
Setelah menikmati berbagai wahana yang mengerikan sampai menggemaskan, Tiara, Rama, Bayu, dan Wanda menutup permainan mereka dengan menaiki bianglala sembari menikmati senja walaupun tertutup pekat polusi namun tetap kentara sorot jingganya. Rama sangat menikmati suasana sore itu. Terlebih, akhirnya mereka bisa duduk berdua tanpa harus menjaga sikap di depan Bayu dan Wanda.
Tak bosan Rama memandangi istrinya yang sedang terpukau melihat pemandangan senja yang kian menampakkan wajah merah saga. Diam-diam, ia pun berpindah duduk dari seberang Tiara ke samping Tiara yang masih fokus menatap ke luar. Perlahan, Rama menyusupkan tangan melingkar di pinggang Tiara dan memeluknya dari belakang. Tentu, hal itu membuat Tiara sedikit kaget namun ia hanya merespon dengan senyum bahagia. Rama pun menyandarkan kepala di bahu Tiara dan memberikan satu kecupan penuh cinta di pipi Tiara.
(Sumber: Pinterest)
"Jangan pernah pergi lagi ya. Abang mau ditemenin terus sama Tiara," rengek lirih Rama sangat manja.
"Utututuuuh. Manjanya suamiku ini," sahut Tiara mengusap kepala Rama yang masih bersandar di bahunya.
"Masih sakit perutnya?" tanya Rama sambil mengusap-usap perut Tiara yang sempat sakit karena pengaruh hormon mestruasi.
"Udah mendingan Abang. Thank you," jawab Tiara menggenggam tangan Rama yang sedang mengusap perutnya.
"Udah tugasku menjaga dan merawatmu. Nanti, kuajak ke tempat spesial mau?" tawar Rama sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Tiara.
"Mau. Tapi jangan begini, malu dilihat orang, Bang," rengek Tiara.
"Kita lagi di paling atas, nggak ada yang lihat hehe," bantah Rama masih sangat manja.
"Pandai menjawab emang Abang nih," cetus Tiara.
Rama dan Tiara pun sangat menikmati suasana menuju petang itu. Saat berada di putaran atas, mereka akan bermesra dan tak sungkan untuk bermanja-manjaan. Namun, jika mulai mendekati bawah, mereka saling menjauh seperti tidak terjadi apa-apa.
Di tempat lain, Bayu dan Wanda masih terperangkap dalam diam serta kekakuan yang belum menemukan titik terang. Beberapa kali, Bayu mencoba membuka percakapan namun Wanda hanya menanggapi seperlunya tanpa saling bertatapan. Wanda sibuk menerawang ke langit meskipun tatapannya kosong dan wajahnya seperti menahan sesuatu yang tak dapat diungkapkan.
"Maaf kalau kamu harus naik ini hanya berdua denganku. Kalau kamu nggak nyaman atau aku terlalu menakutkan, anggap aja aku cuma angin lalu atau kentut lewat," celetuk Bayu membuat Wanda membeliak dan menatap Bayu sekilas dengan seulas senyum yang ditahan sekuat tenaga.
"Mana bisa begitu. Jangan mengada-ada deh, Om," sangkal Wanda sedikit mengendur ketegangan batinnya namun masih tetap waspada.
"Iya kalaupun kamu nggak nyaman denganku, seenggaknya biar kamu nyaman dengan suasana di sini hehe," ujar Bayu cengengesan.
Perlahan, ketakutan Wanda pun kian memudar berganti tenang. Ia mulai bisa merasakan ketulusan dan humor Bayu yang apa adanya membuat ketegangannya berangsur mengendur. Bayu yang friendly tanpa menunjukkan maksud tertentu membuat Wanda bisa menerima kehadiran Bayu sebagai teman, eh bukan lebih tepatnya orang baik yang dikenalnya.
"Tiara orangnya bagaimana kalau di kampus, Nda? Apa ceplas-ceplos begitu juga?" tanya Bayu berusaha mencari bahan obrolan tanpa mengusik privasi Wanda.
"Tergantung sama siapa. Kalau sama aku dan dua sahabatku ya emang periang, ceplas-ceplos, dan suka menghibur. Dia hampir nggak pernah menunjukkan kesedihannya dalam tangisan, kecuali di depanku. Makanya, di kampus, dia terkenal dengan orang yang hidupnya paling selow. Dia memang kelihatannya manja dan kekanak-kanakan, tetapi dia anak yang baik banget, bijak, dan terkadang malah lebih dewasa," jawab Wanda panjang lebar membuat Bayu merasa lega karena mendapat topik yang menarik.
__ADS_1
"Apa teman-teman di kampus tahu kalau dia udah menikah?" tanya Bayu semangat meskipun sejujurnya pembahasan itu tak penting baginya namun antusias Wanda yang membuatnya harus pandai memilah topik.
"Baru aku yang tahu sepertinya. Tak usah tanya mengapa demikian karena itu hak mutlak Tiara. Aku paham posisinya yang serba bingung. Menikah tentu menjadi momok bagi kami yang masih belia ini. Menerima perjodohan bukanlah hal yang mudah. Dia harus beradaptasi dengan orang baru, dengan keluarga baru. Belum lagi kalau di kampus banyak yang tahu dia menikah dengan CEO muda yang terkenal se-Indonesia raya tentu akan menyunggah berbagai asumsi negatif dari haters. Entah isu hamil duluan, isu menikah dengan Om-Om demi uang, pokoknya banyak hal yang dipikirkannya sehingga belum berani mempublikasi. Perlu kita pahami, kesiapan mental orang itu berbeda-beda tahapannya. Mari kita hargai saja keputusannya tanpa banyak bertanya," jawab Wanda bijak.
"Oke kalau begitu. Ngomong-ngomong, kita berduaan begini, nggak ada yang cemburu, kan?" tanya Bayu membuat Wanda terdiam sejenak karena sedikit terusik ketenangannya.
"Nggak lah," jawab Wanda ketus dan waspada jika Bayu mulai membahas tentangnya lebih lanjut.
Melihat respon Wanda yang menjadi ketus, Bayu pun merasa bersalah telah menanyakan itu. Tetapi, sedikit ada kelegaan karena berarti memang Wanda belum memiliki pacar. Bayu pun perlu memutar otak untuk menciptakan topik baru agar Wanda bisa dikondisikan lagi.
"Orang tuamu sering telepon?" tanya Bayu ragu.
"Jarang. Di rumahku, sinyal agak susah dan hilang timbul. Kalau mau telepon harus menunggu waktu longgar karena harus menempuh satu kilometer perjalanan untuk sampai di spot yang ada sinyalnya," jawab Wanda masih memalingkan muka.
"Weekend nggak libur?" tanya Bayu mulai antusias.
" Mana ada libur. Orang tuaku hanya petani di desa, Om. Untuk bisa menyekolahkanku tentu mereka harus bekerja keras. Aku juga masih punya adik yang sekarang masih SMP," jawab Wanda mulai mengendur.
"Wah. Jangan bilang hanya petani, petani itu mata pencaharian penting lho, Nda. Makanan itu kebutuhan primer. Tanpa petani, bagaimana pasokan bahan makanan kita. Banyak kok petani yang sukses. Penghasilannya juga tak main-main," sahut Bayu meyakinkan Wanda.
"Keluargaku petani biasa, Om. Tetapi, aku bangga dan bersyukur. Mereka selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka selalu menyisihkan hasil panen untuk ditabung untuk masa depan kami. Masku walaupun hanya lulusan SMK, tetapi orang tuaku bisa memberikan modal untuk usaha hingga sekarang udah lebih berkembang. Mereka juga bisa menguliahkanku, meskipun kehidupan kami harus serba cukup. Tidak semua barang yang kami inginkan itu mereka berikan, tetapi insyaallah kebutuhan kami selalu tercukupi," cerita Wanda dengan seulas senyum yang tak sengaja mengembang membayangkan perjuangan orang tuanya.
"Hebat orang tuamu, Nda. Aku juga bangga mendengarnya. Pasti berat melepaskan putrinya untuk tinggal jauh di Jakarta sendirian," sahut Bayu terharu.
"Iya tentu orang tua ingin kehidupan yang lebih baik untuk kamu di masa depan. Semangat ya. Terus, kamu pulangnya sebulan sekali?" tanya Bayu ramah.
"Paling waktu libur semester atau lebaran aja, Om. Lelah di jalan kalau cuma pulang sebentar," jawab Wanda begitu tenang.
"Iya memang. Enak juga ya kalau merantau kayaknya. Bisa mudik begitu. Aku nggak pernah merasakan mudik. Aku tinggal di sini bersama orang tuaku, nenek kakekku juga masih di sekitar Jabodetabek. Ada keluarga di Jawa, tetapi jarang berkunjung ke sana," papar Bayu.
"Eh, kita sebentar lagi turun, Om" cetus Wanda yang melihat Rama dan Tiara sudah turun di bawah mereka.
Duh emang nggak ngerti suasana lagi syahdu-syahdunya. Ada aja halangannya. Batin Bayu berdecak kesal.
...****************...
Setelah mengantarkan Wanda dan Bayu pulang, Rama dan Tiara pun melanjutkan perjalanan pulang setelah menumpang salat Magrib di rumah Bayu. Di sebuah toko bunga, Rama menghentikan mobilnya dan membeli sebuket bunga mawar putih. Awalnya, Tiara bingung karena Rama menyerahkan buket bunga tanpa sepatah pun kata. Bahkan, wajahnya terlihat sendu dan tak melukiskan keromantisan di antara mereka.
Di persimpangan yang tak jauh dari rumah, Rama membelokkan mobil ke arah yang berbeda. Tiara memutar-mutae bola matanya, kemudian menatap sangsi sang suami.
__ADS_1
"Mau ke mana kita, Bang?" tanya Tiara bingung.
"Ke tempat spesial. Kamu pasti belum pernah ke sana," jawab Rama dengan wajah serius dan tatapan ke depan lurus.
Melihat Rama yang tak seperti biasa, Tiara pun memilih diam sambil menghidu aroma mawar putih yang begitu wangi menenangkan. Sepanjang jalan, mereka bahkan tak terlibat perbincangan sehingga Tiara semakin resah tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Tak berselang lama, Rama menghentikan mobil dan membuka kaca jendela untuk mengobrol dengan seseorang sebentar. Kemudian, Rama kembali melajukan mobil dan masuk ke area tujuannya yang ternyata adalah tempat pemakaman keluarga. Walaupun itu adalah tempat pemakaman namun tak terlihat menyeramkan karena hanya ada beberapa pohon kamboja di atas hamparan rumput Jepang dan banyak lampu penerang di area pemakaman.
"Kamu belum pernah bertemu Papa, kan? Di sini rumah Papa," ucap Rama dengan suara lembut dna tegar sambil memarkirkan mobilnya.
Menyelia ketegaran di wajah Rama malah membuat Tiara iba. Pasalnya, mata Rama bicara berbeda. Tergurat kerinduan yang begitu sarat dan kesedihan teramat sangat. Tanpa sepatah kata, Tiara mengikuti Rama yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil. Tiara berjalan mengekor Rama dengan membawa sebuket bunga.
Sesampainya di nisan yang bertulis Arif Dewantara, Rama langsung duduk bersimpuh dan mengusap pusara yang sudah sudah ditaburi bunga-bunga mawar yang masih segar. Sepertinya memang sudah ada orang yang terlebih dahulu datang.
"Sepertinya Mama sudah menjenguk Papa duluan ya," ujar Rama mengusap nisan dengan lembut dan penuh ketabahan.
Tiara masih diam memerhatikan suaminya dengan hati remuk redam. Membayangkan di posisi Rama saja, ia sudah tak kuasa.
"Papa pasti udah kenal dengan wanita yang datang bersama Rama, kan? Wanita terbaik yang Papa pilihkan untuk menjadi teman hidup Rama. Terima kasih, Pa. Papa selalu memberikan kebahagiaan yang luar biasa dalam hidup Rama," ucap Rama menahan air matanya mengingat berbagai momen kebersamaannya bersama Pak Arif sejak kecil hingga dewasa.
Tiara pun duduk bersimpuh di samping Rama dan meletakkan buket mawar putih di atas pusara. Tiara menggenggam erat tangan Rama yang mengepal di pangkuannya. Tiara dapat memahami emosi yang sangat dalam sedang dirasakan oleh suaminya.
"Assalamualaikum, Pa. Semoga selalu tenang dan dirahmati Allah di mana pun Papa berada sekarang. Papa, maaf ya Tiara baru sempat datang. Papa, terima kasih udah merestui kami untuk menjadi sepasang suami istri. Walaupun kami masih banyak kekurangan dan belum sepenuhnya bisa saling melengkapi namun kami selalu belajar dari hari ke hari untuk menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Tiara sangat bersyukur menjadi istri Abang. Dia sangat melindungi, membimbing, bersabar, dan bertanggung jawab atas Tiara," cerita Tiara membuat Rama menyandarkan kepalanya ke nisan untuk menyembunyikan buliran bening yang sudah mengintip di sudut mata.
Genggaman Rama semakin erat membuat Tiara meneteskan air mata memahami betapa Rama menahan kepedihan yang selama ini disembunyikan dalam sikap tegasnya. Tak lama setelah meremas tangan Tiara, Rama melepaskan tangan Tiara dan menyidekapkan kedua tangan di atas nisan. Lalu, Rama menyembunyikan wajah di sana agar air matanya yang menjatuh tak terselia oleh istrinya.
"Ungkapkan aja, Bang. Jangan ditahan," bujuk lembut Tiara sembari membelai rambut suaminya.
"Papa, Rama rindu. Sangat rindu," tangis lirih Rama akhirnya pecah membuat Tiara semakin deras meneteskan air mata.
"Rama butuh Papa. Rama rindu petuah Papa. Rama nggak tahu bagaimana menjadi suami yang baik untuk Tiara. Rama nggak tahu bagaimana membahagiakan Mama. Mama udah sering sakit, tetapi suka keras kepala seperti Papa. Tak mau diajak periksa. Abang Rio dan Kak Rissa jarang sekali menjenguknya padahal Mama selalu kangen mereka, kangen anak-anak mereka. Mama kesepian, tapi Rama nggak bisa berbuat banyak untuk mengisi kekosongannya. Mama selalu memeluk foto Papa saat tertidur berharap Papa datang walaupun hanya di dalam mimpinya. Rama harap, kerinduan kami takkan membuat Papa bersedih di sana. Kami sudah ikhlas Papa pergi. Kami tahu Allah lebih sayang Papa. Kami hanya rindu, Pa. Hanya rindu semua kebersamaan kita," bisik lirih Rama pada batu nisan Pak Arif namun kepedihannya bisa terasa sampai di hati Tiara.
"Papa, Rama rindu," imbuh Rama dengan suara samar yang hampir tak terdengar.
Rama pun mengangkat wajahnya dan menoleh kepada Tiara tanpa menyeka air matanya yang berkilau di bawah remang lampu pemakaman. Ia memberanikan diri menunjukkan wajah paling rapuhnya di depan Tiara. Ya, hanya kepada Tiara dia bisa melakukan itu. Bahkan, di depan Bu Ina saja dia tak kuasa.
Tiara segera memegang kedua pipi Rama yang sudah sangat basah. Tiara semakin tak dapat menahan air mata saat mata sembab kemerahan Rama menatapnya sendu.
"It's ok, Abang. Abang udah punya Tiara. Abang bisa menumpahkan semuanya ke Tiara. Jangan dipendam sendiri lagi, kita udah punya empat pundak untuk saling berbagi dalam duka lara. Aku yakin doa Abang nggak kurang-kurang untuk Papa. Aku yakin sabar Abang juga nggak kurang-kurang saat merindukan kehadiran Papa. Tetapi, Abang juga harus yakin bahwa Tiara akan selalu menemani Abang bagaimanapun keadaannya," ucap Tiara berusaha menguatkan Rama.
__ADS_1
"Love you, Sayang. Terima kasih untuk semuanya," sahut Rama langsung memeluk Tiara dan menumpahkan tangisnya di pundak Tiara.
...****************...