap, ia pun bergabung ke ruang depan untuk sarapan sekaligus melepas kerinduan.


"Eh Tuan Putri sudah bangun," goda Bu Lia tersenyum sambil menggeser duduknya untuk memberi ruang Tiara untuk duduk di sampingnya.


"Hehe," sahut Tiara cengengesan dan duduk di samping bundanya.


"Astaghfirullaah, Tiara. Sisir rambutmu dan cuci muka dulu sana!" suruh Pak Tirta yang risih melihat tampilan Tiara yang seperti singa.


"Nanti, Kek. Udah lapar nih Tiara. Belum ada tenaga buat sisir dan cuci muka," elak Tiara penuh alasan.


"Sudah Ayah duga jawabanmu pasti akan seperti itu," balas Pak Adi tersenyum lega.


Tiara hanya tersenyum lebar sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia pun menatap Rama yang sedari tadi diam dan lebih banyak menundukkkan kepala.


"Udah kok. Bareng yang lainnya juga," jawa Rama.


Rama pun mengangkat wajahnya dan tersenyum sekenanya. Matanya sangat jujur, melukiskan hatinya yang sedang hancur. Melihat itu, Tiara menelan ludah dan buru-buru menyelesaikan makannya.


Satu per satu, keluarga Tiara berpamitan untuk kembali melanjutkan agenda yang harus dilakukan di hari itu hingga tersisalah Tiara dan Rama yang masih membisu. Tiara meletakkan piring di meja perlahan dan duduk di samping Rama yang masih diam seribu bahasa namun matanya terus berkata-kata entah apa. Ia langsung menduga jika ini ada hubungannya dengan Riza yang masuk kamar penuh kemarahan.


"Ada apa, Bang? Mas Riza ya?" terka Tiara sambil nekat mengusap punggung kekar suaminya.


Rama menggelengkan kepala namun belum berani menatap istrinya. Ia malah menyandarkan diri ke sofa dengan tatapan menerawang entah ke mana.



(Sumber: Pinterest)


"Lalu, kenapa? Kakek, Bunda, atau Ayah menyinggungmu?" duga Tiara lebih dalam.


"Tidak. Mereka memperlakukan aku dengan sangat baik. Ini hanya masalahku dengan diriku sendiri," jawab Rama datar.


"Ya sudah. Kamu belum istirahat dari kita pulang, kan? Istirahatlah di kamar," suruh Tiara lembut.


Rama pun mengangguk.


"Temani aku," tambah Rama sembari menatap istrinya yang diliputi kecemasan.


"Oke. Aku taruh piring kotor ini dulu ya. Abis itu kita ke kamar," sahut Tiara bersemangat.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Rama merebahkan diri di kamar yang didominasi warna warm white dan boneka warna-warni milik istrinya. Ia memejamkan mata barangkali ada kantuk yang tak sengaja menyentuk pelupuknya.


Tiara hanya memandangi suaminya dari sofa minimalis yang ada di sana sambil bermain ponsel dan bantal bulu untuk meredam perasaan tak tenang yang sedang bersemayam. Hatinya bimbang menyaksikan sikap suaminya yang tidak seperti biasanya. Sikap diam yang ditunjukkan malah sangat mengusik ketenangannya.


"Tiara," panggil Rama lirih.


"Hm," jawab Tiara pura-pura malas namun tatapannya sempurna mengarah kepada Rama seolah bertanya ada apa.



(Sumber: Pinterest)


Melihat ekspresi Tiara, kepenatan di kepala Rama pun tiba-tiba reda berganti gemas yang teramat sangat. Kalau saja Tiara sudah takluk, tentu ia akan memakan istrinya saat itu juga. Namun, lagi-lagi, pahitnya kesabaran masih harus ditelan untuk menunggu manis buahnya yang entah kapan bisa dipetik olehnya.


"Sini," suruh Rama melambaikan tangan agar Tiara mendekat kepadanya.


Tanpa menjawab, Tiara pun menuruti dengan satu bantal bulu masih di tangannya. Langkahnya memberat saat berjalan karena banyak pertanyaan yang sengaja ditahan. Ia duduk di tepi kasur dan menatap Rama yang tengah menatapnya sangat dalam.


"Abang, tidurlah. Matamu sudah nampak sangat lelah," bujuk Tiara menghindari tatapan Rama yang membuatnya grogi setengah mati.


"Aku sepertinya butuh satu kecupan agar bisa tidur lebih tenang," celetuk Rama dengan senyum menggoda.


Refleks, Tiara menggaplok wajah Rama dengan bantal bulu yang dipegangnya, sedangkan Rama mengaduh tak sempat menghindari gerakan cepat Tiara yang tak terduga. Tiara sangat bingung bagaimana harus menanggapi ucapan Rama yang membuat jantungnya bak diserbu dari segala penjuru.


"Dasar otak mesum. Om-om genit," seru Tiara malu-malu sambil terus memukuli Rama tanpa ampun.


"Aw. Hei jangan terlalu keras. Nanti terdengar keluar. Malu," sahut Rama mencomot gemas bibir mungil Tiara yang ranum dan berisi.


"Ups!" ucap Tiara menutup mulutnya dengan telapak tangan agar bisa mengusir comotan Rama dari bibirnya dan bantal senjatanya berhasil diamankan Rama.


"Masih berani melawan?" tanya Rama dengan tatapan genit dan duduk mendekati Tiara.


Tiara yang merasa terancam sontak saja berdiri dan beringsut menjauhi Rama namun ia kalah cepat. Dengan kecepatan cahaya, Rama berhasil berdiri dan memeluknya. Lalu, menggendong Tiara secara paksa dan merebahkan dia di kasur dengan hati-hati namun dalam waktu yang cepat sekali.


Tiara tak sempat memberontak karena Rama sangat cekatan dalam permainannya kali ini. Bahkan, Tiara baru menyadari Rama hampir menindihnya saat kedua paha Rama mengunci kedua pahanya. Napas Tiara menderu seperti sedang berlari diburu hantu. Suaranya mendadak hilang ditelan bumi hingga memekik pun tak bisa berbunyi. Tubuhnya bahkan tak dapat bekerja sama karena bereaksi pasrah seakan menerima perlakuan Rama dengan sepenuh hati.


"Aku hanya minta satu kecupan. Selebihnya, nanti biar aku pikirkan," bisik Rama di telinga Tiara.


Tiara menelan saliva dengan susah payah mendengar bisikan Rama yang berhasil meremangkan romanya. Hembusan napas Rama di telinganya seolah membawanya melayang ke awang-awang karena sangat halus namun begitu dekat. Bahkan, bibir dan kumis tipis Rama sampai menyentuh cuping Tiara hingga membuat Tiara semakin tak bisa berkutik lagi.


"Izinkan aku men©iummu dan aku tidak menghendaki penolakan kali ini," paksa Rama semakin menggila karena mendapati Tiara tak memberontak sama sekali.


Tiara semakin tak terkendali saat merasakan napas Rama mencoba menghangatkan penciumannya. Badan kekar Rama sempurna menindihnya tak memberi lagi peluang untuk kabur dari jeratannya. Kedua tangan Rama memegangi wajah Tiara dengan lembut namun cukup membuat Tiara tak lagi bisa menoleh ke kanan kiri.


"I love you, My Little Wife," bisik Rama saat berhasil menyentuh bibir Tiara.


Tiara memejamkan mata menerima sentuhan bibir Rama yang benar-benar memukul mundur keberaniannya. Diam-diam, dia menikmati permainan bibir Rama yang perlahan namun bisa membawanya seperti terbang melayang. Bahkan entah dorongan dari mana, tangannya memeluk leher Rama bak mengizinkan Rama bermain berlama-lama.


Hei, Tiara. Ke mana keberanianmu seperti biasanya? Ke napa harus mengalah kepada hal seenak ini? Enak? Hei, apa kamu bilang? Tapi, harus diakui memang enak sekali. Jadi begini rasanya. Oh mengapa aku malah menikmati? Hei, Tiara. Sadarlah! Jiwa ragamu sedang terancam kali ini. Senandika dalam kepala Tiara tiba-tiba bekerja namun tak lama karena Rama semakin dalam membawanya ke dalam permainan tanpa kata itu.


Rama pun tersenyum simpul sambil memejamkan mata mendapat umpan balik yang sudah lama ditunggunya. Namun, ia tetap menjaga agar kesadarannya tetap utuh karena tak ingin memaksa Tiara untuk memuaskan seluruh hasratnya. Mendapat respon baik saja sudah harus disyukuri dan mengembalikan ketenangannya hingga ia pun dapat tertidur pulas selepas kelelahan bermain bibir dengan Tiara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2