
Tiara sungguh ingin mengumpat kepada Bayu yang memberi informasi setengah-setengah hingga membuatnya ingin marah. Malah sepertinya sudah marah. Namun, gadis itu menahan diri karena ia tak seberani itu mengucapkan kata kotor kepada orang lain.
"Apaan sih, Om? Lama-lama aku matiin ini telepon kalau nggak jelas begitu," tanya Tiara mulai malas mendengarkan penjelasan Bayu yang tidak penting sama sekali dan sangat membuang-buang waktunya.
"Tenang. Tenang, Mbak Tiara. Santai dulu," jawab Bayu dengan suara gugup yang jelas terdengar.
"Om itu yang harusnya santai!" tampik Tiara sakit kupingnya ingin segera mengakhiri panggilan yang unfaedah itu.
"Oh iya ya. Begini, Mbak. Bang Rama sedang mengamuk karena Susan membawa berkas penting dari kepala divisi keuangan dan salah ketik di dua kata. Alih-alih, disuruh memperbaiki malah Susan dan kepala divisi keuangan langsung dimarahi dan diceramahi sampai mereka hampir mengundurkan diri pun belum selesai. Cuma salah ketik dikata yang menjadi yagn dan kata dan menjadi dna," papar Bayu sedetail mungkin sampai melafalkan kata yang salah ketik dengan fasihnya. Bukan mengeja. Ya benar-benar dilafalkan hingga terdengar geli di telinga.
"Iya salah juga sih. Udah tahu berkas penting, kenapa tidak dicek ulang sebelum memberikan kepada boss yang sangat teliti," jawab Tiara dengan santainya membuat Bayu gemas karena keadaan yang dialami tidak seenteng itu.
"Tapi, mereka sudah diceramahi dua jam dan belum selesai. Bagaimana kalau sampai mereka dipecat atau mengundurkan diri sungguhan?" bantah Bayu gereget berusaha mendapat solusi dari pawang tuannya.
"Iya tinggal cari karyawan lagi. Apa susahnya sih, Om? Kenapa Om ribet memikirkan urusan jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan Om? Om tidak dimarahi, kan?" lawan Tiara tak habis pikir dengan Bayu yang bisa sepanik itu menceritakan hal sesepele itu.
"Aduh, Mbak. Tidak semudah itu juga mencari karyawan yang minimal sejajar dengan keduanya. Jika sampai mereka hengkang dari perusahaan, aku yang akan diburu-buru untuk mencari karyawan baru yang sesuai kriterianya yang sungguh aduhai. Mereka itu karyawan teladan di kantor jadi susah mencari penggantinya. Kalau sampai tidak sesuai, bisa-bisa gajiku dipangkas bahkan bisa ikut dipecat juga," bujuk Bayu mendrama.
"Dasar. Orang dewasa emang ribet. Emang akan separah itu imbasnya?" tanya Tiara sangsi.
"Kalau sudah emosi, Bang Rama akan melakukan apa pun sekehendaknya. Iya kita ambil aja kemungkinan terburuknya," jawab Bayu meyakinkan karena posisinya benar-benar sudah terancam.
"Bayuuuuu! Hei, aku panggil dari tadi malah telponan di jam kerja! Mau kupangkas gajimu sampai tak bersisa?" terdengar teriakan lantang di seberang yang suaranya sangat dikenal Tiara.
"Iya, Bang. Maaf, Boss," sahut Bayu dengan suara gemetar.
"Tolong, Mbak Tiara. Hidup dan matiku ada di tangan Anda," pungkas Bayu dengan bisikan dan menggantung langsung mematikan teleponnya sebelum memberi aba-aba ia harus berbuat apa.
"Apaan sih ini orang. Nggak jelas banget," gerutu Tiara berbicara pada ponselnya.
Tiba-tiba, satu pesan masuk dari Bayu.
Om Bayu
Mbak, call boss skrg! Genting!
Sebenarnya, ia sangat malas menanggapi Bayu namun Bayu memberondong pesan yang sama sampai sepuluh kali hingga lama-lama ia sedikit mengiba. Tiara pun berjalan ke kamar sambil menelepon Rama yang lama sekali tidak mengangkat panggilannya. Ia pun mengulangi sampai pemilik nomor itu mengangkatnya dengan terpaksa.
__ADS_1
"Apa lagi? Perbaiki suratnya, saya beri waktu 1 menit. Semua harus sudah beres di meja saya!" bentak Rama terdengar sangat murka.
"Abang," panggil Tiara membuat Rama tersadar bahwa yang meneleponnya bukan Susan ataupun divisi keuangan yang habis diceramahi habis-habisan olehnya.
"Eh, Tiara," sahut sang suami langsung berganti mode lemah lembut.
"Abang kenapa marah-marah begitu? Sabar dong," bujuk Tiara menenangkan Rama.
Sontak, amarah Rama pun mereda seketika membuat Bayu bisa bernapas lega.
"Iya habisnya kerjaan nggak ada yang benar. Mereka tidak teliti sekali. Salah satu kata saja itu mengubah keformalan surat, kan? Aku paling benci kesalahan apalagi dalam pekerjaan," cerocos Rama meluapkan emosinya dengan lebih kalem.
"Iya namanya saja manusia. Salah sesekali wajar dong. Marah itu buang-buang tenaga dan menguras emosi saja. Lebih baik sekarang Abang duduk, minum air putih juga biar lebih tenang," kata Tiara penuh kelembutan seperti sedang menasihati anaknya.
Tanpa fa-fi-fu, Rama pun menuruti tanpa protes sama sekali. Benar-benar jinak tak berani menolak. Pria dewasa yang baru reda emosinya itu langsung menyambar gelas berisi air secara sembarang di meja kerja Bayu dan meminumnya sampai tandas tak bersisa setetes pun. Bayu tak berani mengatakan jika air di gelas itu sudah diminum seperempat bagian olehnya karena takut Rama akan kembali membabi buta.
"Udah lebih tenang?" tanya sang istri penuh perhatian meluluhkan hati dingin suaminya yang suka kambuh tiba-tiba.
"Udah. Ada apa kamu menelepon di jam kerja seperti ini? Ada hal penting yang ingin dibicarakan? Atau minta dijemput untuk pulang?" ucap Rama memberondong pertanyaan kepada Tiara.
"Maaf. Hehe," sahut Rama nyengir.
"Memang harus ada hal yang penting untuk menelepon suami ya?" tanya balik Tiara membuat Rama mati kutu.
"Bukan begitu. Maksudnya, biasanya kamu nggak telepon di jam kerja seperti ini," jawab Rama sedikit gagu.
"Memang mengganggu Abang ya?" sahut Tiara pura-pura memelas.
"Tidak. Tidak, Sayang. Nggak apa-apa," timpal Rama secepat kilat takut sampai istrinya salah paham.
"Abang belum pengen ke Surabaya gitu? Jenguk aku?" tanya Tiara sangat manja membuat badan Rama mendadak panas dingin.
"Emangnya kamu udah kangen?" tanya balik Rama penuh semangat empat lima.
"Emang harus banget ya nunggu kangen baru datang? Aih orang tua emang rumit," keluh Tiara gondok.
"Iya bukan begitu. Sebenarnya, lagi agak sibuk karena proyek bersama Hans sedang mulai mengurus perizinan jadi aku dan Hans harus standby barangkali dibutuhkan. Memang kamu udah mau pulang?" sesal Rama menyayangkan.
__ADS_1
"Belum sih. Ya udah nggak apa kalau sibuk. Nanti kalau pas Tiara mau pulang terus Abang sibuk juga nggak apa. Biar aku diantar Mas Riza aja," ratap gadis belia itu sedikit kecewa.
"Bukan begitu, Ra. Nanti aku sempatkan kok," tampik sang suami meluruskan.
"Nggak usah, Mas. Ya udah aku mau nemenin Kakek dulu ya. Abang selamat bekerja," ucap Tiara memungkasi percakapan mereka yang berakhir paksa dengan taksa.
Sebelum Rama sempat menyahut, ternyata Tiara lebih dulu mengakhiri panggilan mereka tanpa konfirmasi dengan lawan bicaranya. Rama semakin dongkol dan murka. Pria itu langsung menyerobot pena Bayu yang tergeletak di meja. Lalu, ia patahkan menjadi dua dengan sekali gerakan kerja sama antara tangan kanan dan kirinya.
Wadidaw. Bukannya jadi tenang malah makin berang. Duh salah strategi pemirsa. Duh nyonya kecil, cepatlah kembali. Tuanmu sungguh sering hilang kendali. Ronta Bayu dalam hati.
"Bayu," panggil Rama dengan mata menatap lurus entah ke mana.
"Siap, Bos. Bagaimana?" sahut Bayu sambil berdiri dan memberi hormat layaknya kepada komandan.
"Aku ingin ke Surabaya hari ini juga. Urus semua. Kalau sampai tidak bisa, kamu tahu sendiri akibatnya?" paksa Rama penuh ancaman.
"Siap, Bos," jawab Bayu tegas walaupun hatinya dikuasai keraguan.
Setelah berhasil membuat Bayu panas dingin ketakutan, Rama melenggang keluar ruangan masih dengan kemurkaan di wajahnya.
Bayu menelan ludah gugup mendengar gertakan Rama yang nampak tidak main-main. Di saat genting seperti ini, memang potong gaji selalu menjadi andalan untuk dijadikan ancaman. Meskipun kenyataannya Rama tidak pernah melakukannya, bahkan sering menambahkan bonus kepadanya namun ia tetap takut dengan peringatan yang telah Rama berikan. Bukan sepenuhnya takut dipotong gaji sungguhan, tetapi lebih takut kehilangan kepercayaan.
Nyonya kecil menambah pekerjaanku saja. Aku jadi punya kesibukan baru mengurus hubungan mereka yang rumit dan berbelit-belit. Apakah mereka tidak kasihan dengan nasibku yang hanya bisa melihat mereka bertengkar dan bermesra? Sungguh, tidak fair. Ini sangat melukai kemaslahatan hatiku ini. Keluh Bayu dalam hati sambil bertaruh dengan waktu untuk mendapat tiket pesawat demi kelangsungan hidupnya di sisi Rama. Ralat, maksudnya di perusahaan Rama.
Setelah lima belas menit mencari tiket pesawat kelas bisnis dan first class, hasilnya pun nihil. Tidak ada tiket yang tersisa. Hanya ada kelas ekonomi yang tentu Rama tidak akan mau menerimanya. Peluh dinginnya mulai bercucuran karena tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya kepada Rama.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Langkah ketukan sepatu pun mendekat dan ia sangat hafal dengan suara itu. Tangannya mulai gemetar.
"Bagaimana tiketnya? Sudah beres?" tanya Rama pelan namun sambil menyeringai sadis.
Bayu tergagap sampai sulit berucap.
Mati aku. Mama, maafkan anakmu yang masih jomblo ini. Doakan anakmu agar tidak mati muda sebelum membawa pulang menantu. Doa Bayu dalam hati seraya mengumpulkan keberanian untuk membuka suara.
Sedangkan Rama sedang menunggu jawaban asistennya dan sudah siap mencekik jika kabar yang diterima tidak baik.
...****************...
__ADS_1