Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Beda Selera


__ADS_3

"Kamu nggak apa, Nda? Kalau kamu nggak mau tukeran nggak apa kok. Nggak kamu makan juga nggak apa. Om Bayu itu emang nggak tahan pedas rawit. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Tiara sambil melongok ke depan dengan cemas.


Wanda pun menghela napas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Melihat Bayu yang ketakutan dan menunduk penuh rasa bersalah, Wanda pun berusaha membuang pikiran negatif jauh-jauh walaupun ketakutan tetap bersemayam dalam dirinya.


"Ayo tukeran, Pak. Daripada mubazir," jawab Wanda memberanikan diri karena memang ia terbiasa hidup serba cukup jadi tak suka membuang-buang makanan.


Wajah Bayu pun kembali sumringah walaupun senyumnya terasa ganjil karena mendengar panggilan "Pak" dari Wanda. Bayu menyumpit dimsum rawit yang pedas dan meletakkannya ke box Wanda. Kemudian, menyumpit dimsum mentai Wanda untuk dimakan olehnya.


"Wanda, bisa nggak sih jangan panggil aku Pak? Aku ini masih muda. Baru mau dua puluh delapan tahun," rengek Bayu dengan mulut penuh dimsum.


"Iya itu kan udah tua, Pak? Saya baru mau dua puluh satu loh," bantah Wanda lembut.


"Iya kan cuma selisih tujuh tahun. Tujuh tahun itu nggak bapak sama anak juga dong," sahut Bayu ngeyel.


"Tujuh tahun itu lama loh, Om. Bayangkan Om udah sekolah, kita baru lahir," sambar Tiara melongok ke sela tempat duduk Bayu dan Wanda.


"Panggil Opa aja, Nda," tambah Rama mengompor-ngompori.


"Opa ya buka Oppa," sahut Tiara dengan logat khas drakor saat mengatakan oppa.


"Terus, aku panggil apa? Om boleh?" tanya Wanda polos sambil menyuap dimsum pemberian Bayu.


"Iya udah. Itu lebih enak didengar seenggaknya walaupun terkesan tua juga," jawab Bayu sedikit senang melihat Wanda berangsur tenang.


"Iya kan memang udah tua kan, Om?" tanya Wanda polos namun menusuk hati Bayu.


"Kebanyakan makan rawit kayaknya kamu," ujar Bayu dengan muka songong.


"Kok bisa?" tanya Wanda penasaran.


"Pedes banget omonganmu, Adeeeeek," jawab Bayu pura-pura kesal.


"Serang terus, Nda. Emang banyak omong dan banyak mau tuh orang tua," kompor Tiara membuat Wanda tertawa.


Wanda pun mulai nyaman dengan suasana di mobil karena memang tidak ada yang terkesan dibuat-buat. Rama dan Tiara sibuk menyantap dimsumnya sambil sesekali menimbrung pembicaraan mereka. Rama lebih banyak menyimak sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala seakan sedang menonton opera dunia anak.


"Ini bocah kenapa sih. Bos, ini loh anakmu tolong dikondisikan," ronta Bayu.


"Biarin aja. Kalau dia merajuk, kita harus bekerja ekstra sampai lembur untuk membujuknya," jawab Rama enteng.


"Om berharap dipanggil Mas Bayu oh Mas Bayu?" celetuk Tiara semakin memperkeruh suasana.


"Lebih baik kita lanjutkan perjalanan saja sepertinya ya, Bos?" tanya Bayu mengalihkan topik.


"Tuh pecundang. Giliran dah kalah jadi mengganti topik," sela Tiara mengejek Bayu.


"Ayo jalan," jawab Rama.


...****************...


Setelah melewati pintu masuk dufan, Tiara merinding disuguhi wahana new ontang-anting. Ia pun memilih berbelok ke arah dunia kartun. Tiara pun langsung fokus ke wahana zig-zag atau yang biasa disebut bombom car. Rama, Bayu, dan Wanda pun mengikuti Tiara untuk mengantre di sana.


Tak butuh waktu lama, mereka pun bisa merasakan sensasi mengendarai mobil listrik dan saling menabrak satu sama lain. Di tengah permainan itu, dua orang pemuda yang bergabung dalam permainan itu pun memerhatikan Tiara. Mereka berkali-kali mengarahkan mobilnya ke Tiara namun Tiara asyik mengejar Rama sambil menabrak Bayu dan Wanda. Tiara pun tertawa gembira saat bisa menabrak Rama yang sangat lincah dan gesit mengemudikan bombom car-nya.


Saat Tiara menikmati permainan sambil bercanda dengan anak-anak yang sedang bermain juga, tiba-tiba dua lelaki itu datang mendekat dan menabrak mobil Tiara bersamaan dengan tatapan bersaing. Tiara pun tidak memedulikan mereka karena baginya wajar dalam permainan itu mereka saling menabrak. Namun, lama kelamaan, Tiara merasa risih karena keduanya saling melirik sinis dan mengikuti ke mana pun Tiara pergi.


"Boleh tahu namamu?" tanya salah satu lelaki menyejajari mobil Tiara.


Tiara pun tak menoleh dan mencari-cari keberadaan Rama. Lelaki itu terus mengejar Tiara diikuti oleh lelaki satunya.


"Hei, cantik," sapa lelaki kedua sambil melirik genit ke arah Tiara.


Kemudian, keduanya memotong jalan Tiara dengan saling menabrakkan mobil di depan mobil Tiara. Mereka pun memandang Tiara dengan tatapan nakal membuat Tiara sangat risih tentunya.


"Apa sih kalian. Main itu main aja, nggak usah mengganggu orang," hardik Tiara jengkel.


"Galak amat cantik," ucap lelaki kedua genit.

__ADS_1


"Kenalin, namaku Bento. Mobilku banyak. Orang memanggilku bos eksekutif," sahut lelaki pertama sambil bersenandung dan sok asyik membuat Tiara semakin muak.


Saat Tiara hendak menghindari dua lelaki menyebalkan itu, Rama dan Bayu terlebih dahulu meluncur di sisi kanan kiri Tiara dan menabrak kedua lelaki itu. Kedua lelaki itu pun sangat kesal dan memasang wajah galak kepada orang yang menabrak mereka.


"Menjauh darinya atau kita selesaikan urusan di luar?" tawar Rama dengan gentelnya.


"Siapa kamu? Bukankah wajar jika di permainan ini saling menabrak?" bantah lelaki pertama.


"Jangan kira aku nggak memerhatikan gerak-gerik kalian. Menabrak dalam permainan dan mengusik itu berbeda, Boy. Kalau mau bermain, bukan begitu caranya," sahut Rama sinis.


"Nggak usah sok jagoan. Lihat yang bening aja jadi sok pahlawan," kilah lelaki kedua jengkel.


"Kalau yang kalian ganggu bukan istriku, tentu aku tak peduli," tegas Rama membuat kedua lelaki itu ngacir kabur menjauhi Rama.


"Thanks, Abang," teriak Tiara sambil menabrak mobil Rama dari belakang.


Rama hanya melirih Tiara dengan wajah masih menahan amarah. Rasa tak suka masih terlukis jelas menggurat di matanya.


"Jangan jalan-jalan sendiri lagi! Harus selalu di dekatku," titah Rama membuat Tiara memanyunkan bibir.


"Dasar. Posesif," cibir Tiara.


"Biar," sahut Rama singkat.


Di sisi lain, Bayu pun mengikuti Wanda yang lebih nyaman berdekatan dengan mobil anak-anak. Bayu hanya memerhatikan dari jauh karena takut akan membuat Wanda tidak tenang. Melihat Wanda tersenyum dari kejauhan saja sudah cukup menenangkan batinnya.


Setelah selesai bermain di zig-zag, Rama pun masih menekuk wajahnya membuat Tiara ikut kesal sendiri karena didiamkan olehnya. Bayu dan Wanda berpura-pura tak mengerti perang batin sepasang suami istri yang sedang berlangsung sengit.


"Mau naik apa lagi kita? Masa hanya jalan luntang-lantung tanpa tujuan begini," tanya Bayu sambil menyeka keringat di dahinya.


"Terserah!" jawab Rama dan Tiara kompak berhasil membuat sang penanya membeliak.


Bayu pun melambaikan tangannya kepada Wanda untuk memberi kode agar menjaga jarak dari Tiara. Wanda pun paham situasinya sehingga ia menuruti arahan Bayu tanpa rasa takut sama sekali, hanya masih kurang nyaman saja. Wanda pun berjalan menyejajari Bayu meskipun menyisakan jarak cukup lebar di antara mereka.


"Sini. Jangan jauh-jauh. Nanti ilang repot aku," desak Bayu lembut.


"Kita kayak obat nyamuk ya. Ribet memang hubungan mereka," seloroh Bayu lirih membuat Wanda tersenyum sekenanya.


"Aku dengar, Bayu," interupsi Rama di belakang Bayu.


"Iya emang Abang ribet, Om," sahut Tiara melirik sinis ke arah Rama.


Mendengar perdebatan sengit suami istri kembali memanas, Bayu dan Wanda memilih diam menyibukkan diri dengan pikiran masing-masing. Antara lucu dan bingung mereka mendengar adu mulut lirih yang didasari kecemburuan namun gengsi untuk mengungkapkan jadi pihak yang dicemburui pun jadi uring-uringan.


...****************...


Setelah mencoba beberapa wahana yang kalem dan tidak begitu menegangkan di dunia kartun. Mereka pun menyusur lebih jauh menuju wahana-wahana yang cukup ekstrem. Tiara sebenarnya ingin sekali bermain niagara-gara namun tak memungkinkan baginya yang sedang haid. Tentu, akan membuatnya tak nyaman.


"Mau coba halilintar nggak?" tawar Rama mencoba memecahkan kekakuan di antara dirinya dan istrinya.


"Emang, Abang nggak pusing atau mual main begituan?" tanya Tiara ragu.


"Aku udah bawa minyak kayu putih, tolak angin, dan paracetamol. Bahkan, plastik jika kalian muntah pun sudah kubawa," jawab Rama membuat Tiara membelalakkan mata.


Tiara tak menyangka Rama begitu memersiapkan perlengkapan hangout mereka sampai sedetail itu. Bahkan, hal itu tak terpikir sama sekali olehnya.


"Niat banget ya, Boy," sahut Tiara bangga.


"Bagaimana? Mau naik halilintar nggak?" tegas Rama memastikan.


"Ayo. Siapa takut. Bagaimana, Om? Wanda?" tanya Tiara menyerobot sela di tengah mereka.


Bayu menelan ludah getir. Melihat lintasan wahananya saja sudah membuatnya mual dan ketar-ketir.


"Ayo!" jawab Wanda antusias.


Mendengar Wanda menerima tantangan Tiara, Bayu pun merasa malu jika mengakui ketakutannya. Bayu pun membusungkan dada dan memberanikan diri walaupun dadanya berdebar-debar.

__ADS_1


"Ayo. Siapa berani. Eh siapa takut!" sahut Bayu sok jagoan.


Setelah semua setuju, mereka berempat pun mengantre untuk mendapat giliran menaiki wahana ekstrem tersebut. Rama terlihat lebih tenang karena memang sudah berkali-kali menaiki wahana halilintar saat rekreasi bersama keluarga, sedangkan Tiara masih agak takut walaupun pernah juga menaikinya. Berbeda dengan Wanda tang terlihat lebih percaya diri dan merasa tertantang untuk menaklukkannya, sedangkan Bayu hanya terdiam dengan tatapan ambigu.


Dua puluh menit penantian mereka untuk mendapat giliran menaiki wahana kereta luncur itu. Kendati Tiara meminta duduk bersebelahan dengan Rama, Bayu pun harus duduk bersebelahan dengan Wanda. Bayu pun berusaha keras untuk tampil macho di dekat Wanda dan menyembunyikan ketakutannya.


Saat kereta mulai diluncurkan, Rama dan kawan-kawan masih merasa sedikit aman. Namun, saat mulai memasuki arena tanjakan turunan tentu serasa jantung mereka berkali-kali ketinggalan di belakang saking kagetnya. Tiara dan Wanda menjerit begitu nyaring sampai suara mereka serak. Rama pun sesekali menjerit saat di turunan dan saat melewati lintasan 360 derajat. Berbeda dengan Bayu yang sangat tegang sampai hanya bisa terdiam menahan untuk tak menjerit.


Setelah permainan halilintar selesai. Tiara dan Wanda pun teriak begitu puas. Rama berdiri sambil merenggangkan tubuhnya karena bokongnya pegal akibat menahan badan dan menahan diri untuk tak teriak kencang karena gengsi ada Tiara di sisinya. Tak jauh berbeda dengan Bayu namun Bayu lebih parah. Wajahnya memucat sepucat mayat dan cara berjalannya pun gontai sempoyongan seperti melayang-layang. Rama pun membantu menuntun Bayu untuk keluar dari area halilintar untuk berteduh dan beristirahat.


Setelah mendapat tempat yang teduh, Rama dan kawan-kawan pun duduk. Tiba-tiba, keringat dingin membasahi wajah Bayu yang bibirnya mulai membiru. Rama sangat khawatir dan menepuk-nepuk pipi Bayu yang benar-benar dingin.


"Hei, Bay. Kamu kenapa?" tanya Rama cemas segera mengambil minyak kayu putih di tasnya.


Sebelum sempat menjawab, tiba-tiba lambung Bayu bergejolak.


"Plastik, Bang," pinta Bayu panik.


Rama pun langsung mengambil dan menyerahkan plastik yang dia simpan di tas. Benar saja, setelah menerima plastik dari Rama, Bayu langsung memuntahkan isi perutnya. Rama, Tiara, dan Wanda pun memalingkan wajah dari Bayu dengan sedikit cemas. Setelah ritual pembersihan lambung selesai, Bayu pun mencari tempat sampah dan tak lupa membeli air mineral.


Setelah kembali membawa empat botol air mineral 600ml, Bayu segera membuka salah satu untuk meminum dan membasuh muka. Wajah Bayu kembali bugar walaupun masih tersisa kelemasan yang membuat Rama, Tiara, dan Wanda iba.


"Udah enakan, Om?" tanya Tiara.


"Udah, Mbak. Aman," jawab Bayu tersenyum malu.


"Makanya kalau nggak berani, nggak usah ikut-ikutan. Mabok, kan? Bikin orang panik aja," omel Tiara pura-pura kesal untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.


"Ada ya orang abis kena musibah malah diomelin," sahut Bayu menggeleng tak percaya.


"Ada lah. Kalau dikasihani nanti takut baper dikira memberi perhatian atau harapan. Kan orang jomblo biasanya kayak gitu ya," celetuk Tiara cengengesan membuat Rama dan Wanda pun tertawa.


"Hobi banget ya buli orang tua. Nggak takut kuwalat apa, Mbak Tiara?" sahut Bayu pura-pura kesal.


"Mau tolak angin buat melegakan dan menghilangkan bau muntahanmu?" tawar Rama tersenyum mengejek.


"Sini, Bang. Gila sih. Lemas aku tuh," sahut Bayu menyandarkan tubuh di kursi.


Rama pun mengambil satu tolak angin dan diberikannya kepada Bayu yang masih terlihat pucat. Kemudian, ia menepuk bokong dan pinggangnya yang baru mulai terasa pegal.


"Kenapa, Abang? Pegal? Kamu sih tegang banget dan menahan badan. Udah kubilangin kalau main halilintar itu ikuti aja permainannya. Santai. Kalau mau teriak ya teriak. Kalau tegang, malah pinggang sama bokongnya pegal. Aku beberapa kali mendengar cerita orang kayak gitu. Duuuh ini emang orang-orang tua. Lemah," ledek Tiara bangga mendapat celah untuk membuli suaminya.


"Ra, kalau ngomong dikasih jeda," sahut Rama.


"Lemes banget bibir istri Anda ya, Bos? Nggak darah tinggi menghadapinya?" canda Bayu membuat Tiara mendelik galak kepada Bayu dan Rama.


"Kamu bisa menilai sendiri, Bay. Takut salah kalau jawab malah jadi berabe nanti," sahut Rama tersenyum menggoda Tiara.


"Abang," ancam Tiara hanya dengan lirikan mata.


"Ampun, Tuan Putri," timpal Rama dengan menangkupkan tangan dan memohon belas kasihan.


"Mau lanjut main nggak kita ini?" tanya Tiara.


"Aku nyerah kalau yang ekstrem-ekstrem pokoknya," jawab Bayu.


"Ayo, Ra. Naik kora-kora atau tornado yuk!" ajak Wanda semangat.


Bayu membelalak, sedangkan Rama pun menelan saliva penuh kegelisahan.


Diam-diam, mengerikan juga selera Wanda. Gumam batin Rama merasa terancam.


"Yuk! Kita main berdua aja. Orang-orang tua ini biar main komedi putar aja biar nggak mabok dan pegal. Tampangnya aja sok keren, nyalinya kayak kerupuk disiram bensin terus dibakar," sindir Tiara tersenyum puas.


"Bagaimana kalau kita salat dulu? Sekalian mengisi perut dan istirahat. Udah hampir zuhur ini," ajak Rama merangkul bahu Tiara sembari mendekatkan bibir ke telinga Tiara.


"Kamu lupa tujuan kita ke sini untuk apa?" bisik lirih Rama kepada Tiara.

__ADS_1


Tiara pun menatap sangsi sang suami sembari mengerutkan kening seakan bertanya kenapa.


__ADS_2