Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Sedikit Mereda


__ADS_3

"Pak Hadi Tjokro Kusumo?" sebut sepasang suami istri terperangah.


Mendadak, waktu di lobi seolah berhenti. Tak ada ucapan. Tak ada pergerakan. Semua orang seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Teka-teki kehamilan Selvi menjadi semakin rumit dan sulit dipahami. Tiara yang sedari tadi terdiam di samping Tika pun semakin penasaran mengikuti alur cerita yang sempat mengusik rumah tangganya.


"Apa maksud semua ini, Pak? Mana mungkin saya menikahkan anak saya dengan Anda. Kalaupun putra Anda tidak mau bertanggung jawab, saya tidak akan meminta Anda untuk menanggungnya. Lebih baik ajari saja putra Anda untuk menjadi lebih jantan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," cetus Pak Bima tegas.


"Sikap yang dia ambil sudah benar. Dia tidak harus bertanggung jawab atas pengakuan orang yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Saya yang akan bertanggung jawab. Ini murni kesalahan saya. Tolong, jangan bawa-bawa Arjuna dalam hal ini," sahut Pak Hadi serius.


"Tidak bisa begitu, Pak. Setiap orang tua pasti membela anaknya, tetapi mana mungkin saya menikahkan putri saya dengan Pak Hadi. Selain dari usia, sepertinya juga tidak pantas seorang ayah memoertanggungjawabkan perbuatan anaknya dalam hal pernikahan," bantah Pak Bima.


"Sudah saya bilang. Saya bersumpah bahwa Arjuna tidak ada kaitannya dengan hal ini. Ini murni perbuatan dan kesalahan saya. Saya berani tes DNA dengan janin Selvi. Jika Anda berkenan, saya akan menikahi putri Anda. Jika memang tidak berkenan, saya akan menanggung biaya hidup Selvi dan janin yang dikandungnya," tegas Pak Hadi dengan suara lantang namun tetap tenang.


"Kalau membela anak, tidak harus dengan cara seperti ini juga, Pak. Ini namanya keterlaluan. kalau Arjuna memang tak mau mengakui kesalahaannya. Kami juga akan menerima. Kami sanggung membiayai mereka namun jangan hancurkan harga diri anak saya dengan mengaku bahwa Anda merupakan ayah dari janinnya," sangkal Pak Bima tak percaya.


"Akan saya jelaskan, tetapi tidak di sini. Jangan sampai masalah pribadi kita menjadi konsumsi publik. Mari musyawarahkan dengan baik-baik. Kalau kita bicara pelan-pelan, Selvi juga lama-lama akan luluh dan berangsur tenang. Arjuna tidak bersalah. Ia mengenal Selvi sebatas model di agency saya dan tak pernah berinteraksi dengannya," bela Pak Hadi membuat orang tua Selvi kicep.


"Ini tidak mungkin, Pa. Putri kita..." tangis Bu Rita akhirnya pecah di lengan suaminya.


"Saya masih belum percaya sepenuhnya," sahut Pak Bima.


"Malam ini, saya akan datang ke rumah untuk menggamblangkan semuanya," ucap Pak Hadi sopan.


"Semakin tidak masuk akal. Mentang-mentang, orang kaya. Bisa seenaknya mempermainkan dan membeli harga diri wanita. Bapak sama anak sama-sama doyan wanita. Bagaimana anak nggak menjadi bajingan kalau orang tuanya membela berlebihan," tampik Pak Bima menggelengkan kepala.


"Mohon maaf, Pak Bima yang terhormat. Karena Anda semakin kelewatan dan membuka sendiri aib putri tercinta kalian, saya tegaskan bahwa saya tidak minat sama sekali dengan wanita yang telah menghancurkan rumah tangga orang tua saya. Apakah kurang jelas? Apakah harus saya pertegas lagi bagaimana skandal antara putri Bapak dengan papa saya di sini?" tantang Arjuna yang tersulut emosi namun masih berusaha menjaga sikap.


"Pa, ayo lebih baik kita pulang saja. Kita turuti saja ucapan Pak Hadi. Jangan bicara lebih lagi atau kita akan semakin mempermalukan Selvi. Ayo, pulang, Pa," ajak Bu Rita sesenggukan dan tak tahan lagi dengan pernyataan-pernyataan yang menebas habis benteng pertahanannya.


"Kalau sampai terbukti ini hanya akal-akalan Pak Hadi untuk menutupi kesalahan Arjuna, saya tidak akan membiarkan Arjuna hidup tenang di masa depan," ancam Pak Bima mendelik tajam kepada Arjuna dan Pak Hadi bergantian.


Arjuna membalas tatapan Pak Bima tanpa takut sama sekali dan semakin membusungkan dada. Pak Hadi yang terlihat canggung dan merasa bersalah.


"Cukup, Pa. Jangan katakan yang tidak-tidak. Mari kita pulang. Tenangkan Selvi," bujuk Bu Rita yang sudah tak tahu lagi bagaimana menyikapi keadaannya.


Apakah Pak Hadi ada hubungannya dengan huru-hara yang Selvi buat selama ini? Mana mungkin kebetulan berkali-kali, jadwal auditku bisa sama dengan jadwal survei mereka. Kemudian, saat aku sedang bertengkar dengan Abang, ada yang mengirim foto aku dengan Pak Juna. Kalau tak ada orang dalam, mana mungkin bisa kebetulan seperti ini. Tentang perasaan Pak Juna, apakah itu hanya sandiwara untuk mengalihkan perhatianku dari Abang? Aduh kenapa otakku harus berpikir sekeras ini, Tuhan. Tiara kesal sendiri karena terlalu banyak berspekulasi dalam hati.

__ADS_1


Selepas kepulangan orang tua Selvi yang sangat terburu-buru dan menahan malu, Pak Hadi dan Arjuna masih diam di tempat tanpa ada percakapan walaupun tatapan mereka saling berbincang. Aktivitas di lobi dan sekitarnya kembali normal, hanya Tiara yang masih berdiri mematung karena ingin memperjelas prasangkanya agar tidak menjadi buruk sangka.


Tiara pun berjalan mendekati Pak Hadi yang menunduk dengan wajah sendu. Melihat kaki Tiara berpijak tak jauh dari hadapannya, Pak Hadi mengangkat kepala dan menatap Tiara dengan rasa bersalah yang kembali membuncah.


"Pak, maaf jika saya lancang ingin menanyakan sesuatu di saat segenting ini. Namun, saya tidak bisa lebih lama lagi memendam dan ingin segera mengetahui kebenaran dari prasangka saya," tutur Tiara dengan sopan.


"Baik. Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Pak Hadi lesu.


"Apakah Pak Hadi tahu tentang drama yang dibuat Selvi kepada Bang Rama dan saya?" ucap Tiara penuh harap.


Arjuna yang sedari tadi terdiam pun, akhirnya menatap Pak Hadi dan Tiara bergantian. Wajah terkejutnya begitu kentara mendengar nama Selvi dan Rama disebut dalam percakapan mereka.


"Jadi, selama ini, Papa tahu kalau Tiara sudah menikah?" sela Arjuna dengan suara meninggi.


Pak Hadi pun mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Tiara dan Arjuna. Wajahnya semakin lesu dan lemas penuh rahasia yang seakan ingin ditumpah-ruahkan.


"Ayo, kalian ikut ke ruangan saya. Biar saya jelaskan semuanya. Saya harap, kalian bisa memaafkan saya setelah ini," ajak Pak Hadi penuh kerendahan hati.


Tiara dan Arjuna pun mengangguk menyetujui ajakan Pak Hadi. Tiara dan Arjuna mengekor Pak Hadi yang berjalan menuju lift untuk membicarakan semua di ruangan CEO.


...****************...


"Kenapa kemarin Papa support penuh aku dengan Tiara? Padahal, Papa tahu dia sudah bersuami. Apakah Papa bangga punya anak yang hampir menghancurkan rumah tangga orang? Apakah ini bagian drama wanita busuk itu juga?" tanya Arjuna membuka kata.


"Papa minta maaf, Arjuna. Akan Papa jelaskan semuanya. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Saat itu, Selvi datang dan mengaku sebagai teman baik Tiara. Dia bilang Tiara butuh pertolongan karena ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan Rama dan mereka tidak hidup bahagia. Di sisi lain, sebelum menikah dengan Tiara, Rama adalah pacar Selvi dan putus karena perjodohan itu. Pada saat itu, Papa juga sedang khawatir soal Arjuna yang hatinya sama sekali belum luluh dengan wanita. Mengetahui Tiara wanita baik namun disia-siakan suaminya sehingga Selvi menawari untuk bekerja sama. Kalau Papa bisa membantu Selvi mendapatkan lagi Rama, maka Tiara bisa didekatkan dengan Arjuna. Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu Arjuna, tetapi ternyata cara Papa salah. Dan, tak mungkin juga Papa ceritakan semua alasan di balik itu karena itu hanya menyangkut aku dan Selvi," terang Pak Hadi dengan mata sendu menatap putranya.


"Tetapi, bagaimana mungkin Papa berpikir mendekatkanku dengan istri orang? Kalau Selvi bisa mendekati suami orang, bukan berarti lazim juga untukku dekat dengan istri orang. Mau saja Papa dimanfaatkan bocah ingusan seperti dia. Ternyata terlalu cinta dan terlalu buta itu sulit dibedakan. Setelah merebut Papa dari Mama, dia mau merebut Rama dari Tiara dan Papa malah mendukungnya. Bagaimana mungkin Papa punya pemikiran gila semacam itu? Lalu, bagaimana ceritanya Papa sampai bisa menghamilinya? Aku semakin tak mengenal Papa yang sekarang. Nggak paham lagi dengan jalan pikiran Papa," decak kesal Arjuna yang sampai tak tahu bagaimana harus menunjukkan ekspresi.


"Papa minta maaf. Papa khilaf. Awalnya, Papa tidak setuju namun karena alasan yang sangat privat, akkhirnya Papa menurutinya," sesal Pak Hadi menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Khilaf itu sekali, Pa," bantah Arjuna semakin emosi.


"Mohon maaf, Pak Hadi. Soal foto-foto Bang Rama dan dia juga masuk dalam skenario yang kalian buat untuk menghancurkan rumah tangga kami?" tanya Tiara to the point namun tetap sopan.


"Betul," jawab Pak Hadi membenarkan dengan wajah menunduk malu penuh sesal.

__ADS_1


"Orang suruhan Bapak juga yang mengirim foto ke Bang Rama waktu aku dan rombongan Pak Juna pergi ke Yogja?" tanya Tiara.


Pak Hadi hanya mengangguk karena tak sanggup lagi berkata-kata.


"Foto? Waktu ke Yogya?" sela Arjuna kebingungan dengan arah pembicaraan mereka.


"Yang merencanakan acara di Bogor dengan waktu bersamaan juga kalian?" tanya lagi Tiara karena semakin penasaran.


"Iya. Kami menyesuaikan jadwal kalian," jawab Pak Hadi menatap Tiara penuh permohonan maaf.


"Untuk kejadian di hotel, Selvi hampir memerkosa suami saya. Itu juga rencana kalian?" selidik Tiara tetap menekan sabar walaupun jengkelnya luar biasa.


Arjuna semakin terperangah mendengarkan tingkah polah Selvi yang benar-benar di luar nalar. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari menyimak percakapan yang sebemarnya ia belum tahu persis bagaimana keadaannya.


"Kenapa Bapak setega itu mau memisahkan saya dan suami saya? Kenapa Bapak tega juga menjadikan anak Bapak tumbal untuk mewujudkan obsesi wanita kesayangan Anda? Apakah Anda tidak sakit hati melihat wanita kesayangan Anda berjuang untuk lelaki lain?" cerocos Tiara tak habis pikir dengan pemikiran Pak Hadi.


"Entah apa yang membuat saya bisa melakukannya. Mungkin saya kasihan kamu tersiksa dengan pernikahanmu karena semua juga kan masih dirahasiakan. Mungkin juga, saya terlalu khawatir perihal jodoh Arjuna. Mungkin juga, saya terlalu buta mencintai Selvi hingga rela membantunya untuk mendapatkan lelaki lain. Dia pintar mengambil hati saya jadi saya mudah luluh dengannya. Tetapi, semuanya murni karena kesalahan dan kebodohan saya. Selvi hanya terlalu terobsesi dengan Rama. Saya mohon maaf sebesar-besarnya dengan kamu dan Rama. Kapan Rama ada waktu, mari kita minum teh bersama untuk memperbaiki semua," sahut Pak Hadi dengan wajah teramat sendu hingqa menyentuh hati Tiara.


"Baik, Pak. Nanti saya akan coba bicarakan dengan Abang. Untuk kehamilan Selvi, apakah Pak Hadi sudah tahu sejak awal?" balas Tiara dengan kerendahan hati.


"Sudah. Dari awal, saya mau bertanggung jawab namun dia yang menolak dan tetap ingin menikah dengan Rama. Saya dapat memahami penolakannya karena memang kami lebih patut menjadi ayah dan anak daripada suami istri," ucap Pak Hadi sangat sangat diri.


"Kalau memang tidak mau dinikahi, kenapa dia mau dihamili? Apa sebutannya kalau bukan lacur, Pa?" sentak Arjuna penuh amarah.


Pak Hadi sampai tak bisa berkata-kata saking malu dan menyesalnya. Ia hanya menyeka keringat dingin yang sudah membasahi dahinya karena terlampau gugup membuka semua rahasia.


"Pak, saya harap Bapak tidak usah lagi membantu wanita itu untuk mendapatkan suami saya. Meskipun kami menikah karena perjodohan namun kami sudah bisa menerima dan menyayangi satu sama lain. Rumah tangga kami sempat retak ya karena masalah-masalah yang dibuat Selvi. Bahkan, belum lama ini, Selvi hampir bunuh diri meminta dinikahi oleh suami saya. Dia sudah sangat membahayakan. Selebihnya, saya dan suami hidup normal bahagia," tutur lembut Tiara memohon.


Hati Arjuna tentu begitu teriris mendengar pernyataan Tiara yang terdengar begitu tulus menyayangi suaminya. Bukan ia tak suka Tiara hidup bahagia namun tetap masih ada rasa cemburu yang bersemayam di hatinya selepas penolakan Tiara terhadap ungkapan cintanya. Bagaimanapun, ia memang sudah menyimpan rasa untuk Tiara walau belum sepenuhnya yakin bahwa itu rasa cinta atau kagum semata. Dalam kepedihan batinnya, ia terus mencoba menguatkan diri dan merelakan takdir yang memang belum mengizinkan ia untuk melabuhkan hati.


"Baik, Tiara. Sekali lagi, saya minta maaf. Saya benar-benar menyesal atas segala tindakan saya yang mendukung niat buruk Selvi. Saya akan mencoba memperbaiki semuanya sebisa saya," sahut Pak Hadi tegas namun dengan suara lembut dan dipelankan, "Arjuna, maafkan Papa juga yaa. Maafkan atas tindakan gegabah Papa sehingga kamu harus menelan lagi pahitnya kecewa. Semoga kamu akan segera bertemu dengan wanita baik dan yang terbaik. Jangan terlalu menutup diri karena tidak semua wanita seburuk prasangkamu."


"Iya, Pa. Semoga semua cepat selesai bagaimanapun akhirnya," balas Arjuna sedikit mengendur dan emosinya mereda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2