Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Tak Terduga


__ADS_3

Tiara melewati liburan dengan kebosanan karena hanya duduk diam di rumah, sesekali ikut Rama ke kantor atau ke lokasi calon perumahan yang akan dibangun atas kerja sama perusahaan Rama dan Hans. Akhirnya, Tiara kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa. Hari pertama perkuliahannya, ia langsung mendapat jadwal jam pertama dengan mata kuliah Metodologi Penelitian.


"Selamat pagi," sapa seorang dosen wanita yang masuk ke ruangan membuat semua mahasiswa terdiam dan mengakhiri candaanya.


"Selamat pagi, Bu," sahut seluruh mahasiswa di kelas Tiara.


Tiara merasa tidak asing dengan dosen wanita yang jam itu mengajar di kelasnya. Ia sangat familiar, tapi lupa pernah melihatnya di mana. Ia terus memerhatikan dosen wanita yang sedang menata buku dan laptopnya di atas meja. Tiara pun mengingat dan bulu kuduknya tiba-tiba meremang.


"Bagi mahasiswa semester lima, mungkin ini pertemuan pertama kita. Dan, bagi yang mengulang tentu sudah mengenal siapa saya. Langsung saja. Nama saya Rita Rosmalina. Saya pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian semester ini sehingga kita akan sering bertemu satu semester ke depan. Mungkin, semester genap juga akan kembali bertemu dengan saya di mata kuliah Seminar Manajemen Pemasaran. Mohon kerja samanya. Semoga dilancarkan perkuliahan kita ke depan dan semua lulus dengan nilai memuaskan," papar Bu Rita mengenalkan diri, kemudian membuka buku presensi mahasiswa yang dibawanya.


"Sebelum perkuliahan ini dimulai, izinkan Ibu mengenal kalian juga ya," ucap Bu Rita dengan suara mendayu namun wajahnya datar tanpa ekspresi.


Satu per satu mahasiswa dipanggil dari presensi paling atas. Tiara harap-harap cemas menunggu namanya dipanggil. Ia berharap Bu Rita tak mengenalinya.


"Muhammad Ifham Ramadan," sebut Bu Rita sambil mengangkat wajah dan mengarahkan matanya ke mahasiswa yang mengatakan hadir sambil mengangkat tangan.


"Mutiara Salsabila," sebut Bu Rita lagi.


Dengan gamang, Tiara mengacungkan telunjuknya dan mengatakan hadir. Tiara pura-pura acuh tak acuh. Bu Rita pun sejenak tersentak, ia setengah tidak percaya akan dipertemukan lagi dengan Tiara dalam suasana yang berbeda. Setelah itu, memalingkan wajah dari Tiara dengan sedikit raut tak suka.


Duh. Kok malah dia dosenku. Bagaimana ini kalau kedokku dibongkar olehnya? Sia-sia dong aku udah nutupin semuanya. Gumam Tiara membatin resah.


Perkuliahan pun berjalan dengan lancar dan tidak ada tanda-tanda Bu Rita mengibarkan bendera perang kepada Tiara. Bahkan, bertingkah seolah-olah mereka belum pernah kenal sebelumnya. Ia sedikit bisa bernapas lega walaupun tetap ada keganjilan yang sulit dihilangkan dalam benaknya. Mungkin hari ini aman, entah besok, lusa, atau mungkin satu semester ke depan.


...****************...


Setelah puas menghabiskan waktu dengan tiga sahabatnya di kantin dan perpustakaan, Tiara pun baru menyadari waktu sudah berjalan menuju senja. Dengan tergesa-gesa, Tiara segera mengambil ponselnya yang sedari tadi tersimpan aman di tas. Benar saja, 10 panggilan tak terjawab dari Rama dan dua pesan yang membuatnya bergidik untuk membuka. Namun, tidak dibuka juga akan menambah masalah.


Abang 🐶


Pulang! (16.00)


Abang 🐶


Aku parkir di tempat biasa.


Lekas ke sini setelah membuka pesan ini


Atau nanti malam akan kuhabisi (16.10)


Tiara pun membelalak. Tak hanya pesan Rama yang membuatnya terkejut, waktu pengiriman pesan tak kalah membuatnya panas dingin. Pasalnya, saat ini sudah menunjukkan pukul 17.05. Tiara segera mengemasi barang-barangnya dan mengajak tiga sahabatnya pulang. Raut wajahnya menegang penuh dengan ketaktenangan. Ia dalam bahaya dan tak bisa membayangkan muka garang Rama yang sudah menunggunya satu jam di sana.

__ADS_1


Sesampainya di tempat parkir, Tiara dikagetkan dengan Rama yang sedang berbincang dengan Bu Rita. Ekspresi yang mereka tunjukkan sudah jauh lebih baik dari terakhir bertemu di acara pernikahan. Lebih terlihat cair namun agak dibuat-buat.


"Ra, itu Abang ganteng!" seru Feby sambil menunjuk Rama.


"Loh itu kan Bu Rita? Mereka seperti saling kenal," ujar Wanda.


"Mungkin," jawab Tiara tak kalah penasaran namun tersemat juga kekesalan.


Setelah melihat Tiara dan tiga sahabatnya, Rama pun segera pamit dengan Bu Rita dan berjalan menuju Tiara. Di luar dugaan, ekspresi Rama sama sekali berkebalikan dengan yang dibayangkan Tiara. Rama terlihat tersenyum ceria bahkan mau menyapa Tiara dan teman-temannya. Tiga sahabat Tiara pun meleleh disapa oleh senyuman Rama walaupun tanpa sepatah pun kata. Berbeda dengan Tiara, ia malah bingung dengan sikap Rama yang di luar kebiasaan dan ia bertambah jengkel karenanya.



(Sumber: Pinterest)


"Maaf ya, Bang. Baru buka ponsel. Udah lama ya, Bang?" ucap Tiara sengaja agar Rama menghentikan senyumannya yang membuat batin sahabatnya jumpalitan.


"Nggak apa, Tiara. Malah bisa cuci mata dulu. Banyak wanita cantik di sini ternyata," sahut Rama sangat genit membuat Tiara ingin sekali mencubit.


"Dasar Abang mata keranjang. Ayo pulang! Aku capek," ajak Tiara sambil.menarik tangan Rama sekuat tenaga.


"Ayo," sahut Rama menuruti kemauan Tiara namun kepalanya masih menghadap ke sahabat Tiara, "Bye, Sahabat Tiara. Hati-hati kalian pulangnya ya," ucap Rama sambil tersenyum penuh arti.


"Iya Abang juga hati-hati. Sering-sering aja jemput Tiara," seru Feby membuat Tiara sempurna kejengkelannya.


"Abang stop! Cukup genitnya. Cukup ganjennya. Cukup bertingkah sok kegantengan!" rajuk Tiara semakin kencang menarik tangan suaminya yang seperti sedang kerasukan setan.


"Cemburu ya?" goda Rama melepaskan tangan Tiara yang mencengkeram lengannya dan memindahkan ke telapak tangan hingga jemari mereka saling menggamit.


"Berisik!" sahut Tiara sedang tidak bisa diajak bercanda.


"Sayang," bisik Rama manja.


Tiara menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Gadis itu melirik sengit ke Rama membuat Rama ingin sekali memakannya.


"Abang sudah berjanji soal ini. Jaga sikap selagi di kampus. Tolong, Bang. Oke?" dikte Tiara mewanti-wanti.


"Hm," jawab Rama malas mendengarkan pesan Tiara yang masih ingin menyembunyikan pernikahan mereka. Sedikit kesal namun tak ada yang bisa dilakukan selain mengiyakan.


"Jangan keganjenan sama teman-temanku. Nanti kalau mereka menangkapnya lain dan baper, kamu sama aja php kan, Bang," pinta Tiara lagi.


"Iya kan aku berusaha ramah dengan teman-teman istriku," bisik Rama.

__ADS_1


"Iya nggak begitu juga, Bang. Kalau begitu terus malah mereka akan menyalahartikan sapaanmu," protes Tiara tak mau kalah.


"Iya. Iya. Lebih baik ayo pulang. Hari udah hampir petang," ajak Rama ganti menarik tangan Tiara.


"Terus, tadi ngapain sok akrab sama mantan calon mertua? Abang lupa sikap mereka di acara pernikahan tempo lalu? Nuduh pelakor lah. Mau memanfaatkan Abang lah," tanya Tiara selidik.


" Ya ampun. Sama orang tua aja cemburu. Ngeri kali cemburumu," canda Rama semakin menggoda Tiara.


"Abang aku serius," sangkal Tiara kesal.


"Iya udah. Orang ditanyain masa nggak jawab. Lagian dia dosenmu juga, kan? Dia cuma cerita katanya kamu di kelas itu nakal. Suka ngobrol sendiri. Bawel," bohong Rama ingin melihat Tiara semakin jengkel.


"Abang Rama. Aiih serah," sahut Tiara masa bodo.


"Ya udah kita pulang. Oke," ucap Rama memungkasi percakapan tidak jelas mereka.


Tiara pun menurut walaupun setengah hatinya masih ingin mengungkapkan kekesalannya. Namun, genggaman tangan Rama cukup meredakan emosinya yang hampir membludak dan ingin mencak-mencak. Setelah sampai di dalam mobil, Rama segera mencium kedua tangan Tiara dan membuatnya luluh seketika.


"Memang seburuk apa pernikahan kita sampai kamu berusaha keras untuk menutupinya? Adakah hati yang sedang kamu jaga?" tanya Rama tiba-tiba serius.


"Tiara belum siap aja kalau teman-teman tahu aku sudah bersuami. Nggak tahu kenapa, tapi rasa takut itu selalu ada. Aku takut juga dunia perkuliahanku jadi berbeda," jujur Tiara menunduk karena memang seperti itulah adanya.


"Kalau memang punya kekasih, bilang aja. Atau takut cowok yamg mendekatimu pergi?" desak Rama.


"Enggak, Bang. Aku nggak punya. Ini nggak ada hubungannya soal cowok. Tolong ya. Suatu saat kalau aku udah siap juga bakal aku ungkap semuanya. Abang sabar dulu ya," pinta Tiara memohon.


"Sampai kapan aku harus bersabar, Ra? Aku telah menunjukkan kamu di duniaku, tapi aku selalu disembunyikan di duniamu," tanya Rama menyandarkan punggung di kursi kemudi dan melepaskan gengamannya di tangan Tiara.


"Maaf, Abang. Tiara belum bisa," ucap Tiara lirih.


"Tapi, alasanmu nggak masuk akal. Aku masih nggak habis pikir," protes Rama.


Tiara pun tidak menjawab dan mendundukkan kepala lebih rendah penuh rasa bersalah sekaligus gelisah. Rama pun memandangnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan karena hatinya pun bimbang tak keruan menghadapi sikap Tiara yang kadang sulit dipahaminya. Entah dia terlalu kekanak-kanakan atau memang dia yang belum bisa memahami dunia seusia istrinya, yang jelas kadang sangat menjengkelkan jika dipikirkan karena terlalu rumit dan berbelit-belit.


"Tiara cinta Abang, tapi memang Tiara belum siap menunjukkan kepada teman-teman. Please, beri Tiara waktu," cetus Tiara membuat Rama terperangah.


"Apa? Katakan sekali lagi!" suruh Rama memastikan yang dikatakan Tiara bukan dalam mimpinya.


"Ya udah. Nggak jadi. Tadi cuma ngelantur kok. Udah lupa," sungut Tiara untuk meredakan gemuruh di dadanya karena sudah berani mengatakan cinta kepada Rama. Bahkan, untuk kedua kalinya, Tiara berucap begitu saja tanpa direncana.


Rama pun tersenyum dan mengacak-acak rambut di ubun-ubun Tiara. Tiara membalas dengan lirikan sengit namun penuh kehangatan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2