Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Mak Comblang


__ADS_3

"Sayang, jangan ngambek dong. Aku kan cuma bercanda," bujuk Rama berlutut di samping Tiara yang duduk merajuk di ruang makan.


"Nggak apa-apa," jawab singkat Tiara meresahkan.


"Jawaban nggak apa-apamu ini yang bahaya. Ayo kita makan aja. Biar masih anget-anget kan enak," bujuk Rama lembut.


"Berarti kalau udah adem itu nggak enak dong?" tanya Tiara berhasil membuat Rama kelimpungan.


Ya Rabb, salah ngomong lagi. Sesal batin Rama semakin kacau bercampur risau.


"Bukan gitu, Sayang. Makananmu enak kok," jawab Rama menggenggam erat tangan Tiara.


"Alah bohong. Dicoba aja belum, masa udah bilang enak. Sebel aku sama Abang lah," rajuk Tiara semakin menjadi-jadi.


Oh Tuhan, kenapa lidah ini keseleo mulu? Pikiran sama bibirku jadi nggak sinkron begini. Bikin alasan kok nggak ngotak begitu sih. Duh. Gumam Rama dalam hati.


"Iya udah lebih baik kita coba dulu makanannya. Yuk!" ajak Rama berusaha tetap lembut menghadapi istrinya yang masih merajuk.


Tiara masih memanyunkan bibir sampai mungkin bisa dikuncir. Wajahnya benar-benar kesal walaupun hanya diam. Mungkin, efek hormon karena sedang mestruasi jadi emosinya bisa meledak-ledak.


Rama pun berdiri dan mulai memakan nasi goreng Tiara. Rama agak cemas saat hendak menyuapkan nasi goreng Tiara. Pasalnya, kalau tidak enak tentu ia tak tahu bagaimana cara menjawabnya. Bilang jujur pasti akan membuat hati Tiara hancur sekaligus menabuh genderang perang. Kalau bohong pun makin salah karena Tiara pasti merasakan juga.


Suapan pertama, Rama membelalakkan mata dan Tiara langsung menatap suaminya penuh harap. Rama mengunyah-ngunyah dengan muka serius membuat Tiara semakin penasaran, tetapi enggan menanyakan.


"Enak, Ra. Cobain deh. Serius aku," ucap Rama jujur dan meyakinkan.


Seulas senyum hampir lolos dari bibir Tiara namun segera ditahan karena gengsi masih mengalahkan rasa bahagianya. Dalam hati, ia sedikit ragu karena bisa saja Rama berbohong untuk menghibur dan menghargai usahanya.


"Ini serius kamu yang masak?" tanya Rama sambil menyuap nasi goreng dengan lahap.


"Bukan. Bi Siti yang masak," jawab Tiara ketus dan memalingkan wajah.


"Katanya tadi kamu," ujar Rama kebingungan bagaimana menghadapi istrinya yang telanjur sensitif itu. Kalau sudah begini tentu alamat bakal awet ngambek seharian.


"Terserah!" sahut Tiara mengeluarkan jurus pamungkas wanita yang sempurna membuat Rama menelan ludah getir lantaran buntu tak dapat memikirkan tindakan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan.


"Sayang, aku jujur. Demi Allah masakanmu enak. Aku tanya begitu karena aku takjub. Kamu kan baru masak pertama kali. Kalau orang baru masak pertama kali, biasanya ada kurang ini itu atau kelebihan ini itu. Tapi, ini beneran udah pas semuanya, Sayang," bujuk Rama hampir menyerah namun tak punya pilihan selain bertahan.


"Masa?" tanya Tiara dengan wajah sinis namun ia pun mencicipi sendiri nasi gorengnya.


Setelah dirasa, memang benar yang dikatakan Rama namun ia tetap merasa ragu dengan dirinya sendiri. Baru Tiara makan dua suap, piring Rama sudah bersih bahkan tak ada sisa nasi sedikit pun.


"Masih ada nasi gorengnya lagi nggak, Sayang?" tanya Rama antusias.


"Nggak ada. Tadi pas aja buat bertiga sama Bi Siti. Kenapa?" tanya balik Tiara sambil menyuapkan nasi ketiganya.


"Yah. Padahal pengen nambah," keluh Rama.


"Mau ini?" tanya Tiara menyodorkan piringnya.


"Ini kan punyamu. Kamu makan aja. Kalau emang udah abis ya kapan-kapan bikin lagi aja ya," jawab Rama sumringah walaupun Tiara masih menunjukkan wajah kecut namun sikapnya perlahan luluh.


"Aku lagi nggak nafsu makan. Daripada nggak habis malah mubazir. Tapi, ini sisaanku," sahut Tiara menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah karena bahagia.


"Yakin buat aku?" tanya Rama memastikan.

__ADS_1


Tiara mengangguk sambil menatap Rama dan senyumnya kembali merekah. Rama pun dapat menghembuskan napas penuh kelegaan. Kebimbangan juga hempas sepenuhnya mengudara dan hilang entak ke mana. Dengan segera, Rama pun menerima piring nasi goreng Tiara dan memakannya penuh minat. Tiara pun terharus menyaksikan betapa Rama benar-benar menikmati makanannya walaupun hanya nasi goreng biasa.


"Ini minumnya, Abang," ucap Tiara menyodorkan segelas air putih setelah Rama berhasil menandaskan piring kedua.


Tatapan Tiara masih lekat kepada Rama dan tak beralih sedetik pun. Diam-diam, ia bahagia dan semakin jatuh cinta kepada suaminya.


"Kenapa menatap Abangmu seperti itu? Abangmu ganteng ya?" tanya Rama setelah menghabiskan setengah gelas air putih.


"Pedenya," jawab Tiara singkat namun dengan nada lebih lembut, tak lupa diiringi senyum manis khasnya.


Rama pun mengelus perutnya yang sudah membuncit seperti hamil lima bulan. Setelah beberapa minggu kehilangan nafsu makan, inilah kali pertama nafsu makannya naik drastis. Entah karena masakan Tiara enak atau memang kehadiran Tiara yang membuat suasana hatinya membaik seketika.


Tiara tiba-tiba sedikit sendu melihat wajah Rama yang sedikit tidur dan mata kuyu. Hal itu menggambarkan betul hari-hari berat yang telah dilaluinya selama mereka terpisah sementara.


"Abang," panggil Tiara dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Apa, Sayang?" balas Rama dengan suara manja.


"Sini!" suruh Tiara sambil melambai-lambaikan tangannya agar Rama mendekatinya.


Rama pun menurut dan beranjak dari tempat duduknya. Setelah Rama berdiri di samping Tiara, Tiara memutar posisi badan sambil berdiri menghadap Rama. Seperti biasa, ia tentu harus mendongakkan kepala untuk bisa menatap suaminya. Melihat Tiara menatapnya penuh cinta, Rama pun meraih lengan Tiara dan memeluknya.


"Kamu happy?" tanya Rama sambil menciumi rambut istrinya.


"Happy, Abang. Kalau Abang?" tanya balik Tiara menghidu aroma tubuh suaminya.


"Tentu really happy. Terima kasih udah pulang, Sayang," jawab Rama tulus.


"Terima kasih juga Abang udah sabar menunggu," sahut Tiara sembari melingkarkan tangan di pinggang Rama.


"Insyaallah enggak, Bang. Maafkan Tiara juga yang udah meninggalkan Abang dan Mama begitu lama," ucap Tiara tak kalah menyesal.


"Tidak apa. Yang penting kita udah kembali bersama. Badai biarlah berlalu. Waktunya kita belajar menata hari ini lebih baik dari kemarin. Semoga seterusnya kita bisa lebih saling memahami dan terus bisa saling memaafkan," sahut Rama melonggarkan pelukannya agar bisa leluasa mengecup kening istrinya.


"Iya, Bang. Abang terlihat lebih kurus. Apa karena Tiara?" tanya Tiara sambil melepas pelukannya dan meraba kedua pipi Rama dengan lembut.


"Bukan karena kamu. Selama kamu pergi, aku memang jarang makan dan menyibukkan diri dengan kerja agar tak terlalu tersiksa mengharapkan kepulanganmu. Jujur, aku sangat membutuhkan kehadiranmu namun aku sadar diri dan mewajarkan kamu melakukan itu karena aku pantas dihukum. Menyesal, cemas, gelisah, sedih, kehilangan, kosong, sepi, banyak hal yang kurasakan selama kamu nggak ada di sisiku sampai sulit kujelaskan bagaimana rasanya," terang Rama membuat hati Tiara terenyuh.


"Udah ya. Sekarang Tiara udah pulang. Abang harus lebih bahagia ya," sahut Tiara sambil berjinjit dan mengecup bibir Rama sekilas lalu membenamkan wajah ke dada Rama karena malu.


"Untung, serangan mendadakmu nggak dilihat Bi Siti," ledek Rama membuat Tiara mencubiti punggungnya.


"Ih, Abang," rengek Tiara malu-malu.


"Jalan-jalan yuk!" ajak Rama yang ingin menikmati waktu berdua setelah sekian lama.


"Boleh. Mau ke mana?" tanya Tiara antusias.


Drrrrttttt ddddrrrrtttttt


Ponsel Rama bergetar di atas meja dan tertera nama Bayu di sana. Dengan malas, Rama pun harus melepas dekapannya kepada sang istri dan segera menjawab telepon dari asistennya yang mengganggu keromantisan mereka. Rama pun tak lupa menyalakan menu loadspeaker biar Tiara juga ikut menyimak.


"Apa, Bay?" sapa Rama sedikit malas.


"Bang, mau tanya hehe," ucap Bayu cengengesan.

__ADS_1


"Tanyakan ke Nona Kecil ya. Kalau weekend begini, Wanda pulang nggak?" tanya Bayu malu-malu.


"Dia di kos, Om," sambar Tiara tiba-tiba membuat Bayu gelagapan dan malu sendiri.


"Loh, malah langsung dijawab. Jadi malu aku," sahut Bayu tersipu.


"Mau ngajak jalan?" tanya Tiara tanpa sensor dan basa-basi.


"Emang cenayang sepertinya ini," jawab Bayu sedikit bercanda untuk menutupi kegugupannya.


"Banyak cingcong Om ini. Wanda itu suka lelaki yang tegas, bukan yang banyak basa-basi sepertimu. Aku bilangin ya. Kalau ngajak nge-date berdua, jangan harap dia akan mau," ucap Tiara.


"Lalu, bagaimana cara aku deketin dia? Masa jalan ramai-ramai, nanti dikira konvoi," canda Bayu membuat Tiara terkekeh dan Rama hanya mengerutkan kening.


"Iya misal ngajak jalan, jangan berdua. Atau mau ikut aku sama Abang? Kita mau jalan, nanti ya ada masanya kita berdua menjauh dan ada masanya kita berempat," tawar Tiara memutuskan sepihak tanpa meminta persetujuan Rama.


Rama pun mengusap wajah sedikit gusar karena rencana berduaan dengan Tiara gagal total. Membantah Tiara juga sepertinya bukan momen yang tepat. Akhirnya, ia pun menurut saja apa kata ibu negara daripada harus tidur di luar kamar.


"Memang nggak apa, Bos?" tanya Bayu.


"Iya kalau itu kata Ibu Negara. Saya lebih baik menurut saja," jawab Rama agak lemas.


"Karena Bapak dan Ibu Negara sudah berbesar hati mengupayakan dalam proses penghapusan label jomblo abadi yang sudah saya sandang bertahun-tahun lamanya, jadi bagaimana kalau menggunakan mobil saya untuk jalan-jalan. Saya akan menjemput kalian dengan suka cita dan bahagia. Untuk rute, saya serahkan sepenuhnya kepada Bapak dan Ibu Negara selaku mak comblang dalam hal ini," lawak Bayu membuat Tiara terkekeh namun Rama malah risih mendengarnya.


"Sekalian, bacain Undang-Undang Dasar aja kalau begitu," ejek Tiara gemas sendiri.


"Jijik dengernya, Bay. Udah lah. Dah sana siap-siap. Dua jam harus udah sampai sini," tegas Rama membuat Bayu tertawa.


"Wah siap, Big Bos," sahut Bayu bahagia.


"Udah kumatiin. Ganggu keromantisan aja," ujar Rama.


"Wah kabuuurr," tawa Bayu sambil mematikan panggilannya.


Setelah Bayu memutus panggilan, Tiara malah menjadi resah memikirkan Wanda. Ia takut Bayu membuat Wanda kembali teringat traumanya. Bagaimana mungkin Tiara bisa tenang, Wanda pernah hampir bunuh diri karena ketakutan ada lelaki yang suka padanya dan hendak mendekatinya.


Aku takut cara ini akan membuka luka Wanda. Namun, membiarkannya hidup dalam bayang-bayang trauma juga rasanya tak tega. Tiara sedikit cemas, tetapi lebih cemas jika Wanda terus-terusan tak mau berdamai dengan diri sendiri. Ucap batin Tiara.


"Kamu yakin Wanda tak apa dengan rencana mendadak kita?" tanya Rama memastikan karena menangkap raut cemas Tiara.


"Semoga saja tidak apa, Bang. Lagian, Om Bayu orang baik. Menghadapi Abang aja bisa sesabar itu, apalagi menghadapi wanita," cetus Tiara membuat Rama mendelik galak.


"Jadi kamu pikir Abang itu bagaimana?" tanya Rama pura-pura garang.


"Iya Abang begitu. Suka ngeselin banget. Suka marah-marah. Nggak sadar juga?" jawab Tiara mengejek.


"Kamu ya," ucap Rama sambil memeluk Tiara lagi lebih erat.


"Abang, Wanda mau nggak ya?" tanya Tiara resah.


"Iya kita usahakan dulu. Perkara mau apa enggak, niat kita ingin membantu dia melepaskan traumanya dan membantu Bayu mendekatinya sebisa kita," jawab Rama menenangkan Tiara.


Tiara pun menganggung walaupun pikirannya masih mengawang-awang. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua. Tiara pun segera menghubungi Wanda agar tidak terkejut dengan kehadiran mereka nanti. Berkali-kali ditelepon namun tidak ada jawaban.


Wanda, kamu ke mana? Biasanya jam segini udah bangun. Tanya Tiara khawatir.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2