
Bukannya menjawab, Tiara malah merasa ganjil dengan sikap dan pertanyaan yang diberikan keluarga Arjuna kepadanya. Mengingat itu pertemuan pertama mereka, menanyakan hal seprivasi itu tentu begitu mengusik batin Tiara. Mendapati ada harapan lain dari ucapan mereka, Tiara pun meneguhkan diri untuk berkata sejujur-jujurnya.
"Emm..." jawab Tiara terpotong oleh ucapan Arjuna yang menyela dengan tegas.
"Maaf, Bu Dhe. Sepertinya kami harus pamit karena pekerjaan kami belum selesai, belum berkemas, dan besok pagi buta juga sudah harus kembali ke Jakarta," sela Arjuna melirik agak sinis.
"Selalu saja seperti itu. Arjuna, kamu itu terlalu sibuk dengan kerja, kerja, dan kerja. Sampai sering melewatkan waktu bersama keluarga. Sampai ndak sempat mencari pasangan hidup juga. Kami carikan aja bagaimana? Kamu ini udah mau dua puluh delapan tahun lo, Le. Jangan sampai jadi bujang lapuk," tukas Bu Lidya gemas.
"Bu Dhe, Arjuna sudah dewasa. Sudah bisa memilih sendiri. Saat ini, mungkin memang belum waktunya aja. Udah ya, Pa, Bu Dhe, Pak Dhe, Bu Lik. Arjuna pamit dulu bersama yang lain," bantah Arjuna berusaha sopan dan tenang.
"Ya udah. Hati-hati kalian di jalan," sahut Pak Hadi mengizinkan.
Setelah berpamitan dan bersalaman dengan keluarga Pak Hadi, Arjuna dan lima rekannya pun pergi dari resto. Arjuna sedikit kesal karena menduga Pak Hadi sudah bercerita banyak kepada keluarganya perihal Tiara, padahap dirinya belum memahami banyak tentangnya. Arjuna tidak suka dicampuri terlalu jauh soal perasaan dan wanita oleh keluarganya karena ia tak ingin canggung sebelum benar-benar jelas hubungan mereka.
Tiara pun bisa bernapas lega setelah merasa dikepung tatapan-tatapan tajam penuh makna dari keluarga Arjuna. Tatapan mereka tentu sangat mengusik kenyamanannya karena mengintimidasi seakan hendak menelanjangi pikirannya.
Sesampainya di hotel, Arjuna menghampiri Tiara yang sedang duduk seorang diri di tepi kolam. Arjuna memerhatikan Tiara yang mengayun-ngayunkan kaki di kolam hingga sebagian betisnya tenggelam. Saat Tiara sedang menunduk memerhatikan kakinya dan bayangan yang terpantul di bawahnya, tiba-tiba saja ia melihat ada sosok lelaki berjalan mendekatinya. Tiara pun merasa waspada dan langsung beralih ke sumber bayangan.
"Tiara," panggil sosok itu yang ternyata adalah Arjuna.
"Oh, Pak Juna. Ada apa, Pak? Ada yang harus saya kerjakan?" tanya Tiara canggung dan langsung menarik kakinya dari kolam.
"Nggak. Enggak. Santai aja, Ra. Kamu kan udah ikut mengerjakan laporan hari ini. Kalian udah bekerja keras hari ini. Jadi, lebih baik kalian istirahat atau menikmati keindahan di sini tanpa dibebani," jawab Arjuna duduk di samping Tiara namun tetap memberi jarak sekitar dua meter. Tiara sebenarnya sangat tidak nyaman dengan kehadiran Arjuna saat dia sedang sendirian.
"Besok, saya antar pulang mau, Ra?" tanya Arjuna penuh harap.
"Nggak usah, Pak Juna. Besok saya dijemput kok," jawab Tiara cepat.
"Oh iya. Kupikir pulang sendiri," sahut Arjuna sedikit kecewa namun tak terlalu dalam karena mengetahui bahwa Tiara belum punya pacar.
"Nggak, Pak. Oh iya, ada yang mau Pak Juna bicarakan lagi tidak?" tanya Tiara sungkan namun sangat tidak nyaman dengan suasana di sana karena mendadak menjadi kaku dan terasa bahaya.
"Tidak. Ada apa? Kamu udah mau istirahat?" tanya balik Arjuna berharap Tiara menjawab belum.
"Iya, Pak. Saya lelah. Kalau saya ke dalam duluan, nggak apa-apa, Pak?" ucap Tiara terpaksa berbohong karena Tiara dapat merasakan tatapan berbeda dari Arjuna kepadanya.
Tiara sebenarnya ingin sekali menceritakan semuanya namun ia tak mungkin memulai dengan tiba-tiba. Tentu takut jika semua hanya prasangkanya saja dan Arjuna tak benar-benar tertarik kepadanya, malah nanti akan menjadi malu yang berkepanjangan. Tiara bertekad akan menceritakan sejujur mungkin apalagi Arjuna menanyakan status atau tentang perasaan, tetapi sampai saat ini juga belum ada tanda walaupun sikap Arjuna terlihat begitu luluh kepadanya.
"Oke. Good night," sahut Arjuna tersenyum tulus walaupun agak terkesan dipaksakan.
"Iya, Pak," balas Tiara sembari berdiri dan berjalan perlahan menjauhi Arjuna yang terdiam sendirian di tepi kolam.
Mata Arjuna meredup kala menatap Tiara yang berjalan menjauh perlahan-lahan. Arjuna pun mencoba tetap tenang dan bersabar meskipun ia ingin lebih berlama-lama duduk dengan Tiara. Arjuna tak ingin terlalu agresif dan terburu-buru dalam mendekati Tiara lantaran ia harus memastikan dulu banyak hal tentang Tiara. Selain itu, ia juga ingin memastikan hatinya yang sekadar kagum atau benar-benar menaruh hati padanya.
...****************...
Sesampainya di tempat parkir stasiun, Rama pun berjalan menuju Tiara yang sedang celingukan di ruang tunggu stasiun mencari keberadaannya. Tiara masih sibuk dengan ponsel karena Rama sengaja tak mengangkat teleponnya agar ada sedikit kejutan untuk istrinya itu. Tiara terlonjak dari kursi ruang tunggu ketika tiba-tiba Rama sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Abang," pekik Tiara tertahan.
Keduanya terdiam beberapa detik dengan mata yang saling menyapa dan berkata lebih banyak dari mulut mereka. Mata mereka merangkup segenap rasa yang tak sanggup diungkapkan. Mata mereka mendamba cengkerama yang hangat setelah sekian lama merasakan dinginnya kerinduan.
"Sehat, Sayang?" tanya Rama menahan diri, meskipun sebenarnya begitu ingin memeluk Tiara.
"Alhamdulillah, Abang," jawab Tiara menunduk.
Tiara pun meraih tangan kanan Rama dan menyalaminya dengan canggung. Tiara masih merasa bersalah atas insiden tempo hari walaupun Rama tak menunjukkan raut kesal atau pelik sama sekali. Saat Tiara hendak melepaskan jabat tangan mereka, Rama malah lebih mengeratkan genggaman dan sedikit menarik tangan Tiara supaya lebih mendekat kepadanya.
"Ikut aku dulu ke kantor, mau? Aku masih ada beberapa urusan, tapi aku ingin tetap bersamamu. Nanti, kamu tidur aja di kamar pribadiku. Yang penting ada kamu di sisiku. Mau ya, Ra?" ucap Rama terlalu jujur.
Tiara pun tak punya alasan untuk menolak meski badannya teramat lelah karena di kantor pun tersedia tempat untuk rehat. Tiara memberanikan diri untuk menatap Rama yang sedari tadi sudah menatapnya penuh damba. Ketika Tiara mengangguk, senyum Rama pun mengembang tak dapat menyembunyikan kebahagiaan.
"Tapi, aku lapar, Bang," sahut Tiara mulai kembali manja.
"Tenang. Semua udah disiapkan. Makan, snack, buah, semua udah aku siapkan," timpal Rama penuh semangat.
"Serius?" tanya Tiara berusaha memecahkan kekakuan dalam dirinya.
"Masa bohong. Makanya, ayo! Jangan terlalu lama. Nanti keburu makanannya kadaluarsa," canda Rama dengan wajah serius.
"Ngawur Abang ini," ucap Tiara sambil mencubit kecil lengan Rama dengan tangan kirinya.
"Aduh. Kok nyubitnya beneran," protes Rama pura-pura kesakitan.
"Jadi balik nggak, Bang? Katanya banyak kerjaan," cetus Tiara membuat Rama teringat pada seabreg pekerjaan yang menantinya.
"Lesu aja terus. Nggak pulang-pulang. Nggak lekas aku manjain," kata Tiara merasa lucu.
"Lho, lho, lho. Kalau kayak gitu, semangat aku," tanggap Rama bersemangat.
"Makanya ayo. Aku udah lapar Abang. Lama-lama, kumakan kamu," ancam Tiara gemas.
"Makan aja ini. Boleh," sahut Rama malah menawarkan diri.
"Abang ih. Ayolah!" ajak Tiara berjalan duluan dan menarik Rama dengan sekuat tenaga karena Rama pura-pura lemas.
"Ya udah. Kita mampir makan dulu di jalan, mau?" tawar Rama merasa kasihan.
"Nggak usah, Abang. Kalau udah disiapkan ya udah kita ke kantor. Nanti mubazir malah. Hiss, Abang. Aku tinggal beneran lama-lama. Berat banget sih," sahut Tiara terus menyeret Rama seperti ibu-ibu menyeret anaknya yang susah dibujuk mandi sore.
Sesampainya di ruang CEO, Rama langsung merangkum bahu Tiara dari belakang dan mendekapnya penuh cinta. Rama pun mencium rambut Tiara yang pasrah di dalam rengkuhannya sehingga keduanya merasakan kenyamanan dan enggan saling melepaskan.
"Kangen, Sayang," ungkap Rama sambil mengecup ubun-ubun istrinya.
"Iya, Abang," sahut Tiara malu-malu sambil memutar badan, kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Rama.
__ADS_1
"Capek ya?" tanya Rama lembut membelai rambut istrinya.
"Iya, Abang. Tapi, udah agak mendingan karena ada Abang," jawab Tiara sambil mendongak dan mengunci tatapan suaminya.
"Udah jago ngegombal ini. Siapa yang mengajari?" ucap Rama gemas dan mencolek hidung Tiara.
"Diajari Abang lah," timpal Tiara manja membuat Rama kelimpungan menahan gemasnya agar tak menghabisi Tiara saat itu juga.
"Hissssss" desis Rama sambil menatap istrinya lebih dalam.
Saat Rama hampir melahap istrinya, terdengarlah suara keroncongan dari cacing-cacing di perutnya. Terpaksa, Rama pun melepaskan dekapannya agar Tiara bisa segera menuntaskan lapar dahaganya. Tiba-tiba, Tiara berjongkok sambil meremas perutnya. Dalam sekejap, wajahnya memerah seperti sedang menahan kesakitan yang teramat sangat. Rama pun langsung panik dan menggendong Tiara, lalu merebahkannya di sofa.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rama duduk diliputi kecemasan luar biasa.
"Hehe," Tiara malah cengengesan walaupun masih terlihat kesakitan.
"Ditanyain malah haha hehe," protes Rama menjitak jidat istrinya.
"Biasa. Periode," jawab Tiara santai.
"Oh. Kupikir kenapa. Gagal lagi nih bercocok tanamnya," celetuk Rama membuat Tiara mendelik tajam.
"Kenapa sih nggak taubat-taubat om-om mesum yang satu ini," timpal Tiara menggelengkan kepala.
"Iya kenapa? Kan, halal?" ujar Rama dengan mata berkedip nakal.
Deg. Dada Tiara seakan terhantam benda tumpul. Hatinya menjadi berdebar-debar namun entah perasaan macam apa yang sedang bersemayam dalam dirinya. Sontak saja, suasana berubah menjadi tegang karena Tiara mendadak terdiam.
"Ada yang salah, Ra?" tanya Rama gamam.
"Enggak, Bang. Abang mau langsung kerja?" tanya balik Tiara ragu.
"Tergantung. Ada apa?" ucapnya enteng namun berharap Tiara tak marah kepadanya.
"Minta tolong usapin perut aku sebentar aja. Tangan Abang kan hangat jadi mungkin bisa sedikit meredakan dismenore-ku," pinta Tiara menunduk malu.
"Dengan senang hati, Nyonya Rama. Kupikir minta tolong apa," sahut Rama kembali menggebu-gebu.
Tiara pun membimbing tangan Rama menelusup masuk ke dalam bajunya. Kemudian, menempelkan telapak tangan Rama ke bagian perut bawah yang sakit. Setelah merasa pas, Tiara pun membiarkan tangan Rama mengusap sendiri tanpa mengawasannya. Keduanya panas dingin menahan pikiran beserta perasaan masing-masing.
"Udah mendingan, Sayang?" tanya Rama lembut.
"Udah, Abang. Terima kasih," jawab Tiara sumringah dan melepaskan tangan Rama dari perutnya.
Tiara pun duduk dan Rama masih berlutut di depannya.
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rama merasa sikap Tiara seperti sedang memendam sesuatu.
__ADS_1
"Abang, kalau Tiara belum bisa mencintai Abang. Apakah perasaan Abang ke Tiara masih sama? Nggak akan berkurang juga?" tanya Tiara ragu-ragu.
Rama nampak lesa dan menyorot lembut tepat di pupil mata Tiara. Kedua alisnya saling bertaut dengan bibir masih terkatup.