Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Lelaki Normal


__ADS_3

"Rama, Tiara, kalian ngapain di sini?" tanya Nafisa tak kalah kaget memandang Tiara dan Rama bergantian.


"Aku kos di sini," jawab Tiara.


"Aku juga kos di sini. Sebulan aku di sini, perasaan nggak pernah lihat kamu, Ra," tanya Nafisa bingung namun terbesit juga cemburu sekaligus gembira melihat kebersamaan suami istri di hadapannya.


"Aku baru beberapa hari pindah sini kok, Mbak," jawab Tiara sekenanya.


Sebenarnya, hatinya sedikit bergemuruh mengingat Nafisa yang sempat mengejar-ngejar Rama sampai rela menjadi istri kedua. Dalam hati kecil Tiara, ia takut jika Nafisa belum kehilangan cara untuk mendapatkan hati suaminya namun segera ditepis pikiran itu jauh-jauh.


"Kenapa malah kos?" tanya Nafisa penasaran.


"Aku lagi magang di PT Mekar Bogarasa, Mbak," jawab Tiara canggung.


"Loh, aku juga kerja di sana. Sejak kapan kamu di sana? Kok kita nggak pernah ketemu ya?" tanya Nafisa berusaha ramah dan mendekati Tiara.


"Aku udah hampir dua bulan. Sekarang, aku di divisi marketing, Mbak. Bagian manajemen marketing ini," jawab Tiara kurang nyaman dengan Nafisa yang sesekali mencuri pandang terhadap suaminya.


"Ya udah. Aku pulang dulu ya, Sayang. Jaga diri baik-baik dan banyak istirahat. Besok kabari kalau udah mau berangkat ya," sela Rama sambil merangkul bahu Tiara dan menatapnya dengan mesra.


"Iya. Abang hati-hati. Kabari kalau udah sampai," sahut Tiara lebih hangat dan bahagia merasakan kembali sentuhan suaminya.


"Oke. Take care. Love you," ucap Rama sembari mengecup ubun-ubun Tiara sebelum melepaskan rangkulannya.


Nafisa pun meradang melihat pemandangan mesra di depannya karena dua sejoli itu seakan tak menganggap kehadirannya. Berpamitan pun canggung, tetap di sana pun meradang sekaligus bingung. Selepas kepergian Rama, akhirnya Nafisa bisa bernapas lebih lega namun kepalanya masih sedikit panas mengingat tatapan Rama kepada Tiara setulus tatapan yang pernah Rama berikan kepadanya. Penyesalan itu kembali hadir namun ia tak bisa lagi mengapkir.


"Eh, Mbak Nafisa di divisi apa memangnya?" tanya Tiara mencairkan lagi suasana sambil berjalan masuk gerbang bersama Nafisa.


"Aku di manajemen keuangan, Ra. Baru sebulan diterima di sini. Kamu di kos ini dari lama juga?" tanya balik Nafisa.


"Pantas jarang ketemu ya, kita beda lantai juga. Aku kos di sini baru tiga hari, Mbak," jawab Tiara.

__ADS_1


"Kenapa kos? Bukannya rumah juga nggak begitu jauh dari sini?" tanya Nafisa penasaran.


"Aku nggak boleh bawa motor, Mbak. Abang juga lagi sibuk banyak proyek jadi daripada ngerepotin Abang buat antar jemput jadi sementara kos dulu. Lagian, aku masih harus mengerjakan tugas-tugas jadi kalau nggak kos, susah koordinasi dan mengerjakan bersama dengan rekan-rekanku," jawab Tiara sedikit berbohong.


"Perhatian banget ya Rama. Beruntung banget kamu bisa jadi istrinya," decak kagum Nafisa membuat Tiara terdiam masygul.


"Maaf, Tiara. Aku nggak ada maksud apa-apa kok. Jangan berpikir tidak-tidak ya," ralat Nafisa buru-buru karena Tiara terlihat kebingungan.


"Iya nggak apa-apa, Mbak. Emang benar kok. Aku juga merasa beruntung banget punya dia," sahut Tiara.


"Iya udah. Aku sampai. Sini mampir kamarku," tawar Nafisa basa-basi untuk menutupi kegugupannya.


"Mungkin lain waktu ya, Mbak. Mau kemas-kemas buat audit ke Yogya besok. Aku di lantai 2. Kapan-kapan main boleh mbak," tolak Tiara sehalus mungkin.


"Ya udah. Aku masuk dulu ya," pamit Nafisa membuka gembok pintunya.


"Iya, Mbak," pungkas Tiara terus berjalan menuju kamarnya dan mendengus lirih menahan perasaannya agar tak meledak.


"Bagaimana pilihan Papa? Menarik, kan? Sesuai dengan kriteria wanita idamanmu, kan? Bonus imut juga," goda Pak Hadi kepada Arjuna yang sedang sibuk menyiapkan berkas untuk dibawa audit marketing.


"Apaan sih, Pa. Nggak usah aneh-aneh deh. Yang muda begitu, bukannya tipe Papa?" sindir Arjuna tanpa ekspresi dan masih sibuk sendiri.


"Memang, yang muda dan manja itu lebih menarik. Tapi, sayangnya dia bukan tipe Papa. Dia masih kurang dewasa dan terlalu imut. Menurut Papa, dia cocok sekali bersanding dengan anak semata wayang Papa ini," ucap Pak Hadi sumringah.


"Aduh. Papa ini banyak bicara. Mengganggu saja. Aku malas membahas tentang wanita. Aku ini masih muda. Udahlah jangan menjodoh-jodohkan aku dengan siapa pun, Pa. aku bisa memilih dan mencari jodoh sendiri," sahut Arjuna mengepalkan tangan geram.


"Kamu pikir Papa nggak bisa baca perbedaan tatapan matamu kepada Tiara dan orang lain? Papa tahu kamu ada rasa kepadanya dan Papa sangat bersyukur karena ternyata kamu masih normal. Selama ini, kamu nggak pernah terlihat dekat dengan siapa pun sehingga Papa sangat khawatir kalau pacarmu bukan wanita," terang Pak Hadi jujur.


"Maksud Papa, Papa sempat berpikir aku homo? Kelainan seksual?" tanya Arjuna sampai terbelalak.


"Iya bagaimana nggak cemas kalau kamu aja nggak pernah mengenalkan wanita satu pun kepada Papa," jawab Pak Hadi terkekeh.

__ADS_1


"Pa, aku ini baru usia dua puluh tujuh jadi masih banyak waktu mudaku. Aku malas menjalin hubungan dengan wanita karena mereka sangat rumit dan merepotkan," sangkal Arjuna membela diri.


"Dua puluh tujuh itu ideal, Arjuna. Papa udah ngasih kesempatan kamu untuk bisa mengenal dia lebih dekat. Manfaatkan setiap momen sebaik-baiknya. Dekati dia, biar kamu mudah mengambil hatinya," nasihat Pak Hadi.


"Papa nggak usah aneh-aneh. Urusi saja pekerjaan Papa. Aku sedang sibuk ini jangan terus-terusan diajak ngobrol," rengek Arjuna kesal namun membenarkan ucapan papanya.


"Kerjaan Papa udah gampang. Yang bikin berat itu pendamping buat kamu," sahut Pak Hadi remeh.


"Iya Papa nggak usah mikirin. Aku aja belum kepikiran," tegas Arjuna.


"Iya makanya tunjukkan ke Papa kalau kamu punya pacar dan lelaki normal. Kalau nggak Papa pilihkan, kamu nggak ada waktu buat mencari juga pasti. Nggak usah sok mandiri," cetus Pak Hadi.


"Iya udah. Kembalilah ke ruangan atau perusahaan Papa yang lain. Sebentar lagi aku mau berangkat ke Yogya," usir halus Arjuna kepada Pak Hadi


"Oke. Pokoknya jangan lewatkan momen buat lebih mendekati Tiara. Dia itu anak baik, cerdas, dan ramah. Jangan galak-galak kepadanya!" ucap Pak Hadi memperingatkan.


"Ya udah loh. Kenapa harus dipilihkan Papa? Kalau sesuai kriteria Papa, kenapa nggak diembat sekalian aja? Toh dah biasa sama yang muda-muda kan, Pa?" ejek Arjuna ketus.


"Brengsek! Kalau nggak dicarikan, emang kapan kamu gerak? Nunggu bujang lapuk?" umpat Pak Hadi sambil tersenyum geli.


Tok tok tok


Ketukan pintu pun terdengar nyaring membuat perdebatan anak dan ayah itu pun mesti berhenti.


"Masuk!" suruh Rama setengah berteriak.


Datanglah empat orang yang akan mengikuti audit marketing. Pak Hadi pun pamit undur diri dan sebelum pergi sempat melirik ke arah Tiara dengan sorot mata tajam. Tiara pun sangat merinding dan bergidik ngeri.


Kok malah mengkhawatirkan ya bapak tua yang satu ini. Gerutu Tiara dalam hati.


__ADS_1


Visual Arjuna (Sumber: Pinterest)


__ADS_2