
"Bagaimana, Bay? Udah ada perkembangan?" tanya Rama saat Bayu masuk ke ruang kerjanya.
"Belum juga duduk, Bang. Sabar dulu. Lebih baik tanda tangani berkas ini baru saya jelaskan kabar gembiranya," jawab Bayu sambil menyerahkan berkas kepada Rama.
Dengan wajah agak sumringah, Rama menerima berkas dari Bayu dan memeriksa berkas tersebut sangat teliti. Setelah tak menemukan kesalahan, Rama segera menandatangani dan menyerahkan kembali kepada Bayu.
"Apa kabar gembiranya?" tanya Rama tak sabar.
Bayu mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto untuk menunjukkan beberapa bukti penemuannya.
"Terakhir aktif, nomor itu berlokasi di sini," ucap Bayu sambil menunjuk sebuah foto yang menunjukkan lingkaran merah sebagai penanda lokasi.
Rama memerhatikan dengan seksama tanpa berkedip sekali pun. Kemudian, Bayu lanjut menggeser foto untuk memperlihatkan lebih detail lokasi yang dimaksud
"Lokasi akuratnya ada di sini. Setelah aku telusuri lebih lanjut, ternyata lokasi itu adalah di perusahaan Bangun Jaya Group," papar Bayu serius.
Rama menautkan alis namun tak terkejut dengan pemaparan Bayu karena sudah ia duga sebelumnya. Motif yang digunakan Selvi tentu sudah jelas karena dendam pribadi.
"Selvi," sebut Rama mengepalkan tangan.
"Kemungkinan mengirim dengan whats*pp web di komputer kantor sepertinya. Saya tidak bisa menyimpulkan itu Selvi atau bukan, tapi saya berharap agar Bos lebih hati-hati saja dengan mereka," saran Bayu peduli.
"Oke tak perlu detail juga. Yang penting aku udah tahu. Kabar bahagianya mana yang kamu maksud?" tanya Rama mendesak.
"Iya itu kabah bahagianya, Bang. Emang nggak bikin bahagia? Aku udah mencari dengan mengerahkan seluruh jiwa raga loh," jawab Bayu pura-pura serius membuat Rama ingin sekali menimpuknya.
"Kupikir apa. Bahagia dari sisi mananya bambang!" bantah Rama gemas.
"Memang nggak bikin bahagia, Bos?" tanya Bayu cengengesan.
"Enggak lah. Bukti ini nggak akan bikin Tiara langsung percaya juga. Untuk fotonya bagaimana?" tanya balik Rama selidik.
Bayu menggaruk-garuk kepala karena bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba, ketukan pintu menyelamatkan Bayu sementara dari omelan Rama. Tak lama setelah itu, pintu terbuka dan Susan melongok sambil tersenyum sekenanya.
"Permisi. Boleh mengganggu, Pak? Ada yang mau menemui Pak Rama?" tanya Susan setelah masuk ke ruangan namun masih mematung di samping pintu.
"Oke," jawab Rama singkat.
"Masuk, Kenzie," suruh Susan kepada Kenzie yang sudah menunggu di depan pintu.
Mendengar nama itu, Rama pun sedikit tersentak namun masih tetap bisa bersikap tenang. Kenzie tak kalah tercengang mendapati CEO perusahaan tempat magangnya ternyata adalah orang yang disebut Tiara sebagai Abang. Selama ia magang, baru kali ini bertemu langsung dengan CEO Dewantara Group. Pasalnya, dia selama ini berhubungan dengan CEO dengan perantara kepala divisi, sekretaris, ataupun asisten pribadinya.
__ADS_1
"Selamat datang, Kenzie. Silakan duduk," suruh Rama ramah namun wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi.
Bayu pun berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada Kenzie. Rama pun mengangkat tangan kepada Bayu untuk memberi isyarat kepada Bayu agar menunggunya di sofa. Setelah Kenzie duduk, Susan pun pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Mohon maaf saya mengganggu waktu, Pak Rama. Sebelumnya, saya ingin menyampaikan terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk magang di perusahaan Dewantara Group. Saya mendapat banyak pengalaman berharga dan kesempatan belajar luar biasa di sini. Kemudian, saya maksud kedatangan saya menghadap Pak Rama karena ingin meminta tanda tangan guna keperluan laporan magang saya. Untuk laporan magang secara detail belum selesai karena masih kurang dua minggu, jadi saya meminta tanda tangan Pak Rama untuk beberapa surat yang harus saya lampirkan dan saya laporkan ke kampus. Ini berkas saya, Pak. Mohon dikoreksi terlebih dahulu barangkali ada yang perlu saya perbaiki," terang Kenzie begitu lancar walaupun jantungnya berdebar-debar.
Rama pun menerima berkas yang dibawa Kenzie dan memeriksanya penuh ketelitian. Rama pun tak menemukan kesalahan sedikit pun, lalu langsung menandatangi beberapa berkas yang dibutuhkan Kenzie.
"Ini. Sempurna. Ada hal lain lagi yang ingin disampaikan?" tanya Rama cuek namun tetap berwibawa.
"Ada, Pak," jawab Kenzie sembari menerima berkasnya kembali.
"Katakan!" suruh Rama.
"Saya diberitahu oleh Ahli IT perusahaan bahwa Pak Rama sedang membutuhkan seseorang untuk meneliti keaslian foto. Walaupun saya jurusan manajemen, tetapi saya bisa melakukan itu. Kebetulan, saya sudah pernah beberapa kali melakukan pembuktian keaslian foto dan selalu berhasil. Kalau Pak Rama berkenan, saya ingin membantu sebisa saya," kata Kenzie serius.
Mata Rama pun berbinar-biar namun berusaha tetap kalem dan karismatik. Rama tak ingin menunjukkan wajah yang terlalu sumringah.
"Saya sangat berterima kasih tentu. Saya memang sedang sangat membutuhkan. Bisa mulai meneliti sekarang juga?" tanya Rama tanpa basa-basi.
"Bisa, Pak. Sebentar saya ambil laptop saya dulu," jawab Kenzie sambil mengambil laptop di tas yang ia bawa ke ruangan Rama.
"Oke. Lebih cepat lebih baik," sahut Rama senang namun sedikit mengganjal karena feelingnya kuat menduga bahwa Kenzie adalah cinta pertama Tiara.
"Tapi tidak ada foto asli atau dokumen asli, saya hanya ada foto yang sudah dikirim via WA. Apakah masih bisa terdeteksi kepalsuannya?" tanya Rama cemas.
"Selagi memang editan, tentu akan ada perbedaan walaupun resolusinya sudah turun juga. Saya usahakan semaksimal mungkin untuk dapat menelitinya," jawab Kenzie percaya diri.
"Oke. Bayu kirimkan fotonya kepada Kenzie," titah Rama langsung dituruti oleh Bayu.
Setelah melakukan tugasnya, Bayu pun mulai mengotak-atik ponsel dan laptopnya juga untuk mencari bukti pendukung untuk foto Rama. Ia telusuri akun sosial media Selvi, Hendra, dan Hans yang sejauh ini berhubungan dengan Rama.
Rama pun berdiri di belakang Kenzie dan memerhatikan Kenzie yang mulai melakukan pengamatan terhadap foto itu dengan aplikasi di laptopnya. Kenzie mulai memerhatikan setiap pixel gambar dengn zoom in dan zoom out. Kenzie pun hampir putus asa mencari bukti kepalsuan foto itu.
"Pak, sepertinya foto ini asli karena semua pixelnya hampir padu dan tidak menunjukkan kejanggalan," ucap Kenzie agak takut.
"Tidak mungkin! Saya tidak pernah berfoto semacam itu. Itu sudah tentu sudah diedit!" sentak Rama begitu murka.
"Berarti orang yang mengedit sudah sangat mahir karena bisa sampai sedetail ini. Bahkan pixel-pixelnya pun begitu diperhitungkan. Agak sulit menemukan bukti kepalsuannya, Pak," sahut Kenzie menunduk.
"Kalau kamu nggak bisa menemukan, saya bisa cari Ahli IT yang lain," kata Rama tanpa toleransi.
__ADS_1
"Baik. Akan saya usahakan lagi, Pak. Mohon bersabar," sahut Kenzie belum menyerah.
Setelah berhasil membobol salah satu email Selvi yang pernah bertukar password dengan Rama, Bayu pun mulai mencari foto yang tersimpan di drive-nya. Bagaimana mungkin Bayu tak bisa membobol, email yang digunakan tentu memiliki password yang pasti tidak akan jauh dari segala hal tentang Rama. Beberapa kali Bayu mencoba memasukkan kata kunci dan gagal, akhir ditemukan bahwa kata kuncinya adalah tamggal jadian Rama dengannya.
Dasar ceroboh! Kurang rapi mainnya sampai email masih digunakan, tapi password gampang ditebak! Ejek Bayu dalam hati.
Akhirnya, file yang dicari Bayu pun ditemukan. Bayu segera memeriksa tanggal fotonya dan mengunduh secepatnya. Setelah itu, ia mendekati Rama dan Kenzie dengan terburu-buru.
"Bos, aku nemuin foto aslinya. Emang sebenarnya kedua foto ini terpisah namun disatukan dengan pengeditan detail. Sesepurna apa pun editan, pasti kita akan menemukan celah," ucap Bayu sambil menunjukkan foto asli yang ternyata memang terpisah.
Bayu pun mengingat foto itu. Itu adalah foto saat ia survei ke Bogor bersama Hans, Hendra, dan Selvi. Namun, ia tak tahu siapa yang memfotonya dengan angle seperfek itu padahal hanya candid. Rama sampai geleng-geleng kepala keheranan dan tak habis pikir.
"Keren juga fotografernya ya, Bang?" ucap Bayu tersenyum sebelah bibir.
"Oke. Kita lihat saja sampai mana dia melangkah. Pada saatnya, aku buat dia menyesal telah mengusik rumah tanggaku," sahut Rama tak kalah sinis.
Kenzie yang awalnya sempat curiga bahwa Rama ada hubungan apa-apa dengan Tiara pun sontak merasa lega setelah mengetahui bahwa Rama sudah beristri. Itu berarti peluangnya mendekati Tiara masih terbuka.
Tiba-tiba, Kenzie menemukan celah pengeditan di foto itu yang berada di antara tangan Rama dan baju yang dikenakan oleh Selvi. Ia segera menjelaskan kepada Rama dan Bayu, kemudian Rama memfotonya dengan bahagia.
"Oke. Kerja bagus kalian. Thanks, Ken, Bay. Saya sangat terkesan dan bonus nanti akan saya transfer secara pribadi. Tidak boleh ada penolakan karena sekecil apa pun pekerjaan yang berarti tentu akan sangat saya hargai. Nominal mungkin tak seberapa namun saya sangat berterima kasih untuk usaha kalian," kesan Rama kembali sumringah.
"Siap, Bos," sahut Bayu dam Kenzie serempak.
Meskipun Kenzie merasa sungkan namun ia tak bisa menolak pemberian Bosnya. Terlebih, Susan telah memperingatkan bahwa apa pun titah Rama harus diiyakan dan tidak boleh membantah atau menolak.
Baru pikirannya mengendur, tiba-tiba hati Rama kembali meradang menyaksikan nomor yang menghubungi Tiara berbalik menghubunginya juga. Kali ini, dia mengirim foto Tiara yang dipeluk Arjuna dengan berderai-derai air mata. Bayu dan Kenzie pun terheran-heran melihat perubahan ekspresi Rama yang bisa sedrastis itu namun mereka tak berani bertanya sebelum Rama mengatakan apa-apa.
"Setan! Dia semakin menggila!" umpat Rama kehabisan kesabaran.
Rama tentu sangat cemburu melihat pemandangan istrinya didekap lelaki lain namun ia lebih jengkel mengetahui penguntit suruhan Selvi yang sampai mengikuti ke mana Tiara pergi. Di satu sisi, Rama tentu sakit hati dengan sikap Tiara yang terlihat begitu pasrah di dada lelaki lain. Namun, ia tak bisa menghilangkan kekhawatiran karena penguntit itu berkeliaran di sekitar Tiara sehingga istrinya tentu dalam bahaya. Walaupun ia perlu menanyakan tentang kebenaran foto itu kemurkaan benar-benar tak bisa ditahan.
"Pergi kalian dari sini! Aku tak mau kalian menjadi korban pelampiasanku!" usir Rama bengis kepada Bayu dan Kenzie.
Mereka pun mengangguk patuh melihat mata Rama sudah berkilat hampir kalap. Bayu sebenarnya sangat khawatir, tetapi tak berani bertanya apa pun. Bayu dan Kenzie segera keluar dari ruangan Rama. Sebelum pintu rapat sempurna, sempat terdengar geraman, kemudian menyusul suara gelas pecah di lantai. Setelah pintu tertutup, mereka pun tak bisa lagi mendengarkan apa yang terjadi dengan Rama karena ruangan itu di setting kedap suara.
"Anjing kalian!" umpat Rama sembari menyisir rambutnya kasar dengan jemari.
Rama segera meraih ponsel dan menghubungi Tiara. Berkali-kali, ia mencoba menghubungi namun Tiara tak jua menerima panggilannya. Rama pun semakin dikuasai kemarahan hingga ia menendang barang-barang di ruangannya sampai berkas-berkas tercecer di lantai.
"Tiara. Jangan bikin aku semakin gila! Kamu harus menjadi milikku seutuhnya. Tak peduli siap atau tidak, kamu harus menanggung semua resikonya!" teriak Rama menengadahkan kepala.
__ADS_1
...****************...