Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Terjebak di Kandang Singa


__ADS_3

"Tiara, kamu mau mendapat pengalaman kerja baru tidak?" tawar Pak Hadi Tjokro Kusumo, CEO di tempat magangnya, yakni PT Mekar Bogarasa.


"Boleh, Pak. Kira-kira, apa yang bisa saya lakukan, Pak?" tanya Tiara antusias.


"Kamu mau kalau saya tempatkan di bagian manajemen marketing? Melihat kinerja bagusmu di manajemen sumber daya manusia, saya rasa kamu juga perlu belajar hal baru di manajemen marketing. Setelah tiga minggu di sini, saya perhatikan kamu orang yang punya semangat tinggi, cepat memahami materi baru, dan mudah adaptasi, jadi saya rasa akan menambah wawasanmu jika merasakan bekerja di divisi lain. Di divisi marketing, kamu berkesempatan bertemu serta berdiskusi dengan kolega kami, mengikuti audit marketing, bisa membangun pengalaman pelanggan juga, dan masih banyak pengalaman yang bisa kamu dapatkan," papar lelaki berusia 55 tahun itu antusias.


"Baik, Pak. Terima kasih atas kesempatannya. Saya akan memanfaat peluang ini sebaik-baiknya untuk upgrade kemampuan saya. Mohon bimbingan dan arahannya," sahut Tiara semakin bersemangat.


"Oh iya. Untuk mentormu akan digantikan oleh putra sulung saya yang memang menjabat sebagai Kepala Divisi Marketing. Namanya Arjuna. Saya akan mengatakan kepada mentor kamu sebelumnya bahwa kamu pindah divisi mulai hari ini," titah Pak Hadi tersenyum ramah.


"Hari ini, Pak?" tanya Tiara terbelalak sejenak, kemudian kembali melunak.


"Iya lebih cepat lebih baik tentunya. Magangmu hanya dua bulan jadi harus dimanfaatkan betul untuk mendapat banyak ilmu dan pengalaman dalam waktu yang sesingkat itu," jawab Pak Hadi begitu memotivasi.


"Siap, Pak," sahut Tiara sangat yakin.


"Tetapi, saya harap kamu tahan banting di sana. Anak saya memang karakternya berbeda jauh dengan saya jadi mohon kesabarannya. Dia lebih kaku, disiplin, dan tegas jadi terkesan sangat menekan. Tapi, bekerja dengan dia tentu akan membuatmu belajar lebih detail tentang marketing dan manajemennya, serta mengasah mental juga," pesan Pak Hadi membuat Tiara sedikit menciut namun telanjur menyetujui jadi tak mungkin ia meralat setelah tahu mentornya seperti itu.


Tiara, tenang. Oke. Kamu sudah biasa ditatar oleh suamimu yang dingin dan galak luar biasa. Kesempatan emas tak datang dua kali, jadi manfaatkan jangan sampai menyesal sendiri. Ucap Tiara membatin gamang.


"Baik, Pak," sahut Tiara sedikit merinding.


"Kemasi barang-barangmu, saya antar kamu untuk bertemu Arjuna. Kalau orang lain yang mengantar tentu akan beda cerita," perintah Pak Hadi langsung dilaksanakan oleh Tiara.


Tiara sedikit gugup karena serba mendadak sehingga dia malah jadi cemas dan takut sendiri. Terlebih, gambaran tentang sang putra yang disampaikan Pak Hadi malah makin meresahkan. Tiara mengekor Pak Hadi dengan langkah gemetar pasalnya harus bertemu dengan orang-orang baru lagi tentu penyesuaiannya mulai dari awal lagi.


...****************...

__ADS_1


"Kalau bukan karena Papa yang minta, tentu aku takkan sudi menerima mahasiswa magang di divisi ini karena akan sangat merepotkan harus mengajari ini itu," cetus Arjuna ketus.


Tiara langsung tersentak. Belum juga bekerja sudah kena semprot duluan. Dalam hati, Tiara merutuk dalam hati namun tak berani melawan juga walaupun bibirnya sudah gatal ingin membela diri.


"Maaf, Pak Arjuna. Saya pindah di sini karena ditawari oleh Pak Hadi. Kalau memang Bapak tidak berkenan menerima saya di sini, saya akan kembali ke manajemen SDM," sahut Tiara was-was seakan terjebak di kandang singa dan berharap sang singa mengusirnya. Ya memang semenakutkan itu ekspresi dan ucapan lelaki yang akan menjadi mentornya.


"Hubunganmu dengan Papa sedekat apa memangnya? Baru tiga minggu di sini sudah disuruh pindah divisi, apalagi di divisi saya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk di sini. Sehebat apa kamu?" tanya Arjuna dengan angkuhnya.


"Mohon maaf. Saya hanya melakukan pekerjaan saya sesuai dengan arahan dari mentor dan Pak Hadi. Saya tentu bisa bekerja sama secara tim dan individu. Saya mau belajar hal-hal baru dan sanggup dengan segala tekanan___" jawab Tiara terpotong oleh ludahan Arjuna ke samping.


"Klise! Dengan alasan yang terlalu biasa itu, saya tidak yakin kamu bisa mengikuti ritme kerja di divisi saya. Sebelum kamu gila dan depresi, lebih baik segera mengundurkan diri," gertak Arjuna meremehkan.


Ucapan Arjuna yang sangat meremehkan kemampuannya tentu membuat Tiara menjadi tertantang dan ingin membuktikan bahwa kinerjanya sebanding dengan kepercayaan yang diberikan Pak Hadi.


"Saya akan tetap di sini untuk belajar dan siap mengerjakan setiap tugas yang Anda berikan. Saya akan buktikan bahwa saya di sini karena memang layak untuk dipertimbangkan," tegas Tiara was-was.


"Oke. Kita lihat sampai mana ketangguhanmu," ujar Arjuna.


"Baik, Pak," sahut Tiara berusaha tetap tenang.


"Satu lagi, saya tidak mau punya ibu tiri kecil sepertimu. Bilang Papa, aku nggak akan pernah merestui hubungan kalian," tukas Arjuna sinis.


Refleks Tiara berdiri dan tak menyangka dengan apa yang didengarnya. Ia disangka simpanan Pak Hadi? Dari sisi mana dia pantas menjadi pacar orang tua. Rasanya ingin sekali menampar mulut lancang Arjuna namun ia sadar diri bahwa sikapnya di sana akan memengaruhi nilainya di kampus. Tiara berusaha menekan sabar dan meluruskan


"Mohon maaf, Pak Arjuna. Anda salah paham. Saya sama sekali tidak punya hubungan khusus dengan Pak Hadi. Bahkan, saya baru kenal Pak Hadi saat magang di sini. Saya juga masih menggunakan akal sehat saya, Pak. Mohon maaf tuduhan Bapak salah sasaran," bantah Tiara hati-hati.


"Tapi, mungkin juga kan? Papa punya banyak uang. Sekarang juga lagi tren bocah cari sugar daddy untuk dijadikan atm berjalan, kan?" cecar Arjuna tak berdasar.

__ADS_1


"Tapi, sekali lagi maaf. Saya bukan salah satunya. Saya sudah punya keluarga yang sangat mencukupi saya," protes Tiara serius.


"Baguslah kalau begitu. Lantas, apa yang membuatmu tiba-tiba dipindah ke divisi ini? Papa akan memindahkanmu ke sini tentu karena dua kemungkinan. Mungkin, tertarik kepadamu entah tertarik kinerjamu atau tertarik dengan dirimu. Atau bisa jadi, kinerjamu buruk sehingga kamu dibuang ke divisiku yang paling ditakuti di kantor karena terlalu horor," tanya Arjuna menakut-nakuti.


Iya muka dan mulutmu horor. Umpat Tiara dalam hati walaupun merinding juga sih jika memang Pak Hadi benar-benar tertarik padanya, bukan kinerjanya.


"Pak Hadi mengatakan jika kinerja saya bagus dan diberi kesempatan untuk pindah divisi supaya semakin bertambah ilmunya," jawab Tiara mulai resah sendiri.


"Kamu yakin hanya itu alasannya?" ucap Arjuna coba mengguncang keyakinan Tiara.


Tiara mendelik bingung. Iya berusaha yakin jika hanya itu alasannya karena badannya sudah panas dingin berpikir yang iya iya gara-gara Arjuna terus memancing kecemasannya.


"Ya udah. Jangan buang-buang waktu. Kerja. Bergabung dengan tim Sherly yang sedang melakukan audit marketing internal. Belajarlah bersama mereka. Tanyakan jika ada yang kurang paham, punya mulut kan?" cetus Arjuna lembut namun menyayat.


"Baik, Pak," jawab Tiara menahan murka yang sudah mendidik di pucuk kepala.


"Oke,"


Tiara mengepalkan tangan melihat respon Arjuna yang biasa saja setelah menuduhnya menjadi simpanan om-om__ ralat! bapak atau kakek ya? Iya itulah pokoknya. Bisa-bisanya bersikap seolah tak habis terjadi apa-apa. Tiara melenggang ngan hati berang.


"Jika Papa menembakmu, tolak. Atau kamu dalam bahaya," ancam Arjuna begitu serius.


Nembak? Edyaaan. Otak dia kenapa sih? Dia dimakanin minyak mulu kayaknya pas kecil makanya mulutnya licin. Kata Tiara dal hati.


Bukan sikap Arjuna yang membuatnya takut, tapi ucapan Arjuna yang sangat meresahkan perasaan. Ucapannya seolah memberi petunjuk tentang arti sikap Pak Hadi kepada Tiara yang terlalu tiba-tiba. Bahkan, Tiara pun dapat merasakan ada maksud lain dari sikap manisnya ke Tiara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2